Epilog 531
Selesainya pemuda itu menyeduh kopi panas pada pukul 2 malam, Metawin memijat keningnya yang kini terasa pening. Kepalanya seperti berdenyut hingga dirinya bertumpu pada meja makan yang ada di dapur. Kedua matanya mengerjap, kemudian menggigit bibirnya sendiri. Entah apa perasaan ini, yang jelas, ia merasakan adanya perasaan gusar. Perasaan marah, hingga ingin menangis lagi tanpa sebab. Sudah jarang ia menangis, terakhir juga tiga bulan yang lalu saat pembukaan cafe serta toko florist miliknya. Itupun karena tangisan bahagia. Bukan tangisan rasa kecewa yang ia alami dua tahun yang lalu.
Metawin rasanya cukup terpukul hingga lima tahun lamanya karena kepergian Bright yang secara tiba-tiba. Dirinya hancur bukan main, ibaratnya, dirinya seperti kehilangan rasa semangat untuk menjalani hidupnya sendiri. Hampir setiap malam, anak ini meraung-raung dan tersiksa hingga gemetar. Tangisan pilu memenuhi kamarnya hingga sang bunda bingung juga harus apa. Kepergian Bright ke Kanada meninggalkan bekas goresan di hatinya.
Kecewa, marah, sedih, dan frustasi hampir menghantuinya selama lima tahun. Dan selama lima tahun itu, Abel memang menemaninya. Mengisi hari-harinya hingga saat ini. Dan Metawin memutuskan untuk menikah bersama Abel minggu lalu. Tekad serta keputusannya sudah ia buat bulat-bulat. Ia tak ingin tenggelam dalam perasaan gelisah lagi setiap malam. Abel dengan sukarela mengulurkan tangannya dan selalu berkata, “Nggak apa-apa, El. Nangis aja. Ada gue, kok.”
Dan sekarang, saat dirinya sudah mengambil keputusan untuk memulai hidup baru, serta menutup lembaran bukunya bersama Bright lalu membuangnya, Harit berkata, perasaannya dengan Abel tidaklah valid. Temannya itu bilang, Abel hanyalah pelarian sesaatnya kala Metawin merasa kesepian sehabis ditinggal Bright. Abel ibarat seperti penyembuh luka sesaat, bukan obat permanen yang bisa ia pakai sampai beberapa waktu ke depan.
Metawin bingung. Usai dengan Bright yang meninggalkannya secara tiba-tiba, seperti membuangnya begitu saja dengan kejam, tanpa mengabarkannya, hingga dirinya harus bersusah payah berlarian menyusul sepanjang bandara, Harit masih saja membela Bright dengan alasan, Bright adalah rumahnya.
Pemuda itu lantas menghela nafas. Melangkahkan kedua tungkainya lalu berjalan ke arah kamar. Suasana rumah tampak sepi, karena ini adalah rumah baru yang baru saja ia beli sebulan yang lalu. Anak ini memutuskan untuk tinggal menyendiri meninggalkan rumah lamanya agar semakin dekat dengan kantor. Dan yah… sebagai rumah sementara sebelum dirinya akan menikah nanti.
Rintik hujan pun mulai terdengar, terjatuh di atap rumah. Suhu dingin meningkat, menyapa kulitnya kala Metawin mulai masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Ia tak bisa tidur, memikirkan chat dari Harit beberapa jam lalu. Mengerjakan pekerjaannya pun ia tak bisa. Pikirannya seakan disita habis-habisan oleh pemuda yang bernama Bright Shaka Chivaaree.
Dalam diamnya, Metawin memutuskan untuk mengambil salah satu box besar yang tersimpan di atas lemari jati besar berwarna cokelat. Penuh debu, karena sudah lama tak ia sentuh. Pemuda bersurai cokelat gelap itupun meletakan box tersebut lalu meniupnya, menyingkirkan debu tersebut menggunakan tisu. Ia terbatuk, lalu setelahnya ia buka. Dan penampakan pertama yang ia lihat dalam isi box tersebut adalah… bingkai fotonya dengan Bright.
Melihatnya, Metawin menahan nafas. Jantungnya berdegup, menatap pigura yang berisi foto dirinya dengan Bright. Dadanya sesak kembali sampai-sampai, jemarinya meremat pigura tersebut tanpa ia sadari. Bibirnya gemetar hebat. Sebeginikah power milik Bright hingga dirinya tak bisa untuk berkata-kata lagi walaupun hanya melihat foto mereka berdua dulu?
Metawin tak mengerti. Ia juga tak bisa mengerti jalan pikirannya sendiri. Pemuda itu masih menyimpan barang-barang milik Bright dan miliknya di dalam satu box besar lalu meletakkannya di atas lemari. Berkali-kali sang bunda menawarkan diri untuk menyimpan box tersebut ke dalam gudang karena terlihat memenuhi kamar.
Namun, Metawin tak ingin.
Ia tak mau untuk menyimpan barang-barangnya saat berpacaran dengan Bright dulu di gudang. Apalagi membuangnya. Rasanya…. tak tega. Ia masih ingin melihat barang-barang itu walaupun sang pemilik barang sudah tak ada lagi disini. Walaupun itu cukup menyiksanya. Walaupun itu cukup membuatnya harus meneteskan air matanya lagi.
Tangannya pun terulur, mengambil pigura tersebut lalu mengeluarkannya dan meletakkannya di sisi kanan. Wajahnya pun ia alihkan, tak ingin menatap pigura tersebut lebih lama karena tak lama lagi ia akan menangis.
“Bright, gue nggak tau lo di mana, tapi kenapa pas lihat foto lo aja… hati gue rasanya sakit lagi?” Monolognya sambil tertawa hambar. Lalu mengambil kotak cincin pemberian Bright saat itu.
Iya. Hadiah anniversary mereka yang ke satu tahun. Metawin ingat betul heart break anniversary mereka yang berlangsung menyakitkan. Walaupun akhirnya berbaikan lagi.
Ia membuka kotak cincin tersebut. Menatapnya dengan binar mata redup. Otaknya secara otomatis pun memutarkan beberapa kenangan mereka dahulu-dahulu. Masih terekam jelas dan tak ada satupun yang ia buang. Semuanya, perjalanan kisah mereka, Metawin tak tega untuk melupakannya. Katanya, sih, biar tersimpan dengan sendirinya tanpa harus dibuang. Walaupun memang banyak sakitnya, tapi kitalah karakter utama yang menjalani semua itu. Diri kita versi yang lama, diri dia versi yang lama. Sayang juga kalau harus ia lupakan begitu saja.
Kala melihatnya, Metawin tertawa lagi. Cincin tersebut terukir angka satu sampai dua belas bertuliskan angka romawi. Dua belas, dengan arti dua belas bulan. Yakni satu tahun, hubungan mereka kala itu.
“Hahaha.. kalau nggak putus, kayaknya udah delapan tahun ya, Ka? Ibaratnya kalau besarin anak, udah masuk SD.” Ujarnya lalu tersenyum tipis.
Hingga tak terasa, Metawin berdiam di hadapan box tersebut dalam waktu lima belas menit. Tak terasa juga, air matanya mengalir tanpa persetujuannya. Kepalanya pun menunduk, sambil menggigit bibirnya, kedua mata Metawin pun terpejam. Jari-jarinya pun meremat ujung box tersebut dengan kuat-kuat. Melampiaskan rasa kemarahannya di sana.
“Ta.. udah lah, Shaka nggak akan pernah balik buat lo. Dia aja pergi nggak bilang-bilang, kok. Buat apa lo berharap yang nggak seharusnya lo harapin?” Katanya sambil meremat bajunya sendiri hingga kusut. Dadanya merasa sesak seperti dua tahun yang lalu. Rasanya masih sama, seperti ditinggalkan Bright untuk pertama kalinya.
“Iya, lo udah mau nikah, Metawin. Udah.. lo nggak usah nangisin dia lagi. Bright, udah nggak ada. Dia nggak ada lagi di hidup lo. Stop mikirin yang nggak-nggak. Udah ada Abel di sini, bukan Shaka..”
Ia lalu mengelap air matanya lalu tersenyum hambar. Membereskan barang-barang lalu memasukkannya ke dalam box lagi. Menutupnya rapat-rapat, lalu kembali menyimpannya.
“Ka, tapi kalo lo tiba-tiba balik ke Jakarta, gue cuma mau bilang, gue udah nemu kebahagiaan gue sendiri.. Semoga lo nemu bahagianya lo ya, Shaka.” Katanya dalam hati lalu berdiri dengan kaki gemetar. Ia terdiam beberapa saat, menatap ke arah depan dengan pandangan kosong.
“Semoga lo baik-baik aja di Kanada.”