Rere

392. 00:00 AM Can I be your boyfriend?

Ali adalah orang yang paling malas kalau berurusan dengan rumah sakit. Orang yang paling malas menginjakkan kedua kakinya pada lantai dingin dinding bercat putih dengan keramaian di sekitar serta bau obat yang menyengat menyebar di udara. Ali paling anti soal itu. Tapi sekarang, coba kalian lihat saat anak laki-laki menggunakan kaos hitam biasa juga jaket kulit sebagai luaran, celana levis panjang membalut kaki jenjangnya, kedua mata kalian harus dibuka lebar-lebar saat Ali melangkah masuk melewati pintu kaca yang dijaga ketat oleh satpam yang bertugas. Anak itu tampak acuh, tersenyum sedikit dari balik maskernya menyapa satpam yang ia kenal.

Ali datang ke rumah sakit. Dengan tentengan yang ada di tangan cukup banyak, serta pukul sepuluh malam. Anak itu dengan pedenya melangkah semakin masuk mendekati lift yang cukup sepi. Hanya ada sekitar lima orang yang berlalu lalang. Mungkin keluarga dari pasien yang dirawat inap. Entahlah, Ali menggendikan bahunya. Ia tidak peduli.

Dari wajahnya saja, orang-orang jelas tahu kalau anak ini tidak mau ditegur oleh siapa-siapa. Tatapannya setajam elang serta sembilan mata pisau. Belum lagi wajahnya datar seperti sedang menunjukkan kalau sedang tidak minat untuk diajak berbicara. Rambutnya setengah berantakan, namun wangi rose bercampur jasmine dari rambutnya tercium jelas hanya kalau kamu berdiri di sebelahnya berdampingan. Rambut Ali memang berantakan, dirinya juga memang jarang mandi. Tapi kalau soal wangi tubuhnya nggak perlu diragukan lagi.

Ting

Dentingan lift bersamaan dengan pintu terbuka membuat Ali melangkah maju. Tubuhnya berbelok ke arah kanan lalu berjalan santai melewati resepsionis yang sepertinya sedang sibuk menelepon seseorang. Sekali lagi, bahunya ia naikkan tanda tidak peduli. Hingga selang lima menit, kedua kakinya berhenti melangkah. Tubuhnya diam, kedua matanya membaca tulisan yang tertera di depan pintu bercat cokelat. Sebelah sudut bibirnya naik. Dengan segera ia mengetuk pintunya dengan pelan. Tiga kali ketukan sudah cukup membuat dirinya menarik tangan kanan lalu menunggu sampai si yang punya ruangan membuka pintu.

“Ya— eh Ali?” Evie. Bukan Laksmana yang membuka pintu. Melainkan perempuan berambut panjang se pinggang mengenakan setelan celana kulot dengan crop top hitam tampak sederhana namun terkesan elegan jika ia yang mengenakannya. Perempuan itu tampak lelah, terlihat lingkaran mata hitam yang tercetak sempurna di bawah mata. Ali menebak-nebak, kalau Evie baru saja pulang dari pemotretan. Berhubung Evie adalah artis dengan jadwal yang padat. “Ngapain?” Ia kembali bertanya. Sebelah alisnya terangkat naik, menatap Ali bingung.

“Jenguk.” Pemuda itu menjawab singkat sambil menyengir. Evie terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya lagi. Heran aja, anak yang namanya Ali berkunjung ke rumah sakit. Terus tadi apa katanya… jenguk? Ali tahu Mama sakit dari mana?? Begitu pikir Evie sambil terus memasang wajah bingung. Bertanya-tanya dalam hati.

“Hah jenguk siapa?”

“Mama lo laaah.”

Perempuan itu langsung melotot. “Tau darimana kalau Mama gue lagi sakit???”

Lelaki di hadapannya ini, bukannya langsung menjawab, malah menghembuskan napasnya kesal. Mungkin karena nggak disuruh masuk atau apa, malah ditanya-tanya dengan pertanyaan nggak terlalu penting. Ali menatap Evie dengan tak minat, di tangannya terdapat beberapa barang tentengan. Sadar akan tatapan Ali, Evie membuka pintu lebih lebar lalu dirinya menyingkir ke pinggir. “Sorry sorry, gue malah banyak nanya. Masuk, Li.” Ucapnya masih dengan raut wajah bingung. Kening terlipat, kedua alis bertaut.

Begitu saat Ali masuk ke dalam, Evie langsung menutup pintu dan mengekorinya. Otak yang biasa berpikir cepat, kini harus mendadak loading karena Ali tiba-tiba saja ada di sini. Ada urusan apa bocah ini sama Mama?

“Hehehe halo, Tan…” brug, suara paperbag beradu pada lantai marmer dingin memecah keheningan. Ali tersenyum ramah, melambaikan tangannya menatap ke arah Lea—Mama dari Laksmana. Wanita itu tampak lesu dengan bibir pucat tangan yang diinfus namun nggak mengurangi kecantikannya. Lea mendongak, menatap Ali lalu tersenyum walau sedikit bingung kenapa pemuda ini datang tiba-tiba. Wajahnya ia ingat samar-samar, namun ia lupa namanya siapa.

Melihat ekspresi dari Lea yang bingung, alih-alih Ali ingin menanyakan bagaimana keadaannya, Ali justru memperkenalkan diri dengan intonasi yang tenang. “Ali, tante. Pacarnya Naa.”

Ruangan hening.

Satu, karena Lea akhirnya tau pemuda ini namanya Ali. Yang pernah dikenalkan oleh Laksmana, anaknya, melalui ponsel. Hanya sekedar menunjukan foto dari Ali ini lalu menyebut bahwa pemuda ini tampan.

Dua, Ali menyebut kalau dirinya pacar dari anaknya. Laksmana.

Tiga, Evie menganga. Menatap nggak percaya.

“Ah boong lu.” Menyelamatkan situasi yang mendadak hening, Evie menyela ucapan Ali barusan sambil menepuk punggung anak itu dengan canggung. Evie juga tertawa kecil menatap Mamanya yang juga mengerjap bingung. Mungkin Mamanya terkena shock karena melihat wujud 'pacar anaknya' yang agak awut-awutan walaupun Ali tampak rapi hari ini.

“Eh, beneran kak.”

“Masa???”

Ali mengusap rambutnya. Menggaruk sebentar lalu mengangguk. “Beneran.”

“Masa SIH???”

“BENERRRR.”

Mama Lea hanya tertawa melihat interaksi keduanya. Wanita cantik itu mengangguk. Percaya pada Ali lalu menyunggingkan senyumannya yang teduh. “Percaya, kok, Ali. Tante agak sedikit shock aja tadi yaa.”

“Tuh, wlek. Mama lo aja percaya.” Ali menjulurkan lidahnya, mengejek Evie yang mendengus sebal. Perempuan itu membuka mulut, hendak menjawab perkataan Ali namun terinterupsi oleh suara derit pintu yang menyela langsung hingga dia urung untuk berkata. Evie, Ali, maupun Lea menoleh ke sumber asal suara. Lalu kemudian bernapas lega setelah tau kalau itu Laksmana, bukan dokter ataupun suster.

“Loh.. Ali kapan datangnya?” Kedua kaki Laksmana melangkah kecil, mendekati Evie serta Ali yang juga sedang menatapnya memasang wajah paling menyebalkan yang pernah ada, membuat Laksmana mau nggak mau mencubit pinggang anak itu terlebih dahulu sebelum melayangkan pertanyaan selanjutnya.

Tapi, belum sempat ia bertanya lagi, Lea lebih dahulu berbicara sambil tersenyum sedikit mengejek ke anak bungsunya. “Kamu kenapa nggak bilang-bilang, Naa, kalau kamu punya pacar?”

Anjirrrrrr! Laksmana membeku di tempat. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri menahan malu. Ia memang belum sempat bercerita ke Mama kalau dirinya punya pacar. Menunggu waktu yang 'enak' karena Mama akhir-akhir ini banyak istirahat ketimbang berbicara padanya. Laksmana mengusap belakang lehernya kikuk, kemudian mengangguk sambil menyikut perut Ali.

“Eh.. iya.. Naa mau bilang sama Mama tapi nggak enak ganggu jam istirahat Mama, terus juga.. lupa, Ma.. hehehe.. maaf ya..” Mama mendengarnya hanya tertawa. Evie pun sama ikut tertawa karena melihat Mama. Ikut menggoda Laksmana dengan sorakan menyebalkan seperti; “ciee ciee.”

“Lagian, Mama tau darimana???”

Lea menunjuk Ali menggunakan dagunya. “Pacar kamu sendiri yang bilang begitu ke Mama.”

Laksmana menoleh, melotot, menginjak kaki Ali sambil mendengus sebal.

“EH?? SALAH YA NAA?”

“SALAH.”

“EMANG NGGAK BOLEH???”

Lea tertawa, begitu juga Evie yang ikut tertawa sambil mengambil tentengan dari Ali barusan. “Ini buat kita kan, Li?” Lalu dijawab dengan anggukan singkat serta acungan jempol dari Ali.

“KENAPA KAMU BILANGGG.”

“LAH GUE KIRA BOLEH?? MAAF GUE KIRA BUKAN RAHASIA.”

Yaudahlah. Laksmana menghela napasnya dengan pasrah. Mau ngomelin Ali berjuta kalipun, Mama serta Evie tetap tau. Mau marah sama Ali 100 juta tahun pun, Mama dan Evie tetap tau. Jadi, semua yang bersangkutan dengan ngomelin Ali atau marah sama Ali akan berakhir sia-sia.

Laksmana nggak menanggapi Ali lebih lama. Ia lebih memilih untuk bertanya bagaimana keadaan Mama sekarang. Melirik ke arah tentengan dari Ali yang super duper luar biasa banyak. Dirinya heran tadinya, Ali dapat uang darimana beli makanan ditambah bunga sebanyak ini?? Tapi beberapa detik kemudian, ia baru ingat kalau Ali adalah song writer. Uangnya juga pasti lebih banyak.

“Mama enakan?”

Lea mengangguk. Mengelus punggung tangan Laksmana dengan lembut. Tatapannya keibuan sekali menatap putra bungsunya yang habis dari luar. Mengurus beberapa administrasi di bawah. “Udah kok, Naa. Tapi kata dokter, Mama mulai sekarang harus tinggal di rumah sakit. Nggak apa-apa, ya? Maaf kalau Mama nyusahin Naa sama Evie..”

Pemuda tujuh belas tahun itu menggeleng. Balik mengelus punggung tangan Mamanya menggunakan ibu jari. Tatapannya lebih teduh dari tadi. “Nggak apa-apa, Ma.. Naa sama Kak Evie nggak merasa disusahin sama Mama kok. Anything for you hahaha.” Katanya diakhiri dengan tawa. Sebenarnya, hati Laksmana nggak setegar batu karang kalau dilihat-lihat. Tatapan matanya tersirat akan kesedihan. Melihat kondisi Mama yang semakin memburuk, membuat dirinya selalu was-was akan sesuatu buruk suatu saat. Kanker darah stadium 4 adalah stadium terakhir dengan rasio risiko tertinggi. Tingkat trombosit darah mulai turun dengan cepat. Sel-sel kanker mulai memengaruhi paru-paru termasuk organ-organ lain. Laksmana takut kalau dirinya akan 'ditinggal' lagi. Seperti Ayah ninggalin dirinya dua tahun yang lalu. Dirinya takut untuk kehilangan lagi.

“Mama pasti sembuh.” Ujarnya sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangan menatap ke arah lain. Pikirannya mulai berkecamuk membayangkan sesuatu yang nggak-nggak.

Lea tahu betul anaknya. Walaupun memang nggak pernah tinggal bersama, dan baru sekarang untuk bersama-sama lagi, Lea mengerti bagaimana tatapan sendu anak bungsunya sekarang. Ia juga sadar, kalau hidupnya pasti nggak akan lama lagi. Berkali-kali sekelebat bayangan malaikat maut datang menghampiri hanya untuk sekedar melirik lalu pergi lagi. Lea sudah terbayang-bayang oleh kematian yang ada di depan mata. Maut seperti ada muncul di hadapannya beberapa hari belakangan. Lea paham, Lea tau kalau dirinya pasti akan meninggalkan kedua anaknya entah kapan.

“Maafin Mama ya..”

Diantara Ayah dan Mama, Evie yang paling paham soal perubahan emosi Laksmana. Sekali lirik saja, ia tahu kalau Laksmana sedang emosional sekarang. Jadinya, ia menepuk pundak adiknya dengan lembut, “Naa, kamu keluar aja deh sama Ali. Mau kan? Kasihan aku sama kamu daritadi nggak jalan-jalan soalnya sibuk ngurus sana sini,” perempuan itu menjeda ucapannya, melirik sekilas ke arah Lea. “Aku jaga Mama di sini.”


“Aku kira kamu bakal ngajak aku ke mana gitu.”

Ali tertawa sambil melirik Laksmana yang sudah jalan terlebih dahulu mendahuluinya. Tangan kanannya dengan cekatan menutup pintu geser lalu menekan sesuatu hingga terdengar bunyi ceklek di sana. Itu adalah pengunci dari dalam. Jadi, nggak ada seorang pun yang bakal datang secara tiba-tiba lalu mendobrak masuk hingga menganggu ketenangan mereka berdua.

Kedua kaki Ali melangkah menyusul. Laksmana sudah duduk menjeplak pada lantai pualam. Rambut coklatnya bergerak-gerak terkena kesiur angin disekeliling. Kedua matanya menatap ke depan, ke arah gemerlapnya kota-kota dengan beberapa gedung pencakar langit. Ali menyeret tentengan makanannya, lalu ikut duduk di samping Laksmana tanpa berbicara.

Jika kalian bertanya di mana mereka sekarang, jawabannya ada di rooftop rumah sakit. Nggak usah bertanya kenapa mereka berdua bisa mengakses rooftop rumah sakit dengan mudahnya. Singkat saja, Ali tinggal bilang kalau dirinya adalah anak dari Bright Shaka pemilik rumah sakit yang sedang mereka pijaki sekarang sambil mengangkat tangan, menunjukan kartu identitas yang ia genggam.

Karunasankara Ali. Dengan begitu, beberapa petugas mengangguk mengerti. Memberikan Ali begitu saja kunci akses ke atas rooftop. Sambil senyum sumringah, Ali menerimanya. Lantas mengajak Laksmana sambil menenteng beberapa makanan.

“Nggak ah males. Di sini aja.” Sahut Ali sambil membuka yogurt yang ada di tangan. Kedua matanya pun tak lepas menikmati pemandangan kota yang terbentang luas. Terlihat indah sejauh mata memandang dari atas sini. Bulan bulat penuh terang benderang tepat di atas kepala mereka. Seolah sedang menyinari kedua anak manusia yang saling diam menikmati angin menampar pori-pori wajah dengan lembut. Seolah tersenyum hangat di tengah-tengah bintang serta awan berkabut di langit. “Mau makan, Naa?”

Laksmana menoleh, melihat Ali yang menyodorkan sejumlah makanan ringan untuknya. Dengan senang hati, ia tersenyum lalu mengambil. “Makasih, Ali.”

“Yaaa.”

Lalu diam.

Nggak ada percakapan spesial yang membuka keduanya. Keduanya malah hanya saling diam sambil mengunyah makanan sampai habis. Dan jika sudah habis, Ali akan menyodorkan kembali makanan ringan yang masih banyak dari dalam kantung plastik. Lalu kemudian diam lagi. Hanya ada suara gaduh membuka bungkus makanan dan suara kecapan mengunyah dari mulut Laksmana maupun mulut Ali.

5 menit saling diam, waktu kembali berjalan hingga akhirnya menunjukkan pukul setengah dua belas malam yang artinya sudah 10 menit mereka berdua saling sibuk dengan pikiran masing-masing.

Pemuda yang ada di sebelah Ali menoleh, menyenggol pundaknya pelan. “Ali, ngobrol yuk mau nggak?”

Ali menyahut. “Boleh. Ngobrol apa?”

“Emmmm…” Laksmana tampak menggantung ucapannya dengan kening yang terlipat berpikir. Wajahnya tampak ragu-ragu ingin menanyakan hal yang demikian—sepertinya terlalu privasi—hingga sampai-sampai Ali jadi gemas sendiri. Telapak tangan Ali yang besar kini mendarat di atas puncak kepala Laksmana lalu mengusap-ngusapnya dengan lembut. Menyadarkan lamunan Laksmana.

“Hayoooo kenapa lo jadi diem begitu? Ada yang dipikirin?”

“Nggak, sih, Ali… aku cuma hmmm apa ya… kita kan udah pacaran ya…”

“Yaaa siapa bilang temenan, Naa.”

Laksmana merengut. Bibirnya maju dengan kedua mata melotot menatap Ali nggak terima karena ucapannya barusan dipotong begitu saja. “Nggaaaak gitu. Aku ngerasa— apa ya, kayak nggak tahu banyak soal kamu gitu.. if you don't mind, boleh aku tahu banyak soal kamu, Ali?”

Ali terdiam untuk beberapa saat. Tangannya yang sedang meremas kaleng cola, kini seketika merenggang dengan kedua matanya yang berubah menjadi sendu. Perubahan air muka Ali jelas membuat Laksmana khawatir. Jadinya, buru-buru Laksmana melambaikan tangannya. Mencegah Ali untuk bercerita kalau anak itu tidak nyaman jika ditanya-tanya seperti ini. “Eh Ali nggak apa-apa, kok. Nggak usah cerita kalau kamu nggak mau.” Jawabnya tersenyum canggung dengan gelengan kepala kuat.

Langsung saja, Ali terkekeh. Melihat Laksmana yang tiba-tiba khawatir sebab dirinya mendadak diam. Ditatapnya kedua manik mata indah itu dengan lamat-lamat. Menatap pahatan wajah milik Laksmana yang sungguh sempurna jika dideskripsikan dengan kata-kata. Ali seperti ingin memotret pahatan wajah bak dewa ciptaan Tuhan itu di dalam otaknya lalu ia simpan hingga ia bisa ingat sampai seratus tahun ke depan.

“Oke gue cerita,” lelaki itu meletakan sekaleng cola yang sisa setengah miliknya di sisi kiri. Kontak mata mereka terlepas setelah saling bertatapan selama setengah menit. Ali lebih dulu mengambil napasnya dalam-dalam. “Tapi gue bingung harus cerita darimana ya…. Gue nggak pernah cerita soal 'gue' sama orang-orang. Tapi, karena ini lo yang nanya, gue bakal cerita.”

Laksmana terlihat antusias. Ia menatap Ali benar-benar tanpa kedip serta sabar untuk mendengarkan. Ia memperbaiki posisi duduknya, lantas menjauhkan makanan ringan dari hadapan. Ia ingin mendengarkan Ali tanpa ada makanan di mulut alias mengunyah. “Aku dengerin.”

Ali tertawa pelan. Mengelus belakang kepala Laksmana menggunakan ibu jarinya dengan lembut. Hingga saat suara tawanya mereda, tatapan Ali berubah menjadi sendu lalu menatap sepatunya sendiri. “Ada di mana gue nyalahin diri gue sendiri karena nggak seharusnya gue lahir, Naa.”

Jantung Laksmana seakan berhenti saat itu juga. Mendengar perkataan dari mulut Karunasankara Ali secara langsung. Mengucapkan secara gamblang kalau dirinya “seharusnya nggak lahir” itu menimbulkan pertanyaan besar dari benak Laksmana sekarang. Ali terkenal urakan dengan gayanya yang seenaknya. Melakukan sesuatu sesuka hati hingga selalu pede dalam segala hal. Mustahil juga sebenarnya kalau Ali bilang dirinya nggak pantas untuk lahir. Sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang selama ini 'slengean'.

Laksmana nggak langsung membuka mulutnya. Pemuda itu menunggu Ali untuk melanjutkan dengan sabar meskipun Ali malah diam seakan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kata-kata selanjutnya.

“Gue dulu hampir ngebuat Papa kehilangan nyawa.” Ali tertawa kecil. Diusapnya wajahnya yang tiba-tiba merasa gerah atau untuk menahan air matanya yang mulai jatuh merembas. “Waktu gue lahir, gue jadi penyebab salah satunya Papa hampir kehilangan nyawa. Waktu gue lahir, Papa pendarahan hebat yang bikin dia kehilangan banyak darah, Naa. Gue lahir caesar waktu itu karena Papa 'spesial' karena bisa hamil walaupun dia laki-laki.”

Pemuda yang ada di sebelah Ali masih setia mendengar walaupun lututnya sudah melemas mendengar cerita dari Ali yang seharusnya— anak itu nggak usah tau.

“Papa sama Ayah nyembunyiin cerita ini dari gue. Gue tau 2 tahun yang lalu waktu Papa bilang kalau gue mau punya adik perempuan. Papa sama Ayah ngomong agak tinggi walaupun jauh dari gue. Gue nggak sengaja dengar pas lewat kamar mereka.”

“Gue dulu emang mau punya adik perempuan, Naa karena gue merasa kesepian sebagai anak tunggal. Maka dari itu gue bilang ke Papa dengan nada ngotot. I know gue agak nggak tau diri, tapi pas gue tau dari ucapan Ayah—” Ali menggantung ucapannya. Tangannya mengepal, meremas fabrik kain celananya hingga lecek. “Ayah bilang, kalau Papa nggak bisa punya anak lagi karena tragedi gue lahir waktu itu. Karena pendarahan hebat dan ngebuat rahim Papa harus diangkat. Gue yang denger… langsung diem saat itu juga. Apalagi Papa, dia langsung syok pas denger, Naa.”

“Kenapa?”

Ali menoleh. “Karena Papa nggak tau yang sebenarnya. Ayah sengaja nyembunyiin ini semua dari Papa, termasuk gue. Mungkin karena puncaknya dua tahun silam, Ayah nggak sengaja bilang kalau mereka nggak bisa punya anak lagi, dan gue nggak bisa punya adik perempuan.”

“Gue waktu itu ngerasa bersalah banget, dan gue langsung nangis waktu itu juga. Gue ngerasa jadi penyebab semua ini, bahkan Papa aja nggak tau kalau dia pernah pendarahan hebat dan koma habis ngelahirin gue. Gue selalu ngerasa kalau gue seharusnya nggak lahir, Naa. Walaupun mereka nggak pernah bilang gitu karena mereka sayang sama gue, tapi gue ngerasa bersalah..”

Laksmana menepuk-nepuk punggung Ali perlahan. Ia sama sekali nggak membuat Ali menjeda ucapannya atau menyela sedikitpun.

“Dua tahun yang lalu itu bertepatan sama gue yang mau pergi ke Jerman. Gue juga baru tau kalau penyebab Papa nggak bolehin gue ke sana bukan hanya karena gue harus selesaiin pendidikan formal gue di sini, tapi karena gue anak tunggal satu-satunya dan gue masih kecil banget waktu itu. Mereka terlalu berat buat ngelepas gue. Jadinya, waktu gue tau kalau gue sejak lahir aja nyusahin, gue udah mulai ngerubah diri gue sendiri walaupun masih urakan. Gue nyoba biar nggak kayak anak kecil yang suka ngambek kalau minta sesuatu. Gue mulai perbaiki nilai yang tadinya jeblok awal-awal semester.”

“Mereka juga sepertinya banyak naruh harapan di gue walaupun mereka nggak pernah bilang gue harus jadi apa. Mereka selalu ngawasin gue dari jauh dan ngebiarin gue milih pilihan gue sendiri sesuka hati. Gue tau sebenarnya mereka nggak mau ngebebanin gue, Naa. Tapi kayaknya pikiran gue sendiri yang ngebebanin gue. Pikiran gue selalu bilang kalau gue anak yang nggak pernah nurut, nggak berguna, atau penyebab Papa hampir mati waktu lahirin gue.”

“I know it's hard for you, Ali. Tapi kamu sama sekali nggak begitu. Kamu bukan penyebab Papa kamu hampir kehilangan nyawa waktu itu. Jangan nyalahin diri kamu sendiri, nggak baik, Ali.”

“Gue tau, Naa. Tapi ya… nggak tau.. gue selalu mikirin itu terus-terusan. Dan sampai sekarang mereka nggak pernah cerita soal ini ke gue, walaupun gue juga tau sendiri akhirnya.”

“Jangan begitu..” Kepala Laksmana menggeleng pelan. Mengelus punggung belakang Ali dengan lembut. Menepuk-nepuknya sesekali lantas kemudian tersenyum tipis. “Kamu lahir itu udah ngebuat mereka senang, Ali. Mereka sangat nungguin kamu lahir. Kamu nggak nyusahin, kamu bukan pembawa sial seperti yang pikiran kamu bilang. Kamu ya kamu, Ali. Itu bukan kesalahanmu sampai kamu harus nanggung beban pikiran kayak gini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya? Mereka sayang sekali sama kamu.”

“Hahaha.. ya… they really love me so much.”

“And me too, Ali. Hahaha.”

Ali tertawa. Pemuda itu bergerak untuk memeluk Laksmana dengan erat. Mendekap pemuda itu dengan wajahnya yang ia letakan di pundak kokoh milik Laksmana. Dirinya merasa lega bisa menceritakan ini semua, berbagi beban bersama orang bukan ide yang buruk. Selama ini, tidak ada satu orang pun yang tahu soal pikiran Ali yang aneh-aneh soal menyalahkan dirinya sendiri atas kelahirannya ke dunia. Dan sekarang, rasanya lega sekali seperti beban jutaan ton di pundaknya perlahan menguap begitu saja. “Thanks udah dengerin…”

Laksmana membalas pelukan Ali walau tadinya anak itu terkejut. Ia mengelus puncak kepala Ali dengan lembut. Setidaknya, ia tahu Ali orangnya seperti apa. Selama ini ia merasa tidak enak kalau terlalu sering bercerita banyak pada anak ini sedangkan Ali tidak pernah bercerita banyak atau berbicara soal dirinya sendiri. Ali selalu mendengarkan, tidak pernah didengarkan karena anak itu tidak pernah bercerita banyak

“Thank you udah cerita, Ali. Kapan-kapan, tolong cerita yang banyak karena aku nggak mau kamu nanggung semua sendirian.”

“Hahahaha iyaaa, Naa. Makasih banyak.”

Keduanya saling melepaskan pelukan lalu tersenyum lantas tertawa seperti tak ada beban yang mendekap. Kedua mata mereka memandangi langit-langit kota yang cerah ditemani jutaan bintang yang berkelip mengelilingi bulan penuh malam ini. Nggak terasa juga, sudah pukul dua belas malam. Sudah hampir satu jam mereka berdua di rooftop menghabiskan waktu malam sambil menikmati malam yang tampak cantik hari ini.

Sepertinya, sampai pagi datang pun, mereka nggak masalah untuk berlama-lama di sini.

“Eh iya Naa.”

Laksmana menoleh, melirik Ali yang sekarang sedang sibuk mencari-cari sesuatu dari dalam kantong celananya. “Kenapaa?”

Ali menyengir—sudah menjadi ciri khas Ali kalau apa-apa selalu menyengir sok ganteng padahal memang ganteng—lalu mengeluarkan satu pulpen miliknya serta menggeser bokongnya supaya lebih dekat dengan Laksmana. Tangannya pun terulur, menunjukkan telapak tangannya yang kosong. “Kesiniin tangan lo.”

“Buat???”

“Siniin aja.”

“Oke oke.” Pemuda itu menurut. Mengulurkan telapak tangannya ke arah Ali sesuai dengan perintah anak itu. Wajahnya terlihat bingung saat Ali memegang tangannya dengan lembut serta mengarahkan pulpennya ke atas telapak tangan seperti hendak menuliskan sesuatu.

“Tutup matanyaa nggak boleh lihat.”

“HARUSSS??”

“IYAA HARUSS.”

Dia terkekeh. Menganggukkan kepalanya ringan diiringi dengan kedua matanya yang mulai menutup. Tidak sedikitpun Laksmana mengintip Ali sedang apa dengan telapak tangan kanannya. Yang hanya ia rasakan sekarang, ujung pulpen dengan lembut bergerak-gerak, menari-nari di sana. Membuat dirinya sedikit geli dan hendak tertawa. Hampir saja ia menarik secara refleks tangannya kalau saja Ali nggak segera menahan tangannya untuk tetap disitu.

“Bentarrrr lagi jadi jangan ngintip.”

“Ngapaaaain sihhh???!!!” Katanya dengan tak sabaran. Ali terkekeh lalu dua puluh detik kemudian, ia menyelesaikan kegiatannya 'menulis' di atas telapak tangan milik pacarnya.

“Udahh tuh lihat.”

Perlahan, Laksmana membuka kedua matanya. Pandangan pertama yang ia lihat adalah Ali yang sedang tersenyum jenaka ke arahnya. Sudah ada firasat buruk tadinya kalau telapak tangannya hanya dicoret-coret asal oleh Ali.

Tapi sepertinya, perkiraan Laksmana meleset. Dirinya tertegun melihat tulisan tangan Ali di telapak tangannya. Menggunakan pulpen.

Can I be your boyfriend?

Laksmana mati kutu. Ia nggak bisa berkata apa-apa lagi melihat perlakuan tiba-tiba Ali sekarang.

“Gua seharusnya waktu itu nembak lo dengan cara yang benar. And now, I want to try it again, Laksmana. Gua pernah bilang kalau mau nembak lo lagi dua kali.” Kata Ali sambil mengusap belakang lehernya canggung. Ia tersenyum kecil dengan semburat merah menjalar sampai ke pipi. “I love you more than anything. Kalau Papa sama Ayah ada di urutan nomor satu, lo menempati urutan nomor dua sekarang, Laksmana. Gue tau kayaknya… cringe banget anjingg ah tapi—yeah, yaudah. I love you.” Sambungnya lagi dengan terbata-bata.

Laksmana tertawa melihat Ali yang sedang salah tingkah. Tanpa berbicara, tanpa membuka mulutnya, Laksmana merebut pulpen yang ada dalam genggaman Ali. Melakukan sesuatu yang sama seperti yang Ali lakukan padanya tadi. Menulis pada telapak tangan.

Is there any other answer besides 'yes'?

Ali tertawa setelah membaca kalimat yang tertulis pada telapak tangannya. “Nggak ada. if you give a 'no' answer i will try to get you to give a 'yes' answer even if i have to try a hundred million times.”

Keduanya sama-sama tertawa. Ali mengelus puncak kepala Laksmana, begitupun juga Laksmana melakukan hal yang sama untuk Ali. Keduanya sama-sama tersenyum satu sama lain, menatap netra masing-masing dengan penuh cinta seperti remaja jatuh cinta pada umumnya. Mereka nggak peduli walau langit cerah ataupun gelap, mereka nggak peduli walau jam sudah hampir menunjukan angka setengah satu lewat.

Selama bersama-sama. Selama berdua saja di sini, keduanya nggak keberatan sama sekali.

“I want to say 'i love you' in a cool language.”

“Oh ya? Apaa?”

Ali mengulum senyumnya. Memasang wajah 'sok' sambil melipat kedua tangan di depan dada. “143.”

“Hahaha ohhhh. Aku juga punya i love you in cool language.”

Ali memasang raut wajah bertanya-tanya. “Apaa?”

“143 224.”

“ITU APA ARTINYA????”

Laksmana tertawa lepas. Menjulurkan lidahnya mengejek. “CARI TAU SENDIRI HAHAHAHAHA.”

“NAAAA KASIH TAU.”

“GAAAAAAAAK.”

—SELESAI—

356. Study (date) with Lily

Saat Ali melangkah masuk ke dalam cafe dengan Lily yang tengah ia gendong, Laksmana langsung memberhentikan aktivitas mengerjakan soalnya dan langsung beralih menatap mereka berdua. Suara berisik Lily yang memukul-mukul Ali nggak terima, bersahut-sahut dengan suara Ali yang menggeram sebal namun tetap memasang wajah nggak terlalu bete karena takut Lily melihatnya sedang marah. Ali merengut, lalu langsung menurunkan Lily dari gendongannya.

“Kamu lama banget jalannya.”

“Kakak Ali punya kaki kepanjangan!” Kata Lily sambil merapikan anakan rambutnya. Bibir merahnya terlipat ke bawah, masih melayangkan tatapan nggak terima pada Ali. “Nanti aku aduin ke ayah kamu loh.”

“Aduin aja.” Sahut Ali menggendikan bahunya lalu berjalan meninggalkan Lily yang masih mendumal, berjalan mengekorinya. Senyuman Ali langsung terbit begitu melihat Laksmana yang tengah menatap ke arahnya juga, dengan tangan yang melambai mengisyaratkan 'sini!'

“Lama nggak?” Ali bertanya begitu saja. Tangannya terulur untuk menarik kedua kursi hingga terdengar suara berderit. Menyuruh Lily untuk duduk di sebelahnya. Laksmana hanya bisa menggeleng sebagai jawaban, membereskan buku-buku serta ipad miliknya yang berantakan.

“Nggak. Aku juga baru sampe lima belas menit yang lalu.”

Ali mengangguk-angguk. Kedua matanya melirik ke arah Lily yang masih menatap Laksmana tanpa kedip. Tatapannya nggak lepas satu senti pun dari Laksmana. Tatapan kagum lalu menepuk-nepuk punggung tangan Ali.

“Kakak, ini kakak Laksmana ya? Aku inget kok soalnya foto profilnya mirip.” Suara Lily yang menyicit setengah berbisik pada Ali. Laksmana yang mendengar suaranya samar-samar tertawa sambil mengangguk ringan.

“Iyaaaa. Kamu lebih cantik dari yang di foto ya, Lily.”

Lily menyengir. Menampilkan deretan giginya yang masih kecil-kecil. Anak itu merapikan rambut panjangnya, sambil membenarkan duduk. Kembali menatap Laksmana dengan kedua mata cokelatnya. “Kakak Laksmana juga lebih keren dari yang di foto wowwww. Kamu keren bangetttt.” Jawabnya tertawa, sambil mengacungkan kedua jari jempolnya ke arah Laksmana.

“Hahahaha thank you, princess Lily.” Laksmana pun berdiri hingga kursinya tergeser dengan sendirinya hingga terdengar suara deritan. Ali yang sejak tadi diam kini mengadah, menatapnya dengan bingung.

“Mau ke manaa?”

Laksmana melirik sekilas. “Aku mau pesen makanan sama minuman buat kalian. Lily mau apa?”

Cheese sausage sama Croissant boleh?” Katanya tanpa harus melihat ke arah buku menu. Lily terlihat sudah hapal dengan segala menu yang ada di cafe ini. Sebab, cafe ini punya Metawin yang artinya ia sangat sering ke sini bersama Ali ataupun bersama bundanya. “Sama minumnya aku mau vanilla smoothie.”

Laksmana mengangguk sambil tersenyum tipis. Memberikan kedua jempolnya pada Lily. “Tunggu yaaa,” lalu setelahnya ia menepuk pundak Ali. “Kamu mau apa?”

“Apa ajaa dah ngikut Lily aja.”

Laki-laki itu mengangguk mengerti. Setelahnya ia pamit dan melangkahkan kedua tungkainya ke arah kasir untuk memesan sejumlah makanan serta minuman. Ali serta Lily menatap punggung Laksmana yang berdiri beberapa meter dari sana.

He's so cool, Kakak Ali.” Lily bergumam, menepuk-nepuk pundak Ali menggunakan tangan kecilnya.

I know. My boyfriend is sooo pretty cool.”

Lily tertawa. “You like him so much, Kakak Ali.”

“Hahahaa.” Ali mengacak-ngacak rambut Lily sambil mengangguk. Menyetujui ucapan Lily. “Do you like him too?

“IYAA!!!”

“Yah, saingan dong kita sekarang?”

Lily tertawa. Mengangguk semangat sebagai jawaban dari pertanyaan Ali.

302. you sleep with me while i read a book

Laksmana's Pov

Hari ini, aku ke rumah besar milik Ali lagi. Sambil menenteng makanan kucing dan juga pasir kucing di tangan, aku menoleh-noleh ke sana kemari sambil mendumal kesal sebab si tuan rumah nggak kunjung datang. Aku sudah berkali-kali memberikan spam chat untuknya namun tidak kunjung mendapatkan jawaban. Mungkin Ali masih sibuk mengurusi urusan 'kamar mandi' nya karena ini sudah lima belas menit berlalu sejak chat terakhir darinya.

Aku mendumal. Ku hembuskan napas berat sambil mendorong gerbang rumah Ali yang tinggi menjulang. Beberapa satpam yang melihatku, langsung menyapa dan menawari untuk membawakan barang bawaan banyak pada genggaman tanganku. Aku menggeleng, menolak bantuannya karena merasa tidak enak. “Nggak apa-apa, Pak. Aku bisa sendiri, kok.” Sambil tersenyum ramah, dan menolak dengan halus. Pak satpam tersebut mengangguk, mengambil ponselnya serta meninggalkan pesan suara untuk Ali. Memberitahu kalau aku sudah di sini sementara aku hanya merotasikan kedua mata dengan malas. Anak itu masih sibuk mengeluarkan feses dari perutnya. Kemungkinan besar selesai juga setengah jam lagi. Kalau ia nggak main-main di dalam kamar mandi dulu.

“Halo, Laksmana. Mau ketemu sama Ali, ya?” Suara berat menyapa gendang telinga dan dengan segera aku mengangkat kepala menoleh ke asal muasal sumber suara. Kepalaku perlahan mengangguk kikuk, sementara si yang punya suara langsung menyambar tentengan penuh yang ada di tangan, lalu bergerak meninggalkanku terlebih dahulu. “Ali nya lagi sakit katanya. Dia dari tadi nggak keluar-keluar dari kamar mandi.” Ia menyahut lagi. Sementara aku mengangguk-angguk dan mengekorinya dari belakang. Hendak protes namun mulutku terlebih dahulu bungkam.

“Maaf ya, anaknya emang suka ngeselin. Ini Ali udah bayar ini semua belum?”

“Eh— udah kok, Om.” Aku menjawab kemudian Om Shaka yang berstatus sebagai Ayahnya Ali mengangguk mengiyakan. Nggak ada percakapan yang berarti antara aku dengan Ayahnya Ali. Aku hanya melihatnya dengan kepala yang ditegakkan, menatap punggung lebar itu dari belakang. Dipikir-pikir, Ali dengan Ayahnya itu emang nggak ada yang dibuang. Semua, dari bentuk wajah sama persis. Walaupun dari segi bobot tubuh mereka berbeda, karena Om Shaka lebih besar tubuhnya dibanding Ali yang sering bermalas-malasan.

Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke basement milik Ali—tempat anak itu berdiam diri di tengah-tengah rumah besar yang ia punya. Ayahnya Ali berpamitan setelah mengetuk pintu basement dengan hati-hati. Memanggil anaknya dengan suara tegas kemudian menggelengkan kepala sebab anaknya amat sangat menjengkelkan. Aku terkekeh pelan, menyetujui ucapan pria bertubuh besar di sampingku ini. Beliau bilang, Ali sangat menjengkelkan dan membuat seluruh orang rumah geleng-geleng kepala. Aku diam-diam menyetujui, karena sudah tahu tingkahnya di sekolah.

“Om tinggal ya, Laksmana. Tunggu aja sampai dibuka pintunya. Om mau buka tapi pintunya dikunci, nggak tau anak itu apain sama pintu ini.” Sahutnya sambil mengetuk-ngetuk pintu tersebut hingga terdengar bunyi tuk tuk tuk. Aku mengangguk, bilang terima kasih hingga beliau berbalik badan, pergi dari hadapanku, meninggalkanku berdiri seorang diri di depan pintu tinggi menjulang bersama makanan kucing serta pasir kucing yang teronggok bisu di bawah kaki.

Ceklek

“LAMAAAAAAA BANGET?????” Aku otomatis berteriak sambil melotot setelah melihat bayangan dari Ali dari balik pintu mengeluh sambil memegangi perutnya. Aku sudah bersiap untuk meninju Ali kapan saja menggunakan pasir kucing serta makanan kucing milik Ily. Pintu kemudian terbuka lebar, mendapati Ali dengan wajah pucatnya menatapku sambil meringis. Hardikan yang tertahan di mulut, kini meluap begitu saja setelah melihat Ali yang seperti orang hidup segan mati tak mau.

Lantas, aku langsung memelankan intonasi berbicara. “Eh…. Ali, kamu nggak apa-apa, kah?”

Ali mengangguk lesu. Ia menyingkir dari pintu mempersilahkanku untuk masuk. Dengan ragu-ragu, aku menatap Ali sekali lagi. Memastikan kalau anak itu sedang baik-baik saja ditengah-tengah keadaannya yang sudah diujung tanduk. Pintu tertutup, aku meletakan makanan kucing di dekat pintu dan membuka sepatuku. Ali berjalan ke atas ranjang, tidak memperdulikanku yang baru saja masuk dan hendak menyapa Ily—kucing putihnya Ali.

“Ali udah makan belum?” Suaraku langsung memelan begitu saja sambil mengisi bowl kosong milik Ily dengan wet food yang baru saja aku beli. Kucing putih itu mengelilingi kakiku, melingkar-lingkar dengan buntutnya yang panjang bergoyang-goyang. Aku terkekeh pelan, mengelus puncak kepalanya dengan kasih sayang lalu mendaratkan satu kecupan di sana. “Makan ya, majikan kamu lagi nggak bisa kasih makan.”

“Meong.”

“Anak pinterrr.” Aku tertawa terbahak. Kucing itu sangat nurut, sebelum sempat menyantap makanan yang sudah dihidangkan, Ily menatapku dengam bola mata hitam bundarnya. Sekali lagi, aku mengelus bulu-bulunya yang halus, lalu beranjak berdiri meninggalkannya.

“Ali udah makan?”

Ali menoleh, ia mengangguk lesu. “Udah tadi makan pake bubur.”

“Jam berapa?”

“Setengah jam yang lalu… kayaknya???”

Kepalaku mengangguk-angguk. Kemudian menoleh ke arah nakas tempat obat-obatan milik Ali teronggok begitu saja tanpa disentuh. Tidak ada bekas sobekan pada bungkus obat di atas meja. Aku menghela napas, mengambil obat-obat tersebut sambil menggeram kecil. Melirik ke arah Ali yang sudah membungkus tubuhnya menggunakan selimut tebal. Aku sudah menduga, kalau Ali nggak akan pernah mau minum obat.

“Ali, ayo minum obat.”

“Nggak.”

“Hehh tadi kamu janji loh mau minum obatnya???? Ayo minum.”

“Nggak mau.”

“KENAPAA???” Suaraku sedikit meninggi. Ali berdecak kesal dari balik selimutnya. Kemudian, menyingkap selimut tebal tersebut yang menutupi wajah. Menatapku dengan raut wajah nggak terima. Aku mengangkat sebelah alis. “Kenapa ngeliat aku kayak gitu???”

“Nggak mau minum obat ah, Na. Malesssss. Pait juga.”

“Minum obat biar kamu nggak sakit lagi. Udah makan tapi nggak minum obat gimana mau sembuh.”

“Nggak mau ah.”

“ALIII.” Tanganku terulur, menarik paksa selimut yang menggulung tubuh Ali. Melemparnya dengan sembarang hingga mendarat pada lantai marmer dengan sempurna. “Minum obatnya. Atau nanti aku pulang.”

Ali mungkin kesal denganku, tapi aku sama sekali nggak peduli. Sambil memasang wajah pura-pura marah dan galak, sambil memegang obat juga di tangan, aku mengulurkan tanganku ke arah Ali hingga pemuda itu dengan berat hati menyambar obatnya dari telapak tanganku. Ia mendumal, aku balas sinis menatapnya. Ali bangkit dari atas tempat tidur, berjalan meninggalkanku untuk mencari botol air minum yang terisi penuh tergeletak di atas meja belajar besarnya.

“Jangan dibuang loh. Aku ngeliatin dari sini.”

Ali berdecak sebal. “Iyaaaa iyaaa, tuan. Gue minum obatnya nih.” Sambil terus komat-kamit kesal, Ali memperlihatkan dirinya yang sedang minum obat. Aku tersenyum puas, merebahkan diriku di atas tempat tidur milik Ali dengan satu tangan yang terbuka ke samping. Wangi parfum milik Ali tercium begitu saja saat aku mendaratkan kepalaku pada bantal empuk miliknya. Mataku masih memincing tajam, menatap ke arah Ali yang berjalan gontai ke arahku sambil memegang buku.

“IHHH novel hujan!!! Aku punya sih di rumah tapi udah dihilangin sama Kak Evie.” Kataku dengan antusias. Ali mengangguk, menyerahkan novel tersebut dan mendarat tepat di atas perut. Dengan cekatan, aku mengambilnya dengan senang hati. Melupakan Ali yang mulai duduk di atas ranjang, serta merebahkan tubuhnya di sebelahku. Wangi parfumnya kembali menguar, mendobrak-dobrak indra penciumanku hingga seperkian detik merasa 'terpesona' oleh wanginya. Ali walaupun nggak mandi satu bulan pun, ia akan tetap wangi. Entah bagaimana ceritanya. Namun saat ia berkeringat usai bermain basket pun, ia akan tetap wangi.

“Na.”

Aku menoleh, sedikit terkejut Ali sudah mendaratkan kepalanya pada lenganku yang terbuka lebar. Menjadikan lengan milikku sebagai bantalannya. Kedua matanya otomatis tertutup, deru napasnya beraturan. Suhu tubuhnya juga panas sekali. “Ya?” Aku lantas menyahut. Nggak menyuruh Ali untuk menyingkir karena keadaannya sangat mengenaskan. Demam tinggi, dan juga habis buang air besar berkali-kali—kata Ayahnya.

“Gue tidur ya.”

“Hmmmm.” Jawabku sambil menyisir-nyisir rambut milik Ali dengan lembut menggunakan jari—ini refleks. Helaian rambut itu sungguhan halus dan juga wangi. Aku nggak mengerti bagaimana caranya padahal rambut ini selalu berantakan jika berangkat ke sekolah.

“Elus terusss rambut gue biar gue tidur.”

“Iya bawel.”

“Hehehehe.”

Sebenarnya, jantungku sudah dari tadi mencelos ke bawah. Tapi aku berusaha menetralkan degup jantungku agar nggak berpacu lebih kencang. Berkali-kali aku menghembuskan napas agar semakin tenang dan rileks.

Tenang… tenang Laksmana… dia cuma Ali..

Sambil tangan kananku masih sibuk menyisir-nyisir rambut Ali, aku melanjutkan kegiatan membaca buku hujan yang sudah aku reread hampir berjuta kali rasanya.

Dengan jantung yang masih terus berpacu seratus kali lipat dari biasanya.

265. Yes?

Pintu terbuka setelah Laksmana menekan deretan angka membentuk password agar pintu segera memberikan akses masuk. Nafasnya pun lantas berhembus lega lalu mulai melangkahkan kakinya ke dalam. Kedua bola matanya bergerak-gerak, mencari objek yang akan ia temui. Sambil menenteng buku paket fisika beserta ipad di tangannya, Laksmana menghembuskan nafasnya yang kesekian kalinya saat melihat Ali sedang memainkan bola basket dengan asal. Memasukkannya ke dalam ring, lalu ia ulangi lagi sampai yang kelima kali.

“Ali.” Laksmana akhirnya membuka mulut. Ia berjalan mendekat lalu duduk berjarak lima meter dari Ali berdiri. Kakinya pun ia luruskan dengan kepala yang diangkat untuk menatap pemuda tinggi menjulang.

Yang dipanggil lantas menoleh, tersenyum kecil lalu membiarkan bola basketnya menggelinding begitu saja ke sembarang arah. Tungkainya melangkah, sedikit berlarian kecil untuk menghampiri Laksmana yang sedang mengemil coklat di tangan.

“Kamu nggak bosen apa di sini terus?” Itu adalah pertanyaan pertama yang Laksmana ajukan sekaligus membuka topik obrolan. Ali mengangguk, sambil nyengir. Tangan kirinya mengambil botol yang ada di sebelah, membuka tutup, lantas ia tandaskan keseluruhan air di dalamnya dalam sekali tegak. Kemudian lanjut menyisir rambutnya yang kusut berantakan.

“Nggak.” Jawabnya dengan bahu yang ia naik turunkan acuh. Tubuhnya sedikit ia condongkan menghadap Laksmana, mengintip bagaimana anak itu dengan lihainya mulai membuka buku paket. Menggeser lembar demi lembar menggunakan jari-jarinya yang bersih. Kepalanya ia tundukan, dengan bibir yang terus bergumam mencari lipetan halaman sebagai tanda terakhir mereka belajar empat hari yang lalu.

“Kita kemarin belajar sampe mana ya, Li?”

Ali tertegun. Nggak terlalu menghiraukan Laksmana yang masih fokus membuka lembaran buku. Melihat-lihat beberapa angka rumus yang ada di dalam buku. Ali malah menatap Laksmana tanpa berkedip. Bibirnya pun sedikit terbuka karena… errr.. apa ya.. pemuda yang duduk santai di hadapannya ini betulan indah walaupun hanya ditatap dengan mata telanjang. Bulu matanya yang panjang jatuh ke bawah, hidungnya bangir, pipinya gembul, dan dengan kulit wajah yang sehat. Nggak lupa bibirnya yang semerah apel ranum. Siapa juga yang mengalihkan pandangannya dari Laksmana? Kalau orangnya seindah ini?

“Ali.”

“Eh iya. Apaa..?”

“Kamu bengong.”

“Hahaha nggak. Gue ngeliatin lo aja, sih.”

Laksmana memutar kedua bola matanya malas. Nggak menanggapi lagi jawaban dari Ali barusan. Ia memilih untuk terus mengotak-atik buku, membuka ipad miliknya untuk mencari catatan dari guru. Ia semalam juga mengerjakan 20 soal fisika sendirian. Sadar kalau 4 hari terakhir nggak belajar bersama Ali. Jadinya ia belajar sendiri.

“Eh Na.”

“Ya?” Ia mengangkat kepalanya. Netra mereka berdua pun bertabrakan. Ali jadi gugup sendiri.

“Nggak usah belajar deh.”

Pergerakan tangan Laksmana berhenti begitu saja. Wajahnya berubah menjadi bingung. Ia menatap Ali. “Kenapa?”

“Main basket aja. Yuk?”

Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda ini, bahkan, sebelum Laksmana sempat menjawab dan hendak protes oleh keputusan tiba-tiba darinya, pemuda itu lanjut berdiri meneruskan acara bermain basketnya saat itu juga. Kaki panjangnya berlarian mengejar bola yang menggelinding. Memasukkan bola yang berantakan ke dalam keranjang. Tangannya terangkat—dengan bola basket yang ia pegang—dengan asal Ali memasukkan bola basket tersebut ke dalam ring. Yang anehnya, tetap masuk walaupun asal.

“Kenapa jadi main basket???” Laksmana protes nggak terima. Raut wajahnya berubah menjadi kesal. Ipad miliknya ia letakan di atas hoodie hitam milik Ali yang terlipat rapi di bawah. Sedikit ia geser karena takut terinjak. “Kan kata kamu ke sini mau belajar?”

“Belajar mulu.” Jawabnya agak slengean. Ali terkekeh kecil, ia melempar bola basket ke arah Laksmana pelan. Pemuda itu segera menangkapnya, walau agak kesusahan dan pastinya mengomel protes kepada Ali. “Main basket ayo.”

“Gak mauuuu.”

“Ih lo mah nggak mau nggak mau mulu.” Ali berdecak sebal dengan tangannya yang lihai memantul-mantulkan bola basket dengan santai. “Ayo sesekali. Otak lo nggak ngebul apa.”

“Sedikit.”

“Apaan itu ada asepnya.”

“Nggak bisa aku main baskettt. Bisanya ngegambar.”

“Lah gue malah gak bisa ngegambar.”

“Ah tau ah.”

Ali tertawa. Pemuda itu kembali memasukkan bola tersebut ke dalam ring. “Ayoooo. Kalo lo bisa masukin tuh bola ke ring, gue traktir.” Katanya berusaha membujuk. Setengah berharap agar Laksmana mau. Melihat dari raut wajah anak itu yang kesal padanya. Terus terusan melemparkan tatapan sinis serta tajam. Sesekali mendesis, lalu meninju bola basketnya asal. “Jangan ditinju mulu tuh bola. Bisa kempes.”

“Berisik.”

“Hahahaha, yaudah Naa ayo. Gue ajarin serius dah.”

“Nggak bisa.”

“Harus bisa gimana sih. Asal aja ngelemparnya tuh,” Ali menunjuk ring basket yang tingginya sekitar 3,5 meter. “Mumpung jamkos. Gue temenin di sini sampe pulang.”

Yang diajak bicara tampak menimbang-nimbang sebenarnya dengan ajakan yang Ali bilang tadi. Tampak 3 menit mereka berdua tahan dengan keheningan, dan Ali yang sibuk sendiri dengan bola basket, akhirnya Laksmana mengangguk pasrah. Ia juga nggak bisa menolak. Lagian, apa salahnya mencoba?

Ali tersenyum puas. Tangannya ia kepalkan lantas meninju ke udara. “Yes!”

“Eh tapi tadi katanya kan kalo aku bisa masukin bolanya ke ring aku bisa—”

“Iya iya ntar gue traktir apa yang lo mau.”

“Beneran nggak nih?”

“Beneran anjirrrrrrr. Lo meragukan gue kah.”

Laksmana tertawa. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Ali lalu berdiri dan berhenti tepat di sebelahnya. Hanya beda beberapa senti, dan tentunya pundak.mereka saling bersentuhan. Kedua mata Laksmana tampak ada binarnya, seakan sedang antusias menatap ring basket yang tinggi menjulang di hadapan.

Sangat berbeda dengan Ali, pemuda itu malah salah tingkah sendiri. Telinganya memerah begitu saat pundak mereka nggak sengaja saling bersentuhan satu sama lain. Wangi parfum Laksmana mengobrak-abrik indra penciumannya. Jantungnya berdegup nggak karuan. Ali benar-benar salah tingkah nggak seperti biasanya.

“Ini dilempar begitu aja?”

Ali mengangguk. “Kayak gini, Naaa.” Ia kemudian mencontohkan gerakan tangan yang seharusnya untuk melempar bola basket ke dalam ring. Laksmana memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Bagaimana jari-jari milik Ali menyapu bola basket dengan lihainya, memegangnya hingga nggak sengaja terlihat urat tangan yang samar-samar muncul di antara pergelangam tangan. “Posisi lo kayak gini, nanti terus lo tinggal lempar.”

Setelah Ali berkata demikian, bola tersebut lantas melayang ke udara sesuai dengan persetujuan milik Ali. Beberapa detik berlalu, bola tersebut dengan mudahnya masuk ke dalam ring basket. Laksmana terpukau nggak berkedip, sementara Ali terkekeh sambil merenggangkan otot-ototnya. Memasang wajah 'sombong.'

“Coba lo.”

Ia mengangguk. Sehabis Ali mencontohkan gerakan basket barusan, Laksmana mencatat baik-baik di dalam kepalanya. Tubuhnya memperagakan apa yang ia lihat, meniru Ali. Tangannya pun juga memegang bola basket seperti Ali tadi. “Eh gini kan ya megangnya?”

Ali menoleh, ia berjalan mendekat. Merevisi jari-jari tangan Laksmana yang sekiranya salah. Menyentuh jarinya sedikit.

Anjing, gue deg deg an kayak orang gila, Ali merutuk dirinya dalam hati, lalu menghela nafasnya gusar. Berusaha menetralkan degup jantungnya yang berpacu cepat. “Dah gitu. Lempar sana.”

Laksmana tertawa. Kemudian mengangguk, menurut. Kepalanya pun menoleh ke arah ring basket. Pandangannya fokus ke depan, seperti sedang membidik. Tangannya perlahan lahan terangkat, nggak lupa meniru gaya Ali tadi sebelum menjebloskan bola tersebut ke dalam ring. Enam detik berlalu, bola tersebut sudah melayang bebas di udara. Laksmana menatapnya penuh harap, namun pengharapan itu terjun bebas bersamaan dengan bola basket yang memantul nggak mengenai ring.

“Tuh kaaaan. Udah aku bilang nggak bisa.”

“Coba terus sampe bisa lah. Jangan nyerahhhh.”

“Hahhhh… malesssss…”

Ali tertawa. Kembali melemparkan bola basket tersebut dan langsung disambut oleh Laksmana.

Dan begitu terus. Setengah jam berlalu, ini sudah percobaan ke tujuh kali Laksmana yang berusaha memasukkan bola basket ke dalam ring. Sementara Ali yang nggak pernah miss sekalipun. Bola tersebut seakan sudah nurut padanya. Ali seperti 'tuannya' bola basket.

“Coba lagi.”

“Nggak mau ah nggak masuk-masuk.” Laksmana meniup rambutnya yang berantakan. Keringat sudah menetes di dahi serta dekat telinganya. Rambutnya menjadi lepek. “Kamu aja yang main aku mau baca ebook.”

Ali terkekeh kecil melihat Laksmana yang mulai berputus asa. “Sekali lagi. Kalo nggak masuk juga, gue tetep traktir kok.”

Ucapan Ali terdengar menggiurkan. Terus membujuknya namun Laksmana tetap menurut. Bukan karena tawaran Ali yang tampak menyenangkan, tapi karena memang kesal kenapa bola sialan ini sama sekali nggak mau nurut dengannya. Padahal, hanya memasukkannya saja ke dalam ring. Melihat Ali yang mudah saja melakukannya dalam beberapa kali percobaan, membuat Laksmana jengah.

“Sekali lagi abis itu gue traktir.”

Helaan nafas kembali terdengar. Ali menyemangati dengan bawelnya. Berisik memenuhi keheningan lapangan yang hanya diisi oleh dua orang siswa. Laksmana mengambil bola yang mendarat di bawah kaki. Kali ini, ia seperti tampak serius dari sebelumnya. Ali berjalan menjauh, berhenti tepat di sebelah hoodie miliknya yang terlipat rapi di bawah bersamaan dengan buku serta ipad milik Laksmana. Pandangannya menatap Laksmana nggak bergeser sedikit pun. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Seperti pelatih yang memantau anak didiknya.

Pemuda yang berdiri di hadapan ring kini mulai melemparkan lemparan terakhir bola basket ke udara setelah terdiam cukup lama entah sedang merapalkan mantra atau sedang memaki maki bola karena kesal tidak mau menurut. Ali menatap bola yang melayang bebas di udara. Detik-detik menegangkan saat bola tersebut mulai mendekat ke arah ring yang kosong. Laksmana menggigit jarinya sendiri. Hingga tiba ke detik ke lima, bola tersebut akhirnya masuk dengan mudahnya. Mendarat ke tanah, serta memantul-mantul ke sana ke mari.

Ali tersenyum lebar, Laksmana tertawa setelah ia berteriak kesenangan.

“Dah kan? Bisa kan? Mana yang katanya nggak bisa.”

Laksmana tertawa. “Ya kan itu harus berapa kali percobaan dulu baru masukk.”

Lawan bicaranya mengangguk-angguk. “Ya sekarang mau apa? Lo istirahat gih sana. Kasihan basah kuyup gitu.”

“Mau chatime?”

“Boleh daaah. Gue gofood dulu kalo gitu.”

Laksmana mengangguk, kemudian tertawa dan memilih untuk duduk di dekat buku paketnya yang tergeletak. Pemuda itu mengambil ponselnya, membuka media sosial serta membalas chat yang belum dijawab. Sementara Ali menekan aplikasi gojek untuk membelikan minuman yang Laksmana mau. Tak lupa menanyakan variant yang apa.

Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Laksmana memilih untuk merebahkan dirinya dengan asal pada lapangan yang sudah bersih habis ia sapu barusan. Dengan hoodie milik Ali yang ia jadikan bantalan. Nggak terlalu mempedulikan Ali yang daritadi keluar dari sini. Entah ke mana. Sepertinya sedang membeli beberapa cemilan untuk di makan.

Lima belas menit berlalu. Pintu terbuka dengan Ali yang muncul membawa beberapa tentengan kantung plastik di tangan. Chatime pesanan Laksmana, dan juga beberapa makanan ringan seperti chiki dan juga biskuit yang ia beli dari kantin.

“Heh banyak banget, Ali…” katanya setelah menegapkan tubuhnya melihat tentengan yang Ali bawa. Ali terkekeh, ikut duduk menjeplak di sebelahnya. “Kamu darimana aja deh lama banget.”

“Tadi abis dari toko buku.”

“Ngapain?”

Ali mengacungkan sticky notes beserta pulpen ke udara. Menunjukan barang yang baru saja ia beli dari toko buku. Laskmana mengangguk-angguk paham, mengambil satu bungkus chiki yang belum dibuka dari dalam kantung plastik.

“Kamu biasa ke sini ya emang?”

“Iyaa sering. Kalau nggak ke sini ya ke UKS numpang tidur, pura-pura sakit. Tapi kayaknya Kakak yang jaga UKS udah hapal kebiasaan gue pura-pura sakit jadi dibiarin aja.” Katanya sambil menggindikan bahunya acuh. Tangannya bergerak-gerak, menulis sesuatu di sticky notes berwarna menggunakan pulpen. Setelahnya, ia tempelkan pada minuman chatime milik Laksmana.

Tanpa sepengetahuan orangnya juga tentunya.

“Ali.”

“Yaaaa.”

“Tolong ambilin chatime nya donggg aku nggak nyampe. Males gerak juga.”

Diam-diam, Ali tertawa dalam hati sambil menyerahkan chatime dingin ukuran besar pada Laksmana. Pemuda itu tersenyum, bilang terimakasih pada Ali sambil menerima minumannya. Mengambil sedotan dari dalam plastik, lalu nggak lupa mengeluarkan minumannya juga.

Laksmana terdiam, ia tertegun. Menatap gelas chatime ukuran besar yang masih penuh, bergantian lalu menatap Ali.

“Kenapa?” Ia menegur. Laksmana masih diam. Bergeming di tempatnya.

“Kamu ngajakin?”

“Apa?” Ali tertawa, mengulum senyumnya sendiri. “Coba baca ulang.”

“Ya iya… kamu ngajakin?”

“Iya. Terus lo mau apa nggak?”

“Mmmm…. Yes?????”

217. Sleep.

Dua jam hampir tiga jam Laksmana menghabiskan waktunya di basement rumah Ali, tanpa mengganti baju putih abu-abunya, lelaki itu kembali menandaskan susu kotaknya yang tersedia di sisi kanan. Ini adalah susu kotak yang ke-tiga selama hampir tiga jam berada di sini. Ali sudah selesai menjadi tutornya kali ini. Lelaki itu kembali merebahkan tubuhnya pada lantai pualam yang dingin, sambil menekan-nekan tombol remote AC. Tidak ada percakapan berarti di antara mereka berdua. Bunyi mendesing robot milik Ali yang sedang di charge di sudut ruangan pun memecah keheningan antara Ali dengan Laksmana. Laksmana memainkan ponselnya, memasang headset untuk mendengarkan satu lagu sambil berselancar di sosial media, sementara Ali sibuk dengan pikirannya sendiri.

Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Jam bergerak sepanjang waktu. Lima menit mereka saling diam, akhirnya Ali menghela napas. Dirinya nggak suka kalau harus saling diam tanpa ada topik yang menyanggah keheningan, ia bukan Ayahnya yang betah dalam situasi canggung, ia juga bukan Papanya yang betah dengan kecanggungan yang Ayahnya buat. Ali lantas bangun dari posisi tidurnya, lelaki itu kini bergegas berjalan menuju tas sekolahnya yang berantakan di bawah meja. Laksmana mengikuti ke mana Ali bergerak. Masih dalam diam, ia mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti alunan melodi yang ramai di dalam kepala.

Tangan Ali lantas terulur, mengambil buku Saturday Rain berwarna hijau matcha tersebut lalu digenggamnya kuat-kuat. Lelaki itu lantas berjalan dengan langkah gontai ke arah Laksmana sambil mengacak rambutnya yang memang—sudah berantakan dan sudah kusut. Alih-alih ingin memberikan buku tersebut, Ali justru sedikit melemparnya dan buku itu mendarat tepat di atas paha si empu. Kening Laksmana menyerngit, terkejut lalu melepaskan headset dari telinganya begitu saja. Kedua matanya melotot, hendak menghardik Ali. Namun Ali justru tertawa, melambaikan tangan.

“Sorry sorry.”

“Kaget tauuuuu.”

“Hahahahah, maaf maaf. Nggak sengaja.” Ali menggeser pantatnya ke arah kotak pensil yang tergeletak dekat kaki meja, ia mengambil pulpen glitter berwarna ungu lalu melemparnya juga ke arah Laksmana. Pemuda itu mendengus, menyambar pulpen pemberian Ali, lalu membuka tutupnya.

Seakan paham maksud Ali sekarang ia harus apa, Laksmana membuka lembaran pertama buku Saturday Rain menggunakan jemari lentiknya. Wangi buku menyeruak, memasuki indra penciuman. Laksmana terdiam beberapa detik hanya untuk memandang 'karya' nya dalam sampul cetakan lama. “Mau aku tanda tangani?” Ujarnya berkata pada Ali yang langsung disahuti oleh anggukan antusias.

“MAU LAAAH. Masa nggak. Tujuan gue nyuruh lo ke sini kan buat minta tanda tangan.”

“Oh jadi kalau aku udah tanda tangan, aku nggak boleh ke sini lagi?”

Dengan cepat, kepala Ali menggeleng. “Nggaak. Bukan gitu maksud gue. Boleeeh kok. Boleh lo ke sini lagi.”

Tawa Laksmana yang renyah kini terdengar. Pemuda itu mengangguk kalem lalu kembali fokus melihat lembaran pertama buku miliknya. Jemarinya pun meraba halus kertas tersebut yang belum menguning, persis seperti buku baru. Wanginya pun masih ada.

Pulpen glitter ungu itu lantas terangkat, lalu mendarat pada kertas. Lima detik berlalu, Laksmana menggerakkan tangannya untuk membentuk suatu goresan tanda tangan, tepat di bawah tulisan pengarang novel: BY NAA.

“Udah.” Laksmana menutup buku bersampul hijau matcha tersebut, tersenyum kepada Ali. “Apalagi yang harus aku tanda tangani?”

“Tangan.”

“Kaki nggak sekalian?”

“Muka juga.”

Keduanya tertawa lepas. Laksmana meletakkan kembali pulpen glitter tersebut, membiarkannya menggelinding tepat di bawah kaki Ali. Jemarinya masih lihai membuka halaman demi halaman bukunya. Buku berjumlah hampir 300 halaman itu ia lihat-lihat kata demi kata menggunakan kedua matanya yang bergerak cepat seperti mesin scan. Laksmana melirik ke arah Ali yang sudah merebahkan kembali tubuhnya, melipat kedua tangan di atas dada, lalu memejamkan mata. Laksmana tahu, Ali masih terjaga dan belum tidur total. Karena Ali belum tidur, Laksmana kembali membuka topik.

“Ali, boleh nggak aku baca bukunya?”

“Yaaaa.” Ali mengangguk, laki-laki itu tampak nggak masalah dengan apa yang mau Laksmana lakukan. “Sana.”

Senyum simpul kembali terbit. Laksmana beralih ke halaman pertama, chapter pertama. Ia membacanya menggunakan suara pelan, agar Ali tidak terganggu. Jemarinya yang lembut sesekali mengelus permukaan kertas yang halus. Napasnya menerpa kertas hingga bergerak-gerak sedikit. Hingga tiba di halaman pertengahan, setelah satu jam Laksmana membacanya dengan suara pelan, kedua netranya melirik ke arah Ali.

“Then, Malik looked around. He squeezed his own fingers with ragged breaths. His feet that were resting on gravity were shaking violently. His voice was already hoarse, as if drowning in the ocean. His eyes continued to search for the person who had accompanied him until now. Malik held his breath.”

“Where are you going, Selena?”

Laksmana memberhentikan acara membacanya. Dirinya termangu melihat Ali yang tertidur pulas dengan helaan nafas yang teratur.

Diam-diam, ia menutup bukunya agar tidak menimbulkan suara yang nyaring. Kedua mata Ali tertutup dengan rapat, wajahnya damai, napasnya sungguh teratur. Ali tertidur dengan lelap, diiringi oleh suara lembut Laksmana membaca buku.

95. Study

Setelah mengganti baju, dengan wajah setengah mendumal setengah mengulum senyum, Ali lantas melangkahkan kakinya menuju ruang kelas. Lorong-lorong terlihat lenggang, hanya menyisakan beberapa murid yang keluar hanya untuk izin ke toilet. Ali melangkahkan kedua kakinya nggak peduli, sambil mengenakan jersey basket biru kuning putih miliknya, ia terlihat memasang wajah santai seolah-olah jersey tersebut adalah seragam yang seharusnya.

Tiba di depan pintu kelas, terlihat Pak Wisnu sedang mengajar mata pelajaran Fisika tentang tata surya. Pria tambun itu menjelaskan bagaimana proses terbentuknya alam semesta melalui teori-teori dari ilmuwan yang ada di buku-buku. Sesaat, Ali berdeham, menyapa Pak Wisnu sambil tersenyum tipis. Mood nya membaik lantaran habis bertukar cerita dengan Naa, author yang akan menjadi author favorite nya mulai sekarang sampai nggak tahu kapan.

“Ali, kamu tahu kan sekarang bukan pelajaran olahraga?”

Ali mengangguk. Setengah malas, setengah lagi menguap. “Tau.”

“Nah, kenapa kamu mengenakan jersey basketmu itu?”

“Seragam saya kebakar.”

“Kenapa bisa?”

“Ya nggak tau kebakar aja.”

Tingkah Ali memang bikin siapapun geleng-geleng kepala. Sejak anak itu masuk ke sekolah ini, terlalu banyak hal yang nggak masuk akal yang dikerjakan oleh anak itu. Mulai dari tidak sengaja mematahkan kerangka tulang di lab biologi, tidak sengaja menyentuh robot yang belum jadi di lab fisika hingga menyebabkan robot tersebut rusak—tangannya perusak sekali. Tapi untung saja, anak itu bisa memperbaikinya. Ali cerdas namun seimbang dengan sikapnya yang awut-awutan. Tidak layak dicontoh. Tengil.

Pak Wisnu menghela napasnya. “Oke. Kamu silahkan duduk.”

Ali menyengir. Ia mengangguk lalu berjalan lantas duduk di bangkunya sendiri. Di sebelahnya sudah ada Noel, yang menyeringai, “Dih anak mana lu nyasar.” Katanya sambil terkekeh lalu mengunyah permen karet di mulut. Ali pun nggak menjawab, ia memutar bola matanya malas lalu langsung mengeluarkan novel Saturday Rain dari dalam tas dan meletakkannya ke kolong meja. Noel mendelik, perempuan itu menepuk-nepuk lutut Ali dengan semangat.

“Mana siniin novel gueeeeee.”

Ali menepis tangan Noel sambil berdecak sebal. “Nanti ah. Gue dulu yang baca.”

Pelajaran pun dimulai. Pak Wisnu mulai melanjutkan mengajar dengan tenang. Tangannya terangkat untuk menggeser layar proyektor yang ada di dinding. Sesekali ia menatap ke seluruh murid satu persatu lalu menunjuknya untuk menjawab pertanyaan. Ali selalu lolos dari omelan Pak Wisnu. Sebab, ia selalu bisa menjawab pertanyaan sesulit apapun. Otaknya yang jenius nggak bisa diragukan lagi. Nggak heran ia dikirim ke Jerman untuk mewakilkan proyek studi ilmiah.

Contohnya, saat ia ditanya apakah di Jupiter bisa menyalakan korek api atau tidak. Karena Jupiter sama-sama planet dalam sistem tata surya. Dan dengan santainya, Ali menjawab sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah. Gerah.

“Jupiter terdiri dari 90% hidrogen, 10% nya didominasi helium. Korek api terdiri dari karbon bereaksi dengan panas lalu bergabung dengan oksigen untuk membuat CO2. Dengan tidak adanya oksigen, karbon tidak akan terbakar. Sama halnya dengan hidrogen yang memerlukan oksigen untuk membuat H2O. Nggak ada oksigen juga di Jupiter, jadi nggak akan bisa nyalain korek api di sana.”

“Terus, kalau ada astronot ke Jupiter untuk melakukan penelitian, kan pakai roket yang berarti ada percikan api di sana? Di ekor roketnya?” Tanya salah satu murid sambil mengangkat tangan. Ali mengulum bibirnya, lantas langsung menjawab.

“Pergi ke Jupiter dari Bumi itu butuh waktu 6 tahun. Buat mendarat, roket butuh daratan yang keras, kan?” Ali kini mulai membuka sepatunya dan meletakan dengan sembarang. Kebiasaan. “Masalah pertama, Jupiter nggak punya lapisan keras itu buat diinjak sama manusia apalagi buat roket.”

“Masalah kedua, Jupiter terdiri dari banyak gas. Gas helium dan hidrogen yang membentuk awan tebal. Jadi, mendaratkan roket ke Jupiter itu sama aja kan mendarat di awan? Yang ada malah jatuh juga.”

“Masalah ketiga, Jupiter mempunyai suhu permukaan 145° Celcius dan bakal lebih panas kalau lo lo pada ini nyelam lebih dalam lagi. Dan temperatur Jupiter lebih panas dari matahari sekitar 24.000° Celcius. Jadi logikanya, emang ada astronot yang mau mendarat di Jupiter? Itu sama aja bunuh diri.”

Sekitar kelas menjadi lenggang, habis itu manggut-manggut sendiri mendengar penjelasan panjang dari mulut Ali. Pak Wisnu pun sama, mengangguk pelan sementara Ali mengusap rambutnya ke belakang. Itu bukan pertanyaan susah, melainkan pertanyaan sederhana. Ia sudah bisa menghafalnya sejak kelas 2 sekolah dasar.

“Baik, Ali. Bapak lihat kamu memang cukup jenius di bab ini. Nah sekarang, tugasmu adalah, tolong bantu Laksmana anak baru yang duduk di sana,” katanya sambil menunjuk Laksmana yang terduduk dengan kedua mata membesar. Sedikit terkejut dengan serangan tiba-tiba dari pak Wisnu barusan. “Dia tadi terlambat, sama seperti kamu. Dan juga dia anak baru, tolong bantu Laksmana ya, Ali. Karena sedikit lagi ulangan semester.”

Raut wajah Ali serta Laksmana kurang lebih sama; sama-sama bingungnya. Ali melipat kening, disusul Laksmana yang membuka mulutnya.

“Pak Wisnu, saya masih bisa mengejar ketertinggalan kok sampai ulangan semester.” Laksmana menyela Pak Wisnu lebih sopan, dibanding Ali yang seperti ini;

“NGGAK BISA GITU, PAK.”

Terlihat jelas, kan, perbedaan mereka yang sangat kontras?

Pak Wisnu menggeleng tegas. Ini sudah keputusannya. Beliau nggak mau Laksmana tertinggal pelajaran fisika. Nilai A sangat diharuskan di kelasnya sampai nanti ulangan semester. Ali merengut, lalu lanjut ditertawai oleh Noel. Digoda menjadi guru les dadakan. Sementara Laksmana melirik ke arah Ali takut-takut. Anak itu galak, tengil, judes pula. Bagaimana bisa Ali menjadi tutor fisikanya sampai ulangan semester?

Laksmana meremat jari, sambil memperhatikan Ali yang menghela napas panjang.

87. First Meeting

Dari 7 diantara keajaiban dunia, Laksmana yang bangun telat serta berangkat sekolah kesiangan termasuk ke dalam urutan ke 8 keajaiban dunia. Dia mendumal kesal, sambil mengemasi barang-barangnya dengan tergesa. Memasukkan buku-buku ke dalam tas serta menyambar jaket yang digantung dari balik pintu. Tak ada sapaan hangat dipagi hari, Mama sudah berangkat ke kantor pagi-pagi buta, sedangkan kak Evie sudah pergi satu jam yang lalu. Sempat berpamitan, namun Laksmana masih saja tertidur pulas bergelung di dalam selimut tebal. Sial.

Umpatnya dalam hati sambil menyambar sepotong roti berselai coklat yang sudah tersedia di atas meja. Juga menyambar satu kotak susu berukuran 250ml. Evie memang sengaja menyiapkannya karena tau kalau Laksmana nggak terbiasa untuk sarapan nasi atau makanan berat lainnya di pagi hari. Anak itu lebih memilih sarapan roti atau bubur ayam.

Anak itu tergesa, berlarian sambil mengambil kartu bus dari saku celananya. Dengan keringat yang bercucuran, tangannya terangkat untuk memberhentikan bus yang melintas. Tidak peduli kalau bus tersebut tidak berhenti persis di depan halte. Untungnya, supir bus sudah kenal akrab dengannya. Sambil menyapa dan menempelkan kartu pada mesin scan lalu mendesing ting! Kecil, Laksmana tersenyum mengucapkan terimakasih karena sudah membiarkannya masuk.

Di tahun sekarang, orang-orang di kotanya sudah sangat jarang menggunakan transportasi mobil pribadi. Pemerintah mulai mengeluarkan peraturan untuk menaiki kendaraan umum kalau berpergian ke sekolah, ke kantor, atau ke tempat-tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau ke bandara atau perjalanan lintas pulau, baru diperbolehkan menggunakan kendaraan pribadi. Bagi yang melanggar, akan dikenakan denda sesuai dengan harga kendaraan pribadi. Kalau harga mobilnya lima ratus juta, denda yang dikeluarkan akan segitu jumlahnya.

Kembali lagi dengan Laksmana, ia terengah-engah lalu terduduk di bangku belakang. Kedua netranya pun melirik ke arah pergelangan tangan. Mengetuk arloji dua kali lalu terlihat jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Laksmana terduduk lemas, menghembuskan napasnya dengan sebal seraya meniup anakan rambutnya yang menutupi dahi.

Jantungnya berdegup kencang. Kakinya terus gemetar karena ia takut akan telatnya hari pertama di sekolah. Sebelumnya, terakhir ia telat saat masih berada di New York. Itupun telat tiga menit dan langsung disuruh angkat kaki—maksudnya pulang dari situ. Dengan tentunya absen dianggap alfa serta mendapatkan poin sanksi.

Tapi, semua ketakutan itu buyar sesaat ia melirik laki-laki—yang sepertinya seumuran dengannya—duduk tegak dengan headset yang bertengger pada telinga. Pemuda itu terlihat tidak peduli dengan kehadirannya, pun tidak memecah konsentrasinya yang sedang terfokus pada layar ponsel. Laksmana juga nggak ambil pusing, ia menggeser tubuhnya hingga menjauh tiga senti dari si pemuda yang masih terduduk di sebelahnya. Pemuda itu menggunakan celana jeans, sepatu converse hitam, serta jaket hitam yang tidak dikancingi dengan dalaman kaos putih polos biasa. Wajah anak itu tampak sekali sangat nggak minat untuk bercakap-cakap pagi ini. Pun rambutnya menunjukkan demikian, berantakan seperti tidak disisir.

Laksmana mengedikkan bahu, lalu mulai membuka ponselnya yang sedari tadi tidak dia buka. Keningnya mengkerut, saat melihat sejumlah notifikasi beruntun dari Ila, reader AUnya sekaligus songwriter terkenal. Senyumnya yang tadinya datar, sedikit demi sedikit terangkat. Tapi, dia nggak secepat itu dalam membalas chat singkat dari seseorang. Laksmana lebih memilih memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, menikmati perjalanan, sambil melihat-lihat pemandangan sekitar kota.

“Permisi.” Laksmana berucap dengan suara pelan, takut-takut juga untuk sekedar menyapa pemuda awut-awutan yang masih terduduk diam tidak bergeser semili pun. Laksmana menggigit bibir bawahnya ragu-ragu, tapi kemudian ia menepuk lutut yang dilapisi fabrik kain itu dengan sungguhan pelan. “Aku boleh duduk di dekat jendela, nggak? Kosong kan ya di samping kamu itu?”

Sedikit informasi, pemuda kusut itu terduduk dibangku kedua setelah jendela, ia seperti menyisakan bangku yang lainnya di sana. Sementara, Laksmana duduk di sebelahnya dengan tatapan penuh harap. Ia ingin duduk dekat jendela untuk menikmati udara pagi. “Atau itu punya teman kamu?” Yang ditanya malah nggak menjawab, tapi setidaknya, ia langsung berdiri dan berjalan melewati Laksmana lantas menggenggam pegangan tangan yang ada di atas kepala, lalu mulai sibuk lagi sambil memainkan ponsel. Laksmana mengerjap, mengangguk kikuk lalu mulai berpindah ke kursi dekat jendela. “Makasih, ya.”

Laksmana mengabaikan pemuda itu dengan membuka jendela bus, membuat semilir angin menerpa wajahnya, meniup rambutnya yang bergerak-gerak. Laksmana tersenyum cerah, menutup matanya sambil terus melongokan kepala. Melupakan sejenak kalau dirinya sedang terlambat.

Selang dari lima menit, bus kini berhenti. Tepat di depan halte sekolahnya. Para murid-murid terlihat sudah memasuki runag kelas masing-masing. Lapangan sekitar lenggang, hanya ada satu dua satpam yang berjaga atau petugas kebersihan mengitari lingkungan sekolah.

“Heh.” Ali merapikan rambutnya yang berantakan, menatap Laksmana yang masih belum bergerak dari bangkunya. Helaan napas pun terdengar. Ia memanggil lagi, “Heh lo yang lagi duduk dekat jendela.”

“Eh.. kamu manggil aku?”

“Emangnya yang duduk dekat jendela siapa lagi?”

Laksmana mendumal pelan, mengenakan tasnya kembali di pundak, lalu menyengir canggung. “Kenapa?”

“Turun. Udah sampe.”

“Eh udah?”

“Ah eh ah eh mulu.” Ali memutar kedua matanya kesal, lalu langsung berbalik dan berjalan keluar bus, meninggalkan Laksmana yang langsung berlarian kecil keluar, tak lupa scan kartu untuk membayar sejumlah kredit pada busnya. Laksmana meniup rambutnya sendiri, jantungnya kembali berdebar dan siap melangkah maju setelah menatap sekolahnya yang megah beberapa detik.

“Ini serius sekolahnya? Besar banget, deh?” Ia bergumam, sambil terus berjalan mengekori anak tadi yang dengan santainya berjalan dengan tidak mengenakan seragam.

“DEMI TUHAN!! KARUNASANKARA ALI, KAMU SEDANG APA MEMAKAI BAJU SANTAI SEPERTI INI? DIPIKIR KAMU MAU KE MALL?” Salah satu guru kesiswaan mengomel, sambil membenarkan kacamata kotaknya serta berkacak pinggang.

Sementara anak yang dipanggil Ali hanya mengusap surainya sendiri, lalu terkekeh pelan. “Ya.. ke sekolah, Bu?”

“ALI!”

“EH IYA?”

“GANTI BAJUMU SEKARANG JUGA, SEKARANG!”

Laksmana yang ada di belakangnya menahan tawa. Ali berdecak kesal, ia lantas berbalik badan, berjalan melewati Laksmana yang masih menahan tawanya.

“Gak usah ketawa.” Katanya berkata dengan ketus lalu kemudian melangkah menjauh seperti sedang menelfon seseorang.

Dan Laksmana mendadak menutup mulutnya. Tidak berani menatap Ali.

10 years ago

Deru suara tembakan bersahut-sahut layaknya burung yang berkicau di tengah-tengah peperangan. Satu persatu peluru menghantam dinding, menghantam kulit kepala, dan menembus dada hingga bersarang pada jantung sang lawan lalu mati terkapar dengan darah yang bersimbah seperti genangan air sungai. Bau karat bercampur darah, kini bagai lautan yang tumpah. Diinjak-injak oleh para kaki bajingan dengan sepatu pantofel mahal berbunyi tuk tuk nya. Seperti sedang berpatroli layaknya polisi lapangan, sembari memegang pistol hitam di tangan, tangannya terulur lurus-lurus ke udara, menghitung satu persatu para korban yang telah tumbang berjatuhan. Pria berbadan besar, dengan raut wajah bengis berdecak lalu meludah ke sembarang tempat. Memerintahkan satu persatu anak buahnya untuk membawa seluruh mayat agar segera dieksekusi lebih lanjut. Menghilangkan jejak misalnya.

“Tuan, sepertinya anda mempunyai satu target lagi untuk diurus.”

Yang diajak bicara menoleh, menatap anak buahnya yang sedang mendorong kasar anak kecil berusia sepuluh tahun, mengenakan kaos bergambar mobil, juga celana pendek. Setelan baju tidur anak-anak. Pria tambun itu bergumam. Menatap menyelidik anak laki-laki itu dari atas sampai bawah. Seakan-akan sedang menguliti setiap inchi bagian tubuhnya. Dia mendengus, menepuk-nepuk jasnya yang penuh dengan bercak darah. “Bawa dia ke mobil.” Lalu, ia menggantung kalimatnya sambil menatap keseluruhan ruangan. Langkahnya yang besar-besar pun membelah kerumunan anak buahnya yang mengenakan baju hitam keseluruhan. Seperti semut yang sedang mengerubungi gula, bedanya, ini adalah manusia yang tengah mengerubungi manusia lainnya yang sudah mati.

Rei, pemuda yang tadi diperintahkan oleh si pria tambun untuk membawa anak kecil tersebut ke dalam mobil, sepenuhnya mengangguk kikuk untuk taat. Tanpa berbicara lagi, tanpa protes lebih jauh, Rei menarik lengan kecil itu untuk dibawa masuk ke dalam mobil Maserati terparkir di halaman luas.

Malam hari pukul dua belas, sepuluh tahun yang lalu, pembantaian habis-habisan satu keluarga di dalam rumah mewah hanya menyisakan anak kecil berumur sepuluh tahun. Seorang diri ikut masuk ke dalam lingkaran licik mematikan.


“Pusat otoritas kesehatan, sistem 3001, atas nama keluarga Romano, hapus seluruh ingatan anak ini.”

Bunyi bising mesin serta para kaki-kaki tangan-tangan robot mulai bekerja sebagian, perlahan-lahan mulai mendesing, mendekati anak muda yang sedang terkulai lemas di atas bangku besar, di bawah sinar sorot lampu laboratorium.

“Tapi Tuan, ini akan menimbulkan sedikit masalah pada gangguan otak serta memorinya.”

“Saya tidak peduli!”

Mesin yang barusan berbicara pun mendesing pelan. Patuh kepada perintah si Tuan Besar. Tunduk dalam kekuasaan super mega yang ada di tangannya. Robot-robot beserta para kaki tangannya pun mulai mendekat, menempelkan tentakel mereka satu-persatu pada puncak kepala anak berumur 10 tahun. Ia masih terlalu kecil untuk berdekatan dengan pria paling kejam yang pernah ada. Namun siapa peduli? Masih mending anak ini tidak ikut dibunuh seperti anggota keluarga lainnya.

Ini menyenangkan.

Tuan Besar menatapnya dengan dingin, dengan wine yang ada di gelas kaca dia genggam, sepatunya beradu-adu pada lantai pualam. Suhu ruangan menjadi dingin. Kontras dengan situasi yang mendadak menjadi tegang.

Sedikit meneguk untuk menghilangkan dahaga kering di tenggorokan, Pria tambun itu memperhatikan dengan jeri, melihat bagaimana robot-robot itu bekerja atas perintahnya.

“Sistem 3001, siap memulai dalam hitungan ke 3.”

“Satu….”

“Dua…”

“Tiga….”

Perfetto.


“Ichigo Akiyama.”

Pria itu lantas tertawa puas. Melihat bagaimana hasil karya nya yang kini seperti lahir dengan identitas baru serta ingatan baru. Subject terdeteksi tidak mempunyai apa-apa selain tubuh kecilnya dan pakaian lusuh yang dikenakan. Anak yang selamat dari pembantaian habis-habisan pukul dua belas.

“Selamat datang di keluarga Romano keturunan ketiga belas, Ichigo Akiyama. Cukup diam serta patuh pada perintah yang ada, maka kau akan mendapatkan segalanya.”


“Tuan, Ichigo Akiyama akan mendapatkan masalah serius pada otak serta memorinya.”

“Tidak masalah.” Pria itu melirik ke arah anak laki-laki satu-satunya yang sedang berlatih bela diri bersama anak buahnya. Membanting tubuh, memberikan bogem mentah, sampai terpelanting jauh beberapa meter. Anak laki-lakinya cukup tangguh. Umur 16 tahun tidak masalah baginya melawan satu pemuda tinggi besar di hadapan.

“Dia akan berguna, Jarvis.”

“Tuan tidak akan membuatnya seperti Tuan Muda, bukan?”


ICHIGO : START

mengandung konten kekerasan, pembunuhan, kata-kata kasar, senjata tajam, senjata api, darah, 18+, human mutilation.

Rintik-rintik air yang turun dari atmosfer bumi lalu mendarat dengan deras jatuh ke tanah hingga menimbulkan becekan pada lubang kecil yang berada tepat di depan kaki yang terbalut oleh sepatu converse warna hitam dan putih. Bau petrichor yang tercampur dengan bau anyir menguap ke udara mengganggu indra penciumannya. Pria itu mendengus tak suka dan dengan segera menutup hidungnya. Kedua kakinya melangkah, berjalan gontai dengan trash bag besar hitam yang ia seret tanpa memperdulikan isi di dalamnya.

“Si keparat itu benar-benar membuatku muak.” Katanya dengan suara berat. Napasnya tersengal hebat, mengais sisa-sisa oksigen yang seolah masih tersisa di antara gang sempit jarang dilewati banyak orang. Apalagi, hari ini ingin hujan. Awan pekat menyatu di langit, menutupi bintang-bintang bertaburan di atas sana. Kemudian, kedua matanya melihat ke arah belakang—tepatnya melihat ke arah trash bag besar yang ia genggam atasnya—lalu berdecih dan meludah dengan sembarang. “Untung saja bayarannya mahal. Kalau tidak, aku mana mau bekerja sama lagi dengannya.”

Lelaki itu mengedikkan bahunya tak peduli. Lebih tepatnya acuh lalu kembali menyambungkan jalannya. Menghindari untuk memijak darah yang menggenang bercampur dengan becekan air hujan. Tatapannya tidak ada rasa iba sama sekali sehabis membunuh orang beberapa menit yang lalu. Malah sebaliknya, ia mengaduh kecil. Mengusap perutnya yang bergemuruh tanda lapar.

“Brengsek, aku belum makan sama sekali.”

Pukul satu dini hari waktu kota, lelaki itu berjalan kaki dengan menyeret trash bag ke arah pemukiman kumuh tempat tinggalnya. Seperti rumah susun namun jarang berpenghuni, mungkin hanya sepuluh kepala keluarga saja yang tinggal di sana. Dirinya tak punya tetangga sama sekali. Ya, memang ada yang mau bersosialisasi dengan pembunuh? Jelas tidak ada yang mau walaupun dibayar satu miliar dolar pun. Orang-orang juga akan berpikir, itu sama saja menyerahkan nyawa secara gratis.

krek

Pintu unit kamarnya berderit, terbuka lebar. Dengan wajahnya yang ditekuk, ia melangkah pelan masuk ke dalam. Menyeret trash bag lalu sejenak mengangkatnya dan melempar ke arah dinding hingga terbanting. Membuat darah merembes di sana. Metawin—nama lelaki itu—hanya terdiam sejenak beberapa saat, kiranya beberapa detik untuk bergeming menatap trash bag tersebut yang di bawahnya ada darah mengalir, lalu kemudian berjalan dengan santai ke arah dapur. Membuka kulkas, mencari makanan. Ia terdiam, menatap telur, sosis, sarden, serta makanan kaleng lainnya yang tersaji di dalam kulkas. “Makan apa aku hari ini?” Gumamnya kecil sambil mengetuk-ngetukkan pintu kulkas menggunakan jari telunjuk.

Kemudian, ia tertawa detik itu juga. “Hahahaha telur lagi, sosis lagi, sarden lagi,” tangannya terulur, jemarinya dengan lihai mengeluarkan satu kaleng sarden kecil yang masih belum dibuka. Ia letakkan di atas wastafel yang bersih, lalu merenggangkan otot-ototnya yang mendadak kram. “Yah, ini lebih baik daripada harus makan daging manusia.”

Bagi orang awam yang mendengarnya, beberapa—mungkin atau seluruhnya—akan merinding seiring mendengarkan rentetan kata yang keluar dari mulut sok tidak berdosanya. Berlari sekencang mungkin, lalu menghindar kontak mata dari Metawin. Tapi baginya, semua kata-kata barusan terdengar sangatlah lumrah untuk diucapkan. Hati nuraninya jelas sudah tidak ada. Rasa kasihannya pada sekitar, total blas hilang tak tersisa.

Sebelum memulai acara masak-memasak lalu memakan santapan malam, memberikan cacing-cacing di dalam perutnya asupan, Metawin mencuci tangannya terlebih dahulu yang penuh dengan bekas jejak darah yang sudah mengering. Tak lupa mencuci topeng putih kelinci yang sering ia pakai jika sedang menjalankan tugasnya. Yah, tugasnya adalah; menyiksa, membunuh orang hingga tak bisa terlihat lagi. Menjadi pembunuh berantai dengan bayaran sangat fantastis serta mampu melenyapkan orang tanpa harus menye-menye memanglah keahlian pemuda berparas tampan dan manis yang dipadukan menjadi satu ini. Bukanlah tanpa alasan ia melakukan ini; ia butuh uang.

Eits, tapi jangan salah. Metawin hanya menerima job untuk membunuh orang yang dosanya sebesar gunung Everest dan sangat merugikan banyak pihak. Contoh; koruptor, orang-orang yang melakukan pelecehan seksual pada wanita dan anak-anak, serta orang yang membunuh anggota keluarganya yang nggak berdosa. Lucu memang, disaat pendosa bertemu dengan pendosa lainnya. Apalagi, ia akan tertawa paling lantang saat mengetahui calon korbannya adalah pembunuh juga. Dua pembunuh saling bertemu.

Selesai mencuci tangan serta topeng miliknya lalu ia letakkan di atas sofa, Metawin mulai memasak. Memberes-beres dapur adalah salah satu keahliannya di bidang ini. Walaupun tinggal di pemukiman kumuh, dirinya adalah orang yang cukup bersih. Yah, lupakan saja ada potongan tubuh di dalam trash bag yang ia biarkan di balik pintu unitnya.

Metawin tinggal sendiri. Tidak mempunyai satupun keluarga di kota ini. Anak tunggal yang merantau karena orang tuanya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Umurnya baru genap dua puluh bulan februari tahun ini, dan sekarang—sudah hampir natal. Ah, dia seharusnya membeli pernak-pernik natal seperti orang-orang pada umumnya. Namun karena menurutnya nggak terlalu penting, ia mengurungkan niat. Buat apa merayakan natal kalau sekiranya banyak potongan daging manusia yang belum dimusnahkan?

Jika kalian bertanya, akan dikemanakan potongan daging itu, Metawin akan menjawab; untuk makanan anjing. Banyak anjing-anjing liar di sekitarnya yang katanya membutuhkan makanan. Jadi, setelah dibersihkan dari darah-darah segar yang banyak, Metawin biasanya keluar malam-malam untuk membuang daging tersebut. Cukup kejam, namun itu adalah cara terbaik untuk tidak ketahuan. Menghilangkan jejak seolah tak jadi apa-apa.

“Aku memang koki yang handal,” Katanya dengan tersenyum penuh kemenangan. Membanggakan diri sekiranya ia punya bakat lagi selain harus membinasakan manusia. “Mari kita makan, lalu lekas tidur.”

Pemuda itu melangkah ke arah sofa ruang tengah sembari membawa piring berisi nasi serta sarden dengan porsi cukup banyak. Ia belum makan juga ngomong-ngomong. Menghabisi satu nyawa cukup membuat energinya terkuras habis-habisan.

Beberapa menit, hampir lima belas menit dirinya berkutat dengan makanan yang tersaji di hadapannya, piringnya yang tadinya penuh, kini sudah kosong. Hanya ada sisa-sisa saus di sana. Metawin makan dengan lahap dan segera menandaskan air yang ada pada gelas hingga habis. Pemuda itu menghembuskan napasnya, menepuk-nepuk perut, lalu bersendawa dengan senyuman puas yang terulas di wajah.

tok tok tok

Sorot matanya elang miliknya, yang tadinya menatap ke arah depan lurus-lurus, termangu entah memikirkan apa, sekarang menoleh ke arah asal sumber suara. Pintu unitnya sedikit bergetar karena ada mengetuk dari luar. Bibirnya bergumam, mengucapkan kata-kata yang tak bisa didengar. Hanya Metawin dan Tuhan saja yang tahu mungkin.

“Hah!” Ia menghembuskan napasnya. Sedikit terganggu dengan suara ketukan tersebut. Namun tetap saja, si pemuda yang belum berganti pakaian ini lantas berdiri. Kedua kakinya melangkah menuju pintu unit yang kini suara ketukannya terdengar lebih kecil dari tadi. Sepertinya, si tamu menyadari bahwa bertamu malam-malam tidaklah baik. “Siapa juga yang datang malam-malam begini.”

klek Suara derit pintu serta knop pintu membuat si pelaku pengetuk pintu terkejut sampai-sampai harus mundur beberapa langkah. Metawin terkesiap untuk beberapa detik, memperhatikan gerak-gerik si tamu yang terlihat kikuk. Mengenakan kacamata yang lensanya sepertinya setebal tutup botol. Membawa ransel besar di pundak, lalu kepala yang menunduk. Matanya menatap lantai yang berdebu. Kening Metawin terlipat bingung. Apa dirinya adalah salah satu calon customernya? Tapi malam-malam begini dengan posisi dirinya yang baru saja selesai 'bekerja'?

“Anu..” Lelaki berparas—sedikit tampan—tentu saja! Hanya Metawin lah yang paling tampan di sini—membetulkan kacamatanya yang melorot. Membenahi ranselnya yang merosot dan mencengkramnya kuat-kuat. Dia terlihat gugup. Sangat. Apalagi bertemu Metawin yang statusnya orang sangat asing bukanlah hal yang bagus. Bisa saja ia tiba-tiba dibunuh. “Aku.. yang mengirimkan dm di Twitter milikmu,” ia mencicit. Suaranya sangat serak, nyaris tak terdengar. Metawin dengan sigap memasang kedua telinganya dengan sebelah alis yang terangkat. Tubuhnya bertumpu, bersandar pada engsel pintu.

“Ya?” Dm Twitter? Metawin berpikir lagi. Emang aku membuka Twitter ya hari ini?

Yang ditanya mengangguk gugup. “Iya.. aku yang meminta tolong lewat twit Twitter. Aku mengatakan aku ingin menumpang karena aku diusir dari rumah. Dan kamu langsung mengirimkanku sebuah pesan lewat dm, katanya, rumahmu bisa ditumpangi.”

Ada lenggang sejenak di antara percakapan keduanya. Metawin menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat apa yang pemuda itu katakan. Satu menit, tidak ada yang inisiatif untuk membuka suara, pemuda itu lantas berbicara lagi.

“Eh, sepertinya aku salah rumah, ya? Kalau begitu aku pergi saja, maaf mengusik waktu tidurmu.”

“Namamu Bright, bukan?” Ia mengerjap, mengangguk cepat. Ada sedikit binar pengharapan di kedua netranya. Mungkin berharap dirinya bisa tinggal barang semalam di sini. Daripada harus tidur beralaskan kardus serta tanah yang dingin. “B—benar. Namaku Bright, Vachirawit Chivaaree. Kamu bisa memanggilku—”

“Aku memanggilmu Bright saja.” Metawin memotong ucapan Bright dengan nada dingin. Tatapannya seperti sedang menelanjangi pemuda di hadapannya ini. Lirikan mautnya bisa membuat siapapun orang berlarian tunggang-langgang. Namun tidak dengan Bright ini, pemuda itu dengan polosnya tanpa curiga mengangguk. Di dalam hatinya sudah berucap rasa syukur karena sepertinya Metawin sungguhan ingin menolong. “Umurmu?”

“Sembilan belas.”

“Masih muda. Masih sekolah?”

Ia menggeleng. “Aku baru lulus satu tahun yang lalu.” “Kuliah di mana?”

“Aku tidak kuliah.”

“Bekerja?”

“Lebih tepatnya pengangguran.”

Yang menjadi lawan bicara Bright mengangguk mengerti. Setidaknya, pemuda ini terlihat aman untuk tinggal sementara di tempatnya. “Baik. Kau boleh tinggal sementara di gubuk tua ini. Anggap saja rumah sendiri, tapi rumahku sungguhan berantakan seperti kandang babi.”

Bright mengangguk semangat. Senyumannya terulas sangat tampan seperti bulan sabit indah di malam hari. Metawin terpana untuk sepersekian sekon. Ia baru melihat pemuda yang sangat antusias untuk bertemu dengannya. Mengingat tampang Metawin ini sangat tidak bersahabat; sering mendesis, menatap sinis, serta bibir yang sama sekali nggak pernah tersenyum dengan lebar. Sekalinya tersenyum itu juga saat menyiksa para korban-korbannya.

Metawin lantas membuka pintu, menggeser tubuhnya yang menutupi jalan. Mempersilahkan Bright masuk. “Aku punya dua kamar, satunya sepertinya gudang yang nggak pernah aku bersihkan. Kamu bisa menggunakannya, tapi jangan protes kalau ada sarang laba-laba serta kecoa yang banyak,” Metawin bergidik ngeri. “Itu mengerikan.”

Bright terkekeh kecil. Menundukkan tubuhnya seperti memberikan hormat juga rasa terimakasih karena mempersilahkan dirinya tinggal di sini. Walau hanya sementara, dan sepertinya Metawin ini sangat friendly. Mempunyai humor yang cukup baik. Setidaknya, ia tidak tinggal lagi dengan kedua orangtuanya yang sangat temperamen.

Pemuda yang lebih tinggi satu senti dari Metawin itu lantas masuk. Dan saat dirinya masuk juga, tercium bau anyir yang menusuk sangat jelas di hidungnya. Bright mendengus serta mengendus-ngendus sambil mengusap lubang hidungnya yang gatal.

“Ah ya, kau bisa menggunakan kamar mandi untuk bersih-bersih. Lupakan soal bau anyir yang menusuk hidungmu, karena aku lupa membereskan babi yang mati di dalam trash bag.” Katanya dengan santai, menunjuk trash bag yang tergeletak di balik pintu. Bright mengangguk santai, bertanya di mana kamar mandi. Metawin menunjuk, ada di sebelah dapur berbelok ke arah kanan. Setelah mengucapkan terima kasih, Metawin mengibas-ngibaskan tangannya. Memberi tanda Bright tidak perlu sebegitunya.

“Jangan berterima kasih terus, aku bukan badan amal.”

Dan, tanpa Bright sadari, di dalam trash bag besar itu terdapat potongan tubuh manusia yang sudah antah berantah. Ucapan Metawin soal babi yang mati itu hanya gurauan semata. Pemuda itu lupa membuangnya. Dan sepertinya, ia akan mengerjakannya malam ini.

“Oh aku lupa bertanya, namamu siapa?”

Metawin bergeming beberapa saat. Mematung dan berpikir untuk menjawab. Padahal, itu hanya pertanyaan sederhana yang bisa dijawab dalam hitungan detik. Namun bagi Metawin, ini adalah pertanyaan sangat rumit.

Mau ku jawab pakai nama palsu atau nama asli ya?

“Liam.” Ia menjawab asal. Tentu saja itu adalah nama dari sekian nama palsunya. Nggak mungkin juga ia akan menjawab namanya adalah Metawin si pembunuh bayaran. Bisa-bisa, Bright langsung pucat atau jatuh pingsan di tempat.

“Liam? Hanya Liam?”

“Menurutmu namaku harus berderet seperti susunan rel kereta api?”

“Hehehe.” Bright mengusap tengkuknya yang tak gatal. Canggung. “Salam kenal, Liam.”

Bright as Leo. Metawin as Ansel

Ansel sekarang sedang berada di salah satu gramedia yang dekat dengan kampusnya. Sepulangnya tadi dari kelas yang selesai jam tiga sore, dengan segera ia menaiki mobilnya dan melesatkannya ke gramedia. Katanya, ia sedang tidak ada mood karena dosennya sangat bawel tadi serta marah-marah tanpa sebab. Jadi, untuk meredam amarahnya, daripada berkegiatan tidak jelas, langsung saja tancap gas ke gramedia.

Ia tak ada niat untuk membeli buku. Namun aroma buku-buku yang bertumpuk rapi di rak-rak sesuai kategori, membuat kedua matanya melotot lebar-lebar. Hingga tanpa sadar, di tangannya sudah menggenggam 5 buku padahal baru saja empat puluh lima menit dia berdiam di sini.

Bibir bawahnya pun ia gigit, ia berdeham serta bersenandung sesuai irama musik yang disetelkan di sini. Tangannya terulur, jari-jarinya meraba buku fiksi dengan beberapa macam genre. Matanya berpendar, mencari-cari buku yang menurutnya menarik hanya dengan membaca summary. Atau, ia membaca isinya sekilas dari buku yang sudah dirobek.

Bukan dia lho ya yang merobek. Namun kadang, ada tangan-tangan jahil yang merobek serta meletakkannya dengan asal. Atau juga, penjaga di sana ada yang sengaja membuka plastik segel untuk dijadikan tester.

Bibirnya pun bergerak. Ia bergumam. Membaca rentetan kalimat yang membentuk sebuah paragraf. Matanya bergulir, dari atas ke bawah lalu kiri ke kanan. Dia sedang membaca, lalu kemudian tak lama membalik halaman pertama. Kedua alisnya menukik, tandanya ia tertarik.

“Eh ini bacaan gue banget deh.”

Tiba-tiba saja, entah suara yang asal muasalnya dari mana, Metawin tersentak kecil hingga bergeser ke arah kanan. Kepalanya terangkat, menoleh ke sumber suara. Ia terkejut.

“Lah kenapa geser?” Yang ditanya malah terdiam penuh dengan tanda tanya. Sedangkan yang melemparkan pertanyaan, hanya mengkerutkan keningnya bingung. Melihat perubahan raut wajah Ansel dan menatapnya penuh dengan selidik. “Ngapa lu?”

“Ngapain lo kesini?”

“Gabut aja.” Jawabnya cuek sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. Sebenarnya, ia sedang berbohong. Modelan seperti Leo ini mana mau pergi ke Gramedia yang pusatnya buku bertumpuk. Tapi, karena ada Ansel di sana, biar nggak terlalu ketauan, ia berbohong. Gengsi katanya.

Ia lalu menoleh ke sembarang arah. Tak ingin berkontak mata langsung dengan Ansel.

“Mau beli buku?”

“Kagak. Gua mau masang behel.”

Ansel tertawa. Terkikik geli mendengarnya. Leo memang nggak pernah serius. Coba ingat-ingat saja kapan pemuda itu serius selain mengerjakan deadline mepet? Itupun mengerjakannya sambil marah-marah. “Nyari buku apaan?”

“Buku agama.”

“Ohh, di rak sebelah situ, Le.” Ansel mengangguk seakan paham. Menunjuk ke arah depan tepat pada rak buku bertuliskan 'Agama Islam' dan 'Agama Kristen' di sana. “Tunbenan. Sering baca buku keagamaan?”

“Nenek gua yang baca.” Leo berucap asal. Kali ini, Ansel tertawa sedikit lebih keras. Meninju lengannya lalu menggelengkan kepala ringan. Sedangkan, Leo hanya diam. Memperhatikan Ansel yang masih meredakan tawanya. Pukulan Ansel tadi, masih membekas lalu menghangat. Leo tersenyum tipis. Menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mendesah kecil. “Sini, Sel. Gua bawain.”

Leo mengambil tumpukan lima buku yang sedang Ansel pegang. Dengan cepat lalu kemudian menyingkir dari sana. Ansel diam tidak berkutik, namun membiarkan pemuda itu berlaku seenaknya. Kedua tungkainya pun melangkah, mengekori Leo yang kini berjalan ke arah kasir.

“Udah segini doang?”

“Masih banyak sih, Le. Emang kenapa?”

“Yah..” Bahu Leo seketika menurun. Pias. Nada bicaranya terdengar kecewa. Ansel merengut.

“Kenapa deh?”

“Mau ngajak lu makan.”

“Ajak aja kali.”

“Tapi kan lo masih mau beli buku di sini.”

“Hahaha, yaudah ayo makan deh.”

Leo mengerjap. Tak percaya apa yang baru saja ia dengar. “Serius?” Dan Ansel hanya mengangguk. Mulai mengeluarkan dompetnya untuk membayar buku-buku yang sudah di scan di kasir.

“Eh, Sel. Nggak usah.”

“Nggak usah apanya?”

Dengan segera, Leo menyerahkan kartu debitnya pada perempuan yang sedang membungkus buku-buku milik Ansel ke dalam totebag. “Gue aja yang bayar.”

“Lah?? Itu barang gue, Le.”

“Udah lu diem aja dah.”

“Dih ngatur.” Gelak tawa Ansel kembali terdengar. Suaranya sangat menyenangkan, menyapa gendang telinga milik Leo. Leo merona, ia salah tingkah sendiri melihat wajah Ansel yang tertawa menggemaskan seperti ini. “Yaudah, nanti gue yang bayarin makan.”

“Gausah. Kalo lu bayarin makan, gue obrak-abrik restorannya.”

“Nggak bisa gitu lah.”

“Bisa lah.”

Ansel menendang kecil sepatu yang Leo kenakan. “Bisaan aja.”