10 years ago
Deru suara tembakan bersahut-sahut layaknya burung yang berkicau di tengah-tengah peperangan. Satu persatu peluru menghantam dinding, menghantam kulit kepala, dan menembus dada hingga bersarang pada jantung sang lawan lalu mati terkapar dengan darah yang bersimbah seperti genangan air sungai. Bau karat bercampur darah, kini bagai lautan yang tumpah. Diinjak-injak oleh para kaki bajingan dengan sepatu pantofel mahal berbunyi tuk tuk nya. Seperti sedang berpatroli layaknya polisi lapangan, sembari memegang pistol hitam di tangan, tangannya terulur lurus-lurus ke udara, menghitung satu persatu para korban yang telah tumbang berjatuhan. Pria berbadan besar, dengan raut wajah bengis berdecak lalu meludah ke sembarang tempat. Memerintahkan satu persatu anak buahnya untuk membawa seluruh mayat agar segera dieksekusi lebih lanjut. Menghilangkan jejak misalnya.
“Tuan, sepertinya anda mempunyai satu target lagi untuk diurus.”
Yang diajak bicara menoleh, menatap anak buahnya yang sedang mendorong kasar anak kecil berusia sepuluh tahun, mengenakan kaos bergambar mobil, juga celana pendek. Setelan baju tidur anak-anak. Pria tambun itu bergumam. Menatap menyelidik anak laki-laki itu dari atas sampai bawah. Seakan-akan sedang menguliti setiap inchi bagian tubuhnya. Dia mendengus, menepuk-nepuk jasnya yang penuh dengan bercak darah. “Bawa dia ke mobil.” Lalu, ia menggantung kalimatnya sambil menatap keseluruhan ruangan. Langkahnya yang besar-besar pun membelah kerumunan anak buahnya yang mengenakan baju hitam keseluruhan. Seperti semut yang sedang mengerubungi gula, bedanya, ini adalah manusia yang tengah mengerubungi manusia lainnya yang sudah mati.
Rei, pemuda yang tadi diperintahkan oleh si pria tambun untuk membawa anak kecil tersebut ke dalam mobil, sepenuhnya mengangguk kikuk untuk taat. Tanpa berbicara lagi, tanpa protes lebih jauh, Rei menarik lengan kecil itu untuk dibawa masuk ke dalam mobil Maserati terparkir di halaman luas.
Malam hari pukul dua belas, sepuluh tahun yang lalu, pembantaian habis-habisan satu keluarga di dalam rumah mewah hanya menyisakan anak kecil berumur sepuluh tahun. Seorang diri ikut masuk ke dalam lingkaran licik mematikan.
“Pusat otoritas kesehatan, sistem 3001, atas nama keluarga Romano, hapus seluruh ingatan anak ini.”
Bunyi bising mesin serta para kaki-kaki tangan-tangan robot mulai bekerja sebagian, perlahan-lahan mulai mendesing, mendekati anak muda yang sedang terkulai lemas di atas bangku besar, di bawah sinar sorot lampu laboratorium.
“Tapi Tuan, ini akan menimbulkan sedikit masalah pada gangguan otak serta memorinya.”
“Saya tidak peduli!”
Mesin yang barusan berbicara pun mendesing pelan. Patuh kepada perintah si Tuan Besar. Tunduk dalam kekuasaan super mega yang ada di tangannya. Robot-robot beserta para kaki tangannya pun mulai mendekat, menempelkan tentakel mereka satu-persatu pada puncak kepala anak berumur 10 tahun. Ia masih terlalu kecil untuk berdekatan dengan pria paling kejam yang pernah ada. Namun siapa peduli? Masih mending anak ini tidak ikut dibunuh seperti anggota keluarga lainnya.
Ini menyenangkan.
Tuan Besar menatapnya dengan dingin, dengan wine yang ada di gelas kaca dia genggam, sepatunya beradu-adu pada lantai pualam. Suhu ruangan menjadi dingin. Kontras dengan situasi yang mendadak menjadi tegang.
Sedikit meneguk untuk menghilangkan dahaga kering di tenggorokan, Pria tambun itu memperhatikan dengan jeri, melihat bagaimana robot-robot itu bekerja atas perintahnya.
“Sistem 3001, siap memulai dalam hitungan ke 3.”
“Satu….”
“Dua…”
“Tiga….”
“Perfetto.“
“Ichigo Akiyama.”
Pria itu lantas tertawa puas. Melihat bagaimana hasil karya nya yang kini seperti lahir dengan identitas baru serta ingatan baru. Subject terdeteksi tidak mempunyai apa-apa selain tubuh kecilnya dan pakaian lusuh yang dikenakan. Anak yang selamat dari pembantaian habis-habisan pukul dua belas.
“Selamat datang di keluarga Romano keturunan ketiga belas, Ichigo Akiyama. Cukup diam serta patuh pada perintah yang ada, maka kau akan mendapatkan segalanya.”
“Tuan, Ichigo Akiyama akan mendapatkan masalah serius pada otak serta memorinya.”
“Tidak masalah.” Pria itu melirik ke arah anak laki-laki satu-satunya yang sedang berlatih bela diri bersama anak buahnya. Membanting tubuh, memberikan bogem mentah, sampai terpelanting jauh beberapa meter. Anak laki-lakinya cukup tangguh. Umur 16 tahun tidak masalah baginya melawan satu pemuda tinggi besar di hadapan.
“Dia akan berguna, Jarvis.”
“Tuan tidak akan membuatnya seperti Tuan Muda, bukan?”
ICHIGO : START