FINAL CHAPTER
“Shak, ini lo serius? Bakal ninggalin Jakarta? Lo yakin? Udah mikirin ini matang-matang belum?”
Ucapan Mike pun terdengar memecah keheningan. Bright dengan segera mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arah sumber suara. Raut wajahnya tak terbaca: karena dirinya sedang merasakan beberapa emosi yang bercampur aduk. Sedih dan kecewa menjadi satu. Patah hati serta kenangan manis yang tertinggal disini masih melekat. Air matanya ingin keluar, lagi. Namun rasanya, ia merasa tak pantas untuk menangis lagi. Ia sudah cukup banyak membuat Metawin, mantan pacarnya, menangis terlalu lama. Bright sadar, dirinya memang egois karena meninggalkan pemuda manis itu secara tiba-tiba.
Namun, mau bagaimana lagi? Ia juga perlu membuat dirinya untuk sedikit lebih baik. Memperbaiki dirinya sendiri sendirian hingga menjerit sampai tak ada orang yang mendengar. Setidaknya, menjauh itu lebih perlu. Dari pada keduanya masih berputar pada kenangan lama dan sama secara terus-menerus.
Bright tahu, Metawin pasti akan merasa sedih pasca kepergiannya. Tapi, pasti tak akan berlangsung lama. Sebulan dua bulan, bahkan tiga bulan, pemuda itu cepat atau lambat melupakannya. Walau harus berusaha dengan cara yang menyakitkan. Setidaknya Bright dan Metawin harus benar-benar saling melepaskan. Mengikhlaskan satu sama lain, tanpa ada dendam di hati masing-masing.
“Udah.” Katanya menjawab pertanyaan Mike setelah dirinya terdiam untuk beberapa detik. Pemuda itu meremas jari-jarinya sendiri, menarik-nariknya, karena melampiaskan rasa sedih yang tertahan. Sedikit berat untuk pergi dari kota kelahirannya. Kota yang membuat dirinya merasakan banyak kenangan indah yang perlu untuk dikenang. “Gue udah pikirin, kok.” Sambungnya lagi hingga Guns serta Mike sendiri pun menghela nafasnya.
Bingung.
Kedua sahabat Bright bingung kala mendengar keputusan bulat tanpa diganggu gugat oleh sang empunya. Bright keras kepala, namun mereka tak bisa mencegahnya. Bright pun sudah dewasa dan tahu akan resiko dari segala keputusan yang ia buat. Bright bukanlah lagi remaja tujuh belas tahun, tapi pemuda itu sudah beranjak dewasa dengan umur yang sudah kepala dua.
“Oke, kalau itu mau lo deh, Bright.” Guns menjawab dengan menganggukkan kepalanya ringan. Sudah pasrah mau gimana lagi membujuk Bright agar membatalkan penerbangannya ke Canada. Namun sia-sia. Nihil usahanya, Bright tetap keras kepala. “Lo tapi udah pamitan sama Metawin, kan?”
Yang ditanya hanya diam. Ingin menjawab, namun ia ingat kejadian kemarin malam kala Abel memeluk Metawin tepat di depan teras rumah milik Win. Hatinya terasa diremuk dan dihantam bertubi-tubi tanpa ampun. Melihatnya, rasa sesaknya pun menjalar hingga kepalanya pusing. Kakinya bergetar, hingga akhirnya ia masuk ke dalam mobil kembali dan menginjakkan gas mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Metawin.
Sakit. Bright merasakan itu sangat sakit baginya. Ingin melarang pun, ia sudah tak bisa lagi. Sudah nggak ada lagi hak-hak yang harus ia perjuangkan. Hubungannya sudah berakhir, dan keduanya memang sama-sama harus mengiyakan kepergian satu sama lain.
“Gue kemarin udah kesana, kok. Tapi..” Pemuda itu menggantungkan kalimatnya. Ia menggigit bibir. “Nggak jadi. Meta lagi pelukan sama Abel,” sambungnya dengan suara yang serak serta bergetar. “Gue nggak enak. Jadinya pulang.”
“Oh…” Mike hanya bisa merespon seperti itu. Sedikit terkejut mendengarnya namun juga tak heran. Abel dan Metawin memang ia lihat dekat akhir-akhir ini di kampus. Sering pulang bersama dan kadang, Abel sengaja menunggu Metawin sampai anak itu selesai kelas.
“Nggak apa-apa, sob. Sedih aja. Perasaan lo valid, kok. Sedihnya jangan ditahan.” Guns menepuk punggung Bright, memberikan pemuda itu ketenangan setelah beberapa kali patah hati karena putus cinta. Namun kali ini, sepertinya sakitnya terasa double dan berkali-kali lipat.
Bright hanya bisa diam sambil menundukkan kepala. Ia tak bisa lagi membendung tangisannya lagi. Entah ini sudah yang keberapa, namun rasanya ia perlu untuk menangis lebih lama sebelum benar-benar meninggalkan Jakarta.
Menangis dalam diam, tak pernah bercerita oleh siapapun, menahan serta memendamnya untuk seorang Bright Shaka yang terkenal dengan pemuda dingin kulkas 20 pintu memang sangatlah menyakitkan. Bright orang yang sangat tertutup dan sukar untuk bercerita. Pemuda itu lebih memilih untuk memendam semuanya sampai—dirinya sudah dikatakan dalam titik limit. Tak bisa untuk menanggung semuanya, hingga kala menangis pun, tak bisa berhenti lagi sampai pusing.
“Bright, ayo. Sudah waktunya kamu masuk pesawat.”
Suara Papa Bright menginterupsi ketiganya. Bright mengangkat kepalanya lalu mengelap air mata yang telah keluar dari sudut. Menyeret kopernya lalu berdiri dengan kaki yang masih lemas dan gemetar.
Ia masih tak menyangka, bahwa hubungan mereka memiliki ending yang sangat tragis dan semesta memberikan takdir yang tak pernah ia duga-duga.
“Sekarang banget, kah, Om???”
Papa Bright menjawab pertanyaan Mike dengan anggukkan kepala. “Iya, nih. Sudah jam segini.” Jawabnya menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Menunjukkan pukul sebelas lewat 10.
Guns Mike menatap Bright lalu memasang raut wajah sedih. Merasa seperti kehilangan teman hampir 6 tahun lamanya bersama. Seperti ada yang kurang. Hingga mereka berpikir, Emang ada yang bisa gantiin Bright walaupun anaknya menyebalkan seperti ini?
Yah, tidak ada. Se-menyebalkannya teman, seburuk-buruknya Bright, Bright tetap temannya. Bright tetap hanya seorang pemuda dingin yang membutuhkan barang satu atau dua teman yang selalu disisinya. Pemuda itu masih membutuhkan caranya bersosialisasi.
“Yah, cepet banget.” Guns berujar lalu Bright tertawa sebentar. Bright menepuk pundak temannya perlahan, lalu mengulas senyumnya.
“Thanks ya, udah jadi teman gue selama ini. Sorry gue banyak kurangnya sama kalian.” Katanya sambil membetulkan ransel di pundak dan menatap Guns serta Mike bergantian. “Maaf misal gue ada salah. Gue minta maaf atas itu. Gue nggak tahu bakal balik kapan, semoga nggak lama, ya.”
“Shak, jangan gini dong ah.” Mike lalu memeluk Bright disusul oleh Guns juga. Memeluk temannya serta mendekapnya dengan erat. Memeluk Bright untuk terakhir kalinya karena mereka tak tahu harus berjumpa dengan Bright kapan lagi. Setahun, dua tahun, atau sepuluh tahun mendatang.
“Sorry juga ya, Shaka. Kalau gue brengsek jadi teman. Sorry kalau gue nggak bisa diandalkan. Jangan lupa senang-senang lo disana, jangan lupain gue sama Mike.”
Bright tertawa. “Ya enggak.” Jawabnya lalu menepuk-nepuk punggung kedua temannya. “Makasih ya.”
Pada akhirnya, Bright mengerti bagaimana rasanya mempunyai teman yang selalu ada disisinya. Selalu siap untuk mendengar walaupun dirinya tak bisa untuk bercerita. Selalu siap untuk menanggung keluh kesahnya walaupun dirinya tak bisa menjelaskan segala kerumitan yang ia alami. Selalu siap untuk bilang, “Shaka kalo ada apa-apa bilang kita-kita aja.” Dan Bright rasanya tak siap juga untuk meninggalkan kedua temannya.
Lebih tepatnya, tak siap untuk meninggalkan semuanya.
Setelah acara berpamitan selesai, Bright melangkahkan kedua tungkainya sambil menyeret kopernya mengikuti Papa dari belakang. Sesekali, Bright menoleh ke arah belakang, menatap kedua temannya yang sedang tersenyum sambil melambaikan tangan.
Bright tersenyum hambar. Merasakan ada yang kurang. Merasakan ada yang salah disana.
Metawin tidak ada..
Hahaha, emang lo bakal berharap apa, Bright?
Seharusnya, Metawin disana. Di Antara kedua temannya berdiri sambil tersenyum lalu melambaikan tangan. Atau, memeluk Bright untuk terakhir kalinya. Mengucapkan kata selamat tinggal walaupun sebenarnya ia tak ingin.
Dan itu hanyalah khayalan Bright semata. Khayalan yang tak bisa Bright dapatkan. Dan sekali lagi, Bright harus merelakan semuanya. Merelakan kepingan memori yang tertinggal, dan merelakan Metawin pergi dari hadapannya. Menjemput kebahagiaannya sendiri, dan fokus pada jalan masing-masing.
Karena, walaupun harus diteruskan lagi hubungan mereka, isi otak keduanya sudah tak sama. Jalan yang diambil pun juga sudah berbeda arah. Lalu, apalagi yang harus dipertahankan?
“Shaka.”
Bright mengangkat kepala, menoleh ke arah Papanya.
“Ya?”
“Ada yang lagi kamu tunggu?”
Seakan tahu apa isi arti Bright, Bright hanya bisa terdiam dengan pertanyaan sang Ayah. Lalu, jawaban yang ia berikan hanyalah mengangguk.
“Nggak ada.”
“Metawin?”
“Kenapa?”
“Dia nggak kesini?”
“Kayaknya nggak, Pa.” Bright tersenyum kecil lalu tertawa pelan. Menyembunyikan luka yang merobek hatinya hingga ia merasakan nyeri yang amat hebat. Pemuda itu bahkan terus menahan air matanya yang akan luruh jika ia mengedip sedikit saja. “Jalan aja. Nanti ketinggalan pesawat.”
Papa hanya bisa menatap anaknya yang sedang menyembunyikan sesuatu. Firasatnya mungkin benar jika Bright benar-benar mengharapkan Metawin disini. Namun nyatanya, anak itu tidak ada disini dan menatap kepergian Bright sambil melambaikan tangan.
“Okay, ayo.”
Papanya berjalan terlebih dahulu, namun Bright masih terdiam di sana lalu menoleh ke arah belakang.
Menunggu, dan terus menunggu kedatangan Metawin.
Namun rasanya nihil. Sia-sia. Metawin tak akan pernah menyusulnya.
Haha, dia nggak bakal kesini, Bright.. jalan aja..
Pemuda itu menghembuskan nafasnya, lalu kembali menyeret koper dan melangkahkan kedua tungkainya. Pemuda itu berjalan dengan langkah gontai dengan kepala yang tertunduk ke bawah. Sambil terus membuat pengharapan kalau ada keajaiban datang: Metawin datang kesini, dan memanggilnya dengan suara lantang.
“BRIGHT!”
Bright berhenti melangkahkan kakinya. Merasakan ada satu panggilan familiar yang menyapa telinga.
“SHAKA!”
Yang mempunyai nama pun merasa terpanggil. Lantas, Bright menoleh ke arah belakang.
“JANGAN JALAN DULU!”
Mendapati Metawin yang sedang berlari beberapa meter darinya, sambil menggenggam kertas di tangan kanannya.
Kedua bola mata Bright pun melebar. Koper yang sedari tadi ia genggam pun terlepas, lalu maju beberapa langkah mendekat ke arah Metawin yang sedang berlari.
Nafas pemuda manis itu terengah-engah. Keringat bercucuran mengalir di pelipisnya. Kedua matanya merah membengkak. Tersenyum kecil saat melihat Bright yang semakin lama semakin jelas dari pandangan.
Lalu, sampai saatnya—Metawin menubruk badan besar Bright dan segera memeluknya. Menangis di pundak pemuda itu kencang-kencang. Mendekapnya, lalu menghirup aroma parfum khas milik mantan pacarnya itu.
“Jangan pergi.”
“Gue nggak mau lo pergi.”
“Disini aja please.”
“Lo jahat banget kalo pergi.”
Bright terdiam, namun kedua tangannya pun terangkat dan membalas pelukan Metawin dalam diamnya. Mendekap pemuda itu untuk terakhir kali, dan menenggelamkan wajahnya di pundak Metawin. Keduanya pun menangis, bedanya; Metawin menangis hingga terdengar. Suara tangisannya sangat pilu hingga rasanya tak ingin melepaskan pelukannya dengan Bright.
Dan Bright, ia menangis hingga tak bisa mengeluarkan suara. Menggigit bibir bawahnya, lalu mengelus punggung Metawin dengan lembut.
“Meta, maaf.”
“Bukan itu jawaban yang gue mau.”
“Aku minta maaf sama kamu.. ya?”
“Nggak.. nggak.. tolong jangan pergi. Iya kita udah putus, tapi jangan pergi please?” Metawin menggeleng kuat. Melepaskan pelukan mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca. Kedua matanya menatap Bright lurus-lurus. Raut wajahnya sangat ketara sekali kesedihan yang tak ada habisnya. Metawin pun menggigit bibir, meremat kuat jaket yang Bright kenakan.
“Ta, tapi aku harus pergi.” Bright menjawab dengan senyuman yang mengembang tipis. Satu tangan kanan miliknya pun terangkat ke atas, mengusap kening Metawin yang berkeringat, lalu menyibakkannya agar anak rambut milik Metawin tak menutupi kedua bola mata bundarnya. “Maaf.” Ujarnya sekali lagi.
“Nggak boleh. Nggak, nggak boleh, Shaka. Lo nggak boleh pergi, lo jahat kalau pergi..”
Bright tidak menjawab, ia menggenggam tangan Metawin erat-erat. Lalu menatap wajah anak itu dalam-dalam. Memotretnya menggunakan kedua netra miliknya, lalu menyimpannya rapat-rapat di dalam otak yang mempunyai tempat tersendiri untuk pemuda bernama Metawin Kieran Zalana.
“Aku minta maaf, Ta.” Jawabnya lagi. Ia sudah tak tahu harus berkata apa lagi dengan keadaan mereka seperti ini.
Tangisan Metawin pun pecah tanpa henti. Pemuda itu terus menerus menggelengkan kepalanya, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak peduli dengan beberapa orang sekitar yang menatapnya. Baginya, kepergian Bright adalah luka serta kesedihan terdalam yang ia alami.
Maka dari itu, rasanya menyesakkan. Tak rela, dan marah pada dirinya sendiri.
“Nggak, lo nggak boleh pergi.. Bright.. gue masih sayang sama lo.. kita bisa perbaiki ini pelan-pelan. Gue masih berharap adanya keajaiban yang datang buat bawa gue kembali lagi sama lo,” katanya dengan nafas tersendat. Tak bisa melanjutkan kalimatnya lagi. “gue.. sayang sama lo. Tinggal disini, jangan pergi..”
Bright tak menjawab. Perkataan Metawin barusan cukup menguras energi serta air matanya. Suaranya serak dan habis. Jadinya, ia hanya bisa mendekatkan bibirnya pada kening Metawin. Menarik kepala anak itu dengan lembut agar semakin mudah Bright mengecup kening anak itu dengan singkat.
Namun nyatanya, kecupan singkat itu tak bisa menjadi kecupan singkat lagi. Bright benar-benar menahan bibirnya pada kening Metawin dengan jangka waktu yang lama sambil menangis hingga air matanya menetes hingga dagu. Keduanya sama-sama dalam keadaan yang sulit hingga bingung harus apa. Keputusan yang amat sulit dan membuat keduanya terluka.
“Shaka jangan pergi.”
Bright melepaskan kecupannya. Lalu kembali memeluk dan membawa Metawin dalam dekapannya. Tanpa berkata apa-apa, tanpa mengucapkan apa-apa, ia membiarkan dirinya memeluk anak itu untuk terakhir kalinya dengan tangisan yang pecah hingga dadanya sulit untuk bernafas.
Hingga beberapa menit mereka bertahan dalam pelukan erat, Bright akhirnya melepaskan pelukan. Lalu menatap Metawin dengan kedua netra yang berkaca-kaca. Mengelus puncak kepala Metawin, lalu mengecup kedua pipi serta pangkal hidung milik Metawin.
“Ta, aku pergi dulu ya.”
Metawin menggeleng lemah. Tenaganya tak ada, namun masih berusaha menahan Bright dengan menggenggam tangan itu dengan erat.
“Nanti kita ketemu lagi, ya?”
Metawin tak segera menjawab, namun Bright kembali melangkahkan kedua tungkainya dan menggenggam kopernya lagi. Melepaskan tangan mereka yang tergenggam dengan erat, lalu mengukir senyuman dengan keadaan kedua mata membengkak.
“Shaka biarin gue ikut sama lo!”
Bright tidak menjawab, pemuda itu benar-benar pergi, meninggalkan Metawin dengan kedua kaki yang melangkah pelan. Sesekali, Bright menoleh ke arah belakang, memastikan bahwa Metawin juga pergi setelah dirinya pergi.
Nyatanya, Metawin masih disana. Menangis dengan menatap kepergiannya hingga dirinya hilang dari pandangan, ditelan oleh beberapa orang yang berlalu lalang.
Metawin hancur. Ia menangis sambil menutup bibirnya menggunakan surat dari Bright yang diberikan Harit tadi di mobil. Meremasnya, melampiaskan emosi yang meletup-letup sambil memukul dadanya sendiri.
Sampai dimana, Bright benar-benar hilang. Pergi jauh dari radarnya, dan Metawin sudah tak bisa mencegahnya lagi. Pemuda itu menarik nafas, sambil menangis, Metawin membuka surat yang sudah sedikit lecek akibat ia remas beberapa kali. Dadanya masih sesak, tak rela jika harus ditinggal dan berakhir tragis seperti ini.
Namun sepertinya, ia memang tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan harus merelakan semuanya. Mengubur kenangan mereka berdua rapat-rapat, walaupun hati Metawin masih terkunci sepenuhnya oleh Bright. Jiwanya, hatinya, dan cintanya yang sebesar itu, seakan di renggut dan dibawa pergi oleh Bright ke Canada.
END.



