543 epilog
tok tok
Metawin mengetuk pintu rumah Harit dengan tergesa. Air matanya bahkan sudah mengering di pipi sejak tadi. Dadanya terasa panas, terbakar, ingin menangis kembali namun tidak bisa. Karena, sepanjang perjalanan dirinya dari makam untuk ke rumah Harit, dirinya sudah cukup mengering hingga rasanya tidak bisa lagi.
tok tok
Nafasnya tidak karuan. Tangan kanannya bahkan terangkat, menutupi bibirnya yang bergetar serta merah hampir berdarah karena terlalu lama ia gigit untuk meluapkan segala emosi serta kekecewaan yang ada. Dirinya terlalu syok hingga rak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, kala Bright mengirimkan direct message di twitter, sepanjang Metawin mengetikkan beberapa kata, air matanya tak berhenti untuk keluar. Hingga rasanya pandangannya mengabur, kedua iris matanya sakit karena terlalu banyak ia paksakan mengeluarkan beberapa ratus tetes air mata. Keadaannya bahkan bisa dikatakan kacau. Kedua matanya memerah membengkak. Rambutnya berantakan.
Baru saja satu hari mereka bertemu, sudah memberikan dampak serta efek besar pada Metawin. Kesedihan itu datang lagi, menghampirinya setelah dua tahun ia tak menangis karena Bright lagi.
Jiwanya terasa kosong serta hampa. Kepalanya pening. Hidungnya memerah, cairan dari hidungnya sedari tadi keluar terus menerus selama dadanya masih sesak karena belum puas mengeluarkan tangisannya lagi.
klek
Knop pintu terputar, Metawin mundur beberapa langkah lalu mengusap air matanya yang turun menuruni pipi dengan kasar. Ia menarik nafas, lalu mengangkat kedua sudut bibirnya kala pintu tersebut terbuka dengan lebar dan menampakkan Harit yang mengenakan pakaian santai. Wajahnya terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur.
“Siapa sih yang dateng jam segini, ganggu tidur gue aja.” Ujarnya sambil menggaruk tengkuk dengan kedua mata yang masih tertutup rapat. Menguap, kemudian pemuda itu mengangkat wajahnya lalu membuka kedua netra. Dirinya terkejut, mendapati Metawin dengan keadaan kacau nya datang serta berdiri dihadapannya sekarang.
Tanpa harus ia tanyakan lagi, tanpa harus berbicara lagi, Harit membuka kedua tangannya. Mempersilahkan Metawin untuk berhambur ke dalam pelukannya sekarang. Ia tahu, ia tahu persis jika keadaan temannya ini sangatlah tidak baik-baik saja. Harit tahu, hanya dalam sekali lhat, Harit tahu Metawin sangat kacau tanpa harus bertanya lagi.
Begitupun juga dengan Metawin, pemuda itu tersenyum hambar dan langsung mengerti maksud temannya. Harit selalu mengerti bagaimana keadaannya sekarang tanpa dia harus menceritakan semuanya. Kedua tungkai Metawin lalu melangkah ke depan, mendekat ke arah Harit lalu memeluknya dengan erat. Menyandarkan dagunya pada pundak kokoh temannya. Lalu.. menangis lagi.
Tangisan Metawin terdengar sangat pilu, menyesakkan hati. Menjerit sangat keras di telinga, seakan meraung-raung sedang meminta pertolongan. Metawin tampak hancur berantakan hingga Harit tak tega untuk bertanya. Dan, yang hanya ia lakukan hanylah menepuk-nepuk pundak Metawin pelan. Mengusap-ngusap punggung anak itu yang bergetar hebat.
“Kenapa, Met?” Tanyanya dengan suara lembut.
“Shaka..” Metawin menjawab pertanyaan Harit dengan suara yang tersendat. Susah payah ia mengambil nafasnya sambil meremat pakaian yang Harit kenakan. Air matanya luruh dengan deras, membasahi bahu temannya itu.
“Shaka kenapa?”
“G-gue.. ketemu dia.”
Harit terkesiap lalu mematung di tempat. Ia diam, mendengarkan ucapan Metawin selanjutnya. Karena menurutnya, Metawin seperti sedang syok karena mungkin bertemu dengan mantan pacarnya itusecara tiba-tiba setelah sekian lama, setelah hilang tanpa kabar seperti hilang tertelan oleh samudera. Seakan hilang namun bayangannya masih ada, menghantui temannya itu untuk beberapa tahun.
“Met, mau masuk dulu nggak?” Katanya mencoba menenangkan. Lalu melepas pelukan temannya ini. Menatap Metawin dengan sorot pandang khawatir. “Capek kan nyetir mobil sendirian sambil nangis? Masuk dulu, gue bikinin minum, ya?”
Metawin mengangguk. Tanpa bersuara, ia lalu melangkahkan kedua kakinya mengekori Harit dari belakang. Sementara temannya berjalan lebih dahulu, Metawin pun duduk di sofa ruang tamu. Memijit kepalanya akibat pusing yang menjalar di sekitar kepalanya. Menjengut kecil rambut-rambutnya karena tak mampu menahan pening lagi akbat menangis terlalu lama. Menangis seorang yang sudah meninggalkannya secara tiba-tiba, lalu muncul kembali pada radarnya secara tiba-tiba juga.
“Nih.” Harit meletakkan segelas air putih di atas meja. Kembali dia mendudukkan bokongnya pada sofa di hadapan Metawin. Raut wajahnya tampak bingung, namun tak ingin bertanya dulu sebelum ia memastikan Metawin ingin bercerita. Keadaan temannya sekarang belum bisa dikatakan sedang baik-baik saja.
Yah.. bertemu dengan seorang yang hampir membuat trauma yang cukup dalam bukanlah cukup menyakitkan? Bingung, kecewa, sedih, bercampur menjadi satu.
“Minum dulu. Kalo udah siap buat cerita, cerita aja.”
Metawin tak segera minum segelas air mineral yang Harit berikan. Ia mengangkat kepalanya, lalu menghembuskan nafas. Kemudian membuka mulut.
“Gue bingung.”
“Bingung kenapa?”
Metawin menggigit bibir bawahnya sendiri. “Gue bingung, sama perasaan gue sendiri.”
“Emang kenapa? Lo ketemu dia emang habis ngomong apa?”
“Gue..” Metawin menarik nafasnya dalam-dalam. Mengisi paru-parunya dengan oksigen banyak-banyak sebelum dirinya ingin mengangkat suara. Kedua tangannya bahkan bergetar, hingga dirinya harus terpaksa menggenggam jari-jarinya sendiri. Panik. Itu lah yang ia rasakan sekarang. Rasanya, ia seperti orang jahat sehabis membaca bubble chat terakhir yang Bright kirimkan padanya.
“Maksudnya, Shaka, dia ngajak gue ketemuan, dia mau ngobrolin dan katanya mau selesaiin semuanya tapi—”
“Tapi lo nolak?”
Strike. Harit berhasil menebak tebakkannya hanya dengan memperhatikan raut wajahnya yang ragu. Metawin terdiam beberapa saat sembari menggigit pipi dalamnya. Enggan menatap Harit yang seakan tahu apa isi hatinya sekarang.
“Kenapa kok nolak?” Harit menerka lagi.
“Karena.. emang apa yang harus diselesaiin lagi? Bukannya emang udah selesai dari dulu? Dari tujuh tahun yang lalu udah selesai, kan? Kenapa sekarang dia datang lagi dan pengen kelarin semuanya?” Metawin menyerbu Harit dengan beberapa pertanyaan hanya dengan satu tarikan nafas. Suaranya terdengar sangat parau serta serak hampir saja hilang serta mengecil. “Harit, gue nggak ngerti jalan pikiran dia serius. Kenapa gue kayak keliatan jadi orang jahat disini? Kenapa dia nggak ada rasa bersalah sama sekali setelah ninggalin gue gitu aja?”
“Met,” Harit sudah tahu letak akar permasalahannya di mana. Pemuda itu jadinya menegapkan tubuhnya, menatap Metawin dengan lurus-lurus. Mengunci pergerakan bola mata Metawin agar tidak kemana-mana. Ia tahu, temannya ini sedang panik hingga jalan pikirannya buntu dan juga keruh.
“Menurut lo, kalau dia nggak ada rasa bersalah sama sekali, emang dia bakal nemuin lo? Atas dasar apa kalo dia nemuin lo tapi nggak ada rasa bersalah sama sekali, Win?”
Nada bicara Harit sudah terdengar sangat serius. Terbukti saat pemuda itu menyebutkan nama asli Metawin dan juga tatapannya yang seperti sedang melubangi kepalanya. Metawin terdiam, dirinya sangat gelisah.
“Gue rasa emang lo masih denial. Win. Ayo dong, jangan denial lagi.”
“Kok lo ngatain gue denial, sih? Gue disini cuma mau cerita, Rit. Bukan dengerin lo ngatain gue terus.” Metawin menjawab dengan ada bicaranya yang meninggi. Menatap Harit dengan sinis menggunakan kedua matanya yang merah membengkak. Ia lantas berkedip lama, lalu menutup kedua matanya menggunakan tangan, air matanya merembas lagi. Pemuda itu pun menunduk, lalu mengambil nafasnya dengan susah payah.
“Win, please gue kayaknya bakal bosan kalau ngomong ini terus. Iya tau lo udah punya Abel, iya tau lo udah mau nikah, tapi apa lo tega kalo lo belum selesaiin masa lalu lo tapi udah buka buku baru sama orang lain?”
“Harit, gue udah selesai. Hubungan gue, urusan gue, udah selesai dari lama. Gue bingung.. kenapa lo terus-terusan salahin gue atas ini?”
“Win, gue nggak nyalahin diri lo. Nggak pernah. Gue cuma minta lo berpikir dengan otak jernih. Kalau lo emang udah selesai sama Shaka, terus kenapa lo datang nangis-nangis kesini? Katanya emang udah selesai, kenapa lo masih nangisin dia? Kenapa lo masih mikirin dia?”
Metawin terdiam. Mendengarkan perkataan Harit yang mengenai hatinya secara langsung. Terdengar helaan nafas dari Harit, helaan nafasnya pun terdengar sangat pasrah atas topik yang sedang mereka bicarakan.
“Win, mungkin lo nggak tau ini. Lo berdua itu sama-sama hancur karena pisah. Bahkan Shaka sekalipun, dia ngubah dirinya sendiri di Kanada selama itu. Win, bukan lo doang yang hancur, bukan lo doang yang merasa paling tersakiti. Please ayo sadar.”
“Terus kenapa kalo dia hancur, Rit? Dia juga udah bikin gue sehancur ini. Dia udah bikin gue frustasi bertahun-tahun. Lo nggak kasihan sama gue?” Metawin menjawab dengan nafasnya yang mengebu-ngebu. Emosinya sudah tumpah, berceceran. Air mukanya sudah tergantikan dengan kekesalan akibat Harit berkata yang tidak semestinya.
“Win harusnya lo mikir kenapa hubungan lo berdua bisa kayak gini? Lo pernah ngehargain sikap dia? Lo pernah nerima dia 100% selama pacaran? Win, orang mana yang nggak capek dituntut terus-terusan dan nggak pernah merasa puas? Lo kalau disalahin terus-terusan dari awal emang bakal tahan?”
“Jangan childish kayak gini, tolong. Lo temen gue, Win. Ayo dewasa, umur lo bukan umur remaja lagi.”
“Tapi dia egois ninggalin gue gitu aja! Dia nggak seharusnya kayak gitu, Harit.. dia harusnya bilang ke gue dan kelarin akar permasalahannya. Bukan menjauh dari masalah terus dateng-dateng pas gue udah mau nikah.”
“Justru karena lo udah mau nikah, dia butuh selesaiin semuanya. Win, dihantuin rasa bersalah bertahun-tahun juga nggak enak. Shaka belum bisa ngelepas lo walaupun lo udah jauh dari dia juga. Makanya dia mau selesaiin ini biar bisa damai sama masa lalu nya,” Harit berkata dengan nada yang ia sesuaikan agar Metawin tidak terpancing emosi lagi. “Sumpah, gue nggak nyalahin lo, Metawin. Sama sekali nggak. Gue setuju kalau Shaka mau selesaiin ini sama lo. Karena mungkin menurut dia, pertemuan terakhir lo sama dia di bandara itu singkat banget, Win. Padahal masih banyak yang mau lo berdua omongin.”
“Saling memaafkan satu sama lain itu nggak buruk, Metawin. Lo berdua emang harus bener-bener lepas terus ikhlas. Shaka juga nggak minta lo buat balik lagi, kok.”
“Tapi menurut gue itu udah selesai, Harit. Lo mau ngomongin apalagi emang?”
“Win, kalo belum selesai kenapa lo datang-datang nangis ke gue gini? Kalo udah selesai, harusnya lo biasa aja tanggepinnya bukan galau kayak gini. Jangan denial, gue tau lo, Metawin.” Harit lalu bangkit dari duduknya, mengambil tisu lalu memberikannya pada Metawin. “Pikirin lagi ucapan gue, Met. Nggak ada buruknya juga kok lo nemuin dia. Omongin baik-baik, selesaiin yang harusnya lo berdua selesaiin. everything will be over if you talk the best as you can.”
“Satu lagi, lo kan emang mau nikah sama Abel, emang lo bisa jalanin pernikahan lo sementara masih ada sesuatu yang ngeganjel? Rasa penasaran yang emang belum kejawab semuanya? Lo bisa?”
Metawin terdiam. Lagi-lagi, ucapan Harit benar dan seakan memukulnya dengan kencang.
Harit tersenyum tipis. “Nggak bisa, kan?”