565 epilog
“Disaat orang-orang punya dua rasa yang ditakdirkan untuk bersama, kita cuma punya satu rasa yang nggak pernah dianggap ada.”
Metawin menghembuskan nafasnya. Sekarang, ia sudah berada di dalam cafe miliknya lagi. Duduk di tempat yang sama kala dirinya bersama Bright tempo hari, namun dengan orang yang berbeda.
Abel menatapnya, tatapannya sangat tulus terpancar dari kedua netra cerahnya. Menatap Metawin dengan pandangan benar-benar bingung. Namun, ada terselip rasa senang di sana. Senang jika akhirnya Metawin baik-baik saja selama tiga hari hilang.
Metawin meremat jemarinya dengan ragu. Jantungnya berdegup tidak karuan karena ada rasa takut yang menghampiri dirinya. Ia takut menatap Abel, takut berbicara pada pemuda yang ada dihadapannya sekarang ini.
“El, lo gapapa? Beneran gapapa? Sakit? Gimana, sih? Gue bingung deh.” Abel berujar santai, sambil menyesap strawberry milk shake yang baru saja ia pesan. Kedua alisnya menyatu, kedua matanya tak henti untuk menatap Metawin. Khawatir.
“Gapapa. Gue okay.”
Abel mengangguk. Ada sedikit rasa curiga kala melihat gelagat Metawin yang tak seperti biasanya. “Oh, yaudah. Mau ngomong apa?”
“Bel—”
“Bentar, sebelumnya, lo udah makan, kan? Mau makan nggak? Pesen makan dulu, ya?”
Metawin menggeleng. “Nggak. Gue udah kenyang barusan makan.”
“Minum? Lo mau minum?”
“Nggak, Abel.”
“Terus lo mau—”
“Abel, ayo batalin pernikahan kita.”
Mendengarnya, Abel menghentikkan aktivitasnya yang sedang menyesap minuman dengan tenang. Ia menatap Metawin dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya seperti lolos ke perut, kakinya melemas seketika. Bibirnya terbuka.
Abel belum pernah merasa bingung hingga seperti ini. Pikirannya langsung kacau-balau. Ia ngeblank tak mampu untuk berkata apa-apa lagi.
“El—”
“Maaf udah bohong. Lo.. kalau mau tampar gue, nggak apa-apa kok, Bel. Tampar aja.” Metawin berkata dengan kepala yang tertunduk. Dan juga dengan air mata yang tumpah. Tangisnya pun pecah dengan deras. Masih tidak menyangka ia harus mengucapkan ini. “gue jahat, Bel. Maaf..”
Abel masih bingung. Ia memproses seluruh kata-kata Metawin barusan.
Metawin.. mau batalin pernikahannya??
“El,” Abel mengambil tangan Metawin yang menganggur. Binar mata di netra milik pemuda itu telah redup. Tergantikan oleh sorot mata kecewa. Ia kesal, emosi, namun masih bisa ia tahan.
“Kenapa, sayang?”
“Jangan manggil gue sayang lagi, Bel..”
“Iya. Emang kenapa, El?”
“G-gue...” Metawin menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Jantungnya berdetak menyalahi aturan hingga terdengar oleh telinganya sendiri. Pemuda manis itu lalu mengambil nafasnya, menetralkan semuanya. Kepalanya malah terasa pusing karena mungkin darah mengalir lebih cepat beriringan dengan degup jantung yang terdengar lebih cepat.
“Gue kemarin ketemu sama Bright.”
Abel mengepalkan tangannya hingga buku-buku kukunya memutih. Wajahnya pun ia alihkan ke sembarang arah. Menyembunyikan raut wajahnya yang tampak kesedihan yang sangat jelas. Juga, tampak kekecewaan yang tergambar dengan detail.
“Iya.. terus kenapa, El?”
“Gue selesaiin semua.. urusan gue sama Bright..”
“Iya.. terus?”
“Gue—”
“Nangis aja, El. I know lo lagi sedih. Jangan ditahan.”
Metawin menggelengkan kepalanya. Memukul lututnya sendiri yang berada di bawah meja guna melampiaskan kekesalannya selama ini. Kesal, karena dirinya terlalu memanipulasi hatinya sendiri. Kesal, karena Abel harus menjadi orang yang berjuang serta tersakiti selama bertahun-tahun.
“Metawin—”
“I kissed him, Abel..”
Pertahanan Abel kini runtuh. Ia menatap Metawin dengan bibir yang bergetar. Metawin bahkan tak berani menatap Abel yang kini sudah tersulut emosi namun masih ditahan. Ia tahu, Abel tak pernah menunjukkan emosinya dihadapannya selama ini.
Abel tetaplah Abel. Pemuda yang sama sekali tak mempunyai emosi jika dihadapan Metawin.
“Abel, tampar gue aja. Gue jahat sama lo, maaf. Abel.. maaf..”
Abel menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya yang terbuka. Cukup lama, pemuda itu menunduk tak berkata apa-apa. Hanya diam, tidak berkutik.
Lalu setelahnya, ia mengangkat wajahnya. Tersenyum hambar, lalu tertawa pelan. Suara tawanya terdengar sangat menyakitkan serta pilu di kedua indra pendengarannya.
“Nggak apa-apa,” Ujar Abel sambil tersenyum. Senyumannya bahkan sudah bukan khas Abel lagi. Yakni, senyuman yang menggambarkan kekecewaan orang yang selama ini berjuang demi dirinya. Kekecewaan orang yang selama ini menemaninya selama 7 tahun lamanya.
Abel mengangkat satu tangannya, ke arah kepala Metawin. Kedua mata Metawin pun terpejam, siap untuk menerima pukulan dari Abel.
puk puk
“Makasih udah jujur.”
Namun, bukanlah pukulan yang Metawin terima, melainkan tepukan hangat di kepala Metawin. Tepukan yang selalu Abel berikan namun kali ini rasanya sangat berbeda.
Kedua mata Metawin yang tertutup, kini kembali terbuka. Menatap Abel dengan bingungnya. Namun, Abel hanya bisa tersenyum ke arah pemuda itu. Dengan tangan yang tak lepas di puncak kepalanya.
“Gue udah tau kok, El,” Abel menjawab, dengan suara yang bergetar. Kedua netranya pun berkaca-kaca, tak kuat untuk menatap Metawin. Bibirnya pun ia gigit, menahan semua isak tangis yang tak bisa ia tumpahkan di sini.
“Gue tau. Gue ke rumah lo tiga hari yang lalu, buat mastiin lo kenapa karena gak balas chat gue,” jelasnya hingga Metawin merasa jantungnya berhenti berdetak.
Merasa orang yang paling jahat di bumi ini..
“Gue ngeliat lo, ciuman sama Shaka. Di dalam mobil. Gue pikir, itu cuma pikiran gue doang, dan gue nyoba buat pergi. Tapi ternyata, lo datang kesini, dan menjelaskan semua terus jujur. Gue jadi sadar,” Abel pun berdiri. Menatap Metawin dengan kepala yang tertunduk lalu mengelap air mata yang mengalir. “gue cuma halte doang buat lo, El. Tempat lo singgah sementara. Bukan rumah lo.”
“Bel—”
“Makasih, El udah jujur sama gue. Maaf kalau gue bikin lo bingung sama perasaan lo sendiri.”
“Bel, nggak mau mukul gue?”
“Buat apa hahaha,” Tawa Abel terdengar sangat terpaksa. Menahan semua rasa sedihnya hingga dadanya nyaris seperti terbakar. Rasanya, ia tak sanggup lagi. Namun, ia harus berusaha menerima ini semua. “mukul lo, itu nggak bisa merubah hati lo buat gue, kan?”
Metawin diam. Terpaku, mematung. Menggigit pipi dalamnya menahan isak tangis yang semakin nyata sesaknya. Tangannya bahkan gemetar dengan hebat. Namun Abel masih bisa menenangi dirinya yang sekarang sedang kalut.
“Makasih, El, udah jujur sama gue. Nggak apa-apa kita batal nikah. Bagus lo bilang dari sekarang, dari pada nantinya gue jalanin pernikahan sendirian, kan?”
“Makasih, El, udah ngajarin gue apa itu berjuang, udah ngajarin gue apa itu merelakan. Gue sayang sama lo. Gue pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik.”
Lalu, saat Abel mengucapkan beberapa kata terakhir, Metawin hanya bisa diam dan tak bisa menahannya. Metawin sadar, untuk apa ia menahan seseorang yang telah ia sakiti? Abel berhak untuk mendapatkan yang lebih, Abel berhak untuk menemukan kebahagiaannya sendiri.
Walau, rasanya pasti berat karena dibohongi selama bertahun-tahun. Ingin mengikat hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya itu memanglah tak mudah.
Abel lalu meninggalkan Metawin yang terduduk di bangku sudut ruangan. Kisah cintanya hancur, berkeping-keping, dan tak ada lagi harapan untuk ia bangun kembali.
“Hahaha,” Lelaki itu tertawa begitu miris. Melepaskan cincin yang melingkar di jari manis, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah.
“Emang, cuma gue akhirnya yang berharap, cuma gue yang sayang sama lo, El. Semesta emang nggak takdirin gue sama lo.”
“Lagian, gimana mau takdirin gue sama lo? Disaat orang-orang punya dua rasa yang ditakdirkan untuk bersama, kita cuma punya satu rasa yang nggak pernah dianggap ada.”
Kedua tungkainya lalu melangkah kembali, membuka pintu Cafe, lalu benar-benar pergi dari sana.