302. you sleep with me while i read a book
Laksmana's Pov
Hari ini, aku ke rumah besar milik Ali lagi. Sambil menenteng makanan kucing dan juga pasir kucing di tangan, aku menoleh-noleh ke sana kemari sambil mendumal kesal sebab si tuan rumah nggak kunjung datang. Aku sudah berkali-kali memberikan spam chat untuknya namun tidak kunjung mendapatkan jawaban. Mungkin Ali masih sibuk mengurusi urusan 'kamar mandi' nya karena ini sudah lima belas menit berlalu sejak chat terakhir darinya.
Aku mendumal. Ku hembuskan napas berat sambil mendorong gerbang rumah Ali yang tinggi menjulang. Beberapa satpam yang melihatku, langsung menyapa dan menawari untuk membawakan barang bawaan banyak pada genggaman tanganku. Aku menggeleng, menolak bantuannya karena merasa tidak enak. “Nggak apa-apa, Pak. Aku bisa sendiri, kok.” Sambil tersenyum ramah, dan menolak dengan halus. Pak satpam tersebut mengangguk, mengambil ponselnya serta meninggalkan pesan suara untuk Ali. Memberitahu kalau aku sudah di sini sementara aku hanya merotasikan kedua mata dengan malas. Anak itu masih sibuk mengeluarkan feses dari perutnya. Kemungkinan besar selesai juga setengah jam lagi. Kalau ia nggak main-main di dalam kamar mandi dulu.
“Halo, Laksmana. Mau ketemu sama Ali, ya?” Suara berat menyapa gendang telinga dan dengan segera aku mengangkat kepala menoleh ke asal muasal sumber suara. Kepalaku perlahan mengangguk kikuk, sementara si yang punya suara langsung menyambar tentengan penuh yang ada di tangan, lalu bergerak meninggalkanku terlebih dahulu. “Ali nya lagi sakit katanya. Dia dari tadi nggak keluar-keluar dari kamar mandi.” Ia menyahut lagi. Sementara aku mengangguk-angguk dan mengekorinya dari belakang. Hendak protes namun mulutku terlebih dahulu bungkam.
“Maaf ya, anaknya emang suka ngeselin. Ini Ali udah bayar ini semua belum?”
“Eh— udah kok, Om.” Aku menjawab kemudian Om Shaka yang berstatus sebagai Ayahnya Ali mengangguk mengiyakan. Nggak ada percakapan yang berarti antara aku dengan Ayahnya Ali. Aku hanya melihatnya dengan kepala yang ditegakkan, menatap punggung lebar itu dari belakang. Dipikir-pikir, Ali dengan Ayahnya itu emang nggak ada yang dibuang. Semua, dari bentuk wajah sama persis. Walaupun dari segi bobot tubuh mereka berbeda, karena Om Shaka lebih besar tubuhnya dibanding Ali yang sering bermalas-malasan.
Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke basement milik Ali—tempat anak itu berdiam diri di tengah-tengah rumah besar yang ia punya. Ayahnya Ali berpamitan setelah mengetuk pintu basement dengan hati-hati. Memanggil anaknya dengan suara tegas kemudian menggelengkan kepala sebab anaknya amat sangat menjengkelkan. Aku terkekeh pelan, menyetujui ucapan pria bertubuh besar di sampingku ini. Beliau bilang, Ali sangat menjengkelkan dan membuat seluruh orang rumah geleng-geleng kepala. Aku diam-diam menyetujui, karena sudah tahu tingkahnya di sekolah.
“Om tinggal ya, Laksmana. Tunggu aja sampai dibuka pintunya. Om mau buka tapi pintunya dikunci, nggak tau anak itu apain sama pintu ini.” Sahutnya sambil mengetuk-ngetuk pintu tersebut hingga terdengar bunyi tuk tuk tuk. Aku mengangguk, bilang terima kasih hingga beliau berbalik badan, pergi dari hadapanku, meninggalkanku berdiri seorang diri di depan pintu tinggi menjulang bersama makanan kucing serta pasir kucing yang teronggok bisu di bawah kaki.
Ceklek
“LAMAAAAAAA BANGET?????” Aku otomatis berteriak sambil melotot setelah melihat bayangan dari Ali dari balik pintu mengeluh sambil memegangi perutnya. Aku sudah bersiap untuk meninju Ali kapan saja menggunakan pasir kucing serta makanan kucing milik Ily. Pintu kemudian terbuka lebar, mendapati Ali dengan wajah pucatnya menatapku sambil meringis. Hardikan yang tertahan di mulut, kini meluap begitu saja setelah melihat Ali yang seperti orang hidup segan mati tak mau.
Lantas, aku langsung memelankan intonasi berbicara. “Eh…. Ali, kamu nggak apa-apa, kah?”
Ali mengangguk lesu. Ia menyingkir dari pintu mempersilahkanku untuk masuk. Dengan ragu-ragu, aku menatap Ali sekali lagi. Memastikan kalau anak itu sedang baik-baik saja ditengah-tengah keadaannya yang sudah diujung tanduk. Pintu tertutup, aku meletakan makanan kucing di dekat pintu dan membuka sepatuku. Ali berjalan ke atas ranjang, tidak memperdulikanku yang baru saja masuk dan hendak menyapa Ily—kucing putihnya Ali.
“Ali udah makan belum?” Suaraku langsung memelan begitu saja sambil mengisi bowl kosong milik Ily dengan wet food yang baru saja aku beli. Kucing putih itu mengelilingi kakiku, melingkar-lingkar dengan buntutnya yang panjang bergoyang-goyang. Aku terkekeh pelan, mengelus puncak kepalanya dengan kasih sayang lalu mendaratkan satu kecupan di sana. “Makan ya, majikan kamu lagi nggak bisa kasih makan.”
“Meong.”
“Anak pinterrr.” Aku tertawa terbahak. Kucing itu sangat nurut, sebelum sempat menyantap makanan yang sudah dihidangkan, Ily menatapku dengam bola mata hitam bundarnya. Sekali lagi, aku mengelus bulu-bulunya yang halus, lalu beranjak berdiri meninggalkannya.
“Ali udah makan?”
Ali menoleh, ia mengangguk lesu. “Udah tadi makan pake bubur.”
“Jam berapa?”
“Setengah jam yang lalu… kayaknya???”
Kepalaku mengangguk-angguk. Kemudian menoleh ke arah nakas tempat obat-obatan milik Ali teronggok begitu saja tanpa disentuh. Tidak ada bekas sobekan pada bungkus obat di atas meja. Aku menghela napas, mengambil obat-obat tersebut sambil menggeram kecil. Melirik ke arah Ali yang sudah membungkus tubuhnya menggunakan selimut tebal. Aku sudah menduga, kalau Ali nggak akan pernah mau minum obat.
“Ali, ayo minum obat.”
“Nggak.”
“Hehh tadi kamu janji loh mau minum obatnya???? Ayo minum.”
“Nggak mau.”
“KENAPAA???” Suaraku sedikit meninggi. Ali berdecak kesal dari balik selimutnya. Kemudian, menyingkap selimut tebal tersebut yang menutupi wajah. Menatapku dengan raut wajah nggak terima. Aku mengangkat sebelah alis. “Kenapa ngeliat aku kayak gitu???”
“Nggak mau minum obat ah, Na. Malesssss. Pait juga.”
“Minum obat biar kamu nggak sakit lagi. Udah makan tapi nggak minum obat gimana mau sembuh.”
“Nggak mau ah.”
“ALIII.” Tanganku terulur, menarik paksa selimut yang menggulung tubuh Ali. Melemparnya dengan sembarang hingga mendarat pada lantai marmer dengan sempurna. “Minum obatnya. Atau nanti aku pulang.”
Ali mungkin kesal denganku, tapi aku sama sekali nggak peduli. Sambil memasang wajah pura-pura marah dan galak, sambil memegang obat juga di tangan, aku mengulurkan tanganku ke arah Ali hingga pemuda itu dengan berat hati menyambar obatnya dari telapak tanganku. Ia mendumal, aku balas sinis menatapnya. Ali bangkit dari atas tempat tidur, berjalan meninggalkanku untuk mencari botol air minum yang terisi penuh tergeletak di atas meja belajar besarnya.
“Jangan dibuang loh. Aku ngeliatin dari sini.”
Ali berdecak sebal. “Iyaaaa iyaaa, tuan. Gue minum obatnya nih.” Sambil terus komat-kamit kesal, Ali memperlihatkan dirinya yang sedang minum obat. Aku tersenyum puas, merebahkan diriku di atas tempat tidur milik Ali dengan satu tangan yang terbuka ke samping. Wangi parfum milik Ali tercium begitu saja saat aku mendaratkan kepalaku pada bantal empuk miliknya. Mataku masih memincing tajam, menatap ke arah Ali yang berjalan gontai ke arahku sambil memegang buku.
“IHHH novel hujan!!! Aku punya sih di rumah tapi udah dihilangin sama Kak Evie.” Kataku dengan antusias. Ali mengangguk, menyerahkan novel tersebut dan mendarat tepat di atas perut. Dengan cekatan, aku mengambilnya dengan senang hati. Melupakan Ali yang mulai duduk di atas ranjang, serta merebahkan tubuhnya di sebelahku. Wangi parfumnya kembali menguar, mendobrak-dobrak indra penciumanku hingga seperkian detik merasa 'terpesona' oleh wanginya. Ali walaupun nggak mandi satu bulan pun, ia akan tetap wangi. Entah bagaimana ceritanya. Namun saat ia berkeringat usai bermain basket pun, ia akan tetap wangi.
“Na.”
Aku menoleh, sedikit terkejut Ali sudah mendaratkan kepalanya pada lenganku yang terbuka lebar. Menjadikan lengan milikku sebagai bantalannya. Kedua matanya otomatis tertutup, deru napasnya beraturan. Suhu tubuhnya juga panas sekali. “Ya?” Aku lantas menyahut. Nggak menyuruh Ali untuk menyingkir karena keadaannya sangat mengenaskan. Demam tinggi, dan juga habis buang air besar berkali-kali—kata Ayahnya.
“Gue tidur ya.”
“Hmmmm.” Jawabku sambil menyisir-nyisir rambut milik Ali dengan lembut menggunakan jari—ini refleks. Helaian rambut itu sungguhan halus dan juga wangi. Aku nggak mengerti bagaimana caranya padahal rambut ini selalu berantakan jika berangkat ke sekolah.
“Elus terusss rambut gue biar gue tidur.”
“Iya bawel.”
“Hehehehe.”
Sebenarnya, jantungku sudah dari tadi mencelos ke bawah. Tapi aku berusaha menetralkan degup jantungku agar nggak berpacu lebih kencang. Berkali-kali aku menghembuskan napas agar semakin tenang dan rileks.
Tenang… tenang Laksmana… dia cuma Ali..
Sambil tangan kananku masih sibuk menyisir-nyisir rambut Ali, aku melanjutkan kegiatan membaca buku hujan yang sudah aku reread hampir berjuta kali rasanya.
Dengan jantung yang masih terus berpacu seratus kali lipat dari biasanya.