N'oublie pas de vivre

mengandung konten kekerasan, pembunuhan, kata-kata kasar, senjata tajam, senjata api, darah, 18+, human mutilation.

Rintik-rintik air yang turun dari atmosfer bumi lalu mendarat dengan deras jatuh ke tanah hingga menimbulkan becekan pada lubang kecil yang berada tepat di depan kaki yang terbalut oleh sepatu converse warna hitam dan putih. Bau petrichor yang tercampur dengan bau anyir menguap ke udara mengganggu indra penciumannya. Pria itu mendengus tak suka dan dengan segera menutup hidungnya. Kedua kakinya melangkah, berjalan gontai dengan trash bag besar hitam yang ia seret tanpa memperdulikan isi di dalamnya.

“Si keparat itu benar-benar membuatku muak.” Katanya dengan suara berat. Napasnya tersengal hebat, mengais sisa-sisa oksigen yang seolah masih tersisa di antara gang sempit jarang dilewati banyak orang. Apalagi, hari ini ingin hujan. Awan pekat menyatu di langit, menutupi bintang-bintang bertaburan di atas sana. Kemudian, kedua matanya melihat ke arah belakang—tepatnya melihat ke arah trash bag besar yang ia genggam atasnya—lalu berdecih dan meludah dengan sembarang. “Untung saja bayarannya mahal. Kalau tidak, aku mana mau bekerja sama lagi dengannya.”

Lelaki itu mengedikkan bahunya tak peduli. Lebih tepatnya acuh lalu kembali menyambungkan jalannya. Menghindari untuk memijak darah yang menggenang bercampur dengan becekan air hujan. Tatapannya tidak ada rasa iba sama sekali sehabis membunuh orang beberapa menit yang lalu. Malah sebaliknya, ia mengaduh kecil. Mengusap perutnya yang bergemuruh tanda lapar.

“Brengsek, aku belum makan sama sekali.”

Pukul satu dini hari waktu kota, lelaki itu berjalan kaki dengan menyeret trash bag ke arah pemukiman kumuh tempat tinggalnya. Seperti rumah susun namun jarang berpenghuni, mungkin hanya sepuluh kepala keluarga saja yang tinggal di sana. Dirinya tak punya tetangga sama sekali. Ya, memang ada yang mau bersosialisasi dengan pembunuh? Jelas tidak ada yang mau walaupun dibayar satu miliar dolar pun. Orang-orang juga akan berpikir, itu sama saja menyerahkan nyawa secara gratis.

krek

Pintu unit kamarnya berderit, terbuka lebar. Dengan wajahnya yang ditekuk, ia melangkah pelan masuk ke dalam. Menyeret trash bag lalu sejenak mengangkatnya dan melempar ke arah dinding hingga terbanting. Membuat darah merembes di sana. Metawin—nama lelaki itu—hanya terdiam sejenak beberapa saat, kiranya beberapa detik untuk bergeming menatap trash bag tersebut yang di bawahnya ada darah mengalir, lalu kemudian berjalan dengan santai ke arah dapur. Membuka kulkas, mencari makanan. Ia terdiam, menatap telur, sosis, sarden, serta makanan kaleng lainnya yang tersaji di dalam kulkas. “Makan apa aku hari ini?” Gumamnya kecil sambil mengetuk-ngetukkan pintu kulkas menggunakan jari telunjuk.

Kemudian, ia tertawa detik itu juga. “Hahahaha telur lagi, sosis lagi, sarden lagi,” tangannya terulur, jemarinya dengan lihai mengeluarkan satu kaleng sarden kecil yang masih belum dibuka. Ia letakkan di atas wastafel yang bersih, lalu merenggangkan otot-ototnya yang mendadak kram. “Yah, ini lebih baik daripada harus makan daging manusia.”

Bagi orang awam yang mendengarnya, beberapa—mungkin atau seluruhnya—akan merinding seiring mendengarkan rentetan kata yang keluar dari mulut sok tidak berdosanya. Berlari sekencang mungkin, lalu menghindar kontak mata dari Metawin. Tapi baginya, semua kata-kata barusan terdengar sangatlah lumrah untuk diucapkan. Hati nuraninya jelas sudah tidak ada. Rasa kasihannya pada sekitar, total blas hilang tak tersisa.

Sebelum memulai acara masak-memasak lalu memakan santapan malam, memberikan cacing-cacing di dalam perutnya asupan, Metawin mencuci tangannya terlebih dahulu yang penuh dengan bekas jejak darah yang sudah mengering. Tak lupa mencuci topeng putih kelinci yang sering ia pakai jika sedang menjalankan tugasnya. Yah, tugasnya adalah; menyiksa, membunuh orang hingga tak bisa terlihat lagi. Menjadi pembunuh berantai dengan bayaran sangat fantastis serta mampu melenyapkan orang tanpa harus menye-menye memanglah keahlian pemuda berparas tampan dan manis yang dipadukan menjadi satu ini. Bukanlah tanpa alasan ia melakukan ini; ia butuh uang.

Eits, tapi jangan salah. Metawin hanya menerima job untuk membunuh orang yang dosanya sebesar gunung Everest dan sangat merugikan banyak pihak. Contoh; koruptor, orang-orang yang melakukan pelecehan seksual pada wanita dan anak-anak, serta orang yang membunuh anggota keluarganya yang nggak berdosa. Lucu memang, disaat pendosa bertemu dengan pendosa lainnya. Apalagi, ia akan tertawa paling lantang saat mengetahui calon korbannya adalah pembunuh juga. Dua pembunuh saling bertemu.

Selesai mencuci tangan serta topeng miliknya lalu ia letakkan di atas sofa, Metawin mulai memasak. Memberes-beres dapur adalah salah satu keahliannya di bidang ini. Walaupun tinggal di pemukiman kumuh, dirinya adalah orang yang cukup bersih. Yah, lupakan saja ada potongan tubuh di dalam trash bag yang ia biarkan di balik pintu unitnya.

Metawin tinggal sendiri. Tidak mempunyai satupun keluarga di kota ini. Anak tunggal yang merantau karena orang tuanya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Umurnya baru genap dua puluh bulan februari tahun ini, dan sekarang—sudah hampir natal. Ah, dia seharusnya membeli pernak-pernik natal seperti orang-orang pada umumnya. Namun karena menurutnya nggak terlalu penting, ia mengurungkan niat. Buat apa merayakan natal kalau sekiranya banyak potongan daging manusia yang belum dimusnahkan?

Jika kalian bertanya, akan dikemanakan potongan daging itu, Metawin akan menjawab; untuk makanan anjing. Banyak anjing-anjing liar di sekitarnya yang katanya membutuhkan makanan. Jadi, setelah dibersihkan dari darah-darah segar yang banyak, Metawin biasanya keluar malam-malam untuk membuang daging tersebut. Cukup kejam, namun itu adalah cara terbaik untuk tidak ketahuan. Menghilangkan jejak seolah tak jadi apa-apa.

“Aku memang koki yang handal,” Katanya dengan tersenyum penuh kemenangan. Membanggakan diri sekiranya ia punya bakat lagi selain harus membinasakan manusia. “Mari kita makan, lalu lekas tidur.”

Pemuda itu melangkah ke arah sofa ruang tengah sembari membawa piring berisi nasi serta sarden dengan porsi cukup banyak. Ia belum makan juga ngomong-ngomong. Menghabisi satu nyawa cukup membuat energinya terkuras habis-habisan.

Beberapa menit, hampir lima belas menit dirinya berkutat dengan makanan yang tersaji di hadapannya, piringnya yang tadinya penuh, kini sudah kosong. Hanya ada sisa-sisa saus di sana. Metawin makan dengan lahap dan segera menandaskan air yang ada pada gelas hingga habis. Pemuda itu menghembuskan napasnya, menepuk-nepuk perut, lalu bersendawa dengan senyuman puas yang terulas di wajah.

tok tok tok

Sorot matanya elang miliknya, yang tadinya menatap ke arah depan lurus-lurus, termangu entah memikirkan apa, sekarang menoleh ke arah asal sumber suara. Pintu unitnya sedikit bergetar karena ada mengetuk dari luar. Bibirnya bergumam, mengucapkan kata-kata yang tak bisa didengar. Hanya Metawin dan Tuhan saja yang tahu mungkin.

“Hah!” Ia menghembuskan napasnya. Sedikit terganggu dengan suara ketukan tersebut. Namun tetap saja, si pemuda yang belum berganti pakaian ini lantas berdiri. Kedua kakinya melangkah menuju pintu unit yang kini suara ketukannya terdengar lebih kecil dari tadi. Sepertinya, si tamu menyadari bahwa bertamu malam-malam tidaklah baik. “Siapa juga yang datang malam-malam begini.”

klek Suara derit pintu serta knop pintu membuat si pelaku pengetuk pintu terkejut sampai-sampai harus mundur beberapa langkah. Metawin terkesiap untuk beberapa detik, memperhatikan gerak-gerik si tamu yang terlihat kikuk. Mengenakan kacamata yang lensanya sepertinya setebal tutup botol. Membawa ransel besar di pundak, lalu kepala yang menunduk. Matanya menatap lantai yang berdebu. Kening Metawin terlipat bingung. Apa dirinya adalah salah satu calon customernya? Tapi malam-malam begini dengan posisi dirinya yang baru saja selesai 'bekerja'?

“Anu..” Lelaki berparas—sedikit tampan—tentu saja! Hanya Metawin lah yang paling tampan di sini—membetulkan kacamatanya yang melorot. Membenahi ranselnya yang merosot dan mencengkramnya kuat-kuat. Dia terlihat gugup. Sangat. Apalagi bertemu Metawin yang statusnya orang sangat asing bukanlah hal yang bagus. Bisa saja ia tiba-tiba dibunuh. “Aku.. yang mengirimkan dm di Twitter milikmu,” ia mencicit. Suaranya sangat serak, nyaris tak terdengar. Metawin dengan sigap memasang kedua telinganya dengan sebelah alis yang terangkat. Tubuhnya bertumpu, bersandar pada engsel pintu.

“Ya?” Dm Twitter? Metawin berpikir lagi. Emang aku membuka Twitter ya hari ini?

Yang ditanya mengangguk gugup. “Iya.. aku yang meminta tolong lewat twit Twitter. Aku mengatakan aku ingin menumpang karena aku diusir dari rumah. Dan kamu langsung mengirimkanku sebuah pesan lewat dm, katanya, rumahmu bisa ditumpangi.”

Ada lenggang sejenak di antara percakapan keduanya. Metawin menyipitkan mata, mencoba mengingat-ingat apa yang pemuda itu katakan. Satu menit, tidak ada yang inisiatif untuk membuka suara, pemuda itu lantas berbicara lagi.

“Eh, sepertinya aku salah rumah, ya? Kalau begitu aku pergi saja, maaf mengusik waktu tidurmu.”

“Namamu Bright, bukan?” Ia mengerjap, mengangguk cepat. Ada sedikit binar pengharapan di kedua netranya. Mungkin berharap dirinya bisa tinggal barang semalam di sini. Daripada harus tidur beralaskan kardus serta tanah yang dingin. “B—benar. Namaku Bright, Vachirawit Chivaaree. Kamu bisa memanggilku—”

“Aku memanggilmu Bright saja.” Metawin memotong ucapan Bright dengan nada dingin. Tatapannya seperti sedang menelanjangi pemuda di hadapannya ini. Lirikan mautnya bisa membuat siapapun orang berlarian tunggang-langgang. Namun tidak dengan Bright ini, pemuda itu dengan polosnya tanpa curiga mengangguk. Di dalam hatinya sudah berucap rasa syukur karena sepertinya Metawin sungguhan ingin menolong. “Umurmu?”

“Sembilan belas.”

“Masih muda. Masih sekolah?”

Ia menggeleng. “Aku baru lulus satu tahun yang lalu.” “Kuliah di mana?”

“Aku tidak kuliah.”

“Bekerja?”

“Lebih tepatnya pengangguran.”

Yang menjadi lawan bicara Bright mengangguk mengerti. Setidaknya, pemuda ini terlihat aman untuk tinggal sementara di tempatnya. “Baik. Kau boleh tinggal sementara di gubuk tua ini. Anggap saja rumah sendiri, tapi rumahku sungguhan berantakan seperti kandang babi.”

Bright mengangguk semangat. Senyumannya terulas sangat tampan seperti bulan sabit indah di malam hari. Metawin terpana untuk sepersekian sekon. Ia baru melihat pemuda yang sangat antusias untuk bertemu dengannya. Mengingat tampang Metawin ini sangat tidak bersahabat; sering mendesis, menatap sinis, serta bibir yang sama sekali nggak pernah tersenyum dengan lebar. Sekalinya tersenyum itu juga saat menyiksa para korban-korbannya.

Metawin lantas membuka pintu, menggeser tubuhnya yang menutupi jalan. Mempersilahkan Bright masuk. “Aku punya dua kamar, satunya sepertinya gudang yang nggak pernah aku bersihkan. Kamu bisa menggunakannya, tapi jangan protes kalau ada sarang laba-laba serta kecoa yang banyak,” Metawin bergidik ngeri. “Itu mengerikan.”

Bright terkekeh kecil. Menundukkan tubuhnya seperti memberikan hormat juga rasa terimakasih karena mempersilahkan dirinya tinggal di sini. Walau hanya sementara, dan sepertinya Metawin ini sangat friendly. Mempunyai humor yang cukup baik. Setidaknya, ia tidak tinggal lagi dengan kedua orangtuanya yang sangat temperamen.

Pemuda yang lebih tinggi satu senti dari Metawin itu lantas masuk. Dan saat dirinya masuk juga, tercium bau anyir yang menusuk sangat jelas di hidungnya. Bright mendengus serta mengendus-ngendus sambil mengusap lubang hidungnya yang gatal.

“Ah ya, kau bisa menggunakan kamar mandi untuk bersih-bersih. Lupakan soal bau anyir yang menusuk hidungmu, karena aku lupa membereskan babi yang mati di dalam trash bag.” Katanya dengan santai, menunjuk trash bag yang tergeletak di balik pintu. Bright mengangguk santai, bertanya di mana kamar mandi. Metawin menunjuk, ada di sebelah dapur berbelok ke arah kanan. Setelah mengucapkan terima kasih, Metawin mengibas-ngibaskan tangannya. Memberi tanda Bright tidak perlu sebegitunya.

“Jangan berterima kasih terus, aku bukan badan amal.”

Dan, tanpa Bright sadari, di dalam trash bag besar itu terdapat potongan tubuh manusia yang sudah antah berantah. Ucapan Metawin soal babi yang mati itu hanya gurauan semata. Pemuda itu lupa membuangnya. Dan sepertinya, ia akan mengerjakannya malam ini.

“Oh aku lupa bertanya, namamu siapa?”

Metawin bergeming beberapa saat. Mematung dan berpikir untuk menjawab. Padahal, itu hanya pertanyaan sederhana yang bisa dijawab dalam hitungan detik. Namun bagi Metawin, ini adalah pertanyaan sangat rumit.

Mau ku jawab pakai nama palsu atau nama asli ya?

“Liam.” Ia menjawab asal. Tentu saja itu adalah nama dari sekian nama palsunya. Nggak mungkin juga ia akan menjawab namanya adalah Metawin si pembunuh bayaran. Bisa-bisa, Bright langsung pucat atau jatuh pingsan di tempat.

“Liam? Hanya Liam?”

“Menurutmu namaku harus berderet seperti susunan rel kereta api?”

“Hehehe.” Bright mengusap tengkuknya yang tak gatal. Canggung. “Salam kenal, Liam.”