105 — nunggu


Dengan langkah kaki terburu, Metawin yang belum terkumpul nyawanya, menuruni anak tangga sembari berlari kencang. Ia terkejut saat mendapati Bright sudah berada di depan teras rumahnya. Tak habis pikir juga, untuk apa pria itu pagi-pagi buta di rumahnya?

ceklek

Setelah membuka pintu rumahnya dengan terburu, Win berlari terbirit ke arah pagar. Dan pandangan pertama yang ia lihat adalah Bright sedang duduk di atas kap mobil sembari memainkan ponselnya.

Win menggeser pagar besi dengan kekuatan minim—karena dirinya baru saja bangun tidur, dan masih lemas—lalu menghampiri Bright tanpa menggunakan sendal.

“NGAPAIN, SIH, OM KESINI PAGI-PAGII??”

Bukanlah sapaan manis yang Win berikan, namun bertanya dengan intonasi tinggi. Bright yang mendengarnya pun langsung saja menutup telinganya. Menyimpan ponsel di dalam saku, lalu menatap Metawin sambil bersedekap.

“Saya disuruh Papa kamu kesini, jangan geer,” balasnya sambil berdecak. “udah beres-beres belum? Kalau sudah langsung berangkat aja. Jangan lama-lama.”

Win baru ingin membuka suara, namun Bright segera memotongnya. “Nggak usah mandi. Mandi di appartement saya aja,” tuturnya membuat Metawin kesal.

“Saya baru tidur 3 jam, dan kamu ganggu saya.”

“Apasih??!” Win sewot sendiri. Harusnya ritual bangun pagi indahnya yang sangat sakral pun harus terganggu dengan pria yang lebih tua darinya, datang tanpa di undang, dan mengomel tanpa sebab. “gue juga nggak minta di jemput?”

“Sana ah pulang aja kalau nggak mau nunggu. Gue belum beres-beres.” Lanjut Metawin final. Lalu membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam rumah dengan langkah kesal.

Bright mengangkat sebelah alisnya. Ia bahkan mengekori Metawin dan berhenti di depan pintu masuk rumah anak itu. Duduk pada bangku yang telah disediakan, lalu memainkan ponselnya lagi, sambil menunggu anak itu berkemas.

Lain halnya dengan Bright, Metawin menghentakkan kakinya. Ia menatap ke arah belakang sambil mendumal. Sialan. Masih pagi, dan ia sudah dibuat kesal oleh Bright. Padahal tidak ada yang menyuruhnya untuk menjemput dirinya. Dia bisa saja naik transportasi gocar tanpa harus repot-repot meminta tolong Bright.

“Pantes lo jomblo, ngeselin idupnya,” ucapnya sambil mengepalkan tangan. Meninju ke arah udara kosong. “dasar es kutub. Udahlah ngeselin, dingin lagi kayak sakit tipes. Kayak bapaknya kek yang friendly, tai.”

Lalu daripada membuang waktu lebih lama, Metawin mulai menaiki anak tangga—tetap dengan langkah kaki yang kesal—sambil berharap Bright memutar balik mobilnya dan segera pulang tanpa harus menunggu dirinya. Bisa-bisa, Win kena omel lagi padahal ia sendiri tak meminta Bright untuk menunggu.

“Awas aje kalau selama gue numpang idup sama die, die ngeselin. Gue hengkang anjrit dari rumah, anjing,” Win melanjutkan acara umpat-mengumpatnya. Sambil membuka lemari, dan mengeluarkan koper yang terletak di sudut ruangannya. Mengambil semua baju di dalam lemari dan merapihkannya. Melipatnya hingga kecil-kecil, dan meletakkannya di dalam koper yang sudah terbuka.

Namun, saat Metawin sedang mengemasi barangnya, bunyi notifikasi chat pun berbunyi membuat Win terpaksa harus mengeceknya. Siapa tahu ada yang penting.

Namun, bukannya notifikasi penting, melainkan notifikasi dari Bright, yang seketika membuat Win membanting ponselnya ke atas kasur hingga melambung tinggi.

“ANJING! NGAPAIN NUNGGU, SIH?!”

Dan dirinya dengan terburu mengemasi barang-barang miliknya dan memastikan tak ada yang tertinggal.

Demi Tuhan, menurut Metawin, Bright Sagara membuat mood pagi harinya menjadi buruk.

qrt & likes will be appreciated♡