Rere

https://open.spotify.com/track/6lanRgr6wXibZr8KgzXxBl?si=a451d86a79a14514

Gereja Katedral Jakarta

Ini saatnya. Penantian setelah beberapa tahun lamanya, penantian selama 7 tahun terpisah oleh jarak dan waktu yang berbeda, terpisah karena pilihan masing-masing tadinya, kini, mereka berdua dipertemukan lagi dengan cara semesta yang tak pernah mereka duga-duga.

Tatapan penuh haru, yang mereka berdua dapatkan sekarang, hampir saja membuat Metawin ingin menangis lagi dengan deras. Kedua matanya terpejam untuk beberapa saat, menahan tangisan emosionalnya karena berbahagia, tak menyangka hubungan mereka berdua melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Metawin meremat jas yang dikenakan ayahnya. Tangannya keringat dingin, ia tak bisa untuk berhenti gugup sedari tadi malam. Membayangkan untuk menikah dengan Bright saja mungkin rasanya masih seperti mimpi.

Namun, inilah kenyataannya.

Dihadapan sana, Bright mengenakan tuxedo berwarna hitam, berdiri dengan pendeta yang ada di sisinya. Ia tersenyum, pria itu tersenyum pada Metawin yang tengah menatapnya dengan ragu-ragu. Gesture tubuh pemuda itu mengisyaratkan pada Metawin kalau dirinya tidak usah ragu dan gugup. Ada dirinya, ada Bright yang menunggunya di sini.

Setelah menatap dan melihat ke arah sorot mata Bright dalam-dalam, dengan penuh keyakinan, Metawin menarik nafasnya dalam untuk rileks agar tidak terlalu gerah. Walaupun, jantungnya terus berdegup bukan main karena hari ini adalah proses penyatuan antara dirinya dengan Bright dihadapan Tuhan, dihadapan banyak orang. Pernikahan mereka, bukan hanya proses penyatuan dua anak manusia, melainkan proses penyatuan dua keluarga yang isi kepalanya jelas berbeda.

Darah Metawin pun berdesir, kala Ayahnya mengkode dirinya untuk melangkahkan kedua tungkai ke depan. Metawin meremat lengan Ayahnya dengan kuat-kuat, kakinya melemas. Bright pun tersenyum simpul, menyemangati dirinya lewat tatapan tulus yang ia punya. Walaupun, dirinya sama gugupnya dengan Metawin. Jantungnya juga hampir saja ingin jatuh ke perut karena melihat paras elok Metawin yang sangat indah dan di atas batas kecantikan manusia. Metawin bagaikan pangeran, indah, cantik, serta tampan dan rupawan. Sangat pas dengan tuxedo berwarna putih yang ia kenakan. Kedua netranya merah, mungkin karena menahan tangisan bahagia terus sejak tadi.

Saat sang Ayah dan Metawin tepat berada dihadapannya, mereka berdua sempat bertatapan untuk berapa detik dan salin melempar senyum. Senyuman Metawin seindah mentari yang menerpa wajahnya secara malu-malu. Menampilkan dengan jelas seluruh paras Metawin dengan kedua manik mata hazelnya. Bibirnya yang memerah, dan juga hidung bangir serta bulu matanya yang lentik.

Bright hampir tak bisa berkata-kata untuk itu. Metawin terlalu indah. Metawin terlalu cantik hingga tak ada kata apa-apa lagi untuk memuji keindahan parasnya yang manis.

Saat Bright diam serta terkagum-kagum karena menatap Metawin tanpa henti. Ayahnya, Ayahnya Metawin, calon Ayah mertua Bright, memajukan kakinya untuk berjalan mendekat ke arahnya. Pria paruh baya dengan kerutan yang tampak jelas di wajahnya, tersenyum dengan teduh serta menghadiahi Bright tatapan malaikatnya. Bright terdiam, menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Tangan pria itu pun terulur, lalu mengambil tangan Bright dan ia genggam. Mereka berjabat tangan, lalu menarik Bright ke dalam pelukannya yang hangat. Menepuk-nepuk punggung pemuda itu dengan halus. Seolah tau, laki-laki yang ingin menikahi anaknya ini sedang gugup dan tak bisa berujar apa-apa.

“Bright Shaka,” panggilnya dengan lembut. Bright menelan salivanya takut-takut, namun kemudian menganggukkan kepalanya ringan lalu menyahut.

“Iya, Ayah..”

Sang Ayah pun terdiam untuk beberapa saat. Bulir kristal bening dari mata teduhnya pun jatuh, turun dengan sembarang. “Nak, ini Ayahnya Metawin. Ayahnya Meta. Ayah titip Meta sama kamu, ya?”

“Meta anak Ayah satu-satunya, anak yang paling Ayah banggakan. Anak yang paling Ayah sayang. Anak yang membuat Ayah senang sejak dirinya menangis kala keluar dari rahim Bundanya. Di hari istimewa ini bagi kalian berdua, Ayah selalu bersyukur karena Meta akhirnya menikah dengan laki-laki pilihannya. Ayah juga bersyukur, kalau kalian sangat saling mencintai satu sama lain. Ayah senang, Ayah bahagia, Metawin menemukan kebahagiaan seumur hidupnya.”

Bright terdiam kaku, lututnya melemas serta merinding atas ucapan Ayahnya Metawin. Laki-laki itu menangis, ikut merasakan tangisan bahagia penuh haru Sang Ayah yang melepaskan anaknya untuk menikah. Melepaskan anaknya untuk tinggal bersama pasangan pilihan. Melepaskan anaknya setelah bertahun-tahun dijaga dan disayang penuh dengan kasih sayang.

“Tolong jangan sakiti dia ya, Nak? Metawin anak yang baik yang Ayah dan Bundanya besarkan dengan seluruh hati. Metawin anak yang penurut, yang selalu berkata 'iya' dengan lembut sama Ayah. Ayah, membesarkan Metawin dengan darah, keringat, dan air mata. Menafkahinya dengan kepala di bawah kaki di atas, hanya untuk membahagiakannya. Ayah dan Bunda, sangat sayang Metawin. Dia, tetap bayi kecil kita meskipun sudah besar. Metawin, tetap menjadi putra kecilnya ayah yang sangat ayah sayang.”

“Tolong bahagiakan Metawin ya, Nak? Sebagaimana Ayah membahagiakan anak Ayah. Tolong jangan membuatnya sedih karena Ayah sama sekali tak pernah membiarkan setetes air matanya jatuh selama ia hidup. Tolong jangan dimarahi, tolong jangan keraskan dia. Bimbing Metawin ke arah yang lebih baik, tolong bawa Metawin ke jalan yang lurus ya, Nak? Karena, sebaik-baiknya pasangan, akan menuntun ke arah yang lebih baik. Tolong jangan lukai dia.”

“Metawin sekarang sudah tanggung jawab kamu. Ayah menyerahkan Metawin sama kamu ya sekarang, Nak? Tolong juga, jika kamu sudah tidak mau dengannya, tidak mau menerimanya lagi, tolong kembalikan lagi ke Ayah. Tolong pulangkan Metawin ke Ayah dan Bunda dengan baik-baik, karena Ayah akan menerimanya dengan tangan terbuka. Karena, Metawin punya dua rumah untuk berpulang, hati kamu, sama hati kedua orangtuanya.”

Bright mengangguk dalam-dalam. Ia tak dapat membendung tangisannya lagi karena kata-kata Ayah barusan sangat menyentuhnya. Ia hanya bisa menggigit bibirnya sendiri dengan dalam-dalam.

Ayah lalu melepaskan pelukan mereka berdua. Menatap Bright lagi dengan senyumannya. “Selamat memulai bahtera rumah tangga yang abadi, Nak. Doa Ayah serta doa Bunda selalu mengiringi rumah tangga kalian berdua. Ayah titip Metawin.”

Bright tak tahu harus berkata seperti apa lagi. Ia kehilangan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab ucapan panjang dari Ayahnya. Jadi, kepalanya hanya bisa ia anggukan. “Makasih, Ayah.”

Dan akhirnya, sang Ayah pun menganguk lantas berjalan mundur dengan perlahan. Sambil menoleh ke arah Metawin lalu tersenyum simpul. Menepuk pundak Metawin dengan lembut, lalu mengelap air matanya yang turun.

Metawin menguatkan dirinya sendiri sambil menatap ke arah Bright yang sedang berlinang air mata sepertinya. Isak tangis pun pecah akhirnya secara diam-diam sebelum dirinya memulai proses pemberkatan. Ia melangkah maju, mensejajarkan dirinya disebelah Bright. Keduanya pun saling melempar pandangan satu sama lain. Sama-sama menatap dengan penuh haru lalu saling melemparkan senyum. Kemudian, Bright mengambil tangan milik Win. Menggenggamnya, dan mengisi sela-sela jari Metawin yang kosong dengan jari-jarinya. Menyalurkan kehangatan serta ketenangan bagi sang empunya.

Metawin berkali-kali bahkan harus menarik nafasnya agar proses pemberkatan berlangsung dengan ancar dan juga sakral. Dan saat keduanya diberikan perintah untuk saling berhadap-hadapan, Bright serta Metawin saling bertatapan lurus-lurus. Hampir keduanya menatap pada kedua mata masing-masing tanpa kedip. Bright akhirnya mengelus punggung tangan Metawin menggunakan ibu jarinya. Menyalurkan ketenangan agar si manis semakin tenang sebelum mereka berdua mengucapkan sumpah pernikahan.

Acara pun dimulai. Mereka berdua pun dengan khidmat mendengarkan sang pendeta mulai bersuara mengucapkan pemberitaan firman Tuhan. Dan setelahnya, disambung dengan upacara peneguhan pernikahan.

Saat sang pendeta menjeda kalimatnya, lalu menatap mereka berdua secara bergantian, Bright menatap Metawin dengan lurus-lurus. Begitu juga dengan Metawin yang menggenggam tangan Bright erat-erat. Netra elang milik Bright pun mengunci pergerakan mata Metawin agar tidak kemana-mana. Keringatnya pun mengucur deras di pelipis. Detak jantungnya semakin tidak normal, hingga terdengar di telinganya sendiri.

“I, Bright Shaka Chivaaree, take you Metawin Kieran Zalana, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health. To love and to cherish. Till death do us part. I promise will take care of you lovingly as obligatory done by a husband who believes in Jesus Christ.”

Metawin tak percaya mendengar apa yang Bright sumpahkan dengan satu tarikan napas sambil menggenggam tangannya erat-erat dengan air mata yang mengalir deras. Ia menggigit pipi dalamnya, menatap Bright dengan netranya yang panas serta berair. Bright membalas tatapan Metawin dengan kepalanya yang mengangguk, meyakinkan Metawin untuk sekali lagi.

“I, Metawin Kieran Zalana, choose you Bright Shaka Chivaaree, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health. To love and to cherish. Till death do us part. I promise will take care of you lovingly as obligatory done by a husband who believes in Jesus Christ.”

Metawin tersenyum dengan penuh haru. Ia berhasil mengatakan sumpah pernikahan dengan hanya satu tarikan napas. Laki-laki itu menggenggam dengan sangat erat pada genggaman tangan Bright. Memberi tahu jika dirinya berhasil mengucapkannya tanpa gugup. Tatapan mereka penuh haru, tak kuasa untuk menahan lagi untuk memeluk satu sama lain.

“Cincin perkawinan ini adalah lambang perkawinan dari dua segi: kemurnian emas melambangkan kemurnian cinta saudara satu sama lain, dan lingkaran yang tak berujung melambangkan janji yang telah saudara ucapkan yang tidak pernah berakhir yang tidak dapat diputuskan secara apapun dihadapan Allah kecuali karena kematian.”

Sang pendeta pun memberikan sekotak cincin pada Bright. Sang empunya pun menerimanya dengan senang hati. Melepaskan genggaman tangan mereka berdua, lalu membuka kotak cincin berwarna navy tersebut. Meminta izin pada Metawin untuk menyematkan cincin di jari manis mereka masing-masing. Suasana haru pun menyelimuti gereja saat ini. Teman-teman serta keluarga yang hadir menatap keduanya penuh haru serta berlinang dengan air mata.

Lalu, sang pendeta pun meletakkan tangannya di atas jabat mempelai, kedua mata Bright serta Metawin pun tertutup, “Saudara Bright Shaka Chivaaree dan Metawin Kieran Zalana, berdasarkan kasih setia Tuhan Yesus yang menyebut diri-nya mempelai jamaat-nya, kami meneguhkan nikahmu dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena itulah kamu telah dipanggil menjadi satu, untuk melakukan tujuan hidup penuhi bumi dengan kemuliaan Allah.”

“Amin.”

Bulir air mata Metawin serta Bright pun mengalir dengan deras. Suasana haru memenuhi isi gereja serta teman-teman dan kerabat mereka menyaksikan bagaimana prosesi penyatuan dua manusia dihadapan Tuhan hari ini. Tangisan haru pun memecah, banyak beberapa orang yang menyaksikan tak sanggup melihat bagaimana Bright dan Metawin bersumpah untuk bahtera rumah tangga satu kali dalam seumur hidupnya.

“Ta.”

Metawin menoleh ke arah sumber suara. “Iya?”

Bright tersenyum. Berjalan dengan pelan untuk mendekat satu langkah ke arah Metawin. Ia tersenyum bahagia, tatapannya tidak berbohong. “i love you, Ta. Aku selalu sayang kamu, Metawin.”

Yang diajak bicara pun tersenyum. Seakan mempersilahkan Bright yang igin izin menciumnya dengan lembut. Pelan dan pasti, kedua wajah mereka pun saling berdekatan. Sampai akhirnya, Bright mendaratkan bibirnya di atas bibir Metawin. Air mata mereka berdua kini kembali mengalir lagi. Tak ada ciuman nafsu, yang ada hanyalah ciuman penuh haru dengan kasih sayang yang tanpa batas.

No matter how far the distance, he will always be your home. How does the universe work properly, and how destiny works according to the line stated by God.

AksataEND

kinda 🔞

Ia tak mengerti. Mengapa semesta selalu mempermainkan nya seperti ini. Terlebih, perihal cinta yang tak ada habisnya. Perihal cinta yang tak kunjung kelar. Perihal cinta yang mengajarkan bahwa: jika kamu adalah rumahnya, maka akan kembali lagi.

Metawin sadar, dirinya dengan Bright sudah ditakdirkan oleh yang Kuasa untuk tetap bersama. Sejauh apapun mereka terpisah, sekeras apapun tekad mereka untuk saling melepaskan, namun takdir pun berkata lain.

Seolah mengejeknya sambil berkata; Nih, makan tuh gengsi. Gue jodohin lo berdua.

Dalam satu hari, hidup Metawin seakan diacak-acak habis oleh sang pemegang takdir. Dalam satu hari, ia merasa sedih yang sangat dalam hingga merasakan putus asa. Dalam satu hari juga, ia merasa seakan sedang terbang di atas awan. Diangkat tinggi-tinggi. Takdir memang sebercanda itu, apalagi takdir kehidupan yang nggak pernah ada ujungnya.

Sekarang, posisinya ia sedang habis dari kamar mandi. Mengabaikan chat terakhir dari Bright. Dirinya baru saja beres-beres untuk packing pakaian karena sebentar lagi, dirinya akan berangkat ke Kanada. Iya, se tiba-tiba itu dirinya memutuskan. Metawin memutuskan untuk ikut dengan Bright ke Kanada secara tiba-tiba. Sebenarnya, sih, ia tak akan menduga jika Bright akan menerimanya juga. Tapi ternyata, pemuda itu masih menyambut dirinya dengan sebuah pelukan hangat.

Metawin pun tertawa kecil. Dirinya baru saja melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi dengan tetesan air yang ada di helaian rambutnya. Dengan jubah mandi yang menjuntai sampai atas lutut, dan dirinya sambil memegangi hair dryer di tangan.

Senyumnya terus saja mengembang. Walaupun ada sedikit kesedihan di dalam hatinya karena harus terlihat jahat di mata Abel. Namun, jika dipikir-pikir lagi; nggak apa-apa jahatnya sekarang, daripada nanti-nanti. Karena, dirinya tak tahu jika harus terlanjur menikah dengan Abel namun hatinya masih utuh terbawa oleh Bright.

Ia pun terlonjak kegirangan, sambil menyeret koper ke ruang tamu dan juga beberapa barang yang ia bawa, pipinya memerah. Bagaimana ia membayangkan indahnya Kanada dengan Bright yang ada sisinya.

“Astaga, gue hampir lupa kalo Bright Shaka itu orang yang sama…”

Lalu, ia menutup wajahnya dengan malu.

“AAAAAAAA.”

Ding dong!

Metawin melirik ke arah pintu. Masih dengan memakai jubah handuknya, dan juga handuk yang ada di atas kepala, Metawin berdecak sambil melangkahkan kedua kakinya ke arah pintu. Tangannya pun terangkat, terulur untuk memegang knop pintu lalu memutarnya. Menarik pintu kayu bercat putih itu dengan perlahan, lalu melebarkan kedua bola matanya.

“Eh???”

Pemuda itu hampir saja langsung menutup pintu dengan keras. Saat tiba-tiba melihat Bright ada di ambang pintu dengan raut wajah tak terbaca. Dirinya terkejut bukan main, dan ia hampir melupakan bahwa dirinya masih mengenakan jubah handuk dengan tak memakai apa-apa di dalamnya.

“EEEH—sebentarrrr.”

Namun, pintu tersebut ditahan oleh Bright. Pemuda yang hampir genap tiga puluh tahun itu menatap Metawin dengan tatapannya yang menyelidik. Ditatapnya Metawin dari atas sampai bawah seakan di dalam matanya itu terdapat sebuah mesin scan.

“Sengaja ya?”

“Hah?”

“Sengaja make ini aja?”

Metawin menelan ludah. Mampus. Ia lupa kalau Shaka yang ada di hadapannya ini bukanlah sosok manusia cuek berhati beku lagi. Melainkan pemuda dewasa dengan pola pikir yang dapat ia artikan.

“EH—NGGAK. Gue baru mau ganti baju.”

“Sebentar.”

Bright menahannya, menggenggam pergelangan tangan Metawin dengan lembut. Si empunya malah menelan ludah dengan gugup. Melihat Bright yang sepertinya nafasnya sudah mulai memberat.

“Coba panggil.”

“Panggil… apa deh?”

“Yang tadi. Yang di chat.”

“Oh… mas?”

“Lagi.”

“Mas Shaka?”

Bright sudah tak tahan lagi. Raut wajah Metawin yang sangat gemas, dan juga jubah handuk yang Metawin kenakan dengan tidak benar, menampilkan sedikit dadanya yang putih. Tulang selangka milik Metawin pun dengan nakalnya seperti menggoda Bright dengan mengintip dari dalam.

Tanpa berbicara lagi, Bright lalu menutup pintu rumah Metawin. Kedua tungkainya melangkah untuk mendekat. Ditariknya pemuda manis yang ada di hadapannya kini hanya dengan sekali hentak. Tangan kanannya pun meremat pinggul Metawin perlahan.

“Sebentar.”

Wajah Bright lalu mendekat. Semakin dekat dengan wajah Metawin hingga Metawin terkejut sendiri. Jantungnya berdebar keras, darahnya berdesir, lututnya lemas sampai-sampai dirinya harus berpegangan pada lengan kokoh milik Bright.

“Izin ya, Ta.”

Akhirnya, kedua belah bibir mereka pun bertemu. Bright membawa panggutan mereka dengan lembut dan juga tidak penuh nafsu. Hanya untuk menyalurkan rasa rindunya pada Metawin yang sudah tidak lama bertemu. Menyalurkan rasa rindunya pada Metawin karena semesta menyiksa mereka sejauh ini. Rasanya, Bright ingin menangis dan semakin memperdalam ciuman mereka dengan menekan tengkuk Metawin dengan lembut.

Metawin melenguh. Bibirnya lalu terbuka, memberikan akses masuk untuk lidah Bright agar semakin dalam mengakses rongga mulutnya. Lidah mereka pun saling bertemu. Menyapa satu sama lain, hingga berakhir dengan saling lilit dan bertukar saliva hingga terdengar suara kecipak basah.

Tangan Metawin lantas naik. Ke arah surai hitam kecoklatan milik Bright lalu merematnya. Menyalurkan rasa enak yang ia terima dari permainan lidah mereka. Bright menyesap mulut Metawin dengan gerakan hati-hati, sekali-kali, ia gigit dengan lembut lalu dihisap dengan pelan.

Metawin menyukainya.

“Mmmh—”

You're taking me so well, Ta.”

Metawin menatap Bright dengan bola mata sayunya. Pipinya memerah sangat cantik. Hingga Bright harus menahan nafas sendiri. Kala jejak bekas ciuman mereka berantakan di kedua sudut bibir Metawin hingga sampai ke pipi.

“Bright—”

I can't help you if you don't use your words.”

Metawin seakan mengerti. Sambil menelan saliva, ia membuka bibir. “Mas Shaka—”

Damn you, pretty.”

“Disaat orang-orang punya dua rasa yang ditakdirkan untuk bersama, kita cuma punya satu rasa yang nggak pernah dianggap ada.”

Metawin menghembuskan nafasnya. Sekarang, ia sudah berada di dalam cafe miliknya lagi. Duduk di tempat yang sama kala dirinya bersama Bright tempo hari, namun dengan orang yang berbeda.

Abel menatapnya, tatapannya sangat tulus terpancar dari kedua netra cerahnya. Menatap Metawin dengan pandangan benar-benar bingung. Namun, ada terselip rasa senang di sana. Senang jika akhirnya Metawin baik-baik saja selama tiga hari hilang.

Metawin meremat jemarinya dengan ragu. Jantungnya berdegup tidak karuan karena ada rasa takut yang menghampiri dirinya. Ia takut menatap Abel, takut berbicara pada pemuda yang ada dihadapannya sekarang ini.

“El, lo gapapa? Beneran gapapa? Sakit? Gimana, sih? Gue bingung deh.” Abel berujar santai, sambil menyesap strawberry milk shake yang baru saja ia pesan. Kedua alisnya menyatu, kedua matanya tak henti untuk menatap Metawin. Khawatir.

“Gapapa. Gue okay.”

Abel mengangguk. Ada sedikit rasa curiga kala melihat gelagat Metawin yang tak seperti biasanya. “Oh, yaudah. Mau ngomong apa?”

“Bel—”

“Bentar, sebelumnya, lo udah makan, kan? Mau makan nggak? Pesen makan dulu, ya?”

Metawin menggeleng. “Nggak. Gue udah kenyang barusan makan.”

“Minum? Lo mau minum?”

“Nggak, Abel.”

“Terus lo mau—”

“Abel, ayo batalin pernikahan kita.”

Mendengarnya, Abel menghentikkan aktivitasnya yang sedang menyesap minuman dengan tenang. Ia menatap Metawin dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya seperti lolos ke perut, kakinya melemas seketika. Bibirnya terbuka.

Abel belum pernah merasa bingung hingga seperti ini. Pikirannya langsung kacau-balau. Ia ngeblank tak mampu untuk berkata apa-apa lagi.

“El—”

“Maaf udah bohong. Lo.. kalau mau tampar gue, nggak apa-apa kok, Bel. Tampar aja.” Metawin berkata dengan kepala yang tertunduk. Dan juga dengan air mata yang tumpah. Tangisnya pun pecah dengan deras. Masih tidak menyangka ia harus mengucapkan ini. “gue jahat, Bel. Maaf..”

Abel masih bingung. Ia memproses seluruh kata-kata Metawin barusan.

Metawin.. mau batalin pernikahannya??

“El,” Abel mengambil tangan Metawin yang menganggur. Binar mata di netra milik pemuda itu telah redup. Tergantikan oleh sorot mata kecewa. Ia kesal, emosi, namun masih bisa ia tahan.

“Kenapa, sayang?”

“Jangan manggil gue sayang lagi, Bel..”

“Iya. Emang kenapa, El?”

“G-gue...” Metawin menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Jantungnya berdetak menyalahi aturan hingga terdengar oleh telinganya sendiri. Pemuda manis itu lalu mengambil nafasnya, menetralkan semuanya. Kepalanya malah terasa pusing karena mungkin darah mengalir lebih cepat beriringan dengan degup jantung yang terdengar lebih cepat.

“Gue kemarin ketemu sama Bright.”

Abel mengepalkan tangannya hingga buku-buku kukunya memutih. Wajahnya pun ia alihkan ke sembarang arah. Menyembunyikan raut wajahnya yang tampak kesedihan yang sangat jelas. Juga, tampak kekecewaan yang tergambar dengan detail.

“Iya.. terus kenapa, El?”

“Gue selesaiin semua.. urusan gue sama Bright..”

“Iya.. terus?”

“Gue—”

“Nangis aja, El. I know lo lagi sedih. Jangan ditahan.”

Metawin menggelengkan kepalanya. Memukul lututnya sendiri yang berada di bawah meja guna melampiaskan kekesalannya selama ini. Kesal, karena dirinya terlalu memanipulasi hatinya sendiri. Kesal, karena Abel harus menjadi orang yang berjuang serta tersakiti selama bertahun-tahun.

“Metawin—”

I kissed him, Abel..”

Pertahanan Abel kini runtuh. Ia menatap Metawin dengan bibir yang bergetar. Metawin bahkan tak berani menatap Abel yang kini sudah tersulut emosi namun masih ditahan. Ia tahu, Abel tak pernah menunjukkan emosinya dihadapannya selama ini.

Abel tetaplah Abel. Pemuda yang sama sekali tak mempunyai emosi jika dihadapan Metawin.

“Abel, tampar gue aja. Gue jahat sama lo, maaf. Abel.. maaf..”

Abel menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya yang terbuka. Cukup lama, pemuda itu menunduk tak berkata apa-apa. Hanya diam, tidak berkutik.

Lalu setelahnya, ia mengangkat wajahnya. Tersenyum hambar, lalu tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sangat menyakitkan serta pilu di kedua indra pendengarannya.

“Nggak apa-apa,” Ujar Abel sambil tersenyum. Senyumannya bahkan sudah bukan khas Abel lagi. Yakni, senyuman yang menggambarkan kekecewaan orang yang selama ini berjuang demi dirinya. Kekecewaan orang yang selama ini menemaninya selama 7 tahun lamanya.

Abel mengangkat satu tangannya, ke arah kepala Metawin. Kedua mata Metawin pun terpejam, siap untuk menerima pukulan dari Abel.

puk puk

“Makasih udah jujur.”

Namun, bukanlah pukulan yang Metawin terima, melainkan tepukan hangat di kepala Metawin. Tepukan yang selalu Abel berikan namun kali ini rasanya sangat berbeda.

Kedua mata Metawin yang tertutup, kini kembali terbuka. Menatap Abel dengan bingungnya. Namun, Abel hanya bisa tersenyum ke arah pemuda itu. Dengan tangan yang tak lepas di puncak kepalanya.

“Gue udah tau kok, El,” Abel menjawab, dengan suara yang bergetar. Kedua netranya pun berkaca-kaca, tak kuat untuk menatap Metawin. Bibirnya pun ia gigit, menahan semua isak tangis yang tak bisa ia tumpahkan di sini.

“Gue tau. Gue ke rumah lo tiga hari yang lalu, buat mastiin lo kenapa karena gak balas chat gue,” jelasnya hingga Metawin merasa jantungnya berhenti berdetak.

Merasa orang yang paling jahat di bumi ini..

“Gue ngeliat lo, ciuman sama Shaka. Di dalam mobil. Gue pikir, itu cuma pikiran gue doang, dan gue nyoba buat pergi. Tapi ternyata, lo datang kesini, dan menjelaskan semua terus jujur. Gue jadi sadar,” Abel pun berdiri. Menatap Metawin dengan kepala yang tertunduk lalu mengelap air mata yang mengalir. “gue cuma halte doang buat lo, El. Tempat lo singgah sementara. Bukan rumah lo.”

“Bel—”

“Makasih, El udah jujur sama gue. Maaf kalau gue bikin lo bingung sama perasaan lo sendiri.”

“Bel, nggak mau mukul gue?”

“Buat apa hahaha,” Tawa Abel terdengar sangat terpaksa. Menahan semua rasa sedihnya hingga dadanya nyaris seperti terbakar. Rasanya, ia tak sanggup lagi. Namun, ia harus berusaha menerima ini semua. “mukul lo, itu nggak bisa merubah hati lo buat gue, kan?”

Metawin diam. Terpaku, mematung. Menggigit pipi dalamnya menahan isak tangis yang semakin nyata sesaknya. Tangannya bahkan gemetar dengan hebat. Namun Abel masih bisa menenangi dirinya yang sekarang sedang kalut.

“Makasih, El, udah jujur sama gue. Nggak apa-apa kita batal nikah. Bagus lo bilang dari sekarang, dari pada nantinya gue jalanin pernikahan sendirian, kan?”

“Makasih, El, udah ngajarin gue apa itu berjuang, udah ngajarin gue apa itu merelakan. Gue sayang sama lo. Gue pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik.”

Lalu, saat Abel mengucapkan beberapa kata terakhir, Metawin hanya bisa diam dan tak bisa menahannya. Metawin sadar, untuk apa ia menahan seseorang yang telah ia sakiti? Abel berhak untuk mendapatkan yang lebih, Abel berhak untuk menemukan kebahagiaannya sendiri.

Walau, rasanya pasti berat karena dibohongi selama bertahun-tahun. Ingin mengikat hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya itu memanglah tak mudah.

Abel lalu meninggalkan Metawin yang terduduk di bangku sudut ruangan. Kisah cintanya hancur, berkeping-keping, dan tak ada lagi harapan untuk ia bangun kembali.

“Hahaha,” Lelaki itu tertawa begitu miris. Melepaskan cincin yang melingkar di jari manis, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.

“Emang, cuma gue akhirnya yang berharap, cuma gue yang sayang sama lo, El. Semesta emang nggak takdirin gue sama lo.”

“Lagian, gimana mau takdirin gue sama lo? Disaat orang-orang punya dua rasa yang ditakdirkan untuk bersama, kita cuma punya satu rasa yang nggak pernah dianggap ada.”

Kedua tungkainya lalu melangkah kembali, membuka pintu Cafe, lalu benar-benar pergi dari sana.

please listened this playlist: https://open.spotify.com/playlist/5kQd7jVRZYpK48XZGbPN9F?si=f18e7be4dbdc4f36

Ada beberapa pertanyaan besar yang terlintas di kepala Metawin sekarang juga. Dimulai saat dirinya memilih pakaian yang lebih baik sampai-sampai dirinya mengeluarkan seluruh isi lemarinya hanya untuk memilih baju yang sekiranya pantas untuk dirinya bertemu dengan Bright. Konyol memang, ia tak tahu apa perasaannya sekarang. Bisa dibilang lebih... excited? Padahal, dari awal pertemuan mereka saja sangatlah buruk. Metawin harus berderai air mata hingga menteuk pintu rumah Harit. Mengadu pada sahabatnya itu.

Kira-kira Bright udah punya pacar belum ya?

Atau,

Bright selama ini ngapain aja di Kanada?”

Dan lain-lain.

Sampai-sampai, Metawin harus menggelengkan kepalanya agar beberapa jenis pertanyaan konyol itu tidak hinggap lagi di kepalanya. Setelahnya, ia menarik nafas dalam-dalam, lalu berkaca pada layar ponselnya sebentar kala kedua kakinya berhenti melangkah tepat di depan pintu Cafe miliknya. Memastikan apakah dandanannya sekarang tidak berlebihan dan tidak terlalu kucel di hadapan Bright nanti.

“Ish apaan, sih anjing? Gue mikirin apaan emang?” Ujarnya kepada diri sendiri saat sadar bahwa dirinya sedang berpikir macam-macam. “Santai aja.. santai.. habis ngomongin lo bisa pulang,” sambung Metawin seakan berbicara serta memberitahu dirinya sendiri agar tidak terlalu gugup serta menetralkan degup jantungnya sekarang.

“Sebentar doang, sebentar.”

Kringg

lonceng Cafe miliknya pun berbunyi. Menandakan bahwa pintu telah didorong olehnya dan dirinya melangkahkan kedua tungkainya untuk masuk ke dalam. Senyumnya merekah, kedua sudut bibirnya naik ke atas, tak lupa menyapa beberapa pegawainya yang sedang melayani pelanggan, menanyakan bagaimana kabar beberapa pegawainya, lalu mengalihkan pandangan.

Kepalanya menengok ke kiri serta ke kanan. Sedang mencari-cari sesuatu. Hingga pada akhirnya, kedua matanya pun tertuju pada seseorang yang sedang duduk di sudut ruangan sambil memainkan ponselnya dengan segelas cangkir yang terletak di atas meja. Ia menduga, jika isi cangkir tersebut adalah kopi. Terbukti, dengan asap yang masih mengepul ke udara.

“Bright.”

Yang dipanggil pun mengangkat kepalanya. Lalu ikut berdiri saat menyadari Metawin sudah berada di hadapannya dengan setelan santai mengenakan kemeja serta celana panjang. Senyum si lawan bicara Metawin tersenyum sempurna, memancarkan aura ketampanannya hingga Metawin menjadi salah fokus sendiri. Bburu-buru Metawin mengedip, agar Bright tidak menyadari dirinya yang sedang menatap pemuda itu lamat-lamat.

“Ta.” Jawab Bright dengan kepala yang ia anggukkan dengan ringan. Metawin pun menarik kursi yang ada di depannya, lalu, mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu tersebut.

“Udah lama nunggu gue?”

“Nggak, kok.”

“Yaudah bagus deh,” Metawin pun ikut menganggukkan kepala. “duduk ajaa.”

Setelah dipersilahkan duduk oleh Metawin, Bright pun langsung duduk dan meremat jari-jarinya sendiri. Bukannya ia takut atau apa untuk bertemu Metawin, ia sangat ingin malah. Ia sangat suka melihat Metawin berada di hadapannya lagi sekarang. Walaupun keduanya sudah berganti status hubungan, namun Bright tidak masalah. Ia bahkan ingin memeluk pemuda manis itu sekarang juga.

Metawin semakin manis, tak ada fisiknya yang berubah. Hanya tubuhnya saja yang semakin tinggi menjulang. Namun, dari segi wajah, hidung, kedua mata yang membulat, pipi yang merah, sama sekali tidak ada yang diubah. Semuanya masih sama. Semuanya masih seperti Meta-nya yang dulu.

“Lo mau ngomong apa jadinya?” Metawin menyadarkan lamunan Bright yang sedang menatapnya ragu-ragu. Kesannya, pertanyaan yang diajukan Metawin memang terdengar seperti sedang terburu-buru. Namun, percayalah. Metawin malah tidak sabar untuk mendengar penjelasan atau hal yang harus mereka berdua selesaikan. Karena baginya, urusan dirinya dengan Bright benar-benar harus selesai dan dikubur dengan rapat-rapat. Daripada ada yang mengganjal nantinya.

Benar juga apa kata Harit, keduanya memang harus saling memaafkan satu sama lain dan hidup pada jalan pilihan masing-masing.

Sebelum menjawab, Bright mengambil nafasnya, menatap Metawin terlebih dahulu, kemudian beranjak dari bangkunya. Metawin bergeming, terdiam kala melihat Bright berdiri dengan raut wajahnya yang sulit ia definisikan. Kedua alisnya bahkan bertaut dengan bingung.

“Kok lo berdiri?”

Bright tersenyum penuh arti. “Nggak enak kalo ngomong sambil duduk.”

“Terus?”

Bright mengambil tangan Metawin lalu menggenggamnya dengan lembut. “Ayo sambil jalan.”

Pemuda itu terkejut, namun juga tak bisa menolak apa yang Bright lakukan padanya. Pandangannya tertuju pada telapak tangannya yang digenggam oleh Bright sekarang dengan erat. Ada rasa hangat yang menjalar, juga ia merasakan ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Metawin merasa malu, malu dalam artian.. ada semburat merah yang tercetak jelas di kedua pipinya.

“Nggak mau ngomong disini aja? Gue males jalan.” Katanya Metawin mencoba mengalihkan.

“Aku bawa mobil.”

Dalam hatinya, Metawin sama sekali tidak bisa menolak ajakan Bright. Jadinya, saat Bright menarik dirinya dengan lembut untuk melangkah ke arah pintu keluar, Metawin akhirnya menurut namun tetap diam seakan sedang dihipnotis oleh si empunya. Menurut Metawin, pesona Bright memang tidak main-main. Benar-benar tidak ada yang berubah dari lelaki tampan itu.

Bedanya, Metawin seakan bertemu dengan Bright versi terbaru. Tidak ada lagi Bright yang irit ngomong, tidak murah senyum, serta membalas chat nya dengan typing tidak singkat lagi. Nggak menyangkal bahwa Metawin mengagumi pemuda itu diam-diam.

Pemuda manis itu lalu berdiri, mengekori bright dengan berjalan dari belakang. Bright tersenyum tipis, jantungnya tak ada henti-hentinya untuk berhenti berdebar dengan kecepatan tidak biasa. Bisa dikatakan, dirinya sangat senang walau ia tau pertemuannya dengan Metawin pasti akan berlangsung singkat dan ini yang terakhir kalinya sebelum Metawin sepenuhnya sah milik Abel di mata Tuhan.

Dan sebelum dirinya balik ke Kanada, dan mulai melupakannya.

Bright pun mengulurkan tangannya ke depan untuk membuka pintu, mendorongnya, dan membiarkan Metawin keluar terlebih dahulu. Lengannya pun ia gunakan untuk menahan pintu kaca tersebut agar tidak tertutup.

“Emang mau jalan kemana?” Tanya Metawin pada Bright saat dirinya sudah keluar dari Cafe dan melangkahkan kedua kakinya ke arah mobil. Bright pun mengambil kunci mobilnya yang berada di dalam saku, membuka pintu mobil yang berada di sebelah kemudi, lalu menepuk pundak mantannya, mempersilahkan Metawin untuk masuk ke dalam.

“Nggak tau. Kemana aja, Taa.” Sahutnya sambil menutup pintu mobil lalu kedua tungkainya berjalan dengan cepat ke arah pintu mobil satunya. Pemuda itu lantas membuka pintu, masuk ke dalam mobil, lalu duduk tepat di sebelah Metawin.

Ini adalah pertama kalinya setelah tujuh tahun, ia tidak menyetir sendirian lagi. Dan di sisi kemudinya sudah tidak kosong lagi. Karena, Bright memang tidak ingin satu orang pun yang duduk di sebelah jok kemudi miliknya. Baginya, sebelah jok yang kosong itu hanya boleh diisi oleh Mamanya, Runa, Papa, dan juga.. Metawin.

“Sekalian aja jalan-jalan. Aku udah lama nggak ke Jakarta. Mau lihat-lihat apa yang berubah.” Bright menyambung kalimatnya lagi sembari menyalakan mobil dan memutar stir mobilnya, tak lupa memundurkan persneling, kemudian, ia menginjakkan gas mobilnya lalu melaju dengan kecepatan rata-rata, membelah jalanan ibu kota yang sedang lenggang.

Metawin mengangguk. “Sebenernya banyak, sih.”

“Apanya yang banyak?”

“Yang berubah.”

Bright tertawa pelan. Fokusnya pun kini sudah terbagi untuk menatap ke arah jalanan, dan menatap ke arah Metawin hanya untuk menanggapi. Jika mobil ini memang sudah dirancang untuk auto pilot mungkin fokus Bright sudah tidak terbagi lagi.

Maksudnya, ia ingin menatap Metawin terus-terusan.

“Hahaha, iya, sih. Emang banyak yang berubah. Namanya juga udah 7 tahun nggak kesini.” Ia kembali menimpali ucapan Metawin yang tadi.

Iya, salah satunya hubungan kita juga udah berubah sekarang. Itu adalah suara dari hatinya Metawin kala Bright menjawab ucapannya dengan santai dan senyuman yang tidak luntur di wajahnya. Ia penasaran, sangat sangat penasaran. Bright benar-benar tak mempunyai raut kesedihan sedikitpun. Apa memang, Bright memang benar-benar sudah melupakannya dengan cepat? Berbeda dengannya yang melupakan Bright saja perlu waktu yang lama. Selama itu ia menangis, selama itu juga ia frustasi.

“Jadi...” Metawin menghela nafas, seakan kembali ingat apa tujuannya dengan Bright sekarang. Sambil meremat jari-jarinya, ia lalu menyambungkan kalimatnya lagi. “apa yang mau diselesaiin?”

Bright sedikit terkejut dengan apa yang Metawin tanyakan sekarang. Jadi, ia mulai untuk mengontrol dirinya agar tidak larut dalam kesedihan yang sekarang sedang menghantuinya seperti mimpi buruk. Kedua tangannya pun ia gunakan untuk meremat stir mobil. Bright berdeham pelan, kemudian mulai rileks dengan menyandarkan punggungnya.

“Ta, I don't know how to start, but first, I want to apologize to you,” Katanya dengan suara yang parau. Metawin hendak menjawab, namun ia urungkan terlebih dahulu dan memilih untuk diam sambil menatap jalanan raya yang sedang padat oleh beberapa motor dan mobil. “I'm sorry, Ta. Maaf udah ninggalin kamu waktu itu. Maaf.. harusnya aku berjuang lebih lama lagi, ya?”

Terdengar menyakitkan serta menyayat hati Metawin saat Bright sedang berusaha menjelaskan. Ia seperti sedang diajak untuk kembali ke masa lalu, berada dalam kilas balik saat dirinya berada di bandara dan menangis histeris hingga Guns, Mike, serta Harit harus membawanya keluar. Ia seperti sedang menonton dirinya di masa lalu sekarang. Memori menyakitkan itu terputar ulang.

“Tapi, iya nggak apa-apa. Kalau kamu ngak maafin aku.. nggak apa-apa, Ta. Aku paham. I understand this is hard on you and going through it alone, right?

“Iya.” Metawin mengambil nafasnya dengan berat. Menanggapi apa ucapan Bright yang entah kenapa, nada bicaranya yang memelan terdengar sungguh menyakitkan hingga rasanya Metawin tak ingin mendengarnya lagi namun dia harus.

“Aku paham gimana rasanya ditinggal sendirian secara tiba-tiba. I'm sorry, Ta. Aku minta maaf.” Bright menyambung ucapannya lagi nada suara yang berat. Dadanya kembali sesak kala dirinya sedang berbicara serius seperti ini. Sial, padahal ia sudah mencoba untuk menahan air matanya agar tidak turun saat menjelaskan ini semua dan meminta maaf dengan setulus-tulusnya. “Tapi sekarang, kamu udah bahagia, kan?”

Metawin terdiam. Termenung, serta membeku saat mendengar pertanyaan terakhir Bright.

Apa ia sudah benar-benar bahagia sekarang?

Apa ia sudah merasa damai dan mengikhlaskan semuanya sekarang?

“Nggak tau.” Metawin menggelengkan kepalanya pelan. Bright pun menoleh ke arahnya, menatap anak itu dengan guratan kebingungan di wajah. Ucapan Metawin terdengar ambigu dan terdengar berbanding terbalik dengan keadaannya yang sekarang yang sudah mau mendekati jenjang pernikahan.

“Gue nggak tau, gue benar-benar bahagia atau belum, Shaka.”

“Kenapa belum?”

“Nggak tau.”

Bright tidak menjawab lagi. Atsmosfer di dalam mobil pun tiba-tiba merasa awkward. Jadinya, Bright menunda dirinya dulu untuk bercerita. Satu tangannya pun bergerak, membelokkan stir mobilnya ke arah kanan setelah pertigaan lampu merah.

“Lo.. gimana?”

Bright menoleh. Menatap iris mata Metawin yang tampak sekali sedang memendam kepedihan yang mendalam. Tatapannya terlihat sangat sedih dan mempunyai makna yang dalam. Bright bisa menebak, jika anak itu sedang menaan tangis yang tertahan.

“Hm?”

“Udah bahagia belum?”

Telak. Pertanyaan Metawin barusan seakan telak mengenai hatinya sekarang. Bright lantas tertawa pelan, membuat Metawin menatapnya dengan tatapan yang tidak mengerti.

“Belum, Ta.”

“O-ohhh.”

“Hahaha, iya.” Bright lalu memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang depan sekolah SMA mereka dahulu. Kepalanya pun menoleh ke arah kiri, mencoba menatap Metawin dengan memberanikan dirinya. “And I'm still trying to find happiness until now. Because in the past, my happiness was only you, Ta.” Ia menyambungkan kalimatnya sambil tersenyum. Senyum yang seperti sedang dipaksakan, senyum yang seperti sedang mengatakan, bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja namun mencoba berkata kalau dirinya baik-baik saja.

Sakit. Melihatnya saja, Metawin sudah hampir ingin menangis karena mengiris hatinya. Belum lagi, perkataan terakhir dari Bright yang bilang, kalau kebahagiaan Bright hanyalah Metawin sedari dulu.

Ya Tuhan.. Metawin menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Sakit dengarnya.”

“Tunda dulu deh ngomongnya. Kita turun dulu.”

Metawin lantas mengangkat kepalanya, menatap ke arah depan dengan bola mata yang melotot bingung sekaligus heran. Bingung kenapa Bright menyuruhnya turun. Dan juga heran kenapa Bright membawanya ke SMA mereka dulu.

“Lo mau ngapain kesini? Ngambil ijazah?” Katanya dengan tertawa ringan. Mencoba membuat jokes setelah keduanya hampir saja menangis karena tebawa oleh suasana. “Aneh banget nih orang emang.”'

“Hahaha, nggak tau. Random aja mau ngajak kamu kesini.” Bright pun mulai melepas seatbelt miliknya lalu mulai menatap Metawin lagi. “Sebenernya kangen aja sama suasana SMA dulu, udah lama banget nggak kesini. Jadi, mumpung sama kamu, sekalian aja. Biar ada temannya.”

Metawin tertawa. “Halah, bilang aja mau flashback jaman dulu. Ngaku aja lo.”

Yang ditanya malah menggendikkan pundaknya lalu tersenyum sembari membuka pintu mobil. “Tebak aja sendiri.”

“Si anjirr hahaha,” Metawin tertawa. Ia pun juga ikut membuka pintu mobil dan turun serta mendaratkan kedua kakinya di atas tanah. Berjalan mengekori Bright yang kini sedang menayap satpam sekolah yang ternyata masih mengenalnya sampai sekarang.

“Eh Mas Shaka? Tumben kesini. Udah lama banget atuh, Mas. Mau kemana?” Sapa Pak Deni, pria paruh baya yang umurnya mungkin sudah sekitar 45 tahunan. Berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Bright. “Sama siapa?”

“Sama Meta, Pak.”

“Wah hahaha, masih sama yang dulu, toh? Udah nikah belum kalian berdua?”

Metawin dan Bright pun saling berpandangan. Lalu tertawa canggung mendengar pertanyaan dari Pak Deni dan lebih memilih untuk tidak menjawabnya.

“Pak, saya mau main di sekolah nih. Kangen. Boleh nggak?”

Sok sok mangga, Mas Shaka. Boleh banget atuh.”

“Hahaha oke, Pak. Makasih banyak, ya.”

Bright lalu mengajak Metawin untuk berjalan sejajar dengannya. Metawin tak lupa mengucapkan terimakasih pada Pak Budi sambil tertawacanggung saat ditanya sudha menikah dengan Bright apa belum.

“Ya belum, lah. Orang putus.” Jawab Metawin dengan nada pelannya dan segera menyusul Bright yang sekarang sedang berjalan duluan ke arah lapangan sepak bola.


“Gue masih ingat deh dulu. Di sana.” Metawin menunjuk ke arah sudut lapangan basket dekat tiang dan tumpukan bola-bola basket yang ada di dalam keranjang. “lo nembak gue disitu.” Katanya lagi dengan tawa yang terdengar memenuhi ruangan.

Bright pun mengikuti arah pandang Metawin sekarang. Sambil membuka air mineral dinginnya, ia meneguk dan menandaskan air dingin tersebut hingga sisa setengah kurang. Mengelap sudut bibirnya, lalu tertawa kecil.

“Inget aja.”

“Hahaha, inget, lah. Itu memorable banget tau nggak buat gue?”

Bright tersenyum tanpa sadar. “Memorable kayak gimana emang? Kok bisa memorable sedangkan itu udah lama banget deh kayaknya...” Pandangan Bright pun tertuju pada langit-langit lapangan basket, dan memandangnya dengan lama. Seperti sedang menerawang, dan mengingat peristiwa memalukan saat dirinya menyatakan cinta pada Metawin. “Sekitar sembilan tahun lalu?”

“Ya bisa. Soalnya dulu lo ngajak gue pacaran udah kayak mau ngajak main bola bekel.”

“Emang gimana?”

Metawin bercerita dengan sangat antusias. Binar di kedua iris mata Metawin pun terlihat kembali dan Bright terpana hingga kehilangan kesadarannya untuk beberapa saat. Menatap Metawin lamat-lamat, dan mendengarkan Metawin dengan jelas saat anak itu sedang bercerita sambil tetawa lepas.

“Kayak gini,” ia lalu menegapkan tubuhnya. Lalu berdehem. “Lo mau jadi pacar gue nggak?” Ujarnya sambil meniru nada bicara Bright dulu saat menyatakan perasaannya. “HAHAHAHA, lawak banget, aslii. Lo kenapa, sih dulu? Kaku banget?”

Bright terkekeh. Ia menaikkan pundaknya dan menurunkannya lagi. “Nggak tahu. Kamu kan tau dulu emang jarang ngomong.”

“Hihh iya. Sumpah tau nggak siii,” Metawin menahan tawanya, lalu melipat kedua kakinya. “dulu tuh gue nggak yakin banget lo suka sama gue. PDKT aja dulu kayaknya nggak, terus muka lo dulu ketus banget asli. Judessnyaaaa.”

“Ya kan dulu, Taa.”

“Ih tunggu dulu, sumpah dulu tuh gue heran banget sama lo. Kayak tiba-tiba dan mustahil aja gitu loh. Lo nembak gue kayak main-main, anjrit??”

Keduanya lantas tertawa. Tenggelam dalam situasi yang seperti sedang menyelami masa lalu dan menceritakannya ulang pada orang yang sama. Masa lalu yang sepertinya sangat indah dan sayang untuk dibuang dan dilupakan begitu saja.

“Terus-terus, gue masih inget banget dulu tuh lo pas bilang 'lo mau jadi pacar gue nggak?' tuh sambil ngerapihin rambut gue dulu kayak ginii,” Metawin pun mulai mereka ulang kejadian mereka dulu dan mulai mendekat ke arah Bright. Satu tangan kanannya pun terangkat ke udara, lalu turun dan berhenti tepat pada puncak kepala Bright sekarang. Bright mematung di tempat, mulai menyadari bahwa jarak mereka sangatlah dekat. Ia dapat mendengar detak jantungnya sendiri hingga ke telinga. Bright gugup, ia dapat melihat mata cantik serta jernih milik Metawin dari bawah sini.

“Sumpah lo dulu tuh, MODUSS BANGET. Terus sambil bilang—” Metawin menggantungkan ucapannya, kedua matanya pun mulai menatap ke arah langit-langit dengan pandangan menerawang. Mencoba mengingat peristiwa memalukan mereka dulu waktu SMA kala Bright menyatakan cintanya dan ingin menjadikan Metawin pacar. “Nah inget! Lo bilang gini,”

“Rambut lo berantakan.” Metawin mulai meniru suara Bright lagi lalu kemudian tertawa terbahak-bahak dan mulai menjauhkan dirinya dengan Bright sambil mengusap keringat yang mengucur pada keningnya. Hingga tanpa sadar, keduanya tadi terpaut jarak yang memang cukup dekat hingga Bright membeku di tempat.

“PFTT— HAHAHAHA. Sumpah tai banget lo modusnya,” Tawa pemuda manis itu pun mereda, dan mulai mengambil botol minum yang ada disebelahnya dengan asal. Membuka tutup botol itu, lalu menempelkan ujung botol pada bibirnya. Meneguk isi airnya hingga habis. “kalo sekarang kiraa-kira lo masih modus kayak gitu, nggak?”

Bright menggeleng. “Nggak, tuh.”

“Halaaah. Yang bener?”

“Hahaha nggak, Ta. btw—” Bright menggantungkan ucapannya, jari telunjuknya pun terangkat untuk menunjuk botol air minum yang sedang Metawin pegang. “itu botol aku deh, Ta.”

Metawin pun akhirnya mematung di tempat. Hampir saja menyemburkan air yang masih ada di dalam mulutnya.

“Botol lo??”

“Iya. Tapi nggak apa-apa. Habis ya? Itu aku masih bawa 2 botol kok.”

Metawin merutuki dirinya dalam hati.

Bukan masalah habis apa nggaknya. TAPI MINUM SATU BOTOL, INI SECARA NGGAK LANGSUNG KITA CIUMAN, BRIGHT SHAKAAAA.

Cukup lama keheningan berada di tengah-tengah mereka berdua, akhirnya, Bright kembali menarik nafasnya dalam-dalam. Suara nafasnya pun terdengar di seisi lapangan basket karena keheningan yang sangat lama menyapa. Metawin pun menoleh ke arah samping. Melihat Bright yang sedang menatap ke arah depan dengan lurus-lurus.

“Ta.”

“Ya?”

“Mau dengar cerita lagi, nggak?”

Setelahnya, Metawin terdiam dengan pertanyaan yang Bright berikan padanya sekarang. Ia ingin sekali mendengarnya, karena menurut Metawin, Bright butuh banyak waktu untuk menceritakan semuanya dari awal hingga sampai habis. Ingin mendengar tentang Bright selama ini ngapain aja di Kanada, atau kenapa nggak balik-balik selama 7 tahun lamanya.

“Ta, waktu aku mau ninggalin kamu, rasanya yang ada dipikiran aku sekarang, kamu harus bahagia, Ta.” Katanya dengan senyuman hambar yang terulas di bibir. “Kamu.. nggak pernah bahagia sama aku, Ta. Aku, kayaknya bikin kamu nangis terus juga. Di satu sisi, aku juga capek rasanya selalu jadi pusat amarah kamu.”

“Karena.. disalahin terus-terusan dan dituntut untuk menjadi kata sempurna itu jujur, susah, Ta.. Maaf kalau emang sekiranya aku nyalahin kamu. Maaf ya, Ta.”

Metawin tertegun mendengarnya. Ia lantas menundukkan kepalanya dala-dalam. Suara Harit yang menasihatinya pun terngiang-ngiang kembali di dalam otaknya. Suatu tamparan keras untuk dirinya kembali sadar bahwa kisah mereka berdua berakhir bukan karena hanya Bright yang salah, namun dirinya juga salah.

“Jadi.. maaf kalau terdengar egosi. Iya, nggak apa-apa, Ta. Aku emang egois dengan cara kabur ke Kanada buat ngehindarin kamu. Memutuskan hubungan secara sepihak, itu nggak adil buat kamu, Ta. Aku minta maaf. Aku minta maaf buat semuanya.”

Bright menjeda ucapannya sambi meremas jari-jarinya dengan kuat. “Selama di Kanada, sesampainya di Kanada, aku berhenti kuliah selama satu tahun karena nggak ada semangat hidup. Nggak ada tenaga lagi buat nyambung semuanya. Hidup aku, udah kayak diputar beberapa ratus derajat dan seolah aku harus memulainya dan menatanya lagi dari awal.”

“Aku frustasi, jelas. Kalau kamu ngira aku nggak sedih sama sekali habis ninggalin kamu.. kamu salah, Ta. Aku sedih. Banget. Sampai pernah aku nggak tidur selama tiga hari karena isinya nangis doang. Hahaha, maaf, jadi cengeng gini.”

Metawin menggigit pipi dalamnya dan terdiam saat mendengar ucapan Bright barusan. Tangannya lalu terulur, untuk mengusap-ngusap punggung pemuda itu agar memberikannya ketenangan. Satu tangan kanannya pun juga terulur, untuk mengusap-ngusapkan punggung tangan Bright yang berkeringat.

“Aku disuruh ke psikolog sama Papa, karena melihat aku yang terpuruk bukan main. Kayaknya, ada kali setahun isinya nangisin kamu doang, Ta.”

“Shaka,”

“Iya?”

“Maaf..” Metawin mengambil nafasnya dalam-dalam. Dadanya merasa sesak seperti sedang dipukul dan dihantam oleh batu berkali-kali. Bright serta dirinya, keduanya, merasakan kesedihan pasca keduanya berpisah. 7 tahun terpisah dan saling menguatkan diri masing-masing, kini bertemu lagi dengan kondisi yang berbeda.

“Shaka, maaf. Maaf kalau selama ini gue terdengar egois dan jahat sama lo. Maaf, gue jadi pacar yang selalu nuntut dan nggak bersyukur selama gue masih berhubungan sama lo. Maaf, gue nggak pernah merasa puas. Maaf, gue selalu menumpahkan kesalahan gue sama lo.. M-maaf—” Ucapan Metawin pun tertahan, karena dadanya mendadak sakit lagi. Bukan karena penyakit, melainkan dirinya pun menangis lagi. Air matanya tumpah serta pecah dihadapan Bright. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, pendiriannya runtuh dalam sekejap kala mengakui dosa-dosa serta kesalaannya selama ini dihadapan Bright.

Ia tahu, mungkin dirinya memang telat untuk menyadari ini semua.

“Shaka.. Bright.. maaf.. maaf kalau gue pernah bikin lo terluka diam-diam, maaf gue nggak pernah bisa jadi pendengar yang baik buat lo. Maaf.. pasti lo kesusahan ya buat cerita? Ah bego, harusnya gue jadi tempat curhat buat lo, Ka..” Metawin menangis semakin kencang, lalu memukuli kepalanya sendiri. “Bego, bego, bego, bego banget..”

Bright pun menggeleng, memegangi tangan Metawin dan menahan anak itu untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. Karena, sudah cukup anak itu tersakiti selama bertahun-tahun karena ulahnya sendiri, dan sekarang, ia tak mau Metawin merasakan rasa sakit lagi.

“Iya, Ta.. dimaafin.” Ucapnya sambil tersenyum dan mengusap air mata Metawin yang mengalir dengan deras. “Maaf, udah dateng kesini lagi disaat kamu udah baik-baik aja. Maaf, aku ngasih luka lama yang seharusnya udah ketutup rapat dan nggak usah kamu lihat lagi. Ta, maaf ya..”

“Nggak, lo nggak salah buat datang ke sini lagi. Nggak, lo nggak salah, Shaka.. dari awal emang gue yang salah, nggak bisa nerima sifat lo dan sikap lo. Nggak pernah merasa puas padahal lo sayang sama gue. Maaf, gue.. nggak becus.”

“Udah, udah, udah ya, Ta? Nggak apa-apa, aku nggak apa-apa, kok.”

“Shaka.. maaf..”

Bright pun menarik Metawin ke dalam pelukannya. Seisi ruangan lapangan basket pun menjadi saksi bisu kedua anak manusia yang mengutarakan semua keluhan isi hatinya. Menumpahkan semua air mata yang mungkin sengaja untuk ditahan dalam waktu yang lama. Menjadi saksi bisu atas dua manusia yang masih terjebak dengan masa lalu, sedang bepelukan.

“Ta, udah jam 6 sore, nggak sadar. Kamu lapar nggak? Kalau lapar, habis ini makan dulu, ya? Habis itu aku antar pulang?”

Dan Metawin mengangguk kecil. Sementara Bright tersenyum kecil sambil mengsap air mata Metawin yang menuruni pipi hingga meninggalkan jejak di sana.


Keduanya kini berhenti di salah satu angkringan yang pernah mereka datang dulu waktu masih pacaran. Pukul 7 malam, Bright dan Metawin pun memakan makanan yang sedang dihidangkan di atas meja. Tak disangka juga, angkringan ini masih sama tempatnya. Masih persis beberapa tahun lalu terakhir kali mereka kesini. Dekat kampus mereka berua dulu.

“Jadi, sekarang lo udah punya pacar?” Metawin bertanya, sambil meneguk teh hangat yang asapnya masih sedikit mengepul. Meniupnya pelan, lalu menyeruputnya sedikit-sedikit.

Bright terkekeh kecil. Lalu menggelengkan kepalanya.

“Hah masa??”

“Beneran.”

“Sumpah nggak percaya. Masa, sih??”

“Ta.. Hahaha beneran, kok. Kamu bisa tanya Guns atau Mike buat mastiin.”

“Yeee, ngapain ah. Nanti disorakin terus disangka kepo.”

“Ya yaudah.”

“Tapi beneran???”

“Iya, beneran.” Bright menganggukkan kepalanya, mencoba meyakinkan Metawin. “emang kenapa? Kamu mau daftar jadi pacar?”

“Huuuu, nggak.”

Bright dan Win pun saling tertawa. Kembali menceritakan hal-hal konyol karena menurut mereka, bercerita hal-hal sedih jika sedang makan itu berbahaya. Kata Metawin, itu akan membuatnya menangis sambil meminum air mata. Asin katanya.

Keduanya pun larut dalam suasana malam kota Jakarta yang semakin lama semakin ramai. Pembicaraan mereka pun semakin lancar, hingga tanpa sadar, jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mereka berdua mengobrolkan dari hal-hal yang penting, sampai hal-hal yang tidak penting. Benar-benar seperti sedang reuni masa lalu. Mana keduanya makan di tempat yang sama saat mereka masih mempunyai hubungan dulu.

“Ta, What is your greatest happiness?

Tiba-tiba saja, saat Metawin sedang terdiam sambil menatap Bright sekarang, Bright menyuguhkan pertanyaan sederhana namun mampu membuatnya bingung untuk menjawab.

“Sekarang.”

“Maksudnya?”

“Ya.. sekarang, Ka..” Metawin pun terdiam lagi, memikirkan beberapa kalimat yang sekiranya cocok untuk selanjutnya. “Gimana, ya. Gue bener-bener lagi seneng sekarang, bahagia.. gue udah damai sama masa lalu, udah bisa damai sama lo, udah bisa saling maafin satu sama lain. Yang gue pikir, tadinya sebelum ketemu lo.. gue kira bakal sebentar dan sedikit yang mau diomongin. Ternyata... banyak ya, Ka?”

“Gue seneng, kita akhirnya ketemu lagi walaupun dari masing-masing pribadi udah saling berubah. Gue seneng akhirnya teka-teki gue selama ini kejawab dengan mudah. Gue seneng akhirnya gue nggak perlu ada perasaan ngeganjal karena pertanyaan-pertanyaan gue dulu yang belum terjawab.”

Setelahnya, pemuda manis itu menghela nafas. “Thanks, Shaka. Lo orang baik, nggak ngeselin lagi kayak dulu, hahaha. Lo lebih dewasa. Pasti jodoh lo lagi seneng karena jodohnya aja bentuknya kayak gini?”

Bright tersenyum hambar. Seperti sedang menelan kenyataan pahitnya secara bulat-bulat.

Aku aja nggak tau mau nikah atau nggak, Ta..

“Bright Shaka, thank you for being in my life. Thank you for teaching me many lessons. Thanks for holding on. Thanks for being patient. I hope you have a happy ending.” Kata Metawin lalu berdiri dan mengenakan tasnya kembali. Bright pun mengikuti gerak-gerik Metawin. Mengangkat kepala, dan menatap manik mata Metawin dengan tatapan teduh.

“Cepet-cepet dapet pacar, yaaa. Nanti kalau nikah, kabarin gue. Ngundang juga. Biar gue susul ke Kanada.”

Dan entah kenapa, Bright merasakan rasa sakit yang sangat jelas.

Pemuda itu lalu tersenyum pahit. “Makasih, Ta.”


Pukul setengah sebelas malam. Bright memberhentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Metawin. Pemuda itu lalu melihat ke arah sekitar. “Pantes aku kemarin datang ke rumah, ternyata pindah ke sini, ya Taa.”

Metawin tertawa, membuka seatbelt mobil lalu menoleh ke arah Bright yang sekarang ada di sisinya. “Hahaha, iya. Rumah yang di sana di kontrakin, bokap nyokap gue beliin rumah baru biar makin deket sama rumah gue yang sekarang.”

“Gitu ya.”

Pemuda itu mengangguk. “Gitu deh.”

Tak terasa, pertemuan mereka yang dua belas jam penuh, kini sudah berakhir. Satu hari bersama Bright, rasanya begitu sangat cepat bagi Metawin. Rasanya, pemuda itu ingin lebih lama bersama Bright sekarang. Pemuda itu sudah aktif berbicara tidak seperti dulu lagi sampai dirinta tak merasa bosan dan tidak sadar jarum jam sudah menunjukkan angka setengah sebelas malam.

Metawin tak mengerti perasaan ini. Saat bertemu Bright seharia n dan mengobrol tanpa kenal waktu, hingga makan di tempat angkringan mereka makan dulu, Metawin tak bisa berhenti untuk deg-deg an. Jantungnya benar-benar terpacu, ingin rasanya menyuruh Bright menetap lebih lama di sini namun rasanya tak mungkin.

“Jadi.. udah selesai?” Bright berujar dengan menyadarkan lamunan Metawin. Yyang ditanya pun tersentak kecil, lalu menoleh ke arahnya.

“Bright.”

“Hm?”

Keduanya pun saling bertatapan, beradu pandang, tanpa kedip sedikitpun. Kedua netra mereka saling menatap satu sama lain, hingga pada akhirnya, Metawin memajukan tubuhnya untuuk mendekat. Satu tangannya pun terangkat, menarik tengkuk Bright perlahan agar pemuda itu semakin mendekat ke arahnya.

Metawin tak mengerti apa perasaan ini. Yang jelas, dirinya merasa sedih dan tak rela tatkala Bright mengucapkan “udah selesai?” barusan. Rasanya ingin menangis lagi, seperti merasakan dejavu beberapa tahun yang lalu. Pertemuan yang pertama serta perpisahan untuk yang terakhir kalinya dalam satu waktu memanglah sungguh menyakitkan. Dan mengetahui fakta bahwa, dia sudah tak lagi ada di sisinya mulai sekarang.

“Ta—”

“Bright, sebentar aja.”

“Oke..”

“Sebentar aja, biarin gue nyium lo.”

Dan, kala Bright ingin menjawab, bibirnya sudah menempel dengan sempurna dengan bibir Metawin. Jantung Bright berdegup sangat kencang, hingga akhirnya, tangannya pun terangkat, untuk memeluk serta merengkuh Metawin dengan erat.

Ciuman mereka bukanlah ciuman penuh nafsu. Panggutan yang mempunyai makna bahwa mereka benar-benar melepas rindu selama beberapa tahun tidak bertemu. Beberapa purnama tidak bersua. Hingga harus dipertemukan dengan keadaan yang sudah benar-benar berbeda.

Gue nggak mau lo pergi lagi...

Tanpa sadar, hati Metawin kini sudah benar-benar terbagi. Bingung harus membagi antara Abel atau dengan Bright karena pertemuannya hari ini. Pilihannya begitu rumit, dan benar-benar menyakitkan bagi salah satu yang tidak ia pilih.

Shaka's pov

Sudah satu hari sejak pertemuan tiba-tiba gue dengan Metawin, yang sekarang gue lakukan hanyalah duduk terdiam di kamar yang sudah lama gue tinggalin. Gue nggak mood untuk ngapa-ngapain. Pandangan serta tatapan gue cenderung kosong dan gue lebih banyak diamnya. Sampai-sampai, Runa harus mengantarkan makanan ke kamar gue karena gue ogah untuk keluar kamar.

Gue merasa nggak enak. Padahal, tujuan gue awalnya pulang adalah untuk menemui keluarga serta teman-teman yang udah nggak ketemu beberapa tahun lamanya. Tapi, dengan seenaknya gue malah mengurung diri di dalam kamar hingga malas makan.

“Hah....” Gue menghembuskan nafas setelah mengambil nafas dengan dalam-dalam. “Anaknya emang nggak mau nemuin gue kayaknya.. padahal masih banyak yang mau gue omongin.” Kata gue lalu tertawa miris. Lebih tepatnya, gue udah nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain Metawin udah mau jadi milik orang, udah mau nikah juga, seharusnya gue bisa kayak Metawin. Seharusnya, gue udah bisa lupain dia daripada harus stuck pada keadaan yang sama.

Kedua sudut bibir gue pun terangkat. Membentuk sebuah senyuman yang seharusnya menjadi senyuman karena senang bisa ketemu Metawin lagi setelah sekian lama gue menghilang untuk mencari kesenangan tersendiri. Namun, malah menjadi senyum yang paling miris serta sakit sendiri pas gue bercermin melihat wajah gue sendiri.

Gue sadar, gue sama Metawin udah nggak bisa bersama lagi. Jalan serta tujuan kami sudah jelas beda. Metawin udah bisa melangkahkan kakinya sendirian, sesuai dengan perintah gue saat itu, find your happiness karena kebahagian kamu bukan aku, dan benar, Metawin benar-benar melakukannya.

“Hahaha..” Gue tertawa. Hambar rasanya. Gue menerima kenyataan pahit yang masih belum bisa gue terima. Gue harus rela walaupun hati gue benar-benar nggak rela. Gue harus bisa mulai membuka lembaran buku baru gue dan menyimpan kenangan yang pada masanya adalah masa paling indah yang pernah terjadi pada hidup gue.

Dan pada akhirnya, semuanya memang berakhir seperti ini. Metawin yang udah mendapatkan tujuannya sendiri, sementara gue masih belum bisa lupain orang yang tadinya adalah menjadi alasan terbesar gue untuk bertahan hidup setelah kedua orangtua gue dan adik perempuan gue sendiri.

Dan pada akhirnya juga, gue akan berakhir dengan kesalahan fatal yang nggak pernah bisa gue lupakan.

“Yaudahlah, mau gimana lagi.” Kata gue pada diri gue sendiri saat gue udah nggak tahu lagi dan nggak bisa menemukan titik terang di hidup gue lagi.

Gue akhirnya bangkit dari atas kasur untuk pergi ke kamar mandi dan segera mandi. Yaudahlah, emang benar katanya. Masalah kita berdua udah selesai dari dulu dan nggak ada yang harus diselesaiin lagi. Emang guenya aja mungkin yang pengen selesaiin semuanya karena gue rasa emang belum selesai. Pertemuan terakhir kami saja di bandara yang artinya sangat mepet dengan jam penerbangan gue. Pesan-pesan terakhir juga sangat singkat. Dan gue pikir, hari ini, atau seminggu ini gue bisa selesaiin semuanya karena jujur ajague mau hidup tenang entah sampai kapan tanpa harus dihantui oleh rasa bersalah.

Dan yah.. semuanya itu memang cuma andai-andai gue aja. Gue bakal tetap melanjutkan hidup gue yang seperti ini dengan rasa mengganjel yang ada. Harus ngelupain semuanya pelan-pelan aja entah sampai kapan juga.

Tangan gue lalu terulur untuk mengambil handuk, dan menyampirkannya di pundak. Mengambil ponsel sekaligus untuk melihat apakah ada chat penting masuk dari bilah notifikasi.

ting!

Bersamaan dengan itu, notifikasi dari direct messge twitter pun berbunyi. Dengan malas, gue menggerakkan jari untuk membuka isi dm tersebut karena kayaknya nggak terlalu penting. Kayaknya dari Guns atau Mike yang mengirimkan tweets aneh-aneh atau menitipkan link haram pada gue. Memang definisi teman yang minta untuk dibaptis lagi.

Namun, saat membaca isi dm tersebut, melihat foto profil serta username yang terpampang jelas di layar, membuat gue mengucek kedua mata gue lalu melihat ke arah layar lagi. Memastikan apakah gue salah baca atau tidak.

Dan ternyata, gue beneran nggak salah baca.

tok tok

Metawin mengetuk pintu rumah Harit dengan tergesa. Air matanya bahkan sudah mengering di pipi sejak tadi. Dadanya terasa panas, terbakar, ingin menangis kembali namun tidak bisa. Karena, sepanjang perjalanan dirinya dari makam untuk ke rumah Harit, dirinya sudah cukup mengering hingga rasanya tidak bisa lagi.

tok tok

Nafasnya tidak karuan. Tangan kanannya bahkan terangkat, menutupi bibirnya yang bergetar serta merah hampir berdarah karena terlalu lama ia gigit untuk meluapkan segala emosi serta kekecewaan yang ada. Dirinya terlalu syok hingga rak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, kala Bright mengirimkan direct message di twitter, sepanjang Metawin mengetikkan beberapa kata, air matanya tak berhenti untuk keluar. Hingga rasanya pandangannya mengabur, kedua iris matanya sakit karena terlalu banyak ia paksakan mengeluarkan beberapa ratus tetes air mata. Keadaannya bahkan bisa dikatakan kacau. Kedua matanya memerah membengkak. Rambutnya berantakan.

Baru saja satu hari mereka bertemu, sudah memberikan dampak serta efek besar pada Metawin. Kesedihan itu datang lagi, menghampirinya setelah dua tahun ia tak menangis karena Bright lagi.

Jiwanya terasa kosong serta hampa. Kepalanya pening. Hidungnya memerah, cairan dari hidungnya sedari tadi keluar terus menerus selama dadanya masih sesak karena belum puas mengeluarkan tangisannya lagi.

klek

Knop pintu terputar, Metawin mundur beberapa langkah lalu mengusap air matanya yang turun menuruni pipi dengan kasar. Ia menarik nafas, lalu mengangkat kedua sudut bibirnya kala pintu tersebut terbuka dengan lebar dan menampakkan Harit yang mengenakan pakaian santai. Wajahnya terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur.

“Siapa sih yang dateng jam segini, ganggu tidur gue aja.” Ujarnya sambil menggaruk tengkuk dengan kedua mata yang masih tertutup rapat. Menguap, kemudian pemuda itu mengangkat wajahnya lalu membuka kedua netra. Dirinya terkejut, mendapati Metawin dengan keadaan kacau nya datang serta berdiri dihadapannya sekarang.

Tanpa harus ia tanyakan lagi, tanpa harus berbicara lagi, Harit membuka kedua tangannya. Mempersilahkan Metawin untuk berhambur ke dalam pelukannya sekarang. Ia tahu, ia tahu persis jika keadaan temannya ini sangatlah tidak baik-baik saja. Harit tahu, hanya dalam sekali lhat, Harit tahu Metawin sangat kacau tanpa harus bertanya lagi.

Begitupun juga dengan Metawin, pemuda itu tersenyum hambar dan langsung mengerti maksud temannya. Harit selalu mengerti bagaimana keadaannya sekarang tanpa dia harus menceritakan semuanya. Kedua tungkai Metawin lalu melangkah ke depan, mendekat ke arah Harit lalu memeluknya dengan erat. Menyandarkan dagunya pada pundak kokoh temannya. Lalu.. menangis lagi.

Tangisan Metawin terdengar sangat pilu, menyesakkan hati. Menjerit sangat keras di telinga, seakan meraung-raung sedang meminta pertolongan. Metawin tampak hancur berantakan hingga Harit tak tega untuk bertanya. Dan, yang hanya ia lakukan hanylah menepuk-nepuk pundak Metawin pelan. Mengusap-ngusap punggung anak itu yang bergetar hebat.

“Kenapa, Met?” Tanyanya dengan suara lembut.

“Shaka..” Metawin menjawab pertanyaan Harit dengan suara yang tersendat. Susah payah ia mengambil nafasnya sambil meremat pakaian yang Harit kenakan. Air matanya luruh dengan deras, membasahi bahu temannya itu.

“Shaka kenapa?”

“G-gue.. ketemu dia.”

Harit terkesiap lalu mematung di tempat. Ia diam, mendengarkan ucapan Metawin selanjutnya. Karena menurutnya, Metawin seperti sedang syok karena mungkin bertemu dengan mantan pacarnya itusecara tiba-tiba setelah sekian lama, setelah hilang tanpa kabar seperti hilang tertelan oleh samudera. Seakan hilang namun bayangannya masih ada, menghantui temannya itu untuk beberapa tahun.

“Met, mau masuk dulu nggak?” Katanya mencoba menenangkan. Lalu melepas pelukan temannya ini. Menatap Metawin dengan sorot pandang khawatir. “Capek kan nyetir mobil sendirian sambil nangis? Masuk dulu, gue bikinin minum, ya?”

Metawin mengangguk. Tanpa bersuara, ia lalu melangkahkan kedua kakinya mengekori Harit dari belakang. Sementara temannya berjalan lebih dahulu, Metawin pun duduk di sofa ruang tamu. Memijit kepalanya akibat pusing yang menjalar di sekitar kepalanya. Menjengut kecil rambut-rambutnya karena tak mampu menahan pening lagi akbat menangis terlalu lama. Menangis seorang yang sudah meninggalkannya secara tiba-tiba, lalu muncul kembali pada radarnya secara tiba-tiba juga.

“Nih.” Harit meletakkan segelas air putih di atas meja. Kembali dia mendudukkan bokongnya pada sofa di hadapan Metawin. Raut wajahnya tampak bingung, namun tak ingin bertanya dulu sebelum ia memastikan Metawin ingin bercerita. Keadaan temannya sekarang belum bisa dikatakan sedang baik-baik saja.

Yah.. bertemu dengan seorang yang hampir membuat trauma yang cukup dalam bukanlah cukup menyakitkan? Bingung, kecewa, sedih, bercampur menjadi satu.

“Minum dulu. Kalo udah siap buat cerita, cerita aja.”

Metawin tak segera minum segelas air mineral yang Harit berikan. Ia mengangkat kepalanya, lalu menghembuskan nafas. Kemudian membuka mulut.

“Gue bingung.”

“Bingung kenapa?”

Metawin menggigit bibir bawahnya sendiri. “Gue bingung, sama perasaan gue sendiri.”

“Emang kenapa? Lo ketemu dia emang habis ngomong apa?”

“Gue..” Metawin menarik nafasnya dalam-dalam. Mengisi paru-parunya dengan oksigen banyak-banyak sebelum dirinya ingin mengangkat suara. Kedua tangannya bahkan bergetar, hingga dirinya harus terpaksa menggenggam jari-jarinya sendiri. Panik. Itu lah yang ia rasakan sekarang. Rasanya, ia seperti orang jahat sehabis membaca bubble chat terakhir yang Bright kirimkan padanya.

“Maksudnya, Shaka, dia ngajak gue ketemuan, dia mau ngobrolin dan katanya mau selesaiin semuanya tapi—”

“Tapi lo nolak?”

Strike. Harit berhasil menebak tebakkannya hanya dengan memperhatikan raut wajahnya yang ragu. Metawin terdiam beberapa saat sembari menggigit pipi dalamnya. Enggan menatap Harit yang seakan tahu apa isi hatinya sekarang.

“Kenapa kok nolak?” Harit menerka lagi.

“Karena.. emang apa yang harus diselesaiin lagi? Bukannya emang udah selesai dari dulu? Dari tujuh tahun yang lalu udah selesai, kan? Kenapa sekarang dia datang lagi dan pengen kelarin semuanya?” Metawin menyerbu Harit dengan beberapa pertanyaan hanya dengan satu tarikan nafas. Suaranya terdengar sangat parau serta serak hampir saja hilang serta mengecil. “Harit, gue nggak ngerti jalan pikiran dia serius. Kenapa gue kayak keliatan jadi orang jahat disini? Kenapa dia nggak ada rasa bersalah sama sekali setelah ninggalin gue gitu aja?”

“Met,” Harit sudah tahu letak akar permasalahannya di mana. Pemuda itu jadinya menegapkan tubuhnya, menatap Metawin dengan lurus-lurus. Mengunci pergerakan bola mata Metawin agar tidak kemana-mana. Ia tahu, temannya ini sedang panik hingga jalan pikirannya buntu dan juga keruh.

“Menurut lo, kalau dia nggak ada rasa bersalah sama sekali, emang dia bakal nemuin lo? Atas dasar apa kalo dia nemuin lo tapi nggak ada rasa bersalah sama sekali, Win?”

Nada bicara Harit sudah terdengar sangat serius. Terbukti saat pemuda itu menyebutkan nama asli Metawin dan juga tatapannya yang seperti sedang melubangi kepalanya. Metawin terdiam, dirinya sangat gelisah.

“Gue rasa emang lo masih denial. Win. Ayo dong, jangan denial lagi.”

“Kok lo ngatain gue denial, sih? Gue disini cuma mau cerita, Rit. Bukan dengerin lo ngatain gue terus.” Metawin menjawab dengan ada bicaranya yang meninggi. Menatap Harit dengan sinis menggunakan kedua matanya yang merah membengkak. Ia lantas berkedip lama, lalu menutup kedua matanya menggunakan tangan, air matanya merembas lagi. Pemuda itu pun menunduk, lalu mengambil nafasnya dengan susah payah.

“Win, please gue kayaknya bakal bosan kalau ngomong ini terus. Iya tau lo udah punya Abel, iya tau lo udah mau nikah, tapi apa lo tega kalo lo belum selesaiin masa lalu lo tapi udah buka buku baru sama orang lain?”

“Harit, gue udah selesai. Hubungan gue, urusan gue, udah selesai dari lama. Gue bingung.. kenapa lo terus-terusan salahin gue atas ini?”

“Win, gue nggak nyalahin diri lo. Nggak pernah. Gue cuma minta lo berpikir dengan otak jernih. Kalau lo emang udah selesai sama Shaka, terus kenapa lo datang nangis-nangis kesini? Katanya emang udah selesai, kenapa lo masih nangisin dia? Kenapa lo masih mikirin dia?”

Metawin terdiam. Mendengarkan perkataan Harit yang mengenai hatinya secara langsung. Terdengar helaan nafas dari Harit, helaan nafasnya pun terdengar sangat pasrah atas topik yang sedang mereka bicarakan.

“Win, mungkin lo nggak tau ini. Lo berdua itu sama-sama hancur karena pisah. Bahkan Shaka sekalipun, dia ngubah dirinya sendiri di Kanada selama itu. Win, bukan lo doang yang hancur, bukan lo doang yang merasa paling tersakiti. Please ayo sadar.”

“Terus kenapa kalo dia hancur, Rit? Dia juga udah bikin gue sehancur ini. Dia udah bikin gue frustasi bertahun-tahun. Lo nggak kasihan sama gue?” Metawin menjawab dengan nafasnya yang mengebu-ngebu. Emosinya sudah tumpah, berceceran. Air mukanya sudah tergantikan dengan kekesalan akibat Harit berkata yang tidak semestinya.

“Win harusnya lo mikir kenapa hubungan lo berdua bisa kayak gini? Lo pernah ngehargain sikap dia? Lo pernah nerima dia 100% selama pacaran? Win, orang mana yang nggak capek dituntut terus-terusan dan nggak pernah merasa puas? Lo kalau disalahin terus-terusan dari awal emang bakal tahan?”

“Jangan childish kayak gini, tolong. Lo temen gue, Win. Ayo dewasa, umur lo bukan umur remaja lagi.”

“Tapi dia egois ninggalin gue gitu aja! Dia nggak seharusnya kayak gitu, Harit.. dia harusnya bilang ke gue dan kelarin akar permasalahannya. Bukan menjauh dari masalah terus dateng-dateng pas gue udah mau nikah.”

“Justru karena lo udah mau nikah, dia butuh selesaiin semuanya. Win, dihantuin rasa bersalah bertahun-tahun juga nggak enak. Shaka belum bisa ngelepas lo walaupun lo udah jauh dari dia juga. Makanya dia mau selesaiin ini biar bisa damai sama masa lalu nya,” Harit berkata dengan nada yang ia sesuaikan agar Metawin tidak terpancing emosi lagi. “Sumpah, gue nggak nyalahin lo, Metawin. Sama sekali nggak. Gue setuju kalau Shaka mau selesaiin ini sama lo. Karena mungkin menurut dia, pertemuan terakhir lo sama dia di bandara itu singkat banget, Win. Padahal masih banyak yang mau lo berdua omongin.”

“Saling memaafkan satu sama lain itu nggak buruk, Metawin. Lo berdua emang harus bener-bener lepas terus ikhlas. Shaka juga nggak minta lo buat balik lagi, kok.”

“Tapi menurut gue itu udah selesai, Harit. Lo mau ngomongin apalagi emang?”

“Win, kalo belum selesai kenapa lo datang-datang nangis ke gue gini? Kalo udah selesai, harusnya lo biasa aja tanggepinnya bukan galau kayak gini. Jangan denial, gue tau lo, Metawin.” Harit lalu bangkit dari duduknya, mengambil tisu lalu memberikannya pada Metawin. “Pikirin lagi ucapan gue, Met. Nggak ada buruknya juga kok lo nemuin dia. Omongin baik-baik, selesaiin yang harusnya lo berdua selesaiin. everything will be over if you talk the best as you can.”

“Satu lagi, lo kan emang mau nikah sama Abel, emang lo bisa jalanin pernikahan lo sementara masih ada sesuatu yang ngeganjel? Rasa penasaran yang emang belum kejawab semuanya? Lo bisa?”

Metawin terdiam. Lagi-lagi, ucapan Harit benar dan seakan memukulnya dengan kencang.

Harit tersenyum tipis. “Nggak bisa, kan?”

—Meta's pov

Semesta memang kadang sebercanda itu. Yang nggak pernah lo duga-duga, ternyata datang dengan sendirinya seolah udah ada di dalam skenario hidup lo. Seolah, udah diatur sama yang kuasa. Seolah, hidup lo udah digoreskan sama tinta takdir yang nggak akan pernah bisa lo ganggu lagi.

Kayak sekarang, gue niat untuk ke makam Ara hari ini, karena udah lama gue nggak kesana, malah mendapati Shaka yang lagi duduk dihadapan pusara sambil menangis. Kalau kalian bertanya, kok bisa gue ke makam Ara dengan mudahnya? Iya, namanya juga Tuhan, maha membolak-balikkan hati manusia yang tadinya gue gedek banget sama Ara semasa hidup, kini merasa kasihan karena anaknya udah nggak ada. Ara meninggal, 7 tahun yang lalu karena bunuh diri. Padahal, terakhir ketemu dia juga tiga bulan yang lalu dan dia sempat minta maaf sama gue.

Tadinya.. gue nggak mau maafin dia. Dengan semua yang udah dia lakuin sama gue. Tapi, pas dengar kabar seperti ini, hati nurani gue jadi terpanggil. Yang tadinya gue udah nggak mau ada urusan lagi sama ini anak, gue malah merasa kasihan sekaligus… sedih?

Iya sedih, karena anak ini mengakhiri hidupnya begitu aja. Gue nggak tau apa yang dia alami selama ini, tapi gue dengar-dengar, selama tinggal sama Mama tirinya, Mama asuhnya, Ara terlalu banyak mendapatkan kekerasan di rumahnya. Gue yang mendengarnya kala itu, hanya bisa meringis. Terlebih, saat tahu kalau dirinya diusir dari rumah. Ya makin sedih lah gue..

Gue bukan malaikat yang punya hati bisa memaafkan dengan mudah. Tapi gue juga bukan setan yang terus-terusan dendam. Jadinya, gue juga ikut-ikutan nangis saat Ara dimakamkan. Gue juga memastikan, kalau anak ini dimakamkan dengan layak saat ditemukan sama warga sekitar dirinya udah tenggelam di sungai dalam dan baru diangkat jenazahnya setelah 7 hari dari dia menenggelamkan diri.

Dan sekarang.. ada satu fakta mengejutkan. Dan gue hanya bisa tertawa atas ini. Semesta emang suka bikin suatu yang nggak pernah bisa gue tebak-tebak, ya?”

“Long time no see, Ta.” katanya dengan senyuman yang terulas di bibir. Kedua matanya merah membengkak, wajahnya nggak ada yang berubah. Masih sama. Lekuk wajah, postur tubuh, rahang, hidung.. semuanya sama. Dari senyuman juga masih sama. Nggak banyak yang berubah.

Gue terdiam. Menatapnya beberapa menit lalu menghembuskan nafas serta mengalihkan wajah. Gue.. nggak bisa lihat wajahnya lama-lama. Hati gue makin sakit lihatnya..

“Kesini juga, Ta?” katanya dengan nada ramah. Kedua tangan gue pun mengepal hingga buku-buku jari gue memutih. Emosi gue kini naik lagi, dada gue sesak bukan main.

Lo… bayangin rasanya. 7 tahun nggak ketemu, 7 tahun saling nggak ngasih kabar, tau-tau ketemu saat lo sedang ziarah ke makam cewek yang tadinya adalah penganggu hubungan gue dengan dia. Tau-tau ketemu padahal gue nggak pernah ngerencanain sesuatu.

“Iya.” Jawab gue sekenanya. Gue lantas menegapkan badan, lalu berbalik dan meninggalkannya dengan langkah cepat. Gue merutuk dalam hati. Ngapain gue kesini hari ini?? Kenapa dia harus disini? Kenapa dia harus ada di depan gue lagi?

Setelah 7 tahun dia ngilang, setelah 7 tahun dia nggak ngasih kabar, setelah 7 tahun dia mutusin gue, dia datang gini aja???

Nggak adil buat gue…

“Ta, sebentar. Tungguin.”

Gue mendengar derap langkah di belakang yang mengejar gue. Gue mengelap air mata yang turun dengan terburu, serta melangkahkan kedua kaki gue dengan cepat. Buru-buru meninggalkan pemakaman beserta Bright yang ada di belakang gue.

Sebenarnya, gue bingung sama diri gue sendiri. Urusan gue dengan Bright memang sudah selesai. Tapi kenapa gue ketemu dia aja rasanya cemen banget??? Rasanya gue nggak mau lihat dia lama-lama. Apa emang gue udah beneran move on atau emang masih punya rasa?

“Ta, sebentar..”

Gue langsung membalikkan badan. Menatapnya dengan gemetar, namun nggak berani menatap kedua netranya. Nggak berani menatap iris matanya yang kelam.

“Jangan, deket-deket gue.”

“Gue mau pulang.” Sambung gue lagi dengan nafas yang terengah-engah. Seketika, Bright langsung berjalan mundur, mengangkat kedua tangannya tanda ia nggak akan mendekat ke arah gue lagi.

“Oke, nggak. Aku nggak dekat-dekat kamu.”

“Oke. Bagus.” Kata gue lalu langsung masuk ke dalam mobil. Menyalakan mobil dengan buru-buru, lalu langsung menancapkan gas meninggalkan Bright yang sedang menatap gue dengan sorot mata kecewa. Seperti sedang mengharapkan sesuatu.

Dan sekarang, gue serius bingung sama perasaan gue sendiri.


Perjalanan Canada – Jakarta memang cukup melelahkan. Menginjakkan kaki di Jakarta baru satu jam, Bright sudah menancapkan gasnya ke rumah Metawin. Mendatangi anak itu hanya untuk memberikan selamat atas pernikahannya. Dan juga.. memastikan kabar Metawin apakah anak itu baik-baik saja atau tidak.

Ironisnya, rumah yang ditempati Metawin dulu kosong. Tidak ada siapa-siapa dan tidak ada tanda-tanda kehadiran akan seseorang. Bertanya pada tetangga sekitar, ternyata Metawin sudah pindah rumah beberapa bulan yang lalu. Dan Bright, hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu menganggukkan kepala sambil mengulas senyum.

Semilir angin, menerpa kulitnya. Bright kini berdiri, disebelah pusara bertuliskan nama Azahra Floresa. Meninggal 7 tahun yang lalu, bertepatan dengan 3 bulan semenjak dirinya pergi meninggalkan Jakarta.

Bright menatap pusara itu dengan tatapan kosong, lalu berjongkok sembari memegang batu nisan. Ia menundukkan kepala, mengucapkan doa-doa pada teman kecilnya itu. Walaupun Ara adalah sosok gadis menyebalkan dan sangat mengganggunya dulu, Bright tak dapat mengelak bahwa, Ara ini adalah teman kecilnya. Ia bahkan tak menyangka saat mendapatkan kabar bahwa Ara sudah meninggal, dipanggil oleh yang maha kuasa karena percobaan bunuh diri yang gadis itu lakukan. Ara tewas tenggelam karena menyeburkan dirinya pada sungai yang dalam.

Bright menghela nafasnya. Bahkan, semenjak Bright pergi, Ara perlahan-lahan sudah merubah dirinya ke arah yang lebih baik. Gadis itu sering ikut dalam kegiatan di panti sosial. Bright dapat melihatnya dalam sosial media instagram anak itu. Namun entah kenapa, 3 bulan berlalu, Bright mendengar kabar yang tidak mengenakkan.

Gadis itu telah pergi, untuk selama-lamanya dalam keadaan yang tak pernah ia duga-duga.

Bright menangkup wajahnya. Dalam hati, ia berdoa terus menerus agar temannya itu bisa tenang di sisi Tuhan. Mungkin, Ara mengakhiri hidupnya karena tak bisa menahan semuanya lagi sendirian. Terlebih, Bright sudah tidak ada. Keluarga Bright juga sudah tidak menerimanya. Memangnya, ia harus bergantung hidup dengan siapa lagi?

“Ra, maaf baru datang. 7 tahun waktu yang lama emang. Sorry..” Lirihnya sambil tersenyum. Bright tak dapat menyimpan kesedihannya lagi. Tangisannya pun pecah, ia tak bisa membendung tangisannya lebih lama. Mendapati fakta bahwa teman kecilnya sudah tidak ada karena bunuh diri, membuat Bright sedih bukan main. Walaupun anak itu sering membuat onar di dalam hubungannya dengan Metawin dulu, namun itu adalah masa lalu yang harus dimaafkan agar temannya tenang di sana. Ia juga tak bisa menyimpan dendam lebih lama, Ara lebih membutuhkan doa daripada rasa kesal dan dendam yang terus ia simpan.

Lagipula, semuanya juga sudah sia-sia. Ia dendam sekalipun, tak ada yang bisa ia rubah. Semua takdir sudah digariskan bersamaan, dan ia tak bisa menganggunya lagi.

Bright termenung. Menatap pusara dengan genangan air mata yang berair. Duduk di sebelah batu nisan. Hingga, ada pemuda yang meletakkan bunga di atas pusara, mengejutkan Bright sampai-sampai ia harus mengangkat kepalanya.

Kedua bola matanya pun melebar. Bright mematung. Melihat siapa pemuda yang kini ada dihadapannya. Berdiri dengan jaket yang ia kenakan. Parfum yang masih ia kenal, dan juga postur tubuh yang tidak berubah.

Yang ditatap pun juga sama terkejutnya. Ia mencengkram jaket yang ia kenakan, menatap kedua netra Bright dengan bibir yang gemetar.

Bright lalu berdiri, menatap pemuda itu dari atas sampai bawah. Keduanya hanya terpaut jarak beberapa senti, berada diantara pusara milik Ara. Keduanya sama-sama saling tatap, nafas yang berderu pelan. Hingga akhirnya, salah satu ada yang membuka suara.

Long time no see, Ta.”

Dan yang disapa, hanya mematung di tempat. Sambil merutuk dalam hati,

seharusnya gue nggak kesini..


Bright menatap layar laptop lalu terdiam untuk beberapa saat. Kerjaannya yang tadi ia kerjakan, kini terbengkalai tak tersentuh sama sekali. Ponselnya pun menyala, terpampang dengan jelas foto undangan pernikahan Abel dengan Metawin yang dikirimkan oleh Guns tadi malam.

Pemuda itu tampak jelas habis menangis. Entah ia menangisi apa, atau karena Metawin yang ingin menikah dengan Abel, atau karena ia menyesal karena meninggalkan Metawin ke Kanada selama bertahun-tahun. Bright menyalahkan dirinya sendiri atas itu. Hatinya berdenyut, rasa sakit itu kini menjalar lagi. Tak sanggup lagi untuk menahan.

Ia tertawa kecil. Lalu menutup laptopnya dengan sembarang dan meletakannya lagi di sisi kanan dengan asal. Kedua tungkainya pun turun dari kasur dan memijak lantai marmer dingin apartement miliknya. Sudah 7 tahun ia berada di Kanada, sudah 7 tahun pula ia meninggalkan Metawin dengan keadaan yang cukup menyesakkan, dan sudah 7 tahun juga ia masih terikat dengan keadaan yang sama.

Kepalanya pun menunduk. Jemarinya meremas sprei hingga terasa kusut dan berantakan. Air matanya kini menetes lagi. Bibirnya pun ia gigit, menahan rasa sakit yang entah kenapa ia harus merasakan ini lagi.

Ini salahnya, benar-benar salahnya. Murni kesalahan Bright yang meninggalkan Metawin secara tiba-tiba. Tanpa ada kata pamitan terlebih dahulu, tanpa ada pelukan yang lebih lama. Semuanya, terjadi begitu cepat. Hingga dirinya mendaratkan kaki untuk pertama kali di negeri orang.

Detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari. Hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Hingga terasa begitu sangat cepat, 7 tahun ia lewati sendirian. Seorang diri, hingga rasanya ingin menyerah dan nyaris mati hanya karena percintaannya yang begitu rumit dan menyesakkan.

Pemuda itu lalu berdiri, melangkahkan kedua tungkainya dan berjalan ke sudut ruangan. Menarik koper, dan melemparnya dengan sembarang ke atas kasur. Membukanya dengan wajah datar seperti biasa, lalu terdiam. Mematung. Saat melihat foto dirinya dengan Metawin yang masih tersimpan di dalam koper. Tertinggal, dan lupa ia keluarkan.

Bright mendesah pelan. Menghembuskan nafasnya lalu menunduk dan menumpukan tubuhnya menggunakan kedua tangan. Sepertinya, ia akan menyerah sekali lagi. Orang yang bersamanya dulu, orang yang bersamanya selama satu tahun, kini sudah berpindah hati dan menjadi milik orang lain. Egois namanya jika Bright datang begitu saja dihadapan wajah Metawin lalu meminta anak itu agar menjadi miliknya lagi.

Ironis. Bright mengusap wajahnya kasar, lalu mengalihkan pandangan dari foto tersebut. Ia tertawa hambar.

“Ta, misal kamu belum punya Abel, masih pantes nggak kira-kira aku balik lagi di depan kamu?”

Bright tertawa lagi. Tawanya terdengar sangat miris bagi siapapun yang mendengarnya. Membuat hati siapapun sakit saat mendengarnya. Karena, tawa Bright benar-benar bukanlah tawa yang sebenarnya. Melainkan tawa yang terselip rasa kecewa dan marah disana namun tak bisa untuk apa-apa lagi.

Bright mengacak surai rambutnya kasar lalu kemudian membuka lemari besarnya. Menatap baju-baju yang tersusun rapi dari atas sampai bawah lalu termenung lagi.

Kalau dirinya kembali ke Jakarta, apa emang akan merubah keadaan lagi?

Lagi pula, dirinya akan terdengar egois di telinga orang-orang. Dia yang meninggalkan, dia juga yang merasa bersalah. Dia juga yang ingin Metawin untuk kembali lagi. Namun sekarang.. sepertinya tidak bisa.

Saat dirinya menatap baju-baju yang tersusun rapi dengan pandangannya yang kosong, ia ingat akan chat dari adiknya untuk menyuruh Bright pulang. Mama katanya sudah kangen dengannya, begitu juga dengan Papa karena terakhir mereka ketemu juga lima bulan yang lalu. Itupun, sekeluarga menyusul ke Kanada. Bukan Bright yang ke Jakarta.

“Oke..” Ia mengangguk pelan, lalu mengeluarkan beberapa bajunya lalu memasukkannya ke dalam koper. Menumpuknya, hingga foto dirinya dengan Metawin tidak terlihat karena berada di bawah tumpukan baju. Pemuda itu tengah berkemas, bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta selama satu minggu. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk Metawin juga ia kembali. Toh, dirinya dengan Metawin benar-benar sudah selesai. Tak ada yang harus diurus lagi. Tak ada yang harus dibicarakan lagi.

Mereka sudah tidak ada. Kata 'Kita' dalam kamusnya sudah hilang. Yang tertinggal hanya 'Aku' dan 'Kamu' serta jalan masing-masing yang mereka ambil.

Bright menghela nafasnya kasar kala mulai menutup koper dan meletakkannya di atas lantai.

“Tapi aku mau liat muka kamu sebelum kamu sepenuhnya jadi milik orang lain, Ta…” katanya lalu terduduk sambil menjenggut rambutnya sendiri dengan kasar.

Kenapa aku masih sayang sama kamu, Ta?

kenapa kamu bisa lupain aku sementara aku nggak bisa?

Selesainya pemuda itu menyeduh kopi panas pada pukul 2 malam, Metawin memijat keningnya yang kini terasa pening. Kepalanya seperti berdenyut hingga dirinya bertumpu pada meja makan yang ada di dapur. Kedua matanya mengerjap, kemudian menggigit bibirnya sendiri. Entah apa perasaan ini, yang jelas, ia merasakan adanya perasaan gusar. Perasaan marah, hingga ingin menangis lagi tanpa sebab. Sudah jarang ia menangis, terakhir juga tiga bulan yang lalu saat pembukaan cafe serta toko florist miliknya. Itupun karena tangisan bahagia. Bukan tangisan rasa kecewa yang ia alami dua tahun yang lalu.

Metawin rasanya cukup terpukul hingga lima tahun lamanya karena kepergian Bright yang secara tiba-tiba. Dirinya hancur bukan main, ibaratnya, dirinya seperti kehilangan rasa semangat untuk menjalani hidupnya sendiri. Hampir setiap malam, anak ini meraung-raung dan tersiksa hingga gemetar. Tangisan pilu memenuhi kamarnya hingga sang bunda bingung juga harus apa. Kepergian Bright ke Kanada meninggalkan bekas goresan di hatinya.

Kecewa, marah, sedih, dan frustasi hampir menghantuinya selama lima tahun. Dan selama lima tahun itu, Abel memang menemaninya. Mengisi hari-harinya hingga saat ini. Dan Metawin memutuskan untuk menikah bersama Abel minggu lalu. Tekad serta keputusannya sudah ia buat bulat-bulat. Ia tak ingin tenggelam dalam perasaan gelisah lagi setiap malam. Abel dengan sukarela mengulurkan tangannya dan selalu berkata, “Nggak apa-apa, El. Nangis aja. Ada gue, kok.”

Dan sekarang, saat dirinya sudah mengambil keputusan untuk memulai hidup baru, serta menutup lembaran bukunya bersama Bright lalu membuangnya, Harit berkata, perasaannya dengan Abel tidaklah valid. Temannya itu bilang, Abel hanyalah pelarian sesaatnya kala Metawin merasa kesepian sehabis ditinggal Bright. Abel ibarat seperti penyembuh luka sesaat, bukan obat permanen yang bisa ia pakai sampai beberapa waktu ke depan.

Metawin bingung. Usai dengan Bright yang meninggalkannya secara tiba-tiba, seperti membuangnya begitu saja dengan kejam, tanpa mengabarkannya, hingga dirinya harus bersusah payah berlarian menyusul sepanjang bandara, Harit masih saja membela Bright dengan alasan, Bright adalah rumahnya.

Pemuda itu lantas menghela nafas. Melangkahkan kedua tungkainya lalu berjalan ke arah kamar. Suasana rumah tampak sepi, karena ini adalah rumah baru yang baru saja ia beli sebulan yang lalu. Anak ini memutuskan untuk tinggal menyendiri meninggalkan rumah lamanya agar semakin dekat dengan kantor. Dan yah… sebagai rumah sementara sebelum dirinya akan menikah nanti.

Rintik hujan pun mulai terdengar, terjatuh di atap rumah. Suhu dingin meningkat, menyapa kulitnya kala Metawin mulai masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ia tak bisa tidur, memikirkan chat dari Harit beberapa jam lalu. Mengerjakan pekerjaannya pun ia tak bisa. Pikirannya seakan disita habis-habisan oleh pemuda yang bernama Bright Shaka Chivaaree.

Dalam diamnya, Metawin memutuskan untuk mengambil salah satu box besar yang tersimpan di atas lemari jati besar berwarna cokelat. Penuh debu, karena sudah lama tak ia sentuh. Pemuda bersurai cokelat gelap itupun meletakan box tersebut lalu meniupnya, menyingkirkan debu tersebut menggunakan tisu. Ia terbatuk, lalu setelahnya ia buka. Dan penampakan pertama yang ia lihat dalam isi box tersebut adalah… bingkai fotonya dengan Bright.

Melihatnya, Metawin menahan nafas. Jantungnya berdegup, menatap pigura yang berisi foto dirinya dengan Bright. Dadanya sesak kembali sampai-sampai, jemarinya meremat pigura tersebut tanpa ia sadari. Bibirnya gemetar hebat. Sebeginikah power milik Bright hingga dirinya tak bisa untuk berkata-kata lagi walaupun hanya melihat foto mereka berdua dulu?

Metawin tak mengerti. Ia juga tak bisa mengerti jalan pikirannya sendiri. Pemuda itu masih menyimpan barang-barang milik Bright dan miliknya di dalam satu box besar lalu meletakkannya di atas lemari. Berkali-kali sang bunda menawarkan diri untuk menyimpan box tersebut ke dalam gudang karena terlihat memenuhi kamar.

Namun, Metawin tak ingin.

Ia tak mau untuk menyimpan barang-barangnya saat berpacaran dengan Bright dulu di gudang. Apalagi membuangnya. Rasanya…. tak tega. Ia masih ingin melihat barang-barang itu walaupun sang pemilik barang sudah tak ada lagi disini. Walaupun itu cukup menyiksanya. Walaupun itu cukup membuatnya harus meneteskan air matanya lagi.

Tangannya pun terulur, mengambil pigura tersebut lalu mengeluarkannya dan meletakkannya di sisi kanan. Wajahnya pun ia alihkan, tak ingin menatap pigura tersebut lebih lama karena tak lama lagi ia akan menangis.

“Bright, gue nggak tau lo di mana, tapi kenapa pas lihat foto lo aja… hati gue rasanya sakit lagi?” Monolognya sambil tertawa hambar. Lalu mengambil kotak cincin pemberian Bright saat itu.

Iya. Hadiah anniversary mereka yang ke satu tahun. Metawin ingat betul heart break anniversary mereka yang berlangsung menyakitkan. Walaupun akhirnya berbaikan lagi.

Ia membuka kotak cincin tersebut. Menatapnya dengan binar mata redup. Otaknya secara otomatis pun memutarkan beberapa kenangan mereka dahulu-dahulu. Masih terekam jelas dan tak ada satupun yang ia buang. Semuanya, perjalanan kisah mereka, Metawin tak tega untuk melupakannya. Katanya, sih, biar tersimpan dengan sendirinya tanpa harus dibuang. Walaupun memang banyak sakitnya, tapi kitalah karakter utama yang menjalani semua itu. Diri kita versi yang lama, diri dia versi yang lama. Sayang juga kalau harus ia lupakan begitu saja.

Kala melihatnya, Metawin tertawa lagi. Cincin tersebut terukir angka satu sampai dua belas bertuliskan angka romawi. Dua belas, dengan arti dua belas bulan. Yakni satu tahun, hubungan mereka kala itu.

“Hahaha.. kalau nggak putus, kayaknya udah delapan tahun ya, Ka? Ibaratnya kalau besarin anak, udah masuk SD.” Ujarnya lalu tersenyum tipis.

Hingga tak terasa, Metawin berdiam di hadapan box tersebut dalam waktu lima belas menit. Tak terasa juga, air matanya mengalir tanpa persetujuannya. Kepalanya pun menunduk, sambil menggigit bibirnya, kedua mata Metawin pun terpejam. Jari-jarinya pun meremat ujung box tersebut dengan kuat-kuat. Melampiaskan rasa kemarahannya di sana.

“Ta.. udah lah, Shaka nggak akan pernah balik buat lo. Dia aja pergi nggak bilang-bilang, kok. Buat apa lo berharap yang nggak seharusnya lo harapin?” Katanya sambil meremat bajunya sendiri hingga kusut. Dadanya merasa sesak seperti dua tahun yang lalu. Rasanya masih sama, seperti ditinggalkan Bright untuk pertama kalinya.

“Iya, lo udah mau nikah, Metawin. Udah.. lo nggak usah nangisin dia lagi. Bright, udah nggak ada. Dia nggak ada lagi di hidup lo. Stop mikirin yang nggak-nggak. Udah ada Abel di sini, bukan Shaka..”

Ia lalu mengelap air matanya lalu tersenyum hambar. Membereskan barang-barang lalu memasukkannya ke dalam box lagi. Menutupnya rapat-rapat, lalu kembali menyimpannya.

“Ka, tapi kalo lo tiba-tiba balik ke Jakarta, gue cuma mau bilang, gue udah nemu kebahagiaan gue sendiri.. Semoga lo nemu bahagianya lo ya, Shaka.” Katanya dalam hati lalu berdiri dengan kaki gemetar. Ia terdiam beberapa saat, menatap ke arah depan dengan pandangan kosong.

“Semoga lo baik-baik aja di Kanada.”