Rere

“Shak, ini lo serius? Bakal ninggalin Jakarta? Lo yakin? Udah mikirin ini matang-matang belum?”

Ucapan Mike pun terdengar memecah keheningan. Bright dengan segera mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arah sumber suara. Raut wajahnya tak terbaca: karena dirinya sedang merasakan beberapa emosi yang bercampur aduk. Sedih dan kecewa menjadi satu. Patah hati serta kenangan manis yang tertinggal disini masih melekat. Air matanya ingin keluar, lagi. Namun rasanya, ia merasa tak pantas untuk menangis lagi. Ia sudah cukup banyak membuat Metawin, mantan pacarnya, menangis terlalu lama. Bright sadar, dirinya memang egois karena meninggalkan pemuda manis itu secara tiba-tiba.

Namun, mau bagaimana lagi? Ia juga perlu membuat dirinya untuk sedikit lebih baik. Memperbaiki dirinya sendiri sendirian hingga menjerit sampai tak ada orang yang mendengar. Setidaknya, menjauh itu lebih perlu. Dari pada keduanya masih berputar pada kenangan lama dan sama secara terus-menerus.

Bright tahu, Metawin pasti akan merasa sedih pasca kepergiannya. Tapi, pasti tak akan berlangsung lama. Sebulan dua bulan, bahkan tiga bulan, pemuda itu cepat atau lambat melupakannya. Walau harus berusaha dengan cara yang menyakitkan. Setidaknya Bright dan Metawin harus benar-benar saling melepaskan. Mengikhlaskan satu sama lain, tanpa ada dendam di hati masing-masing.

“Udah.” Katanya menjawab pertanyaan Mike setelah dirinya terdiam untuk beberapa detik. Pemuda itu meremas jari-jarinya sendiri, menarik-nariknya, karena melampiaskan rasa sedih yang tertahan. Sedikit berat untuk pergi dari kota kelahirannya. Kota yang membuat dirinya merasakan banyak kenangan indah yang perlu untuk dikenang. “Gue udah pikirin, kok.” Sambungnya lagi hingga Guns serta Mike sendiri pun menghela nafasnya.

Bingung.

Kedua sahabat Bright bingung kala mendengar keputusan bulat tanpa diganggu gugat oleh sang empunya. Bright keras kepala, namun mereka tak bisa mencegahnya. Bright pun sudah dewasa dan tahu akan resiko dari segala keputusan yang ia buat. Bright bukanlah lagi remaja tujuh belas tahun, tapi pemuda itu sudah beranjak dewasa dengan umur yang sudah kepala dua.

“Oke, kalau itu mau lo deh, Bright.” Guns menjawab dengan menganggukkan kepalanya ringan. Sudah pasrah mau gimana lagi membujuk Bright agar membatalkan penerbangannya ke Canada. Namun sia-sia. Nihil usahanya, Bright tetap keras kepala. “Lo tapi udah pamitan sama Metawin, kan?”

Yang ditanya hanya diam. Ingin menjawab, namun ia ingat kejadian kemarin malam kala Abel memeluk Metawin tepat di depan teras rumah milik Win. Hatinya terasa diremuk dan dihantam bertubi-tubi tanpa ampun. Melihatnya, rasa sesaknya pun menjalar hingga kepalanya pusing. Kakinya bergetar, hingga akhirnya ia masuk ke dalam mobil kembali dan menginjakkan gas mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Metawin.

Sakit. Bright merasakan itu sangat sakit baginya. Ingin melarang pun, ia sudah tak bisa lagi. Sudah nggak ada lagi hak-hak yang harus ia perjuangkan. Hubungannya sudah berakhir, dan keduanya memang sama-sama harus mengiyakan kepergian satu sama lain.

“Gue kemarin udah kesana, kok. Tapi..” Pemuda itu menggantungkan kalimatnya. Ia menggigit bibir. “Nggak jadi. Meta lagi pelukan sama Abel,” sambungnya dengan suara yang serak serta bergetar. “Gue nggak enak. Jadinya pulang.”

“Oh…” Mike hanya bisa merespon seperti itu. Sedikit terkejut mendengarnya namun juga tak heran. Abel dan Metawin memang ia lihat dekat akhir-akhir ini di kampus. Sering pulang bersama dan kadang, Abel sengaja menunggu Metawin sampai anak itu selesai kelas.

“Nggak apa-apa, sob. Sedih aja. Perasaan lo valid, kok. Sedihnya jangan ditahan.” Guns menepuk punggung Bright, memberikan pemuda itu ketenangan setelah beberapa kali patah hati karena putus cinta. Namun kali ini, sepertinya sakitnya terasa double dan berkali-kali lipat.

Bright hanya bisa diam sambil menundukkan kepala. Ia tak bisa lagi membendung tangisannya lagi. Entah ini sudah yang keberapa, namun rasanya ia perlu untuk menangis lebih lama sebelum benar-benar meninggalkan Jakarta.

Menangis dalam diam, tak pernah bercerita oleh siapapun, menahan serta memendamnya untuk seorang Bright Shaka yang terkenal dengan pemuda dingin kulkas 20 pintu memang sangatlah menyakitkan. Bright orang yang sangat tertutup dan sukar untuk bercerita. Pemuda itu lebih memilih untuk memendam semuanya sampai—dirinya sudah dikatakan dalam titik limit. Tak bisa untuk menanggung semuanya, hingga kala menangis pun, tak bisa berhenti lagi sampai pusing.

“Bright, ayo. Sudah waktunya kamu masuk pesawat.”

Suara Papa Bright menginterupsi ketiganya. Bright mengangkat kepalanya lalu mengelap air mata yang telah keluar dari sudut. Menyeret kopernya lalu berdiri dengan kaki yang masih lemas dan gemetar.

Ia masih tak menyangka, bahwa hubungan mereka memiliki ending yang sangat tragis dan semesta memberikan takdir yang tak pernah ia duga-duga.

“Sekarang banget, kah, Om???”

Papa Bright menjawab pertanyaan Mike dengan anggukkan kepala. “Iya, nih. Sudah jam segini.” Jawabnya menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Menunjukkan pukul sebelas lewat 10.

Guns Mike menatap Bright lalu memasang raut wajah sedih. Merasa seperti kehilangan teman hampir 6 tahun lamanya bersama. Seperti ada yang kurang. Hingga mereka berpikir, Emang ada yang bisa gantiin Bright walaupun anaknya menyebalkan seperti ini?

Yah, tidak ada. Se-menyebalkannya teman, seburuk-buruknya Bright, Bright tetap temannya. Bright tetap hanya seorang pemuda dingin yang membutuhkan barang satu atau dua teman yang selalu disisinya. Pemuda itu masih membutuhkan caranya bersosialisasi.

“Yah, cepet banget.” Guns berujar lalu Bright tertawa sebentar. Bright menepuk pundak temannya perlahan, lalu mengulas senyumnya.

“Thanks ya, udah jadi teman gue selama ini. Sorry gue banyak kurangnya sama kalian.” Katanya sambil membetulkan ransel di pundak dan menatap Guns serta Mike bergantian. “Maaf misal gue ada salah. Gue minta maaf atas itu. Gue nggak tahu bakal balik kapan, semoga nggak lama, ya.”

“Shak, jangan gini dong ah.” Mike lalu memeluk Bright disusul oleh Guns juga. Memeluk temannya serta mendekapnya dengan erat. Memeluk Bright untuk terakhir kalinya karena mereka tak tahu harus berjumpa dengan Bright kapan lagi. Setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun mendatang.

“Sorry juga ya, Shaka. Kalau gue brengsek jadi teman. Sorry kalau gue nggak bisa diandalkan. Jangan lupa senang-senang lo disana, jangan lupain gue sama Mike.”

Bright tertawa. “Ya enggak.” Jawabnya lalu menepuk-nepuk punggung kedua temannya. “Makasih ya.”

Pada akhirnya, Bright mengerti bagaimana rasanya mempunyai teman yang selalu ada disisinya. Selalu siap untuk mendengar walaupun dirinya tak bisa untuk bercerita. Selalu siap untuk menanggung keluh kesahnya walaupun dirinya tak bisa menjelaskan segala kerumitan yang ia alami. Selalu siap untuk bilang, “Shaka kalo ada apa-apa bilang kita-kita aja.” Dan Bright rasanya tak siap juga untuk meninggalkan kedua temannya.

Lebih tepatnya, tak siap untuk meninggalkan semuanya.

Setelah acara berpamitan selesai, Bright melangkahkan kedua tungkainya sambil menyeret kopernya mengikuti Papa dari belakang. Sesekali, Bright menoleh ke arah belakang, menatap kedua temannya yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangan.

Bright tersenyum hambar. Merasakan ada yang kurang. Merasakan ada yang salah disana.

Metawin tidak ada..

Hahaha, emang lo bakal berharap apa, Bright?

Seharusnya, Metawin disana. Di Antara kedua temannya berdiri sambil tersenyum lalu melambaikan tangan. Atau, memeluk Bright untuk terakhir kalinya. Mengucapkan kata selamat tinggal walaupun sebenarnya ia tak ingin.

Dan itu hanyalah khayalan Bright semata. Khayalan yang tak bisa Bright dapatkan. Dan sekali lagi, Bright harus merelakan semuanya. Merelakan kepingan memori yang tertinggal, dan merelakan Metawin pergi dari hadapannya. Menjemput kebahagiaannya sendiri, dan fokus pada jalan masing-masing.

Karena, walaupun harus diteruskan lagi hubungan mereka, isi otak keduanya sudah tak sama. Jalan yang diambil pun juga sudah berbeda arah. Lalu, apalagi yang harus dipertahankan?

“Shaka.”

Bright mengangkat kepala, menoleh ke arah Papanya.

“Ya?”

“Ada yang lagi kamu tunggu?”

Seakan tahu apa isi arti Bright, Bright hanya bisa terdiam dengan pertanyaan sang Ayah. Lalu, jawaban yang ia berikan hanyalah mengangguk.

“Nggak ada.”

“Metawin?”

“Kenapa?”

“Dia nggak kesini?”

“Kayaknya nggak, Pa.” Bright tersenyum kecil lalu tertawa pelan. Menyembunyikan luka yang merobek hatinya hingga ia merasakan nyeri yang amat hebat. Pemuda itu bahkan terus menahan air matanya yang akan luruh jika ia mengedip sedikit saja. “Jalan aja. Nanti ketinggalan pesawat.”

Papa hanya bisa menatap anaknya yang sedang menyembunyikan sesuatu. Firasatnya mungkin benar jika Bright benar-benar mengharapkan Metawin disini. Namun nyatanya, anak itu tidak ada disini dan menatap kepergian Bright sambil melambaikan tangan.

“Okay, ayo.”

Papanya berjalan terlebih dahulu, namun Bright masih terdiam di sana lalu menoleh ke arah belakang.

Menunggu, dan terus menunggu kedatangan Metawin.

Namun rasanya nihil. Sia-sia. Metawin tak akan pernah menyusulnya.

Haha, dia nggak bakal kesini, Bright.. jalan aja..

Pemuda itu menghembuskan nafasnya, lalu kembali menyeret koper dan melangkahkan kedua tungkainya. Pemuda itu berjalan dengan langkah gontai dengan kepala yang tertunduk ke bawah. Sambil terus membuat pengharapan kalau ada keajaiban datang: Metawin datang kesini, dan memanggilnya dengan suara lantang.

“BRIGHT!”

Bright berhenti melangkahkan kakinya. Merasakan ada satu panggilan familiar yang menyapa telinga.

“SHAKA!”

Yang mempunyai nama pun merasa terpanggil. Lantas, Bright menoleh ke arah belakang.

“JANGAN JALAN DULU!”

Mendapati Metawin yang sedang berlari beberapa meter darinya, sambil menggenggam kertas di tangan kanannya.

Kedua bola mata Bright pun melebar. Koper yang sedari tadi ia genggam pun terlepas, lalu maju beberapa langkah mendekat ke arah Metawin yang sedang berlari.

Nafas pemuda manis itu terengah-engah. Keringat bercucuran mengalir di pelipisnya. Kedua matanya merah membengkak. Tersenyum kecil saat melihat Bright yang semakin lama semakin jelas dari pandangan.

Lalu, sampai saatnya—Metawin menubruk badan besar Bright dan segera memeluknya. Menangis di pundak pemuda itu kencang-kencang. Mendekapnya, lalu menghirup aroma parfum khas milik mantan pacarnya itu.

“Jangan pergi.”

“Gue nggak mau lo pergi.”

“Disini aja please.”

“Lo jahat banget kalo pergi.”

Bright terdiam, namun kedua tangannya pun terangkat dan membalas pelukan Metawin dalam diamnya. Mendekap pemuda itu untuk terakhir kali, dan menenggelamkan wajahnya di pundak Metawin. Keduanya pun menangis, bedanya; Metawin menangis hingga terdengar. Suara tangisannya sangat pilu hingga rasanya tak ingin melepaskan pelukannya dengan Bright.

Dan Bright, ia menangis hingga tak bisa mengeluarkan suara. Menggigit bibir bawahnya, lalu mengelus punggung Metawin dengan lembut.

“Meta, maaf.”

“Bukan itu jawaban yang gue mau.”

“Aku minta maaf sama kamu.. ya?”

“Nggak.. nggak.. tolong jangan pergi. Iya kita udah putus, tapi jangan pergi please?” Metawin menggeleng kuat. Melepaskan pelukan mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua matanya menatap Bright lurus-lurus. Raut wajahnya sangat ketara sekali kesedihan yang tak ada habisnya. Metawin pun menggigit bibir, meremat kuat jaket yang Bright kenakan.

“Ta, tapi aku harus pergi.” Bright menjawab dengan senyuman yang mengembang tipis. Satu tangan kanan miliknya pun terangkat ke atas, mengusap kening Metawin yang berkeringat, lalu menyibakkannya agar anak rambut milik Metawin tak menutupi kedua bola mata bundarnya. “Maaf.” Ujarnya sekali lagi.

“Nggak boleh. Nggak, nggak boleh, Shaka. Lo nggak boleh pergi, lo jahat kalau pergi..”

Bright tidak menjawab, ia menggenggam tangan Metawin erat-erat. Lalu menatap wajah anak itu dalam-dalam. Memotretnya menggunakan kedua netra miliknya, lalu menyimpannya rapat-rapat di dalam otak yang mempunyai tempat tersendiri untuk pemuda bernama Metawin Kieran Zalana.

“Aku minta maaf, Ta.” Jawabnya lagi. Ia sudah tak tahu harus berkata apa lagi dengan keadaan mereka seperti ini.

Tangisan Metawin pun pecah tanpa henti. Pemuda itu terus menerus menggelengkan kepalanya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak peduli dengan beberapa orang sekitar yang menatapnya. Baginya, kepergian Bright adalah luka serta kesedihan terdalam yang ia alami.

Maka dari itu, rasanya menyesakkan. Tak rela, dan marah pada dirinya sendiri.

“Nggak, lo nggak boleh pergi.. Bright.. gue masih sayang sama lo.. kita bisa perbaiki ini pelan-pelan. Gue masih berharap adanya keajaiban yang datang buat bawa gue kembali lagi sama lo,” katanya dengan nafas tersendat. Tak bisa melanjutkan kalimatnya lagi. “gue.. sayang sama lo. Tinggal disini, jangan pergi..”

Bright tak menjawab. Perkataan Metawin barusan cukup menguras energi serta air matanya. Suaranya serak dan habis. Jadinya, ia hanya bisa mendekatkan bibirnya pada kening Metawin. Menarik kepala anak itu dengan lembut agar semakin mudah Bright mengecup kening anak itu dengan singkat.

Namun nyatanya, kecupan singkat itu tak bisa menjadi kecupan singkat lagi. Bright benar-benar menahan bibirnya pada kening Metawin dengan jangka waktu yang lama sambil menangis hingga air matanya menetes hingga dagu. Keduanya sama-sama dalam keadaan yang sulit hingga bingung harus apa. Keputusan yang amat sulit dan membuat keduanya terluka.

“Shaka jangan pergi.”

Bright melepaskan kecupannya. Lalu kembali memeluk dan membawa Metawin dalam dekapannya. Tanpa berkata apa-apa, tanpa mengucapkan apa-apa, ia membiarkan dirinya memeluk anak itu untuk terakhir kalinya dengan tangisan yang pecah hingga dadanya sulit untuk bernafas.

Hingga beberapa menit mereka bertahan dalam pelukan erat, Bright akhirnya melepaskan pelukan. Lalu menatap Metawin dengan kedua netra yang berkaca-kaca. Mengelus puncak kepala Metawin, lalu mengecup kedua pipi serta pangkal hidung milik Metawin.

“Ta, aku pergi dulu ya.”

Metawin menggeleng lemah. Tenaganya tak ada, namun masih berusaha menahan Bright dengan menggenggam tangan itu dengan erat.

“Nanti kita ketemu lagi, ya?”

Metawin tak segera menjawab, namun Bright kembali melangkahkan kedua tungkainya dan menggenggam kopernya lagi. Melepaskan tangan mereka yang tergenggam dengan erat, lalu mengukir senyuman dengan keadaan kedua mata membengkak.

“Shaka biarin gue ikut sama lo!”

Bright tidak menjawab, pemuda itu benar-benar pergi, meninggalkan Metawin dengan kedua kaki yang melangkah pelan. Sesekali, Bright menoleh ke arah belakang, memastikan bahwa Metawin juga pergi setelah dirinya pergi.

Nyatanya, Metawin masih disana. Menangis dengan menatap kepergiannya hingga dirinya hilang dari pandangan, ditelan oleh beberapa orang yang berlalu lalang.

Metawin hancur. Ia menangis sambil menutup bibirnya menggunakan surat dari Bright yang diberikan Harit tadi di mobil. Meremasnya, melampiaskan emosi yang meletup-letup sambil memukul dadanya sendiri.

Sampai dimana, Bright benar-benar hilang. Pergi jauh dari radarnya, dan Metawin sudah tak bisa mencegahnya lagi. Pemuda itu menarik nafas, sambil menangis, Metawin membuka surat yang sudah sedikit lecek akibat ia remas beberapa kali. Dadanya masih sesak, tak rela jika harus ditinggal dan berakhir tragis seperti ini.

Namun sepertinya, ia memang tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan harus merelakan semuanya. Mengubur kenangan mereka berdua rapat-rapat, walaupun hati Metawin masih terkunci sepenuhnya oleh Bright. Jiwanya, hatinya, dan cintanya yang sebesar itu, seakan di renggut dan dibawa pergi oleh Bright ke Canada.

END.

Abel's pov

Gue menatap tiket bioskop digital pada layar ponsel yang menunjukkan jam tayang pukul 3 sore. Senyuman gue lantas mengembang, gue lagi senang-senangnya hari ini karena gue berhasil nggak jajan selama 3 hari buat beli 2 tiket bioskop buat gue dan buat Metawin juga.

Gue lalu menyimpan ponsel gue ke dalam saku celana. Kedua kaki gue pun melangkah ke depan, tumben-tumbenan banget nih gue nggak membeli dua batang rokok di kantin karena menurut gue, ini adalah hari yang sangat gue tunggu-tunggu. Selain karena gue nggak ingin merusak bau mulut gue dengan bau rokok karena nanti sore gue mau mengajak Metawin jalan ke bioskop untuk yang pertama kalinya—sebenarnya, pede aja dulu. Kalau nggak diterima, tinggal gue paksa. Bercanda deh. Sebelum-sebelumnya, dari jauh-jauh hari, gue sudah bilang pada Metawin menggunakan nada bercanda kalau gue mau mengajak dia buat nonton bioskop. Dan kabar baiknya, dia mau. Gue langsung terlonjak dengan senang hati saat itu.

“Berarti kalau kapan-kapan gue ngajak lo, lo mau ikut?”

“Iye ajak aja. Asal dibayarin.” Ujarnya dan gue masih ingat jelas nada dia berbicara saat itu gimana.

“Lo mau kemana, Bel?”

Gue menoleh. “Lapangan basket.” Jawab gue singkat. Iya, karena saat gue senang, sedih, pasti gue larinya ke lapangan basket. Dengan senang hati, gue berjalan dengan langkah cepat. Melewati lorong-lorong kelas yang dipenuhi oleh siswa karena sekarang adalah jam istirahat. Senyum gue pun mengembang dengan jelas. Mungkin, teman-teman gue pada keheranan karena mood gue lagi bagus-bagusnya. Gue terus-terusan tersenyum sampai-sampai, June menatap gue dengan tatapan menyelidik. Namun, gue abaikan saja.

Wangi lapangan indoor basket milik sekolah adalah wangi yang paling gue suka selain wangi buku di gramedia. Kaki gue pun melangkah, mulai mengambil bola basket dari keranjang. Menekan-nekannya apakah memang sudah terisi angin atau tidak. Lalu, gue mengambil bola basket kedua. Memegangnya, lalu memantul-mantulkannya pada lantai.

“Gue suka sama lo.”

Gue berhenti. Berhenti menantulkan bola basket gue lalu menoleh ke sumber suara. Mata gue pun menyipit, melihat ke arah dua pemuda yang gue ketahui adalah... Kak Bright anak kelas 12 dan juga...

..... Metawin.

Pergerakan gue berhenti secara tiba-tiba. Bola basket yang gue pantulkan tadi, langsung gue pegang. Agar tidak menimbulkan suara.

“Ayo pacaran.”

Mendengarnya, hati gue terasa sakit. Entah mengapa. Gue tertawa kecil, lebih tepatnya tertawa miris akan apa yang gue dengar. Harusnya gue nggak usah kesini..

Sebelum gue mendengar Metawin menjawab, gue lalu membalikkan badan gue. Meletakkan bola basket itu kembali ke dalam keranjang, lalu berjalan dengan cepat tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Ogah mengganggu aktivitas kakak kelas yang lagi menembak adik kelasnya.

Emang harusnya gue pure temenan aja sama Metawin. Bukan malah naro rasa suka yang nggak semestinya.

Sekali lagi, gue tertawa. Mentertawakan diri gue sendiri begitu mirisnya.

Bego lo, Bel.

Meta's pov

Mendekati liburan natal serta tahun baru, beberapa siswa ada yang malas untuk masuk sekolah. Ada yang izin sakit, padahal sedang bermain game di rumah. Ada yang izin pergi, tapi molor di kamar sampai sore, bahkan ada yang izin salah satu kerabatnya meninggal padahal kerabatnya itu sudah meninggal dari lama.

Seperti sekarang. Kelas 11 IPA 3 yang bernotabene kelas favorite satu sekolah, kini muridnya sudah sisa setengah. Yang tadinya ada 36 siswa satu kelas, kini hanya ada 18 orang di dalam kelas. Kegiatan yang mereka lakukan bermacam-macam karena sedang jamkos alias jam kosong karena para guru sibuk rapat untuk penutupan semester. Ada yang tidur, bermain monopoli di belakang, ada yang habis dari kantin lalu makan seperti piknik di taman, ada yang sedang bermain mobile legends, dan ada yang belajar ntah untuk apa padahal kita baru saja selesai ujian semester.

Gue menghembuskan nafas. Harit, teman gue satu-satunya yang paling akrab, hari ini nggak masuk sekolah dengan alasan malas. Alasan paling nggak logis yang pernah gue dengar seumur-umur gue sekolah. Mana Harit satu-satunya teman yang paling akrab sama gue, jadinya gue nggak bisa leluasa buat ngobrol kesana kemari selain sama Harit.

Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Namun, para guru masih belum menunjukkan tanda-tanda memulangkan para murid. Gue berdecak sebal. Tau gini gue juga nggak usah masuk sekolah karena guru nggak masuk kelas dari pagi.

Lantas, gue mengeluarkan ponsel. Berselancar di internet sambil memangku dagu gue dengan memasang wajah bete. Sumpah, ini adalah hari yang paling menjengkelkan seumur-umur gue hidup. Rasanya, kalau teman kalian nggak masuk sekolah barang sehariii saja, pasti rasanya berat. Jam berputar lebih lama dari biasanya. Dan membuat gue menahan kesal hingga pulang nanti.

“Cieee, sendiri aja.”

Suara jahil familiar yang sangat gue kenal diiringi oleh suara bersiul memecah keheningan gue. Kepala gue lalu terangkat, menatap laki-laki dengan tampang yang membuat gue mau muntah. Atasan kemeja putih sekolah terbuka dengan bebas, menampakkan kaos dalaman berwarna biru navy dengan wajahnya yang memasang tampang senga seperti biasa. Anak ini, Abel, nggak pernah absen sehari aja buat ngejahilin gue. Atau menegur gue lalu berbuat konyol hingga gue mau marah.

Sebelum menjawab, gue menatapnya dengan sinis. Sambil merotasikan kedua mata. “Ngapain lo disini??”

Yang ditanya hanya tertawa kecil. Menepuk-nepuk puncak kepala gue pelan hingga gue menepisnya dengan kasar. Tak minat buat menanggapi cowok tengil setengah aneh yang terkenal hingga satu sekolah. Emang, siapa, sih, yang nggak kenal Abel? Seluruh guru serta kelas 10 sampai kelas 12 IPA maupun IPS juga kenal siapa Abel ini.

“Mau jenguk calon pacar dong. HAHAHA.” Balasnya sambil tertawa. Gue langsung memasang raut wajah ingin muntah.

“Ngehalu aja lo sana, jing.” Balas gue dengan bahasa kasar tanpa ampun. Abel tertawa, lalu tanpa izin duduk di bangku kosong sebelah gue. Gue lantas mendelik, tidak terima kalau bangku Harit diduduki oleh begundal kecil kayak dia.

“Eeeeeh sana jing, bangku temen gue nggak boleh didudukin sama buntelan dosa kayak lo.”

Bukannya menyingkir, Abel malah menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Setengah tertawa lalu menutup kedua matanya. Menghembuskan nafas. “Hadeeh, kan orangnya nggak ada.”

“Tetep aja nggak boleh lo duduk dekat-dekat gue.” Gue menjawab ketus. Menyeret bangku gue agar mepet ke dinding, menjauhi Abel. Namun, anak itu malah dengan usilnya menyeret bangkunya lagi agar kembali mepet mendekat dengan bangku milik gue.

Gue lantas melotot. Hendak menendang Abel. “MONYETTTT, GUE TUNTUT LO YA ATAS KASUS TIDAK MENYENANGKAN????”

“Apasih, lebay amat.”

“Nyingkir loo cuih cuih gue harus cuci bangku Harit make tanah 7 kali.”

Abel menatap gue tak terima. “Dikira gue babi???”

“Emang. Bahkan, kalau disuruh lomba mirip-miripan babi sama lo, yang ada babinya kalah.”

Lelaki yang berada disamping gue ini tertawa lepas. Menunjuk pipi gue menggunakan telunjuknya. Secepat mungkin, gue menjauhkan telunjuknya dari wajah gue.

“Ewwwwwwh jangan megang-megang!!!!”

“Apasih sayang.”

“HUEK JIJIK BANGET, MONYETTT.”

Gue dan Abel saling ribut. Namun teman-teman kelas gue hanya mendiamkan karena itu sudah menjadi kegiatan sehari-hari kita berdua. Gue terus rusuh, lalu menundukkan tubuh gue lalu merangkak keluar lewat kolong meja agar tidak didekati oleh Abel lagi.

Namun, yang namanya Abel memang tidak ada hentinya buat menjahili gue. Abel langsung bangkit dari duduknya. “Lo ngeliat gue kayak habis dikejar setan dah.”

“Emang lo kayak setan, jingg. Sana nggak??? Gue tuntut lo atas perbuatan tidak menyenangkan.”

Saat gue mendorong Abel, gue terkejut saat punggung Abel menabrak dada seseorang. Seseorang yang mengenakan bet kelas 12 IPA. Yang tingginya nggak jauh-jauh dari Abel. Gue mematung di tempat, Abel pun sama langsung menoleh ke arah belakang. Lalu mundur beberapa langkah seketika saat ia yakini, lelaki itu adalah,

Bright Shaka.

Gue diam. Tidak berkutik. Seluruh kelas juga sama diamnya. Melihat anak kelas 12 yang main-main ke dalam kelas kami sungguh hal yang langka. Karena memang tidak pernah ada anak kelas 12 yang mampu menginjakkan kaki ke dalam kelas ajaib ini.

“Lo mau ikut gue nggak?”

Gue memasang wajah kurang lebih seperti ini, hah?

“Hah?”

Yang jadi lawan bicara gue menghembuskan nafas kasar. Mengacak rambutnya lalu mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap gue.

“Kemana?” Tanya gue lagi. Lalu, Kak Bright langsung menatap gue lurus-lurus. Gue menelan saliva gue pelan-pelan.

Anjir ni orang serem banget.

“Kantin.”

“Hah? Mau ngapain ke kantin?”

“Nguli.” Jawabnya asal. Lalu langsung membalikkan badannya. Berjalan perlahan keluar kelas meninggalkan gue yang masih mematung. Mencerna kata-kata yang dia ucapkan barusan.

“Nguli apaan, sih, anjir????”

Kak Bright lalu berhenti. Tepat di depan pintu, lalu menoleh ke arah belakang.

“Mau ikut atau mau gue gendong?”

“EH IYA IKUT.”

Shaka's pov

Ada beberapa orang yang bilang, kalau gue itu orang yang benar-benar apatis, tidak peduli pada sekitar, cueknya kebangetan, sampai-sampai beberapa teman gue bilang, “Shak, kata gue lo nggak bakal bisa dapat pacar.

Mendengarnya, gue cuma mendengus sebal. Beberapa kali gue bilang, gue orangnya emang cuek. Dari dulu. Tapi bukan berarti gue nggak bisa merasakan suka sama orang. Bukan berarti gue nggak bisa jatuh cinta sama orang.

Karena gue nggak mau ribut-ribut dan melancarkan aksi perdebatan dengan Mike, Guns, serta Earth, gue hanya bisa diam sambil membuang bungkus roti pada tempat sampah besar di dekat kelas 11 IPA 3. Gue melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan gue. Pukul 7 tepat, dan sebentar lagi, upacara yang diselenggarakan setiap hari senin akan mulai.

Sebenarnya, gue malas. Gue lebih memilih untuk tidur di kelas. Daripada harus mengikuti upacara yang lamanya bisa memakan waktu hingga 1 jam lebih. Namun, karena gue anaknya malas untuk berdebat alot dengan beberapa osis yang kerjaannya menggebrak-gebrak kelas setiap senin pagi untuk keluar, jadinya gue lebih memilih untuk menurut saja.

Earth, Mix, serta Guns, teman-teman aneh gue pergi meninggalkan gue terlebih dahulu yang sedang mengikat tali sepatu yang tiba-tiba lepas. Gue berdecak malas, lalu menunduk. Membuat simpul lalu mengikatkannya dengan cepat. Beberapa siswa sudah mulai berbaris, mengikuti intruksi dari kepala sekolah. Katanya, sih, akan ada acara doa bersama karena akan memberlangsungkan kegiatan PTS atau penilaian tengah semester ganjil. Ya, sekolah gue bisa dibilang keagamaannya sangat erat. Jadi, nggak terlalu heran.

“BEL, JANGAN NGAMBIL TOPI GUE, BISA NGGAK???”

“WLE, NGGAK MAU. AMBIL LAH. MAMPUS LO NGGAK NYAMPE. HAHAHAHA.”

Telinga gue pun menangkap suara memekakkan hingga akhirnya gue menoleh, ke arah kanan. Tepat ke arah sumber suara.

Ada dua anak laki-laki yang bertengkar. Mengenakan bet kelas XI IPA, lengkap dengan atribut hari senin yang mereka kenakan; dasi sepatu hitam kaus kaki putih, dan gesper yang melekat di pinggang. Kedua pemuda itu saling berebut topi. Satu pemuda yang lebih tinggi dengan tampangnya yang sedikit urakan, mengenakan hoodie berwarna hitam, tampangnya yang tengil, sedang meletakan topi di atas blower AC yang tinggi. Pemuda itu tertawa terbahak, membiarkan pemuda yang satunya berteriak, memukul-mukul lengannya, lalu mendengus kesal.

“BEL, BALIKIN ANJRIT???”

“NGGAK MAU. SIAPA SURUH NGADU KALO GUE NGGAK PIKET?”

“LAH ITU MAH EMANG SALAH ELO, BABIII.”

Anak laki-laki yang diketahui namanya Abel, hanya terkikik geli. Mengusap surai hitam legam pemuda yang satunya. Dan tak lupa sambil tertawa usil. “Mohon ke gue dulu dong, El.”

“Eh babi, nama gue Metawin ya. Me-Ta. BUKAN EL EL. EL GAZALI KATA LO KALI.”

Gue tertawa kecil. Kemudian, berdiri lalu menegapkan tubuh gue. Memperhatikan dua pemuda yang masih bertengkar itu tanpa memperdulikan suara guru-guru yang sudah riuh karena menyuruh anak muridnya untuk segera berbaris.

“Kier Metawin nama lo ah. Tapi panggil aja, Iel atau El. Anggap aja nama kesayangan. Pet Names.”

Metawin, hanya bisa menatap ke arah Abel lalu merotasikan kedua matanya malas. “OGAH. Ambilin nggak anjing topi gue??? Bisa dihukum gue, anjing.”

“Nggak.”

“ABEEEEEEL.”

“IYAAA SAYANGG.”

“HUEEEEK BANGSAT. GELI.”

Karena gue sangat membenci keributan, dan sedari tadi gue hanya menatap keduanya sambil bersedekap dan bersandar pada tiang dinding persis di depan kelas 11 IPA 3 yang pintunya terbuka lebar, gue lalu mengacak rambut terlebih dahulu, lalu berjalan melangkah. Mendekat ke arah mereka berdua yang masih bertengkar tanpa ada ujungnya.

Abel, serta Metawin menatap gue dengan pandangan bingung. Gue pun sama bingungnya, karena mereka berdua tiba-tiba memberhentikan perdebatan alot mereka saat gue datang. Mungkin karena melihat bet seragam gue yang tertera kelas XII IPA.

Gue berhenti tepat dihadapan mereka berdua. Sedikit berjinjit dan satu tangan gue terulur untuk mengambil topi abu-abu milik Metawin yang sengaja disangkutkan oleh Abel disana. Tanpa bersuara pun, gue mengambilnya. Wajah gue juga sama—datar. Karena gue nggak tahu harus berekspresi seperti apa.

Setelah mengambilnya, gue langsung menepuk-nepuk topi tersebut. Guna menyingkirkan debu yang sedikit hinggap disana. Setelahnya, topi tersebut langsung gue pasangkan asal, meletakkannya di atas puncak kepala milik Metawin hingga sang empunya terdiam. Abel pun sama, memperhatikan gue dengan diam. Mungkin, berbicara juga sungkan karena gue anak kelas 12.

“Makasih, Kak....” Ucapan Metawin pun menggantung. Kedua matanya bergerak, melirik ke arah name tag gue yang terpasang di dada kanan. “Kak Shaka...?”

Gue mengangguk pelan. “Iya.”

Dan setelahnya, gue berbalik. Berjalan dengan santai menuju lapangan dengan kedua tangan yang diletakkan di dalam saku celana abu-abu yang gue kenakan.

Ngomong-ngomong, Metawin lucu juga anaknya.

Shaka's pov

Ada beberapa orang yang bilang, kalau gue itu orang yang benar-benar apatis, tidak peduli pada sekitar, cueknya kebangetan, sampai-sampai beberapa teman gue bilang, “Shak, kata gue lo nggak bakal bisa dapat pacar.

Mendengarnya, gue cuma mendengus sebal. Beberapa kali gue bilang, gue orangnya emang cuek. Dari dulu. Tapi bukan berarti gue nggak bisa merasakan suka sama orang. Bukan berarti gue nggak bisa jatuh cinta sama orang.

Karena gue nggak mau ribut-ribut dan melancarkan aksi perdebatan dengan Mike, Guns, serta Earth, gue hanya bisa diam sambil membuang bungkus roti pada tempat sampah besar di dekat kelas 11 IPA 3. Gue melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan gue. Pukul 7 tepat, dan sebentar lagi, upacara yang diselenggarakan setiap hari senin akan mulai.

Sebenarnya, gue malas. Gue lebih memilih untuk tidur di kelas. Daripada harus mengikuti upacara yang lamanya bisa memakan waktu hingga 1 jam lebih. Namun, karena gue anaknya malas untuk berdebat alot dengan beberapa osis yang kerjaannya menggebrak-gebrak kelas setiap senin pagi untuk keluar, jadinya gue lebih memilih untuk menurut saja.

Earth, Mix, serta Guns, teman-teman aneh gue pergi meninggalkan gue terlebih dahulu yang sedang mengikat tali sepatu yang tiba-tiba lepas. Gue berdecak malas, lalu menunduk. Membuat simpul lalu mengikatkannya dengan cepat. Beberapa siswa sudah mulai berbaris, mengikuti intruksi dari kepala sekolah. Katanya, sih, akan ada acara doa bersama karena akan memberlangsungkan kegiatan PTS atau penilaian tengah semester ganjil. Ya, sekolah gue bisa dibilang keagamaannya sangat erat. Jadi, nggak terlalu heran.

“BEL, JANGAN NGAMBIL TOPI GUE, BISA NGGAK???”

“WLE, NGGAK MAU. AMBIL LAH. MAMPUS LO NGGAK NYAMPE. HAHAHAHA.”

Telinga gue pun menangkap suara memekakkan hingga akhirnya gue menoleh, ke arah kanan. Tepat ke arah sumber suara.

Ada dua anak laki-laki yang bertengkar. Mengenakan bet kelas XI IPA, lengkap dengan atribut hari senin yang mereka kenakan; dasi sepatu hitam kaus kaki putih, dan gesper yang melekat di pinggang. Kedua pemuda itu saling berebut topi. Satu pemuda yang lebih tinggi dengan tampangnya yang sedikit urakan, mengenakan hoodie berwarna hitam, tampangnya yang tengil, sedang meletakan topi di atas blower AC yang tinggi. Pemuda itu tertawa terbahak, membiarkan pemuda yang satunya berteriak, memukul-mukul lengannya, lalu mendengus kesal.

“BEL, BALIKIN ANJRIT???”

“NGGAK MAU. SIAPA SURUH NGADU KALO GUE NGGAK PIKET?”

“LAH ITU MAH EMANG SALAH ELO, BABIII.”

Anak laki-laki yang diketahui namanya Abel, hanya terkikik geli. Mengusap surai hitam legam pemuda yang satunya. Dan tak lupa sambil tertawa usil. “Mohon ke gue dulu dong, El.”

“Eh babi, nama gue Metawin ya. Me-Ta. BUKAN EL EL. EL GAZALI KATA LO KALI.”

Gue tertawa kecil. Kemudian, berdiri lalu menegapkan tubuh gue. Memperhatikan dua pemuda yang masih bertengkar itu tanpa memperdulikan suara guru-guru yang sudah riuh karena menyuruh anak muridnya untuk segera berbaris.

“Kier Metawin nama lo ah. Tapi panggil aja, Iel atau El. Anggap aja nama kesayangan. Pet Names.”

Metawin, hanya bisa menatap ke arah Abel lalu merotasikan kedua matanya malas. “OGAH. Ambilin nggak anjing topi gue??? Bisa dihukum gue, anjing.”

“Nggak.”

“ABEEEEEEL.”

“IYAAA SAYANGG.”

“HUEEEEK BANGSAT. GELI.”

Karena gue sangat membenci keributan, dan sedari tadi gue hanya menatap keduanya sambil bersedekap dan bersandar pada tiang dinding persis di depan kelas 11 IPA 3 yang pintunya terbuka lebar, gue lalu mengacak rambut terlebih dahulu, lalu berjalan melangkah. Mendekat ke arah mereka berdua yang masih bertengkar tanpa ada ujungnya.

Abel, serta Metawin menatap gue dengan pandangan bingung. Gue pun sama bingungnya, karena mereka berdua tiba-tiba memberhentikan perdebatan alot mereka saat gue datang. Mungkin karena melihat bet seragam gue yang tertera kelas XII IPA.

Gue berhenti tepat dihadapan mereka berdua. Sedikit berjinjit dan satu tangan gue terulur untuk mengambil topi abu-abu milik Metawin yang sengaja disangkutkan oleh Abel disana. Tanpa bersuara pun, gue mengambilnya. Wajah gue juga sama—datar. Karena gue nggak tahu harus berekspresi seperti apa.

Setelah mengambilnya, gue langsung menepuk-nepuk topi tersebut. Guna menyingkirkan debu yang sedikit hinggap disana. Setelahnya, topi tersebut langsung gue pasangkan asal, meletakkannya di atas puncak kepala milik Metawin hingga sang empunya terdiam. Abel pun sama, memperhatikan gue dengan diam. Mungkin, berbicara juga sungkan karena gue anak kelas 12.

“Makasih, Kak....” Ucapan Metawin pun menggantung. Kedua matanya bergerak, melirik ke arah name tag gue yang terpasang di dada kanan. “Kak Shaka...?”

Gue mengangguk pelan. “Iya.”

Dan setelahnya, gue berbalik. Berjalan dengan santai menuju lapangan dengan kedua tangan yang diletakkan di dalam saku celana abu-abu yang gue kenakan.

Ngomong-ngomong, Metawin lucu juga anaknya.

hai hai hai


Win keluar dari kamarnya. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya lalu menarik otot-ototnya untuk direnggangkan. Ia menguap sebentar lalu berbalik ke arah kanan tanpa melihat-lihat. Hingga kepalanya tak sengaja terbentur oleh dada Bright yang sedang berdiri juga disana sedari tadi. Memperhatikan Win.

Metawin meringis. Ia lalu mengangkat kepalanya, melihat ke arah Bright lalu berdecak pelan. “Buset main nongol aje lu kayak hantu.”

“Loh kamu gak pake mata.”

“Ya om ngapain disitu??? Udah tau gue mau lewat.”

Bright mengangkat sebelah alisnya. “Apasih? Saya disini dari tadi. Makanya jalan pake mata jangan pake mata kaki.” Ucapnya menunjuk kening Metawin menggunakan telunjuk.

Win meringis. Ia berdecak karena Bright sangat menyebalkan. Ia lalu membalikkan badannya memutar menjauhi Bright. Kakinya melangkah ke arah dapur lalu menuangkan air ke dalam gelas yang baru saja ia ambil. Dan menandaskannya hingga habis.

Win melirik ke arah Bright. Pria itu dengan pakaian formalnya. Kemeja putih kantoran, dasi berwarna biru yang bertengger di leher. Serta jas dengan warna navy yang ia sampirkan di tangan. Laki-laki itu sedang menghabiskan segelas kopi yang asapnya masih mengepul.

“Mau kemana om?” Tanya Win basa-basi. Padahal, ia sudah tahu Bright ingin pergi ke kantor. Tapi ia basa-basi saja supaya tidak terlalu canggung dan awkward.

“Nguli.” Jawab Bright ketus. Memangnya anak itu tak melihat setelan dirinya yang sangat formal dan rapi??? Menyebalkan.

Win mendelik. Ia meletakkan gelas kosong di atas meja dan menatap Bright sambil mendumal. “Yaelah, kan gue nanya doang buset. Ketus amat.”

“Ya kamu udah tau saya pakaiannya formal begini, kamu kira saya mau kemana? Jadi badut mekdi?”

Win menahan tawanya. Sembari menutup bibirnya menggunakan tangan. “Pffft— kan gue basa-basi doang elah, Om. Sensian amat lu ah.”

“Basa-basi kamu gak jelas,” ucap Bright menatap Win tajam. Pria itu lalu bangkit dari duduknya, dan mengambil tas berwarna hitam yang berisikan laptop dan juga ipad di dalam sana. Bright berkaca sebentar untuk membenarkan penampilannya. Setelah semuanya ia rasa cukup oke, Bright mengambil sepatu yang tertata rapi di belakang pintu, lalu memasangkannya pada kakinya.

Beberapa menit berlalu, Bright sudah selesai memasang sepatunya Ia lalu berdiri, tangannya sudah memegang gagang pintu, namun tubuhnya berbalik. Kedua matanya beredar mencari-cari Metawin.

“Kamu seharian ini di appart aja, kan?”

Win mengangguk.

“Awas jangan kemana-mana.”

Pemuda itu mengangguk lagi. Dan Bright berdecak karena Win hanya membalasnya dengan anggukan.

“Jangan ngangguk doang, Metawin.”

“Iyeee elah buset dah. Kaga bakal kemana-mana gue juga,” yang lebih muda pun merotasikan kedua matanya jengah. Ia menatap Bright yang masih setia berdiri menghadapnya sambil memegang knop pintu. Namun, kedua matanya merasakan ada hal yang janggal. “eh—wait. Bentar, Om. Tunggu disitu.”

Bright menautkan kedua alisnya. “Apasih?”

Win tak mengindahkan ucapan Bright. Ia malah melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah yang lebih tua. Bright diam di tempat dan anehnya ia menurut dan membiarkan anak itu mendekat. Sampai, Win sudah berada tepat di hadapan Bright. Dan tangannya terulur, ke arah dasi Bright yang sedikit berantakan. Dan tidak simetris.

“Bentar, dasi lu miring nih.”

“Apa?” Bright menunduk. Memegang dasinya sendiri, lalu di tepis oleh Metawin.

“Ish bentar. Gue benerin. Udah lo diem aja.”

Bright menghela nafas. “Yaudah. Benerin.”

Win membetulkan dasi Bright dan merapikannya dengan teliti. Sementara itu, Bright melirik ke arah wajah Metawin yang sedang menunduk. Puncak kepalanya menghadap wajah Bright hingga tercium wangi shampoo buah cherry dari rambut-rambut halus Metawin. Bright terperangah sebentar untuk memperhatikan lekukan wajah anak itu saat menunduk. Bulu mata lentik Metawin seakan jatuh karena anak itu menunduk untuk membetulkan dasinya. Pipi sedikit gembil Metawin yang samar-samar berwarna pink. Dan juga—bibir plump merah muda Metawin yang membuatnya gagal fokus.

“Dah.” Ucap Metawin sambil tersenyum puas. Ia mengangkat pandangannya, dan sorot matanya jatuh ke dalam sorot mata Bright yang tengah menatapnya juga. Pandangan Metawin seolah terkunci oleh manik mata elang Bright. Mereka berdua bertatapan lebih dari 20 detik hingga Bright memutus kontak mereka berdua. Pria itu berdehem canggung dan menatap ke arah lain.

“Makasih,” Ucap Bright sambil membuka pintu utama. Tubuhnya sudah berada di luar sementara kepalanya masih menyembul dari balik pintu. Ia menatap Metawin sebentar yang masih setia menunggunya. “kamu jangan kemana-mana nanti.”

“Iyeeee.”

“Awas.”

Setelah mengucapkan kalimat barusan, Bright menutup pintu dan meninggalkan Metawin di dalam.

Sambil berjalan ke arah lift. Wajah Metawin masih terngiang-ngiang di otak Bright hingga pria itu gagal fokus. Bright menggelengkan kepalanya sambil memijit pangkal hidungnya. Bibirnya mengumpati nama Metawin. Lalu, mengambil nafas panjang, sebelum akhirnya menekan tombol lift yang mengarah pada basement.

Cieee, beneran salting ya, Om?

Kok sampe gagal fokus begitu?

qrt & likes will be appreciated♡


Bright memberhentikan mobilnya saat sudah sampai di basement. Mencari tempat yang sedikit lega agar mobilnya bisa masuk disana. Setelah mobilnya sudah terparkir dengan sempurna, ia lalu mematikan mesin mobil, dan melirik ke arah Metawin yang masih terlelap di pundaknya.

Pria itu menghela nafasnya, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia tak tega membangunkan orang tertidur ngomong-ngomong. Jadi, ia kembali menyalakan mesin mobilnya, dan mengatur AC agar tak terlalu dingin. Serta menghidupkan lampu karena basement parkiran sungguhan gelap.

Bright memainkan ponselnya. Mengecek grup pekerjaannya siapa tahu ada yang harus ia kerjakan. Dan ternyata tidak. Boss nya itu betulan memberikannya cuti agar bisa membantu Metawin pindahan.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Ia membetulkan posisi duduknya karena pegal. Serta, menggeser kepala Metawin yang hampir terjatuh dari pundaknya. Anak itu masih saja tertidur tanpa terusik sama sekali. Dan mereka sudah berada didalam mobil 15 menit. Tak mungkin Bright menunggu Metawin hingga terbangun dari tidurnya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk meletakkan Win kembali dan menyandarkan tubuh bongsor Win pada punggung kursi. Anak itu mengecap, dan menghela nafas panjang lalu kembali tertidur. Bright hanya menggeleng melihat Metawin yang tidur terlalu dalam.

Lalu, ia mematikkan mesin mobil. Membuka pintu, dan keluar dari mobilnya. Kakinya melangkah ke arah pintu sebelahnya, tempat dimana Metawin tertidur.

“Dasar ngerepotin,” Ucapnya lalu mendengus. Namun ia tetap membuka pintu, dan menatap Metawin sejenak. Anak itu tampak pulas dan tidak terganggu sama sekali. “kamu tidur atau apasih?” Tanyanya pada Metawin dengan wajah terheran-heran.

Tak perlu menunggu lama, Ia mengambil tubuh Metawin dengan perlahan. Satu tangannya ia letakan pada punggung, satunya lagi ia letakan di kaki Metawin. Bright mengambil nafas terlebih dahulu sebelum benar-benar mengangkat tubuh Win perlahan lalu mengeluarkannya dari mobil. Dipikir-pikir, seumur hidupnya ia tak pernah direpotkan oleh siapapun. Namun kenapa sekarang ia mau direpotkan oleh bocah yang baru saja lulus SMA ini?

Persetan, ini semua karena Ayahnya berteman dengan Papa Metawin, yang berstatus boss nya di kantor.

Bright mengangkat tubuh Win dan membetulkan gendongannya. Menutup pintu menggunakan kaki dan tak lupa mengeluh seperti ini, “Astaga berat, makan apa, sih, nih bocah?” Katanya dengan wajah masam. Tapi ia tetap membawa Metawin hingga dirinya sampai di depan lift.

Beruntunglah posisi lift saat itu sedang sepi dan tak banyak orang yang berlalu lalang. Bright menyandarkan punggungnya pada dinding lift, dan kepalanya menunduk, menatap wajah teduh Metawin yang sedang tertidur pulas.

Dalam hati ia memuji, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Cie... salting ya, om?

qrt & likes will be appreciated♡


Win mengabaikan chat dari kakaknya lalu mengambil sosis dari dalam kulkas. Di bukanya plastik yang melapisi sosis tersebut lalu memotong sosisnya menjadi bagian terkecil.

Tak lupa Win menyalakan kompor dan menuangkan minyak ke dalam penggorengan. Mengatur api agar tak kebesaran, lalu mulai fokus kembali mengiris sosis untuk menu sarapannya hari ini.

Baru 5 menit Win fokus dengan menu sarapannya, terdengar suara derit pintu yang terbuka. Mata pemuda itu langsung bergulir ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.

Dan ternyata itu Bright. Langsung saja wajahnya berubah menjadi sedatar-datarnya. Mulutnya pun berdecak malas, lalu memilih untuk mengabaikan Bright yang mulai berjalan ke arahnya.

“Masak apa emang?” tanya Bright saat dirinya sudah berada tepat di depan Metawin.

“Nggak liat?”

“Liat. Nanya aja. Kan basa-basi.”

Win mendumal. Memang keberadaan Bright disini tak membantu. Jadi, dia hanya kembali memotong sosis beserta nugget yang baru saja ia ambil dari freezer.

Bright terlihat menggulung lengan baju kaosnya. Ia mendekat ke arah Metawin dan mengambil pisau yang menganggur di tempat sendok. Bright pun berdiri di sebelah Metawin dan mulai memotong-motong nugget yang masih setengah beku.

“Daripada ngerecokin, mending diem aja dah,” ucap Metawin tak terima jika Bright ada di sampingnya. Menurutnya, keberadaan Bright bisa-bisa membuat dirinya hanya marah-marah disini.

Bright menautkan kedua alisnya. Bingung. “Apasih? Saya mau bantu, kok.”

“Oh.”

Tangan Bright pun terulur ke arah kening milik yang lebih muda lalu menyentilnya pelan. “Suudzon.”

“Emang.”

“Yaudah.”

Mereka berdua pun berfokus dengan memotong-motong bahan makanan lalu menuangkannya pada penggorengan yang berisi minyak panas. Tak ada percakapan diantara mereka berdua karena sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Win.”

“Hah.” Yang merasa terpanggil pun menyahut. Win menyandarkan tubuhnya pada pintu kulkas sambil bersedekap.

“Kamu keterima di UI Ilmu Hukum, ya?”

Win mengangguk.

“Saya sebenarnya nggak mau bilang ini, tapi—” Bright menjeda ucapannya. “semangat ya.”

Win mengerjapkan kedua matanya tanpa sadar. Hampir mengira kalau telinganya mendadak berfungsi normal—tapi tidak. Tumben sekali pria dihadapannya ini mengucapkan dua kata yang memotivasi, walaupun hanga kalimat sederhana, tapi mampu membuatnya terheran-heran.

“Mabok ye lo, om?”

Mendengar itu, Bright jadi menatap Metawin datar, lalu berdecak saat melihat anak itu menatapnya seperti mengejek. “Diberi pesan positif, malah ngejek.”

“Pfftt—” Win menahan tawanya, sambil menutup mulut. “habis tumben aja nggak negatif.”

“Saya banyak positifnya, kamunya aja baru kenal saya dua hari.”

Saat ingin menjawab perkataan Bright barusan, mata Metawin tertuju pada penggorengan yang mengeluarkan asap. Secepat mungkin ia berlari ke arah Bright lalu mematikan kompor dengan cekatan. Api sedikit naik ke puncak penggorengan membuat Win panik dan segera mengambil air dari westafel menggunakan wadah besar.

Namun, Bright menahannya. Mengambil wadah berisi air itu dari genggaman tangan Win. “Bahaya, kamu bisa kena nantinya.” ucapnya membuat Win terdiam, namun api semakin naik. Hingga Bright mengambil lap bersih di samping lemari piring, membasahkannya, lalu ia letakan di atas api yang mulai meninggi. Tak butuh waktu lama, api tersebut padam dan yang tersisa hanya kepulan asap dan bau gosong disekitar dapur.

Bright mengambil lap bersih tersebut lalu meletakkannya di atas meja. Melirik ke arah nugget dan sosis yang telah berubah warna menjadi hitam. Gosong.

Pundak Win menurun pias. Ia menghela nafasnya pelan, “Yah... gosong.”

“Yaudah makan.”

“Tapi gosong, Om.”

Bright tak menghiraukan perkataan Win. Ia mengambil dua piring dan meletakkan nasi putih di atasnya. Meniriskan nugget dan sosis yang gosong itu dan menaruhnya di atas kedua piring yang sudah ada nasi di dalamnya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Bright mengambil sendok lalu duduk di atas kursi. Menyuapkan satu sendok nasi dengan potongan nugget itu ke dalam mulutnya, lalu melirik Metawin yang masih memperhatikkan dirinya.

“Om, gosong tau. Ngapain lu makan??”

“Gosong doang nggak bakal bikin kamu mati. Makan.” Ucapnya mendorong piring tersebut pelan ke arah Metawin.

“Gosong, gue bikin baru aja deh.”

“Buang-buang makanan, Metawin. Makan aja.”

Lalu Win menurut. Duduk di hadapan Bright namun memperhatikan Bright yang sedang makan dengan saksama. Lalu, satu pertanyaan terlintas di dalam otaknya.

“Om sering makan makanan gosong, ya?”

Bright tersedak. Menatap Metawin horror dan menelan makanannya dengan benar.

“Makan aja, bocah.”

“Iyasih, galak amat.”

qrt & likes will be appreciated♡


Dengan langkah kaki terburu, Metawin yang belum terkumpul nyawanya, menuruni anak tangga sembari berlari kencang. Ia terkejut saat mendapati Bright sudah berada di depan teras rumahnya. Tak habis pikir juga, untuk apa pria itu pagi-pagi buta di rumahnya?

ceklek

Setelah membuka pintu rumahnya dengan terburu, Win berlari terbirit ke arah pagar. Dan pandangan pertama yang ia lihat adalah Bright sedang duduk di atas kap mobil sembari memainkan ponselnya.

Win menggeser pagar besi dengan kekuatan minim—karena dirinya baru saja bangun tidur, dan masih lemas—lalu menghampiri Bright tanpa menggunakan sendal.

“NGAPAIN, SIH, OM KESINI PAGI-PAGII??”

Bukanlah sapaan manis yang Win berikan, namun bertanya dengan intonasi tinggi. Bright yang mendengarnya pun langsung saja menutup telinganya. Menyimpan ponsel di dalam saku, lalu menatap Metawin sambil bersedekap.

“Saya disuruh Papa kamu kesini, jangan geer,” balasnya sambil berdecak. “udah beres-beres belum? Kalau sudah langsung berangkat aja. Jangan lama-lama.”

Win baru ingin membuka suara, namun Bright segera memotongnya. “Nggak usah mandi. Mandi di appartement saya aja,” tuturnya membuat Metawin kesal.

“Saya baru tidur 3 jam, dan kamu ganggu saya.”

“Apasih??!” Win sewot sendiri. Harusnya ritual bangun pagi indahnya yang sangat sakral pun harus terganggu dengan pria yang lebih tua darinya, datang tanpa di undang, dan mengomel tanpa sebab. “gue juga nggak minta di jemput?”

“Sana ah pulang aja kalau nggak mau nunggu. Gue belum beres-beres.” Lanjut Metawin final. Lalu membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam rumah dengan langkah kesal.

Bright mengangkat sebelah alisnya. Ia bahkan mengekori Metawin dan berhenti di depan pintu masuk rumah anak itu. Duduk pada bangku yang telah disediakan, lalu memainkan ponselnya lagi, sambil menunggu anak itu berkemas.

Lain halnya dengan Bright, Metawin menghentakkan kakinya. Ia menatap ke arah belakang sambil mendumal. Sialan. Masih pagi, dan ia sudah dibuat kesal oleh Bright. Padahal tidak ada yang menyuruhnya untuk menjemput dirinya. Dia bisa saja naik transportasi gocar tanpa harus repot-repot meminta tolong Bright.

“Pantes lo jomblo, ngeselin idupnya,” ucapnya sambil mengepalkan tangan. Meninju ke arah udara kosong. “dasar es kutub. Udahlah ngeselin, dingin lagi kayak sakit tipes. Kayak bapaknya kek yang friendly, tai.”

Lalu daripada membuang waktu lebih lama, Metawin mulai menaiki anak tangga—tetap dengan langkah kaki yang kesal—sambil berharap Bright memutar balik mobilnya dan segera pulang tanpa harus menunggu dirinya. Bisa-bisa, Win kena omel lagi padahal ia sendiri tak meminta Bright untuk menunggu.

“Awas aje kalau selama gue numpang idup sama die, die ngeselin. Gue hengkang anjrit dari rumah, anjing,” Win melanjutkan acara umpat-mengumpatnya. Sambil membuka lemari, dan mengeluarkan koper yang terletak di sudut ruangannya. Mengambil semua baju di dalam lemari dan merapihkannya. Melipatnya hingga kecil-kecil, dan meletakkannya di dalam koper yang sudah terbuka.

Namun, saat Metawin sedang mengemasi barangnya, bunyi notifikasi chat pun berbunyi membuat Win terpaksa harus mengeceknya. Siapa tahu ada yang penting.

Namun, bukannya notifikasi penting, melainkan notifikasi dari Bright, yang seketika membuat Win membanting ponselnya ke atas kasur hingga melambung tinggi.

“ANJING! NGAPAIN NUNGGU, SIH?!”

Dan dirinya dengan terburu mengemasi barang-barang miliknya dan memastikan tak ada yang tertinggal.

Demi Tuhan, menurut Metawin, Bright Sagara membuat mood pagi harinya menjadi buruk.

qrt & likes will be appreciated♡