537 epilog
Perjalanan Canada – Jakarta memang cukup melelahkan. Menginjakkan kaki di Jakarta baru satu jam, Bright sudah menancapkan gasnya ke rumah Metawin. Mendatangi anak itu hanya untuk memberikan selamat atas pernikahannya. Dan juga.. memastikan kabar Metawin apakah anak itu baik-baik saja atau tidak.
Ironisnya, rumah yang ditempati Metawin dulu kosong. Tidak ada siapa-siapa dan tidak ada tanda-tanda kehadiran akan seseorang. Bertanya pada tetangga sekitar, ternyata Metawin sudah pindah rumah beberapa bulan yang lalu. Dan Bright, hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu menganggukkan kepala sambil mengulas senyum.
Semilir angin, menerpa kulitnya. Bright kini berdiri, disebelah pusara bertuliskan nama Azahra Floresa. Meninggal 7 tahun yang lalu, bertepatan dengan 3 bulan semenjak dirinya pergi meninggalkan Jakarta.
Bright menatap pusara itu dengan tatapan kosong, lalu berjongkok sembari memegang batu nisan. Ia menundukkan kepala, mengucapkan doa-doa pada teman kecilnya itu. Walaupun Ara adalah sosok gadis menyebalkan dan sangat mengganggunya dulu, Bright tak dapat mengelak bahwa, Ara ini adalah teman kecilnya. Ia bahkan tak menyangka saat mendapatkan kabar bahwa Ara sudah meninggal, dipanggil oleh yang maha kuasa karena percobaan bunuh diri yang gadis itu lakukan. Ara tewas tenggelam karena menyeburkan dirinya pada sungai yang dalam.
Bright menghela nafasnya. Bahkan, semenjak Bright pergi, Ara perlahan-lahan sudah merubah dirinya ke arah yang lebih baik. Gadis itu sering ikut dalam kegiatan di panti sosial. Bright dapat melihatnya dalam sosial media instagram anak itu. Namun entah kenapa, 3 bulan berlalu, Bright mendengar kabar yang tidak mengenakkan.
Gadis itu telah pergi, untuk selama-lamanya dalam keadaan yang tak pernah ia duga-duga.
Bright menangkup wajahnya. Dalam hati, ia berdoa terus menerus agar temannya itu bisa tenang di sisi Tuhan. Mungkin, Ara mengakhiri hidupnya karena tak bisa menahan semuanya lagi sendirian. Terlebih, Bright sudah tidak ada. Keluarga Bright juga sudah tidak menerimanya. Memangnya, ia harus bergantung hidup dengan siapa lagi?
“Ra, maaf baru datang. 7 tahun waktu yang lama emang. Sorry..” Lirihnya sambil tersenyum. Bright tak dapat menyimpan kesedihannya lagi. Tangisannya pun pecah, ia tak bisa membendung tangisannya lebih lama. Mendapati fakta bahwa teman kecilnya sudah tidak ada karena bunuh diri, membuat Bright sedih bukan main. Walaupun anak itu sering membuat onar di dalam hubungannya dengan Metawin dulu, namun itu adalah masa lalu yang harus dimaafkan agar temannya tenang di sana. Ia juga tak bisa menyimpan dendam lebih lama, Ara lebih membutuhkan doa daripada rasa kesal dan dendam yang terus ia simpan.
Lagipula, semuanya juga sudah sia-sia. Ia dendam sekalipun, tak ada yang bisa ia rubah. Semua takdir sudah digariskan bersamaan, dan ia tak bisa menganggunya lagi.
Bright termenung. Menatap pusara dengan genangan air mata yang berair. Duduk di sebelah batu nisan. Hingga, ada pemuda yang meletakkan bunga di atas pusara, mengejutkan Bright sampai-sampai ia harus mengangkat kepalanya.
Kedua bola matanya pun melebar. Bright mematung. Melihat siapa pemuda yang kini ada dihadapannya. Berdiri dengan jaket yang ia kenakan. Parfum yang masih ia kenal, dan juga postur tubuh yang tidak berubah.
Yang ditatap pun juga sama terkejutnya. Ia mencengkram jaket yang ia kenakan, menatap kedua netra Bright dengan bibir yang gemetar.
Bright lalu berdiri, menatap pemuda itu dari atas sampai bawah. Keduanya hanya terpaut jarak beberapa senti, berada diantara pusara milik Ara. Keduanya sama-sama saling tatap, nafas yang berderu pelan. Hingga akhirnya, salah satu ada yang membuka suara.
“Long time no see, Ta.”
Dan yang disapa, hanya mematung di tempat. Sambil merutuk dalam hati,
seharusnya gue nggak kesini..