392. 00:00 AM Can I be your boyfriend?
Ali adalah orang yang paling malas kalau berurusan dengan rumah sakit. Orang yang paling malas menginjakkan kedua kakinya pada lantai dingin dinding bercat putih dengan keramaian di sekitar serta bau obat yang menyengat menyebar di udara. Ali paling anti soal itu. Tapi sekarang, coba kalian lihat saat anak laki-laki menggunakan kaos hitam biasa juga jaket kulit sebagai luaran, celana levis panjang membalut kaki jenjangnya, kedua mata kalian harus dibuka lebar-lebar saat Ali melangkah masuk melewati pintu kaca yang dijaga ketat oleh satpam yang bertugas. Anak itu tampak acuh, tersenyum sedikit dari balik maskernya menyapa satpam yang ia kenal.
Ali datang ke rumah sakit. Dengan tentengan yang ada di tangan cukup banyak, serta pukul sepuluh malam. Anak itu dengan pedenya melangkah semakin masuk mendekati lift yang cukup sepi. Hanya ada sekitar lima orang yang berlalu lalang. Mungkin keluarga dari pasien yang dirawat inap. Entahlah, Ali menggendikan bahunya. Ia tidak peduli.
Dari wajahnya saja, orang-orang jelas tahu kalau anak ini tidak mau ditegur oleh siapa-siapa. Tatapannya setajam elang serta sembilan mata pisau. Belum lagi wajahnya datar seperti sedang menunjukkan kalau sedang tidak minat untuk diajak berbicara. Rambutnya setengah berantakan, namun wangi rose bercampur jasmine dari rambutnya tercium jelas hanya kalau kamu berdiri di sebelahnya berdampingan. Rambut Ali memang berantakan, dirinya juga memang jarang mandi. Tapi kalau soal wangi tubuhnya nggak perlu diragukan lagi.
Ting
Dentingan lift bersamaan dengan pintu terbuka membuat Ali melangkah maju. Tubuhnya berbelok ke arah kanan lalu berjalan santai melewati resepsionis yang sepertinya sedang sibuk menelepon seseorang. Sekali lagi, bahunya ia naikkan tanda tidak peduli. Hingga selang lima menit, kedua kakinya berhenti melangkah. Tubuhnya diam, kedua matanya membaca tulisan yang tertera di depan pintu bercat cokelat. Sebelah sudut bibirnya naik. Dengan segera ia mengetuk pintunya dengan pelan. Tiga kali ketukan sudah cukup membuat dirinya menarik tangan kanan lalu menunggu sampai si yang punya ruangan membuka pintu.
“Ya— eh Ali?” Evie. Bukan Laksmana yang membuka pintu. Melainkan perempuan berambut panjang se pinggang mengenakan setelan celana kulot dengan crop top hitam tampak sederhana namun terkesan elegan jika ia yang mengenakannya. Perempuan itu tampak lelah, terlihat lingkaran mata hitam yang tercetak sempurna di bawah mata. Ali menebak-nebak, kalau Evie baru saja pulang dari pemotretan. Berhubung Evie adalah artis dengan jadwal yang padat. “Ngapain?” Ia kembali bertanya. Sebelah alisnya terangkat naik, menatap Ali bingung.
“Jenguk.” Pemuda itu menjawab singkat sambil menyengir. Evie terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya lagi. Heran aja, anak yang namanya Ali berkunjung ke rumah sakit. Terus tadi apa katanya… jenguk? Ali tahu Mama sakit dari mana?? Begitu pikir Evie sambil terus memasang wajah bingung. Bertanya-tanya dalam hati.
“Hah jenguk siapa?”
“Mama lo laaah.”
Perempuan itu langsung melotot. “Tau darimana kalau Mama gue lagi sakit???”
Lelaki di hadapannya ini, bukannya langsung menjawab, malah menghembuskan napasnya kesal. Mungkin karena nggak disuruh masuk atau apa, malah ditanya-tanya dengan pertanyaan nggak terlalu penting. Ali menatap Evie dengan tak minat, di tangannya terdapat beberapa barang tentengan. Sadar akan tatapan Ali, Evie membuka pintu lebih lebar lalu dirinya menyingkir ke pinggir. “Sorry sorry, gue malah banyak nanya. Masuk, Li.” Ucapnya masih dengan raut wajah bingung. Kening terlipat, kedua alis bertaut.
Begitu saat Ali masuk ke dalam, Evie langsung menutup pintu dan mengekorinya. Otak yang biasa berpikir cepat, kini harus mendadak loading karena Ali tiba-tiba saja ada di sini. Ada urusan apa bocah ini sama Mama?
“Hehehe halo, Tan…” brug, suara paperbag beradu pada lantai marmer dingin memecah keheningan. Ali tersenyum ramah, melambaikan tangannya menatap ke arah Lea—Mama dari Laksmana. Wanita itu tampak lesu dengan bibir pucat tangan yang diinfus namun nggak mengurangi kecantikannya. Lea mendongak, menatap Ali lalu tersenyum walau sedikit bingung kenapa pemuda ini datang tiba-tiba. Wajahnya ia ingat samar-samar, namun ia lupa namanya siapa.
Melihat ekspresi dari Lea yang bingung, alih-alih Ali ingin menanyakan bagaimana keadaannya, Ali justru memperkenalkan diri dengan intonasi yang tenang. “Ali, tante. Pacarnya Naa.”
Ruangan hening.
Satu, karena Lea akhirnya tau pemuda ini namanya Ali. Yang pernah dikenalkan oleh Laksmana, anaknya, melalui ponsel. Hanya sekedar menunjukan foto dari Ali ini lalu menyebut bahwa pemuda ini tampan.
Dua, Ali menyebut kalau dirinya pacar dari anaknya. Laksmana.
Tiga, Evie menganga. Menatap nggak percaya.
“Ah boong lu.” Menyelamatkan situasi yang mendadak hening, Evie menyela ucapan Ali barusan sambil menepuk punggung anak itu dengan canggung. Evie juga tertawa kecil menatap Mamanya yang juga mengerjap bingung. Mungkin Mamanya terkena shock karena melihat wujud 'pacar anaknya' yang agak awut-awutan walaupun Ali tampak rapi hari ini.
“Eh, beneran kak.”
“Masa???”
Ali mengusap rambutnya. Menggaruk sebentar lalu mengangguk. “Beneran.”
“Masa SIH???”
“BENERRRR.”
Mama Lea hanya tertawa melihat interaksi keduanya. Wanita cantik itu mengangguk. Percaya pada Ali lalu menyunggingkan senyumannya yang teduh. “Percaya, kok, Ali. Tante agak sedikit shock aja tadi yaa.”
“Tuh, wlek. Mama lo aja percaya.” Ali menjulurkan lidahnya, mengejek Evie yang mendengus sebal. Perempuan itu membuka mulut, hendak menjawab perkataan Ali namun terinterupsi oleh suara derit pintu yang menyela langsung hingga dia urung untuk berkata. Evie, Ali, maupun Lea menoleh ke sumber asal suara. Lalu kemudian bernapas lega setelah tau kalau itu Laksmana, bukan dokter ataupun suster.
“Loh.. Ali kapan datangnya?” Kedua kaki Laksmana melangkah kecil, mendekati Evie serta Ali yang juga sedang menatapnya memasang wajah paling menyebalkan yang pernah ada, membuat Laksmana mau nggak mau mencubit pinggang anak itu terlebih dahulu sebelum melayangkan pertanyaan selanjutnya.
Tapi, belum sempat ia bertanya lagi, Lea lebih dahulu berbicara sambil tersenyum sedikit mengejek ke anak bungsunya. “Kamu kenapa nggak bilang-bilang, Naa, kalau kamu punya pacar?”
Anjirrrrrr! Laksmana membeku di tempat. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri menahan malu. Ia memang belum sempat bercerita ke Mama kalau dirinya punya pacar. Menunggu waktu yang 'enak' karena Mama akhir-akhir ini banyak istirahat ketimbang berbicara padanya. Laksmana mengusap belakang lehernya kikuk, kemudian mengangguk sambil menyikut perut Ali.
“Eh.. iya.. Naa mau bilang sama Mama tapi nggak enak ganggu jam istirahat Mama, terus juga.. lupa, Ma.. hehehe.. maaf ya..” Mama mendengarnya hanya tertawa. Evie pun sama ikut tertawa karena melihat Mama. Ikut menggoda Laksmana dengan sorakan menyebalkan seperti; “ciee ciee.”
“Lagian, Mama tau darimana???”
Lea menunjuk Ali menggunakan dagunya. “Pacar kamu sendiri yang bilang begitu ke Mama.”
Laksmana menoleh, melotot, menginjak kaki Ali sambil mendengus sebal.
“EH?? SALAH YA NAA?”
“SALAH.”
“EMANG NGGAK BOLEH???”
Lea tertawa, begitu juga Evie yang ikut tertawa sambil mengambil tentengan dari Ali barusan. “Ini buat kita kan, Li?” Lalu dijawab dengan anggukan singkat serta acungan jempol dari Ali.
“KENAPA KAMU BILANGGG.”
“LAH GUE KIRA BOLEH?? MAAF GUE KIRA BUKAN RAHASIA.”
Yaudahlah. Laksmana menghela napasnya dengan pasrah. Mau ngomelin Ali berjuta kalipun, Mama serta Evie tetap tau. Mau marah sama Ali 100 juta tahun pun, Mama dan Evie tetap tau. Jadi, semua yang bersangkutan dengan ngomelin Ali atau marah sama Ali akan berakhir sia-sia.
Laksmana nggak menanggapi Ali lebih lama. Ia lebih memilih untuk bertanya bagaimana keadaan Mama sekarang. Melirik ke arah tentengan dari Ali yang super duper luar biasa banyak. Dirinya heran tadinya, Ali dapat uang darimana beli makanan ditambah bunga sebanyak ini?? Tapi beberapa detik kemudian, ia baru ingat kalau Ali adalah song writer. Uangnya juga pasti lebih banyak.
“Mama enakan?”
Lea mengangguk. Mengelus punggung tangan Laksmana dengan lembut. Tatapannya keibuan sekali menatap putra bungsunya yang habis dari luar. Mengurus beberapa administrasi di bawah. “Udah kok, Naa. Tapi kata dokter, Mama mulai sekarang harus tinggal di rumah sakit. Nggak apa-apa, ya? Maaf kalau Mama nyusahin Naa sama Evie..”
Pemuda tujuh belas tahun itu menggeleng. Balik mengelus punggung tangan Mamanya menggunakan ibu jari. Tatapannya lebih teduh dari tadi. “Nggak apa-apa, Ma.. Naa sama Kak Evie nggak merasa disusahin sama Mama kok. Anything for you hahaha.” Katanya diakhiri dengan tawa. Sebenarnya, hati Laksmana nggak setegar batu karang kalau dilihat-lihat. Tatapan matanya tersirat akan kesedihan. Melihat kondisi Mama yang semakin memburuk, membuat dirinya selalu was-was akan sesuatu buruk suatu saat. Kanker darah stadium 4 adalah stadium terakhir dengan rasio risiko tertinggi. Tingkat trombosit darah mulai turun dengan cepat. Sel-sel kanker mulai memengaruhi paru-paru termasuk organ-organ lain. Laksmana takut kalau dirinya akan 'ditinggal' lagi. Seperti Ayah ninggalin dirinya dua tahun yang lalu. Dirinya takut untuk kehilangan lagi.
“Mama pasti sembuh.” Ujarnya sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangan menatap ke arah lain. Pikirannya mulai berkecamuk membayangkan sesuatu yang nggak-nggak.
Lea tahu betul anaknya. Walaupun memang nggak pernah tinggal bersama, dan baru sekarang untuk bersama-sama lagi, Lea mengerti bagaimana tatapan sendu anak bungsunya sekarang. Ia juga sadar, kalau hidupnya pasti nggak akan lama lagi. Berkali-kali sekelebat bayangan malaikat maut datang menghampiri hanya untuk sekedar melirik lalu pergi lagi. Lea sudah terbayang-bayang oleh kematian yang ada di depan mata. Maut seperti ada muncul di hadapannya beberapa hari belakangan. Lea paham, Lea tau kalau dirinya pasti akan meninggalkan kedua anaknya entah kapan.
“Maafin Mama ya..”
Diantara Ayah dan Mama, Evie yang paling paham soal perubahan emosi Laksmana. Sekali lirik saja, ia tahu kalau Laksmana sedang emosional sekarang. Jadinya, ia menepuk pundak adiknya dengan lembut, “Naa, kamu keluar aja deh sama Ali. Mau kan? Kasihan aku sama kamu daritadi nggak jalan-jalan soalnya sibuk ngurus sana sini,” perempuan itu menjeda ucapannya, melirik sekilas ke arah Lea. “Aku jaga Mama di sini.”
“Aku kira kamu bakal ngajak aku ke mana gitu.”
Ali tertawa sambil melirik Laksmana yang sudah jalan terlebih dahulu mendahuluinya. Tangan kanannya dengan cekatan menutup pintu geser lalu menekan sesuatu hingga terdengar bunyi ceklek di sana. Itu adalah pengunci dari dalam. Jadi, nggak ada seorang pun yang bakal datang secara tiba-tiba lalu mendobrak masuk hingga menganggu ketenangan mereka berdua.
Kedua kaki Ali melangkah menyusul. Laksmana sudah duduk menjeplak pada lantai pualam. Rambut coklatnya bergerak-gerak terkena kesiur angin disekeliling. Kedua matanya menatap ke depan, ke arah gemerlapnya kota-kota dengan beberapa gedung pencakar langit. Ali menyeret tentengan makanannya, lalu ikut duduk di samping Laksmana tanpa berbicara.
Jika kalian bertanya di mana mereka sekarang, jawabannya ada di rooftop rumah sakit. Nggak usah bertanya kenapa mereka berdua bisa mengakses rooftop rumah sakit dengan mudahnya. Singkat saja, Ali tinggal bilang kalau dirinya adalah anak dari Bright Shaka pemilik rumah sakit yang sedang mereka pijaki sekarang sambil mengangkat tangan, menunjukan kartu identitas yang ia genggam.
Karunasankara Ali. Dengan begitu, beberapa petugas mengangguk mengerti. Memberikan Ali begitu saja kunci akses ke atas rooftop. Sambil senyum sumringah, Ali menerimanya. Lantas mengajak Laksmana sambil menenteng beberapa makanan.
“Nggak ah males. Di sini aja.” Sahut Ali sambil membuka yogurt yang ada di tangan. Kedua matanya pun tak lepas menikmati pemandangan kota yang terbentang luas. Terlihat indah sejauh mata memandang dari atas sini. Bulan bulat penuh terang benderang tepat di atas kepala mereka. Seolah sedang menyinari kedua anak manusia yang saling diam menikmati angin menampar pori-pori wajah dengan lembut. Seolah tersenyum hangat di tengah-tengah bintang serta awan berkabut di langit. “Mau makan, Naa?”
Laksmana menoleh, melihat Ali yang menyodorkan sejumlah makanan ringan untuknya. Dengan senang hati, ia tersenyum lalu mengambil. “Makasih, Ali.”
“Yaaa.”
Lalu diam.
Nggak ada percakapan spesial yang membuka keduanya. Keduanya malah hanya saling diam sambil mengunyah makanan sampai habis. Dan jika sudah habis, Ali akan menyodorkan kembali makanan ringan yang masih banyak dari dalam kantung plastik. Lalu kemudian diam lagi. Hanya ada suara gaduh membuka bungkus makanan dan suara kecapan mengunyah dari mulut Laksmana maupun mulut Ali.
5 menit saling diam, waktu kembali berjalan hingga akhirnya menunjukkan pukul setengah dua belas malam yang artinya sudah 10 menit mereka berdua saling sibuk dengan pikiran masing-masing.
Pemuda yang ada di sebelah Ali menoleh, menyenggol pundaknya pelan. “Ali, ngobrol yuk mau nggak?”
Ali menyahut. “Boleh. Ngobrol apa?”
“Emmmm…” Laksmana tampak menggantung ucapannya dengan kening yang terlipat berpikir. Wajahnya tampak ragu-ragu ingin menanyakan hal yang demikian—sepertinya terlalu privasi—hingga sampai-sampai Ali jadi gemas sendiri. Telapak tangan Ali yang besar kini mendarat di atas puncak kepala Laksmana lalu mengusap-ngusapnya dengan lembut. Menyadarkan lamunan Laksmana.
“Hayoooo kenapa lo jadi diem begitu? Ada yang dipikirin?”
“Nggak, sih, Ali… aku cuma hmmm apa ya… kita kan udah pacaran ya…”
“Yaaa siapa bilang temenan, Naa.”
Laksmana merengut. Bibirnya maju dengan kedua mata melotot menatap Ali nggak terima karena ucapannya barusan dipotong begitu saja. “Nggaaaak gitu. Aku ngerasa— apa ya, kayak nggak tahu banyak soal kamu gitu.. if you don't mind, boleh aku tahu banyak soal kamu, Ali?”
Ali terdiam untuk beberapa saat. Tangannya yang sedang meremas kaleng cola, kini seketika merenggang dengan kedua matanya yang berubah menjadi sendu. Perubahan air muka Ali jelas membuat Laksmana khawatir. Jadinya, buru-buru Laksmana melambaikan tangannya. Mencegah Ali untuk bercerita kalau anak itu tidak nyaman jika ditanya-tanya seperti ini. “Eh Ali nggak apa-apa, kok. Nggak usah cerita kalau kamu nggak mau.” Jawabnya tersenyum canggung dengan gelengan kepala kuat.
Langsung saja, Ali terkekeh. Melihat Laksmana yang tiba-tiba khawatir sebab dirinya mendadak diam. Ditatapnya kedua manik mata indah itu dengan lamat-lamat. Menatap pahatan wajah milik Laksmana yang sungguh sempurna jika dideskripsikan dengan kata-kata. Ali seperti ingin memotret pahatan wajah bak dewa ciptaan Tuhan itu di dalam otaknya lalu ia simpan hingga ia bisa ingat sampai seratus tahun ke depan.
“Oke gue cerita,” lelaki itu meletakan sekaleng cola yang sisa setengah miliknya di sisi kiri. Kontak mata mereka terlepas setelah saling bertatapan selama setengah menit. Ali lebih dulu mengambil napasnya dalam-dalam. “Tapi gue bingung harus cerita darimana ya…. Gue nggak pernah cerita soal 'gue' sama orang-orang. Tapi, karena ini lo yang nanya, gue bakal cerita.”
Laksmana terlihat antusias. Ia menatap Ali benar-benar tanpa kedip serta sabar untuk mendengarkan. Ia memperbaiki posisi duduknya, lantas menjauhkan makanan ringan dari hadapan. Ia ingin mendengarkan Ali tanpa ada makanan di mulut alias mengunyah. “Aku dengerin.”
Ali tertawa pelan. Mengelus belakang kepala Laksmana menggunakan ibu jarinya dengan lembut. Hingga saat suara tawanya mereda, tatapan Ali berubah menjadi sendu lalu menatap sepatunya sendiri. “Ada di mana gue nyalahin diri gue sendiri karena nggak seharusnya gue lahir, Naa.”
Jantung Laksmana seakan berhenti saat itu juga. Mendengar perkataan dari mulut Karunasankara Ali secara langsung. Mengucapkan secara gamblang kalau dirinya “seharusnya nggak lahir” itu menimbulkan pertanyaan besar dari benak Laksmana sekarang. Ali terkenal urakan dengan gayanya yang seenaknya. Melakukan sesuatu sesuka hati hingga selalu pede dalam segala hal. Mustahil juga sebenarnya kalau Ali bilang dirinya nggak pantas untuk lahir. Sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang selama ini 'slengean'.
Laksmana nggak langsung membuka mulutnya. Pemuda itu menunggu Ali untuk melanjutkan dengan sabar meskipun Ali malah diam seakan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kata-kata selanjutnya.
“Gue dulu hampir ngebuat Papa kehilangan nyawa.” Ali tertawa kecil. Diusapnya wajahnya yang tiba-tiba merasa gerah atau untuk menahan air matanya yang mulai jatuh merembas. “Waktu gue lahir, gue jadi penyebab salah satunya Papa hampir kehilangan nyawa. Waktu gue lahir, Papa pendarahan hebat yang bikin dia kehilangan banyak darah, Naa. Gue lahir caesar waktu itu karena Papa 'spesial' karena bisa hamil walaupun dia laki-laki.”
Pemuda yang ada di sebelah Ali masih setia mendengar walaupun lututnya sudah melemas mendengar cerita dari Ali yang seharusnya— anak itu nggak usah tau.
“Papa sama Ayah nyembunyiin cerita ini dari gue. Gue tau 2 tahun yang lalu waktu Papa bilang kalau gue mau punya adik perempuan. Papa sama Ayah ngomong agak tinggi walaupun jauh dari gue. Gue nggak sengaja dengar pas lewat kamar mereka.”
“Gue dulu emang mau punya adik perempuan, Naa karena gue merasa kesepian sebagai anak tunggal. Maka dari itu gue bilang ke Papa dengan nada ngotot. I know gue agak nggak tau diri, tapi pas gue tau dari ucapan Ayah—” Ali menggantung ucapannya. Tangannya mengepal, meremas fabrik kain celananya hingga lecek. “Ayah bilang, kalau Papa nggak bisa punya anak lagi karena tragedi gue lahir waktu itu. Karena pendarahan hebat dan ngebuat rahim Papa harus diangkat. Gue yang denger… langsung diem saat itu juga. Apalagi Papa, dia langsung syok pas denger, Naa.”
“Kenapa?”
Ali menoleh. “Karena Papa nggak tau yang sebenarnya. Ayah sengaja nyembunyiin ini semua dari Papa, termasuk gue. Mungkin karena puncaknya dua tahun silam, Ayah nggak sengaja bilang kalau mereka nggak bisa punya anak lagi, dan gue nggak bisa punya adik perempuan.”
“Gue waktu itu ngerasa bersalah banget, dan gue langsung nangis waktu itu juga. Gue ngerasa jadi penyebab semua ini, bahkan Papa aja nggak tau kalau dia pernah pendarahan hebat dan koma habis ngelahirin gue. Gue selalu ngerasa kalau gue seharusnya nggak lahir, Naa. Walaupun mereka nggak pernah bilang gitu karena mereka sayang sama gue, tapi gue ngerasa bersalah..”
Laksmana menepuk-nepuk punggung Ali perlahan. Ia sama sekali nggak membuat Ali menjeda ucapannya atau menyela sedikitpun.
“Dua tahun yang lalu itu bertepatan sama gue yang mau pergi ke Jerman. Gue juga baru tau kalau penyebab Papa nggak bolehin gue ke sana bukan hanya karena gue harus selesaiin pendidikan formal gue di sini, tapi karena gue anak tunggal satu-satunya dan gue masih kecil banget waktu itu. Mereka terlalu berat buat ngelepas gue. Jadinya, waktu gue tau kalau gue sejak lahir aja nyusahin, gue udah mulai ngerubah diri gue sendiri walaupun masih urakan. Gue nyoba biar nggak kayak anak kecil yang suka ngambek kalau minta sesuatu. Gue mulai perbaiki nilai yang tadinya jeblok awal-awal semester.”
“Mereka juga sepertinya banyak naruh harapan di gue walaupun mereka nggak pernah bilang gue harus jadi apa. Mereka selalu ngawasin gue dari jauh dan ngebiarin gue milih pilihan gue sendiri sesuka hati. Gue tau sebenarnya mereka nggak mau ngebebanin gue, Naa. Tapi kayaknya pikiran gue sendiri yang ngebebanin gue. Pikiran gue selalu bilang kalau gue anak yang nggak pernah nurut, nggak berguna, atau penyebab Papa hampir mati waktu lahirin gue.”
“I know it's hard for you, Ali. Tapi kamu sama sekali nggak begitu. Kamu bukan penyebab Papa kamu hampir kehilangan nyawa waktu itu. Jangan nyalahin diri kamu sendiri, nggak baik, Ali.”
“Gue tau, Naa. Tapi ya… nggak tau.. gue selalu mikirin itu terus-terusan. Dan sampai sekarang mereka nggak pernah cerita soal ini ke gue, walaupun gue juga tau sendiri akhirnya.”
“Jangan begitu..” Kepala Laksmana menggeleng pelan. Mengelus punggung belakang Ali dengan lembut. Menepuk-nepuknya sesekali lantas kemudian tersenyum tipis. “Kamu lahir itu udah ngebuat mereka senang, Ali. Mereka sangat nungguin kamu lahir. Kamu nggak nyusahin, kamu bukan pembawa sial seperti yang pikiran kamu bilang. Kamu ya kamu, Ali. Itu bukan kesalahanmu sampai kamu harus nanggung beban pikiran kayak gini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya? Mereka sayang sekali sama kamu.”
“Hahaha.. ya… they really love me so much.”
“And me too, Ali. Hahaha.”
Ali tertawa. Pemuda itu bergerak untuk memeluk Laksmana dengan erat. Mendekap pemuda itu dengan wajahnya yang ia letakan di pundak kokoh milik Laksmana. Dirinya merasa lega bisa menceritakan ini semua, berbagi beban bersama orang bukan ide yang buruk. Selama ini, tidak ada satu orang pun yang tahu soal pikiran Ali yang aneh-aneh soal menyalahkan dirinya sendiri atas kelahirannya ke dunia. Dan sekarang, rasanya lega sekali seperti beban jutaan ton di pundaknya perlahan menguap begitu saja. “Thanks udah dengerin…”
Laksmana membalas pelukan Ali walau tadinya anak itu terkejut. Ia mengelus puncak kepala Ali dengan lembut. Setidaknya, ia tahu Ali orangnya seperti apa. Selama ini ia merasa tidak enak kalau terlalu sering bercerita banyak pada anak ini sedangkan Ali tidak pernah bercerita banyak atau berbicara soal dirinya sendiri. Ali selalu mendengarkan, tidak pernah didengarkan karena anak itu tidak pernah bercerita banyak
“Thank you udah cerita, Ali. Kapan-kapan, tolong cerita yang banyak karena aku nggak mau kamu nanggung semua sendirian.”
“Hahahaha iyaaa, Naa. Makasih banyak.”
Keduanya saling melepaskan pelukan lalu tersenyum lantas tertawa seperti tak ada beban yang mendekap. Kedua mata mereka memandangi langit-langit kota yang cerah ditemani jutaan bintang yang berkelip mengelilingi bulan penuh malam ini. Nggak terasa juga, sudah pukul dua belas malam. Sudah hampir satu jam mereka berdua di rooftop menghabiskan waktu malam sambil menikmati malam yang tampak cantik hari ini.
Sepertinya, sampai pagi datang pun, mereka nggak masalah untuk berlama-lama di sini.
“Eh iya Naa.”
Laksmana menoleh, melirik Ali yang sekarang sedang sibuk mencari-cari sesuatu dari dalam kantong celananya. “Kenapaa?”
Ali menyengir—sudah menjadi ciri khas Ali kalau apa-apa selalu menyengir sok ganteng padahal memang ganteng—lalu mengeluarkan satu pulpen miliknya serta menggeser bokongnya supaya lebih dekat dengan Laksmana. Tangannya pun terulur, menunjukkan telapak tangannya yang kosong. “Kesiniin tangan lo.”
“Buat???”
“Siniin aja.”
“Oke oke.” Pemuda itu menurut. Mengulurkan telapak tangannya ke arah Ali sesuai dengan perintah anak itu. Wajahnya terlihat bingung saat Ali memegang tangannya dengan lembut serta mengarahkan pulpennya ke atas telapak tangan seperti hendak menuliskan sesuatu.
“Tutup matanyaa nggak boleh lihat.”
“HARUSSS??”
“IYAA HARUSS.”
Dia terkekeh. Menganggukkan kepalanya ringan diiringi dengan kedua matanya yang mulai menutup. Tidak sedikitpun Laksmana mengintip Ali sedang apa dengan telapak tangan kanannya. Yang hanya ia rasakan sekarang, ujung pulpen dengan lembut bergerak-gerak, menari-nari di sana. Membuat dirinya sedikit geli dan hendak tertawa. Hampir saja ia menarik secara refleks tangannya kalau saja Ali nggak segera menahan tangannya untuk tetap disitu.
“Bentarrrr lagi jadi jangan ngintip.”
“Ngapaaaain sihhh???!!!” Katanya dengan tak sabaran. Ali terkekeh lalu dua puluh detik kemudian, ia menyelesaikan kegiatannya 'menulis' di atas telapak tangan milik pacarnya.
“Udahh tuh lihat.”
Perlahan, Laksmana membuka kedua matanya. Pandangan pertama yang ia lihat adalah Ali yang sedang tersenyum jenaka ke arahnya. Sudah ada firasat buruk tadinya kalau telapak tangannya hanya dicoret-coret asal oleh Ali.
Tapi sepertinya, perkiraan Laksmana meleset. Dirinya tertegun melihat tulisan tangan Ali di telapak tangannya. Menggunakan pulpen.
Can I be your boyfriend?
Laksmana mati kutu. Ia nggak bisa berkata apa-apa lagi melihat perlakuan tiba-tiba Ali sekarang.
“Gua seharusnya waktu itu nembak lo dengan cara yang benar. And now, I want to try it again, Laksmana. Gua pernah bilang kalau mau nembak lo lagi dua kali.” Kata Ali sambil mengusap belakang lehernya canggung. Ia tersenyum kecil dengan semburat merah menjalar sampai ke pipi. “I love you more than anything. Kalau Papa sama Ayah ada di urutan nomor satu, lo menempati urutan nomor dua sekarang, Laksmana. Gue tau kayaknya… cringe banget anjingg ah tapi—yeah, yaudah. I love you.” Sambungnya lagi dengan terbata-bata.
Laksmana tertawa melihat Ali yang sedang salah tingkah. Tanpa berbicara, tanpa membuka mulutnya, Laksmana merebut pulpen yang ada dalam genggaman Ali. Melakukan sesuatu yang sama seperti yang Ali lakukan padanya tadi. Menulis pada telapak tangan.
Is there any other answer besides 'yes'?
Ali tertawa setelah membaca kalimat yang tertulis pada telapak tangannya. “Nggak ada. if you give a 'no' answer i will try to get you to give a 'yes' answer even if i have to try a hundred million times.”
Keduanya sama-sama tertawa. Ali mengelus puncak kepala Laksmana, begitupun juga Laksmana melakukan hal yang sama untuk Ali. Keduanya sama-sama tersenyum satu sama lain, menatap netra masing-masing dengan penuh cinta seperti remaja jatuh cinta pada umumnya. Mereka nggak peduli walau langit cerah ataupun gelap, mereka nggak peduli walau jam sudah hampir menunjukan angka setengah satu lewat.
Selama bersama-sama. Selama berdua saja di sini, keduanya nggak keberatan sama sekali.
“I want to say 'i love you' in a cool language.”
“Oh ya? Apaa?”
Ali mengulum senyumnya. Memasang wajah 'sok' sambil melipat kedua tangan di depan dada. “143.”
“Hahaha ohhhh. Aku juga punya i love you in cool language.”
Ali memasang raut wajah bertanya-tanya. “Apaa?”
“143 224.”
“ITU APA ARTINYA????”
Laksmana tertawa lepas. Menjulurkan lidahnya mengejek. “CARI TAU SENDIRI HAHAHAHAHA.”
“NAAAA KASIH TAU.”
“GAAAAAAAAK.”
—SELESAI—