please listened this playlist: https://open.spotify.com/playlist/5kQd7jVRZYpK48XZGbPN9F?si=f18e7be4dbdc4f36
Ada beberapa pertanyaan besar yang terlintas di kepala Metawin sekarang juga. Dimulai saat dirinya memilih pakaian yang lebih baik sampai-sampai dirinya mengeluarkan seluruh isi lemarinya hanya untuk memilih baju yang sekiranya pantas untuk dirinya bertemu dengan Bright. Konyol memang, ia tak tahu apa perasaannya sekarang. Bisa dibilang lebih... excited? Padahal, dari awal pertemuan mereka saja sangatlah buruk. Metawin harus berderai air mata hingga menteuk pintu rumah Harit. Mengadu pada sahabatnya itu.
Kira-kira Bright udah punya pacar belum ya?
Atau,
Bright selama ini ngapain aja di Kanada?”
Dan lain-lain.
Sampai-sampai, Metawin harus menggelengkan kepalanya agar beberapa jenis pertanyaan konyol itu tidak hinggap lagi di kepalanya. Setelahnya, ia menarik nafas dalam-dalam, lalu berkaca pada layar ponselnya sebentar kala kedua kakinya berhenti melangkah tepat di depan pintu Cafe miliknya. Memastikan apakah dandanannya sekarang tidak berlebihan dan tidak terlalu kucel di hadapan Bright nanti.
“Ish apaan, sih anjing? Gue mikirin apaan emang?” Ujarnya kepada diri sendiri saat sadar bahwa dirinya sedang berpikir macam-macam. “Santai aja.. santai.. habis ngomongin lo bisa pulang,” sambung Metawin seakan berbicara serta memberitahu dirinya sendiri agar tidak terlalu gugup serta menetralkan degup jantungnya sekarang.
“Sebentar doang, sebentar.”
Kringg
lonceng Cafe miliknya pun berbunyi. Menandakan bahwa pintu telah didorong olehnya dan dirinya melangkahkan kedua tungkainya untuk masuk ke dalam. Senyumnya merekah, kedua sudut bibirnya naik ke atas, tak lupa menyapa beberapa pegawainya yang sedang melayani pelanggan, menanyakan bagaimana kabar beberapa pegawainya, lalu mengalihkan pandangan.
Kepalanya menengok ke kiri serta ke kanan. Sedang mencari-cari sesuatu. Hingga pada akhirnya, kedua matanya pun tertuju pada seseorang yang sedang duduk di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya dengan segelas cangkir yang terletak di atas meja. Ia menduga, jika isi cangkir tersebut adalah kopi. Terbukti, dengan asap yang masih mengepul ke udara.
“Bright.”
Yang dipanggil pun mengangkat kepalanya. Lalu ikut berdiri saat menyadari Metawin sudah berada di hadapannya dengan setelan santai mengenakan kemeja serta celana panjang. Senyum si lawan bicara Metawin tersenyum sempurna, memancarkan aura ketampanannya hingga Metawin menjadi salah fokus sendiri. Bburu-buru Metawin mengedip, agar Bright tidak menyadari dirinya yang sedang menatap pemuda itu lamat-lamat.
“Ta.” Jawab Bright dengan kepala yang ia anggukkan dengan ringan. Metawin pun menarik kursi yang ada di depannya, lalu, mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu tersebut.
“Udah lama nunggu gue?”
“Nggak, kok.”
“Yaudah bagus deh,” Metawin pun ikut menganggukkan kepala. “duduk ajaa.”
Setelah dipersilahkan duduk oleh Metawin, Bright pun langsung duduk dan meremat jari-jarinya sendiri. Bukannya ia takut atau apa untuk bertemu Metawin, ia sangat ingin malah. Ia sangat suka melihat Metawin berada di hadapannya lagi sekarang. Walaupun keduanya sudah berganti status hubungan, namun Bright tidak masalah. Ia bahkan ingin memeluk pemuda manis itu sekarang juga.
Metawin semakin manis, tak ada fisiknya yang berubah. Hanya tubuhnya saja yang semakin tinggi menjulang. Namun, dari segi wajah, hidung, kedua mata yang membulat, pipi yang merah, sama sekali tidak ada yang diubah. Semuanya masih sama. Semuanya masih seperti Meta-nya yang dulu.
“Lo mau ngomong apa jadinya?” Metawin menyadarkan lamunan Bright yang sedang menatapnya ragu-ragu. Kesannya, pertanyaan yang diajukan Metawin memang terdengar seperti sedang terburu-buru. Namun, percayalah. Metawin malah tidak sabar untuk mendengar penjelasan atau hal yang harus mereka berdua selesaikan. Karena baginya, urusan dirinya dengan Bright benar-benar harus selesai dan dikubur dengan rapat-rapat. Daripada ada yang mengganjal nantinya.
Benar juga apa kata Harit, keduanya memang harus saling memaafkan satu sama lain dan hidup pada jalan pilihan masing-masing.
Sebelum menjawab, Bright mengambil nafasnya, menatap Metawin terlebih dahulu, kemudian beranjak dari bangkunya. Metawin bergeming, terdiam kala melihat Bright berdiri dengan raut wajahnya yang sulit ia definisikan. Kedua alisnya bahkan bertaut dengan bingung.
“Kok lo berdiri?”
Bright tersenyum penuh arti. “Nggak enak kalo ngomong sambil duduk.”
“Terus?”
Bright mengambil tangan Metawin lalu menggenggamnya dengan lembut. “Ayo sambil jalan.”
Pemuda itu terkejut, namun juga tak bisa menolak apa yang Bright lakukan padanya. Pandangannya tertuju pada telapak tangannya yang digenggam oleh Bright sekarang dengan erat. Ada rasa hangat yang menjalar, juga ia merasakan ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Metawin merasa malu, malu dalam artian.. ada semburat merah yang tercetak jelas di kedua pipinya.
“Nggak mau ngomong disini aja? Gue males jalan.” Katanya Metawin mencoba mengalihkan.
“Aku bawa mobil.”
Dalam hatinya, Metawin sama sekali tidak bisa menolak ajakan Bright. Jadinya, saat Bright menarik dirinya dengan lembut untuk melangkah ke arah pintu keluar, Metawin akhirnya menurut namun tetap diam seakan sedang dihipnotis oleh si empunya. Menurut Metawin, pesona Bright memang tidak main-main. Benar-benar tidak ada yang berubah dari lelaki tampan itu.
Bedanya, Metawin seakan bertemu dengan Bright versi terbaru. Tidak ada lagi Bright yang irit ngomong, tidak murah senyum, serta membalas chat nya dengan typing tidak singkat lagi. Nggak menyangkal bahwa Metawin mengagumi pemuda itu diam-diam.
Pemuda manis itu lalu berdiri, mengekori bright dengan berjalan dari belakang. Bright tersenyum tipis, jantungnya tak ada henti-hentinya untuk berhenti berdebar dengan kecepatan tidak biasa. Bisa dikatakan, dirinya sangat senang walau ia tau pertemuannya dengan Metawin pasti akan berlangsung singkat dan ini yang terakhir kalinya sebelum Metawin sepenuhnya sah milik Abel di mata Tuhan.
Dan sebelum dirinya balik ke Kanada, dan mulai melupakannya.
Bright pun mengulurkan tangannya ke depan untuk membuka pintu, mendorongnya, dan membiarkan Metawin keluar terlebih dahulu. Lengannya pun ia gunakan untuk menahan pintu kaca tersebut agar tidak tertutup.
“Emang mau jalan kemana?” Tanya Metawin pada Bright saat dirinya sudah keluar dari Cafe dan melangkahkan kedua kakinya ke arah mobil. Bright pun mengambil kunci mobilnya yang berada di dalam saku, membuka pintu mobil yang berada di sebelah kemudi, lalu menepuk pundak mantannya, mempersilahkan Metawin untuk masuk ke dalam.
“Nggak tau. Kemana aja, Taa.” Sahutnya sambil menutup pintu mobil lalu kedua tungkainya berjalan dengan cepat ke arah pintu mobil satunya. Pemuda itu lantas membuka pintu, masuk ke dalam mobil, lalu duduk tepat di sebelah Metawin.
Ini adalah pertama kalinya setelah tujuh tahun, ia tidak menyetir sendirian lagi. Dan di sisi kemudinya sudah tidak kosong lagi. Karena, Bright memang tidak ingin satu orang pun yang duduk di sebelah jok kemudi miliknya. Baginya, sebelah jok yang kosong itu hanya boleh diisi oleh Mamanya, Runa, Papa, dan juga.. Metawin.
“Sekalian aja jalan-jalan. Aku udah lama nggak ke Jakarta. Mau lihat-lihat apa yang berubah.” Bright menyambung kalimatnya lagi sembari menyalakan mobil dan memutar stir mobilnya, tak lupa memundurkan persneling, kemudian, ia menginjakkan gas mobilnya lalu melaju dengan kecepatan rata-rata, membelah jalanan ibu kota yang sedang lenggang.
Metawin mengangguk. “Sebenernya banyak, sih.”
“Apanya yang banyak?”
“Yang berubah.”
Bright tertawa pelan. Fokusnya pun kini sudah terbagi untuk menatap ke arah jalanan, dan menatap ke arah Metawin hanya untuk menanggapi. Jika mobil ini memang sudah dirancang untuk auto pilot mungkin fokus Bright sudah tidak terbagi lagi.
Maksudnya, ia ingin menatap Metawin terus-terusan.
“Hahaha, iya, sih. Emang banyak yang berubah. Namanya juga udah 7 tahun nggak kesini.” Ia kembali menimpali ucapan Metawin yang tadi.
Iya, salah satunya hubungan kita juga udah berubah sekarang. Itu adalah suara dari hatinya Metawin kala Bright menjawab ucapannya dengan santai dan senyuman yang tidak luntur di wajahnya. Ia penasaran, sangat sangat penasaran. Bright benar-benar tak mempunyai raut kesedihan sedikitpun. Apa memang, Bright memang benar-benar sudah melupakannya dengan cepat? Berbeda dengannya yang melupakan Bright saja perlu waktu yang lama. Selama itu ia menangis, selama itu juga ia frustasi.
“Jadi...” Metawin menghela nafas, seakan kembali ingat apa tujuannya dengan Bright sekarang. Sambil meremat jari-jarinya, ia lalu menyambungkan kalimatnya lagi. “apa yang mau diselesaiin?”
Bright sedikit terkejut dengan apa yang Metawin tanyakan sekarang. Jadi, ia mulai untuk mengontrol dirinya agar tidak larut dalam kesedihan yang sekarang sedang menghantuinya seperti mimpi buruk. Kedua tangannya pun ia gunakan untuk meremat stir mobil. Bright berdeham pelan, kemudian mulai rileks dengan menyandarkan punggungnya.
“Ta, I don't know how to start, but first, I want to apologize to you,” Katanya dengan suara yang parau. Metawin hendak menjawab, namun ia urungkan terlebih dahulu dan memilih untuk diam sambil menatap jalanan raya yang sedang padat oleh beberapa motor dan mobil. “I'm sorry, Ta. Maaf udah ninggalin kamu waktu itu. Maaf.. harusnya aku berjuang lebih lama lagi, ya?”
Terdengar menyakitkan serta menyayat hati Metawin saat Bright sedang berusaha menjelaskan. Ia seperti sedang diajak untuk kembali ke masa lalu, berada dalam kilas balik saat dirinya berada di bandara dan menangis histeris hingga Guns, Mike, serta Harit harus membawanya keluar. Ia seperti sedang menonton dirinya di masa lalu sekarang. Memori menyakitkan itu terputar ulang.
“Tapi, iya nggak apa-apa. Kalau kamu ngak maafin aku.. nggak apa-apa, Ta. Aku paham. I understand this is hard on you and going through it alone, right?“
“Iya.” Metawin mengambil nafasnya dengan berat. Menanggapi apa ucapan Bright yang entah kenapa, nada bicaranya yang memelan terdengar sungguh menyakitkan hingga rasanya Metawin tak ingin mendengarnya lagi namun dia harus.
“Aku paham gimana rasanya ditinggal sendirian secara tiba-tiba. I'm sorry, Ta. Aku minta maaf.” Bright menyambung ucapannya lagi nada suara yang berat. Dadanya kembali sesak kala dirinya sedang berbicara serius seperti ini. Sial, padahal ia sudah mencoba untuk menahan air matanya agar tidak turun saat menjelaskan ini semua dan meminta maaf dengan setulus-tulusnya. “Tapi sekarang, kamu udah bahagia, kan?”
Metawin terdiam. Termenung, serta membeku saat mendengar pertanyaan terakhir Bright.
Apa ia sudah benar-benar bahagia sekarang?
Apa ia sudah merasa damai dan mengikhlaskan semuanya sekarang?
“Nggak tau.” Metawin menggelengkan kepalanya pelan. Bright pun menoleh ke arahnya, menatap anak itu dengan guratan kebingungan di wajah. Ucapan Metawin terdengar ambigu dan terdengar berbanding terbalik dengan keadaannya yang sekarang yang sudah mau mendekati jenjang pernikahan.
“Gue nggak tau, gue benar-benar bahagia atau belum, Shaka.”
“Kenapa belum?”
“Nggak tau.”
Bright tidak menjawab lagi. Atsmosfer di dalam mobil pun tiba-tiba merasa awkward. Jadinya, Bright menunda dirinya dulu untuk bercerita. Satu tangannya pun bergerak, membelokkan stir mobilnya ke arah kanan setelah pertigaan lampu merah.
“Lo.. gimana?”
Bright menoleh. Menatap iris mata Metawin yang tampak sekali sedang memendam kepedihan yang mendalam. Tatapannya terlihat sangat sedih dan mempunyai makna yang dalam. Bright bisa menebak, jika anak itu sedang menaan tangis yang tertahan.
“Hm?”
“Udah bahagia belum?”
Telak. Pertanyaan Metawin barusan seakan telak mengenai hatinya sekarang. Bright lantas tertawa pelan, membuat Metawin menatapnya dengan tatapan yang tidak mengerti.
“Belum, Ta.”
“O-ohhh.”
“Hahaha, iya.” Bright lalu memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang depan sekolah SMA mereka dahulu. Kepalanya pun menoleh ke arah kiri, mencoba menatap Metawin dengan memberanikan dirinya. “And I'm still trying to find happiness until now. Because in the past, my happiness was only you, Ta.” Ia menyambungkan kalimatnya sambil tersenyum. Senyum yang seperti sedang dipaksakan, senyum yang seperti sedang mengatakan, bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja namun mencoba berkata kalau dirinya baik-baik saja.
Sakit. Melihatnya saja, Metawin sudah hampir ingin menangis karena mengiris hatinya. Belum lagi, perkataan terakhir dari Bright yang bilang, kalau kebahagiaan Bright hanyalah Metawin sedari dulu.
Ya Tuhan.. Metawin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sakit dengarnya.”
“Tunda dulu deh ngomongnya. Kita turun dulu.”
Metawin lantas mengangkat kepalanya, menatap ke arah depan dengan bola mata yang melotot bingung sekaligus heran. Bingung kenapa Bright menyuruhnya turun. Dan juga heran kenapa Bright membawanya ke SMA mereka dulu.
“Lo mau ngapain kesini? Ngambil ijazah?” Katanya dengan tertawa ringan. Mencoba membuat jokes setelah keduanya hampir saja menangis karena tebawa oleh suasana. “Aneh banget nih orang emang.”'
“Hahaha, nggak tau. Random aja mau ngajak kamu kesini.” Bright pun mulai melepas seatbelt miliknya lalu mulai menatap Metawin lagi. “Sebenernya kangen aja sama suasana SMA dulu, udah lama banget nggak kesini. Jadi, mumpung sama kamu, sekalian aja. Biar ada temannya.”
Metawin tertawa. “Halah, bilang aja mau flashback jaman dulu. Ngaku aja lo.”
Yang ditanya malah menggendikkan pundaknya lalu tersenyum sembari membuka pintu mobil. “Tebak aja sendiri.”
“Si anjirr hahaha,” Metawin tertawa. Ia pun juga ikut membuka pintu mobil dan turun serta mendaratkan kedua kakinya di atas tanah. Berjalan mengekori Bright yang kini sedang menayap satpam sekolah yang ternyata masih mengenalnya sampai sekarang.
“Eh Mas Shaka? Tumben kesini. Udah lama banget atuh, Mas. Mau kemana?” Sapa Pak Deni, pria paruh baya yang umurnya mungkin sudah sekitar 45 tahunan. Berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Bright. “Sama siapa?”
“Sama Meta, Pak.”
“Wah hahaha, masih sama yang dulu, toh? Udah nikah belum kalian berdua?”
Metawin dan Bright pun saling berpandangan. Lalu tertawa canggung mendengar pertanyaan dari Pak Deni dan lebih memilih untuk tidak menjawabnya.
“Pak, saya mau main di sekolah nih. Kangen. Boleh nggak?”
“Sok sok mangga, Mas Shaka. Boleh banget atuh.”
“Hahaha oke, Pak. Makasih banyak, ya.”
Bright lalu mengajak Metawin untuk berjalan sejajar dengannya. Metawin tak lupa mengucapkan terimakasih pada Pak Budi sambil tertawacanggung saat ditanya sudha menikah dengan Bright apa belum.
“Ya belum, lah. Orang putus.” Jawab Metawin dengan nada pelannya dan segera menyusul Bright yang sekarang sedang berjalan duluan ke arah lapangan sepak bola.
“Gue masih ingat deh dulu. Di sana.” Metawin menunjuk ke arah sudut lapangan basket dekat tiang dan tumpukan bola-bola basket yang ada di dalam keranjang. “lo nembak gue disitu.” Katanya lagi dengan tawa yang terdengar memenuhi ruangan.
Bright pun mengikuti arah pandang Metawin sekarang. Sambil membuka air mineral dinginnya, ia meneguk dan menandaskan air dingin tersebut hingga sisa setengah kurang. Mengelap sudut bibirnya, lalu tertawa kecil.
“Inget aja.”
“Hahaha, inget, lah. Itu memorable banget tau nggak buat gue?”
Bright tersenyum tanpa sadar. “Memorable kayak gimana emang? Kok bisa memorable sedangkan itu udah lama banget deh kayaknya...” Pandangan Bright pun tertuju pada langit-langit lapangan basket, dan memandangnya dengan lama. Seperti sedang menerawang, dan mengingat peristiwa memalukan saat dirinya menyatakan cinta pada Metawin. “Sekitar sembilan tahun lalu?”
“Ya bisa. Soalnya dulu lo ngajak gue pacaran udah kayak mau ngajak main bola bekel.”
“Emang gimana?”
Metawin bercerita dengan sangat antusias. Binar di kedua iris mata Metawin pun terlihat kembali dan Bright terpana hingga kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat. Menatap Metawin lamat-lamat, dan mendengarkan Metawin dengan jelas saat anak itu sedang bercerita sambil tetawa lepas.
“Kayak gini,” ia lalu menegapkan tubuhnya. Lalu berdehem. “Lo mau jadi pacar gue nggak?” Ujarnya sambil meniru nada bicara Bright dulu saat menyatakan perasaannya. “HAHAHAHA, lawak banget, aslii. Lo kenapa, sih dulu? Kaku banget?”
Bright terkekeh. Ia menaikkan pundaknya dan menurunkannya lagi. “Nggak tahu. Kamu kan tau dulu emang jarang ngomong.”
“Hihh iya. Sumpah tau nggak siii,” Metawin menahan tawanya, lalu melipat kedua kakinya. “dulu tuh gue nggak yakin banget lo suka sama gue. PDKT aja dulu kayaknya nggak, terus muka lo dulu ketus banget asli. Judessnyaaaa.”
“Ya kan dulu, Taa.”
“Ih tunggu dulu, sumpah dulu tuh gue heran banget sama lo. Kayak tiba-tiba dan mustahil aja gitu loh. Lo nembak gue kayak main-main, anjrit??”
Keduanya lantas tertawa. Tenggelam dalam situasi yang seperti sedang menyelami masa lalu dan menceritakannya ulang pada orang yang sama. Masa lalu yang sepertinya sangat indah dan sayang untuk dibuang dan dilupakan begitu saja.
“Terus-terus, gue masih inget banget dulu tuh lo pas bilang 'lo mau jadi pacar gue nggak?' tuh sambil ngerapihin rambut gue dulu kayak ginii,” Metawin pun mulai mereka ulang kejadian mereka dulu dan mulai mendekat ke arah Bright. Satu tangan kanannya pun terangkat ke udara, lalu turun dan berhenti tepat pada puncak kepala Bright sekarang. Bright mematung di tempat, mulai menyadari bahwa jarak mereka sangatlah dekat. Ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri hingga ke telinga. Bright gugup, ia dapat melihat mata cantik serta jernih milik Metawin dari bawah sini.
“Sumpah lo dulu tuh, MODUSS BANGET. Terus sambil bilang—” Metawin menggantungkan ucapannya, kedua matanya pun mulai menatap ke arah langit-langit dengan pandangan menerawang. Mencoba mengingat peristiwa memalukan mereka dulu waktu SMA kala Bright menyatakan cintanya dan ingin menjadikan Metawin pacar. “Nah inget! Lo bilang gini,”
“Rambut lo berantakan.” Metawin mulai meniru suara Bright lagi lalu kemudian tertawa terbahak-bahak dan mulai menjauhkan dirinya dengan Bright sambil mengusap keringat yang mengucur pada keningnya. Hingga tanpa sadar, keduanya tadi terpaut jarak yang memang cukup dekat hingga Bright membeku di tempat.
“PFTT— HAHAHAHA. Sumpah tai banget lo modusnya,” Tawa pemuda manis itu pun mereda, dan mulai mengambil botol minum yang ada disebelahnya dengan asal. Membuka tutup botol itu, lalu menempelkan ujung botol pada bibirnya. Meneguk isi airnya hingga habis. “kalo sekarang kiraa-kira lo masih modus kayak gitu, nggak?”
Bright menggeleng. “Nggak, tuh.”
“Halaaah. Yang bener?”
“Hahaha nggak, Ta. btw—” Bright menggantungkan ucapannya, jari telunjuknya pun terangkat untuk menunjuk botol air minum yang sedang Metawin pegang. “itu botol aku deh, Ta.”
Metawin pun akhirnya mematung di tempat. Hampir saja menyemburkan air yang masih ada di dalam mulutnya.
“Botol lo??”
“Iya. Tapi nggak apa-apa. Habis ya? Itu aku masih bawa 2 botol kok.”
Metawin merutuki dirinya dalam hati.
Bukan masalah habis apa nggaknya. TAPI MINUM SATU BOTOL, INI SECARA NGGAK LANGSUNG KITA CIUMAN, BRIGHT SHAKAAAA.
Cukup lama keheningan berada di tengah-tengah mereka berdua, akhirnya, Bright kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Suara nafasnya pun terdengar di seisi lapangan basket karena keheningan yang sangat lama menyapa. Metawin pun menoleh ke arah samping. Melihat Bright yang sedang menatap ke arah depan dengan lurus-lurus.
“Ta.”
“Ya?”
“Mau dengar cerita lagi, nggak?”
Setelahnya, Metawin terdiam dengan pertanyaan yang Bright berikan padanya sekarang. Ia ingin sekali mendengarnya, karena menurut Metawin, Bright butuh banyak waktu untuk menceritakan semuanya dari awal hingga sampai habis. Ingin mendengar tentang Bright selama ini ngapain aja di Kanada, atau kenapa nggak balik-balik selama 7 tahun lamanya.
“Ta, waktu aku mau ninggalin kamu, rasanya yang ada dipikiran aku sekarang, kamu harus bahagia, Ta.” Katanya dengan senyuman hambar yang terulas di bibir. “Kamu.. nggak pernah bahagia sama aku, Ta. Aku, kayaknya bikin kamu nangis terus juga. Di satu sisi, aku juga capek rasanya selalu jadi pusat amarah kamu.”
“Karena.. disalahin terus-terusan dan dituntut untuk menjadi kata sempurna itu jujur, susah, Ta.. Maaf kalau emang sekiranya aku nyalahin kamu. Maaf ya, Ta.”
Metawin tertegun mendengarnya. Ia lantas menundukkan kepalanya dala-dalam. Suara Harit yang menasihatinya pun terngiang-ngiang kembali di dalam otaknya. Suatu tamparan keras untuk dirinya kembali sadar bahwa kisah mereka berdua berakhir bukan karena hanya Bright yang salah, namun dirinya juga salah.
“Jadi.. maaf kalau terdengar egosi. Iya, nggak apa-apa, Ta. Aku emang egois dengan cara kabur ke Kanada buat ngehindarin kamu. Memutuskan hubungan secara sepihak, itu nggak adil buat kamu, Ta. Aku minta maaf. Aku minta maaf buat semuanya.”
Bright menjeda ucapannya sambi meremas jari-jarinya dengan kuat. “Selama di Kanada, sesampainya di Kanada, aku berhenti kuliah selama satu tahun karena nggak ada semangat hidup. Nggak ada tenaga lagi buat nyambung semuanya. Hidup aku, udah kayak diputar beberapa ratus derajat dan seolah aku harus memulainya dan menatanya lagi dari awal.”
“Aku frustasi, jelas. Kalau kamu ngira aku nggak sedih sama sekali habis ninggalin kamu.. kamu salah, Ta. Aku sedih. Banget. Sampai pernah aku nggak tidur selama tiga hari karena isinya nangis doang. Hahaha, maaf, jadi cengeng gini.”
Metawin menggigit pipi dalamnya dan terdiam saat mendengar ucapan Bright barusan. Tangannya lalu terulur, untuk mengusap-ngusap punggung pemuda itu agar memberikannya ketenangan. Satu tangan kanannya pun juga terulur, untuk mengusap-ngusapkan punggung tangan Bright yang berkeringat.
“Aku disuruh ke psikolog sama Papa, karena melihat aku yang terpuruk bukan main. Kayaknya, ada kali setahun isinya nangisin kamu doang, Ta.”
“Shaka,”
“Iya?”
“Maaf..” Metawin mengambil nafasnya dalam-dalam. Dadanya merasa sesak seperti sedang dipukul dan dihantam oleh batu berkali-kali. Bright serta dirinya, keduanya, merasakan kesedihan pasca keduanya berpisah. 7 tahun terpisah dan saling menguatkan diri masing-masing, kini bertemu lagi dengan kondisi yang berbeda.
“Shaka, maaf. Maaf kalau selama ini gue terdengar egois dan jahat sama lo. Maaf, gue jadi pacar yang selalu nuntut dan nggak bersyukur selama gue masih berhubungan sama lo. Maaf, gue nggak pernah merasa puas. Maaf, gue selalu menumpahkan kesalahan gue sama lo.. M-maaf—” Ucapan Metawin pun tertahan, karena dadanya mendadak sakit lagi. Bukan karena penyakit, melainkan dirinya pun menangis lagi. Air matanya tumpah serta pecah dihadapan Bright. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, pendiriannya runtuh dalam sekejap kala mengakui dosa-dosa serta kesalaannya selama ini dihadapan Bright.
Ia tahu, mungkin dirinya memang telat untuk menyadari ini semua.
“Shaka.. Bright.. maaf.. maaf kalau gue pernah bikin lo terluka diam-diam, maaf gue nggak pernah bisa jadi pendengar yang baik buat lo. Maaf.. pasti lo kesusahan ya buat cerita? Ah bego, harusnya gue jadi tempat curhat buat lo, Ka..” Metawin menangis semakin kencang, lalu memukuli kepalanya sendiri. “Bego, bego, bego, bego banget..”
Bright pun menggeleng, memegangi tangan Metawin dan menahan anak itu untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. Karena, sudah cukup anak itu tersakiti selama bertahun-tahun karena ulahnya sendiri, dan sekarang, ia tak mau Metawin merasakan rasa sakit lagi.
“Iya, Ta.. dimaafin.” Ucapnya sambil tersenyum dan mengusap air mata Metawin yang mengalir dengan deras. “Maaf, udah dateng kesini lagi disaat kamu udah baik-baik aja. Maaf, aku ngasih luka lama yang seharusnya udah ketutup rapat dan nggak usah kamu lihat lagi. Ta, maaf ya..”
“Nggak, lo nggak salah buat datang ke sini lagi. Nggak, lo nggak salah, Shaka.. dari awal emang gue yang salah, nggak bisa nerima sifat lo dan sikap lo. Nggak pernah merasa puas padahal lo sayang sama gue. Maaf, gue.. nggak becus.”
“Udah, udah, udah ya, Ta? Nggak apa-apa, aku nggak apa-apa, kok.”
“Shaka.. maaf..”
Bright pun menarik Metawin ke dalam pelukannya. Seisi ruangan lapangan basket pun menjadi saksi bisu kedua anak manusia yang mengutarakan semua keluhan isi hatinya. Menumpahkan semua air mata yang mungkin sengaja untuk ditahan dalam waktu yang lama. Menjadi saksi bisu atas dua manusia yang masih terjebak dengan masa lalu, sedang bepelukan.
“Ta, udah jam 6 sore, nggak sadar. Kamu lapar nggak? Kalau lapar, habis ini makan dulu, ya? Habis itu aku antar pulang?”
Dan Metawin mengangguk kecil. Sementara Bright tersenyum kecil sambil mengsap air mata Metawin yang menuruni pipi hingga meninggalkan jejak di sana.
Keduanya kini berhenti di salah satu angkringan yang pernah mereka datang dulu waktu masih pacaran. Pukul 7 malam, Bright dan Metawin pun memakan makanan yang sedang dihidangkan di atas meja. Tak disangka juga, angkringan ini masih sama tempatnya. Masih persis beberapa tahun lalu terakhir kali mereka kesini. Dekat kampus mereka berua dulu.
“Jadi, sekarang lo udah punya pacar?” Metawin bertanya, sambil meneguk teh hangat yang asapnya masih sedikit mengepul. Meniupnya pelan, lalu menyeruputnya sedikit-sedikit.
Bright terkekeh kecil. Lalu menggelengkan kepalanya.
“Hah masa??”
“Beneran.”
“Sumpah nggak percaya. Masa, sih??”
“Ta.. Hahaha beneran, kok. Kamu bisa tanya Guns atau Mike buat mastiin.”
“Yeee, ngapain ah. Nanti disorakin terus disangka kepo.”
“Ya yaudah.”
“Tapi beneran???”
“Iya, beneran.” Bright menganggukkan kepalanya, mencoba meyakinkan Metawin. “emang kenapa? Kamu mau daftar jadi pacar?”
“Huuuu, nggak.”
Bright dan Win pun saling tertawa. Kembali menceritakan hal-hal konyol karena menurut mereka, bercerita hal-hal sedih jika sedang makan itu berbahaya. Kata Metawin, itu akan membuatnya menangis sambil meminum air mata. Asin katanya.
Keduanya pun larut dalam suasana malam kota Jakarta yang semakin lama semakin ramai. Pembicaraan mereka pun semakin lancar, hingga tanpa sadar, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka berdua mengobrolkan dari hal-hal yang penting, sampai hal-hal yang tidak penting. Benar-benar seperti sedang reuni masa lalu. Mana keduanya makan di tempat yang sama saat mereka masih mempunyai hubungan dulu.
“Ta, What is your greatest happiness?“
Tiba-tiba saja, saat Metawin sedang terdiam sambil menatap Bright sekarang, Bright menyuguhkan pertanyaan sederhana namun mampu membuatnya bingung untuk menjawab.
“Sekarang.”
“Maksudnya?”
“Ya.. sekarang, Ka..” Metawin pun terdiam lagi, memikirkan beberapa kalimat yang sekiranya cocok untuk selanjutnya. “Gimana, ya. Gue bener-bener lagi seneng sekarang, bahagia.. gue udah damai sama masa lalu, udah bisa damai sama lo, udah bisa saling maafin satu sama lain. Yang gue pikir, tadinya sebelum ketemu lo.. gue kira bakal sebentar dan sedikit yang mau diomongin. Ternyata... banyak ya, Ka?”
“Gue seneng, kita akhirnya ketemu lagi walaupun dari masing-masing pribadi udah saling berubah. Gue seneng akhirnya teka-teki gue selama ini kejawab dengan mudah. Gue seneng akhirnya gue nggak perlu ada perasaan ngeganjal karena pertanyaan-pertanyaan gue dulu yang belum terjawab.”
Setelahnya, pemuda manis itu menghela nafas. “Thanks, Shaka. Lo orang baik, nggak ngeselin lagi kayak dulu, hahaha. Lo lebih dewasa. Pasti jodoh lo lagi seneng karena jodohnya aja bentuknya kayak gini?”
Bright tersenyum hambar. Seperti sedang menelan kenyataan pahitnya secara bulat-bulat.
Aku aja nggak tau mau nikah atau nggak, Ta..
“Bright Shaka, thank you for being in my life. Thank you for teaching me many lessons. Thanks for holding on. Thanks for being patient. I hope you have a happy ending.” Kata Metawin lalu berdiri dan mengenakan tasnya kembali. Bright pun mengikuti gerak-gerik Metawin. Mengangkat kepala, dan menatap manik mata Metawin dengan tatapan teduh.
“Cepet-cepet dapet pacar, yaaa. Nanti kalau nikah, kabarin gue. Ngundang juga. Biar gue susul ke Kanada.”
Dan entah kenapa, Bright merasakan rasa sakit yang sangat jelas.
Pemuda itu lalu tersenyum pahit. “Makasih, Ta.”
Pukul setengah sebelas malam. Bright memberhentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Metawin. Pemuda itu lalu melihat ke arah sekitar. “Pantes aku kemarin datang ke rumah, ternyata pindah ke sini, ya Taa.”
Metawin tertawa, membuka seatbelt mobil lalu menoleh ke arah Bright yang sekarang ada di sisinya. “Hahaha, iya. Rumah yang di sana di kontrakin, bokap nyokap gue beliin rumah baru biar makin deket sama rumah gue yang sekarang.”
“Gitu ya.”
Pemuda itu mengangguk. “Gitu deh.”
Tak terasa, pertemuan mereka yang dua belas jam penuh, kini sudah berakhir. Satu hari bersama Bright, rasanya begitu sangat cepat bagi Metawin. Rasanya, pemuda itu ingin lebih lama bersama Bright sekarang. Pemuda itu sudah aktif berbicara tidak seperti dulu lagi sampai dirinta tak merasa bosan dan tidak sadar jarum jam sudah menunjukkan angka setengah sebelas malam.
Metawin tak mengerti perasaan ini. Saat bertemu Bright seharia n dan mengobrol tanpa kenal waktu, hingga makan di tempat angkringan mereka makan dulu, Metawin tak bisa berhenti untuk deg-deg an. Jantungnya benar-benar terpacu, ingin rasanya menyuruh Bright menetap lebih lama di sini namun rasanya tak mungkin.
“Jadi.. udah selesai?” Bright berujar dengan menyadarkan lamunan Metawin. Yyang ditanya pun tersentak kecil, lalu menoleh ke arahnya.
“Bright.”
“Hm?”
Keduanya pun saling bertatapan, beradu pandang, tanpa kedip sedikitpun. Kedua netra mereka saling menatap satu sama lain, hingga pada akhirnya, Metawin memajukan tubuhnya untuuk mendekat. Satu tangannya pun terangkat, menarik tengkuk Bright perlahan agar pemuda itu semakin mendekat ke arahnya.
Metawin tak mengerti apa perasaan ini. Yang jelas, dirinya merasa sedih dan tak rela tatkala Bright mengucapkan “udah selesai?” barusan. Rasanya ingin menangis lagi, seperti merasakan dejavu beberapa tahun yang lalu. Pertemuan yang pertama serta perpisahan untuk yang terakhir kalinya dalam satu waktu memanglah sungguh menyakitkan. Dan mengetahui fakta bahwa, dia sudah tak lagi ada di sisinya mulai sekarang.
“Ta—”
“Bright, sebentar aja.”
“Oke..”
“Sebentar aja, biarin gue nyium lo.”
Dan, kala Bright ingin menjawab, bibirnya sudah menempel dengan sempurna dengan bibir Metawin. Jantung Bright berdegup sangat kencang, hingga akhirnya, tangannya pun terangkat, untuk memeluk serta merengkuh Metawin dengan erat.
Ciuman mereka bukanlah ciuman penuh nafsu. Panggutan yang mempunyai makna bahwa mereka benar-benar melepas rindu selama beberapa tahun tidak bertemu. Beberapa purnama tidak bersua. Hingga harus dipertemukan dengan keadaan yang sudah benar-benar berbeda.
Gue nggak mau lo pergi lagi...
Tanpa sadar, hati Metawin kini sudah benar-benar terbagi. Bingung harus membagi antara Abel atau dengan Bright karena pertemuannya hari ini. Pilihannya begitu rumit, dan benar-benar menyakitkan bagi salah satu yang tidak ia pilih.