544 epilog

Shaka's pov

Sudah satu hari sejak pertemuan tiba-tiba gue dengan Metawin, yang sekarang gue lakukan hanyalah duduk terdiam di kamar yang sudah lama gue tinggalin. Gue nggak mood untuk ngapa-ngapain. Pandangan serta tatapan gue cenderung kosong dan gue lebih banyak diamnya. Sampai-sampai, Runa harus mengantarkan makanan ke kamar gue karena gue ogah untuk keluar kamar.

Gue merasa nggak enak. Padahal, tujuan gue awalnya pulang adalah untuk menemui keluarga serta teman-teman yang udah nggak ketemu beberapa tahun lamanya. Tapi, dengan seenaknya gue malah mengurung diri di dalam kamar hingga malas makan.

“Hah....” Gue menghembuskan nafas setelah mengambil nafas dengan dalam-dalam. “Anaknya emang nggak mau nemuin gue kayaknya.. padahal masih banyak yang mau gue omongin.” Kata gue lalu tertawa miris. Lebih tepatnya, gue udah nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain Metawin udah mau jadi milik orang, udah mau nikah juga, seharusnya gue bisa kayak Metawin. Seharusnya, gue udah bisa lupain dia daripada harus stuck pada keadaan yang sama.

Kedua sudut bibir gue pun terangkat. Membentuk sebuah senyuman yang seharusnya menjadi senyuman karena senang bisa ketemu Metawin lagi setelah sekian lama gue menghilang untuk mencari kesenangan tersendiri. Namun, malah menjadi senyum yang paling miris serta sakit sendiri pas gue bercermin melihat wajah gue sendiri.

Gue sadar, gue sama Metawin udah nggak bisa bersama lagi. Jalan serta tujuan kami sudah jelas beda. Metawin udah bisa melangkahkan kakinya sendirian, sesuai dengan perintah gue saat itu, find your happiness karena kebahagian kamu bukan aku, dan benar, Metawin benar-benar melakukannya.

“Hahaha..” Gue tertawa. Hambar rasanya. Gue menerima kenyataan pahit yang masih belum bisa gue terima. Gue harus rela walaupun hati gue benar-benar nggak rela. Gue harus bisa mulai membuka lembaran buku baru gue dan menyimpan kenangan yang pada masanya adalah masa paling indah yang pernah terjadi pada hidup gue.

Dan pada akhirnya, semuanya memang berakhir seperti ini. Metawin yang udah mendapatkan tujuannya sendiri, sementara gue masih belum bisa lupain orang yang tadinya adalah menjadi alasan terbesar gue untuk bertahan hidup setelah kedua orangtua gue dan adik perempuan gue sendiri.

Dan pada akhirnya juga, gue akan berakhir dengan kesalahan fatal yang nggak pernah bisa gue lupakan.

“Yaudahlah, mau gimana lagi.” Kata gue pada diri gue sendiri saat gue udah nggak tahu lagi dan nggak bisa menemukan titik terang di hidup gue lagi.

Gue akhirnya bangkit dari atas kasur untuk pergi ke kamar mandi dan segera mandi. Yaudahlah, emang benar katanya. Masalah kita berdua udah selesai dari dulu dan nggak ada yang harus diselesaiin lagi. Emang guenya aja mungkin yang pengen selesaiin semuanya karena gue rasa emang belum selesai. Pertemuan terakhir kami saja di bandara yang artinya sangat mepet dengan jam penerbangan gue. Pesan-pesan terakhir juga sangat singkat. Dan gue pikir, hari ini, atau seminggu ini gue bisa selesaiin semuanya karena jujur ajague mau hidup tenang entah sampai kapan tanpa harus dihantui oleh rasa bersalah.

Dan yah.. semuanya itu memang cuma andai-andai gue aja. Gue bakal tetap melanjutkan hidup gue yang seperti ini dengan rasa mengganjel yang ada. Harus ngelupain semuanya pelan-pelan aja entah sampai kapan juga.

Tangan gue lalu terulur untuk mengambil handuk, dan menyampirkannya di pundak. Mengambil ponsel sekaligus untuk melihat apakah ada chat penting masuk dari bilah notifikasi.

ting!

Bersamaan dengan itu, notifikasi dari direct messge twitter pun berbunyi. Dengan malas, gue menggerakkan jari untuk membuka isi dm tersebut karena kayaknya nggak terlalu penting. Kayaknya dari Guns atau Mike yang mengirimkan tweets aneh-aneh atau menitipkan link haram pada gue. Memang definisi teman yang minta untuk dibaptis lagi.

Namun, saat membaca isi dm tersebut, melihat foto profil serta username yang terpampang jelas di layar, membuat gue mengucek kedua mata gue lalu melihat ke arah layar lagi. Memastikan apakah gue salah baca atau tidak.

Dan ternyata, gue beneran nggak salah baca.