Rere


Aroma mint bercampur dengan vanilla pun menyeruak mengisi seisi ruangan. Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, Bright berjalan santai dengan handuk yang terlilit di pinggangnya sampai se lutut. Dan menatap Metawin yang masih memakan cemilan di meja makan.

Karena Metawin sedang sibuk mencicipi makanan, Bright berjalan dengan santai melewatinya. Rambutnya yang masih sedikit basah pun, tertetes sedikit-sedikit ke lantai. Juga dengan bunyi sandal rumahan dengan suara pelan, namun sukses mengalihkan atensi Win.

“ANJRIT!” Win memaki panik. Kedua matanya pun langsung terpejam kala melihat pemandangan yang tak senonoh di hadapannya. Mulutnya pun tak henti berkomat-kamit merapalkan kata-kata kotor. Karena saking terkejutnya. “Kayak hantu lo, om. Sana ah lewat.”

Bright mendelik menatap Metawin lalu menggeleng. “Apasih, kayak lihat hantu aja kagetnya.”

“Ye emang, main nyelonong aja, permisi dulu kek!”

Metawin masih setia menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara Bright mengambil handuk yang bertengger di kepala, lalu melemparnya pelan ke arah Metawin.

“Loh ya rumah saya ngapain harus permisi?”

Win berdecak. Kedua matanya otomatis terbuka saat handuk kecil yang sedikit basah itu menempel pada wajahnya. Ia mencebikkan bibir, lalu menatap Bright tajam.

“Jorok.”

“Itu handuk bersih.”

Win melempar handuk tersebut dan mengenai wajah Bright. “Sana ah, om pake baju. Nanti masuk angin aje.”

Bright merotasikkan kedua matanya malas. Baru beberapa jam Metawin menginjakkan kaki di appartementnya, ia sudah jengkel dengan ulah Metawin. Bagaimana jika mereka berdua tinggal satu atap dalam waktu yang lama? Bisa-bisa Bright darah tinggi.

Bright mengalungkan handuk di lehernya, lalu berdeham, “kamu ke kamar kamu dulu, beresin duluan. Saya mau pake baju.”

“Oooghey,”

“Yang bersih ya.”

“Et dah, emang tampang gue tampang-tampang suka tidur di kandang sapi apa,” Win lalu berdiri, mengambil satu cemilan yang tersisa di dalam bungkus chiki, dan memasukkannya ke dalam mulut. “Ngomong-ngomong, kamar nye kaga terlalu kotor kan?”

Bright menggendikan bahunya, “Gak tau, itu gudang soalnya.”

“ANJRIT, TEGA BENER GUE TIDUR DI GUDANG.”

Bright menutup telinganya karena suara Metawin yang memekik nyaring. Ia lalu berdecak malas, tangannya lalu terangkat, dan menyentil kening Metawin pelan. “Ya makanya saya suruh kamu beresin, bocah.”

qrt & likes will be appreciated♡


Win mengangkat kepalanya setelah mendorong pintu mini market menggunakan kedua tangannya yang penuh dengan tentengan dua kresek besar. Pandangannya pun mengedar ke sekeliling, mencari-cari mobil yang terparkir.

Dan saat kedua matanya jatuh ke arah mobil Audi Q7 berwarna hitam yang terparkir di sebrang mini market. Ia lalu tersenyum lebar.

Kakinya lalu melangkah kecil. Melihat ke arah kiri dan kanan terlebih dahulu sebelum menyebrang dan dengan hati-hati, ia berlari kecil menghampiri mobil mewah yang terparkir disana.

tok! tok! tok!

Ia lalu mengetuk kaca mobil di dekat Bright duduk di kemudi. Ia melambaikan tangannya ke arah Bright dan memasang senyum lebar.

“Halo om, ehehehe.” Sapa nya di awal. Bright hanya mengangguk, tak membuka suara ataupun tak membalas sapaan Win. Ia hanya berdeham. Tangan Bright lalu terulur, agak memiringkan tubuhnya untuk membukakan pintu mobil yang berada disebelahnya.

“Masuk.” Ucapnya membuat Win sedikit kesal. Setidaknya, jawab sapaan ia tadi. Bukannya malah berdeham lalu menyuruhnya masuk begitu saja.

tau gitu gak usah gue sapa! ucapnya dalam hati sambil menghentakkan kaki ke tanah.

Kakinya lalu melangkah, berjalan ke arah pintu mobil yang terbuka. Lalu ia masuk ke dalam. Wangi parfum milik Bright memaksa masuk ke dalam indra penciuman Metawin. Kedua matanya pun melirik ke arah Bright yang sedang menatap lurus ke arah depan.

Ia tertegun beberapa saat. Saat tangan kiri Bright dengan lincahnya menarik persneling ke arah belakang. Dengan lengan kemeja yang tergulung sampai siku, Bright memutar stir mobil menggunakan satu tangan.

“Kamu emang masuk kampusnya kapan?” Tanya Bright sambil mengendurkan dasinya menggunakan tangan kiri. Dan dengan kurang ajarnya, terlihat tampan hanya dengan sekali lihat.

“Agustus, sih, Om. Hehehe.” Jawab Win canggung.

Bright mengangguk pelan. Lalu tak berbicara lagi. Matanya fokus ke depan memperhatikan jalanan yang basah karena hujan yang baru saja turun. Sementara Metawin sibuk memakan sesuatu yang baru saja ia beli dari mini market.

Tangan Win merogoh ke dalam kresek putih lalu mengambil minuman kaleng isotonik disana. Kedua matanya melirik ke arah Bright yang sama sekali tak menoleh ke arahnya.

buset ni orang anggep gue hantu kali, ya? pikirnya dalam hati sambil menghembuskan nafasnya malas.

Karena tak ingin membuat atsmosfer didalam mobil menjadi canggung, Win pun menempelkan minuman dingin tersebut pada pipi Bright. Dan sukses membuat sang empu terkejut kecil, dan menoleh ke arahnya dengan cepat.

“Nih om hehehe minum. Fokus amat kayaknya,”

Bright mengambil minuman isotonik tersebut yang menempel pada pipinya. Kedua matanya bahkan berfokus lagi pada jalanan usai melirik ke arah Metawin karena terkejut. Menggunakan tangan kiri, Bright membuka kaleng tersebut dengan gampangnya menggunakan jari. Hingga Win melotot. Karena dirinya saja membuka tutup kaleng tersebut menggunakan dua tangan. Bisa-bisanya Bright hanya dengan satu tangan.

Bright meneguk minuman tersebut hingga 3 kali tegukan. Mengelap sisa-sisa minuman tersebut yang tertinggal di sudut bibirnya menggunakan lengan. Ia lalu menarik nafasnya, meletakan minuman tersebut di dekat persneling.

“Makasih, ya.” Katanya sambil menatap Metawin sebentar, lalu beralih ke arah jalanan lagi.

Win mengangguk. “Yoi, sama-sama, om.”

Mendengar kata 'om' di telinganya beberapa kali, Bright jadi mengangkat sebelah alisnya, menatap Metawin dengan pandangan sanksi, tidak terima.

“Kamu kenapa manggil saya 'om' terus?” Ucapnya dengan nada sedikit kesal. Namun Metawin hanya menggendikkan bahu.

“Nggak tau, enak aja manggilnya.”

“Tapi saya baru 25, dan kamu mungkin baru 19 tahun, hanya beda 6 tahun sebenarnya.”

“Ya, gapapa. Kan om lebih tua dari ku, ya kan?”

Bright menghela nafasnya. Merotasikan matanya dan mengabaikan perkataan terakhir dari Win barusan. Ia lalu membelokkan stir mobil ke arah kanan setelah pertigaan, lalu melirik Metawin menggunakan ekor matanya.

“Terserah kamu lah, asal jangan manggil kakek aja.”

“PFFFT—” Win menutup mulutnya menahan tawa. “Oke, Kek.”

Bright cepat-cepat menoleh. “Dibilang jangan manggil kakek.”

“Iya, Kek.”

“Kalau saya Kakek, Papa kamu apa dong?”

Win tertawa. “Atasan om, kan?”

Bright tak bisa membalas ucapan Win barusan. ya ada benarnya juga, sih. “Saya nggak setua itu, panggil aja nama juga boleh sebenarnya.”

“Nggak ah, om aja. Biar keliatan akrab.”

Bright mendengus geli. “Tapi kamu bukan keponakan saya.”

“Yeee, dikira manggil om itu cuma buat keponakan doang kali.”

Bright menahan tawanya. Ia mengabaikan kata-kata Win barusan karena dirinya sudah sampai tepat di appartement nya. Ia menatap ke arah Metawin sebentar, lalu berucap. “Sudah sampai, nanti istirahat aja dulu baru beres-beres.”

Sang empu mengangguk patuh dengan pipi yang menggembung karena sedang makan. “Iy-yyaw owm.”

“Habisin dulu makanannya.”

Win menelan semua makanan didalam mulut dengan bantuan minuman yang mendorong makanannya untuk masuk ke tenggorokan. Bibirnya pun mengulas sebuah senyuman dan hanya terkikik pelan.

“Om nanti ada kamarnya, kan? Aku tidur dimana?”

“Di dapur.”

“ANJRIT!”

qrt & likes will be appreciated me♡


Suasana kantin sangat ramai.

Banyak orang yang sedang beristirahat dan makan, atau sekedar mengobrol santai dengan kerja.

Namun tidak dengan Metawin dan Bright. Dua pemuda ini sejak awal kedatangannya hanya saling diam bahkan memulai topik pembicaraan saja tidak. Benar-benar suasana yang awkward dan canggung, hanya bagi Win sebenarnya, karena Bright sibuk dengan ponselnya.

Win melirik makanan yang tadi ia pesan namun belum ia sentuh juga. Kedua tangannya yang memegang sendok pun mengambil beberapa sayuran yang tersembunyi dari balik mie, lalu menyisihkannya di pinggir.

Win sangat membenci sayuran, maka dari itu sejak tadi ia tak selera makan pas tau mi goreng yang ia pesan ada sayurannya.

Saat asik menyisihkan sayuran di pinggir piring, Bright melirik Win sekilas. Pria itu lalu mengambil sumpit yang tak terpakai, lalu menjepitnya diantara kedua jari. Tangannya lalu bergerak, terulur ke arah piring Metawin, dan meletakkan kembali sayuran yang telah di sisihkan oleh anak itu.

Kedua mata Win pun melebar. Ia menatap Bright yang dengan santainya meletakkan kembali beberapa sayuran yang telah ia sisihkan. Bibirnya pun terlipat ke bawah, lalu setelahnya ia berdecak.

“Ish, apasih om, sayurannya sengaja di pisahin, tau??” ucapnya dengan nada kesal.

Namun Bright tak langsung menjawab. Ia bahkan meletakkan sayur tersebut menggunakan sumpit ke atas sendok Metawin yang telah terisi mi goreng yang sudah di potong-potong.

Win mendelik, memukul punggung tangan Bright dengan refleks. “Om apaansih, gue gak suka sayur.”

Sadar punggung tangannya di pukul oleh Metawin, Bright mengangkat pandangannya. Tatapannya sangat datar menusuk ke dalam mata Metawin. Anak itu mendumal, dan mengalihkan pandangannya tak ingin menatap Bright.

“Dimakan,” ucapnya dengan santai, namun terkesan datar. “makananmu udah nggak sehat, harus ada sayur.”

“Gue nggak suka sayur masalahnya,” jawab Win memutar kedua matanya malas.

Bright tak langsung menjawab. Ia mengambil beberapa mi menggunakan sumpitnya dan menggulungnya hingga menjadi satu suapan sedikit besar. Tak lupa dengan sayuran yang di gulung di dalam sana, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Win.

“Buka mulutnya.”

Win mengerutkan kening. “Ngapain nih?”

“Nurut.”

Seakan di hipnotis, Win pun membuka bibirnya lalu Bright menyuapinya dengan perlahan. Setelah memastikan seluruh mi yang ia suapkan tadi masuk sepenuhnya ke dalam mulut Metawin, ia lalu meletakkan sumpitnya di atas piring. Menegakkan dagu, dan menatap Win menggunakan mata elangnya.

“Di telan.”

Win menurut. Ia mengunyah mi tersebut tanpa sadar ada sayur yang ikut ia kunyah di dalamnya. Setelahnya, Win menelan mi yang sudah hancur dengan susah payah karena porsi yang di sendokkan Bright untuknya benar-benar banyak. Hingga pipinya menggembung, kesusahan mengunyah.

“Itu tadi ada sayurnya.” ucap Bright sambil melipat kedua tangan didepan dada. Menyandarkan punggung pada kursi, dan menatap Win dengan santai. “Lain kali jangan di sisihin sayurnya.”

“HAH?”

Pria yang lebih tua pun mengangkat sebelah alisnya. “Saya ngasih kamu sayur, bukan sianida.”

“TAPI GUE GAK SUKA SAYUR.”

Bright menghela nafas. “Saya bilangin papa kamu, ya?”

Win mendengus kesal. Ia merampas botol air mineral lalu menandaskan isinya banyak-banyak sampai habis tak tersisa. Ia menatap Bright penuh amarah, dengan lidah yang berdecak dan bergumam tanpa suara.

“Bilangin aja, papa juga tau gue nggak suka sayur.”

Nyebelin banget!! nyesal gue bilang dia ganteng idihhhh.

Bright mengangkat lalu menurunkan kedua pundaknya. Ia lalu menyerahkan ponsel pada Metawin dengan menunjukkan isi room chat Bright dengan Papa nya.

“Auah, sebel banget gue.”

Bright menurunkan ponselnya, lalu menyimpannya kembali di dalam saku. “Habiskan makanannya, saya sibuk.”

“Yaudah nggak usah om tungguin, susah amat.”

Bright memutar matanya, malas. “Yasudah, saya duluan.”

DIH BENERAN DI TINGGALIN.

qrt & likes will be appreciated me♡


Setelah pintu tak terkunci lagi, Bright memutar knop pintu lalu mendorong pintu tersebut dengan pelan sambil berjalan memasuki ruangan. Diikuti oleh Metawin yang berjalan di belakangnya sambil melihat kesana-kemari.

“Akhirnya datang juga,” satu sapaan menyapa indra pendengaran mereka berdua. Bright dan Win pun menoleh berbarengan ke arah Ayah dan Papa yang tengah bermain playstation dengan banyaknya makanan diatas meja. Bright hanya menggeleng kepalanya pelan, sambil memijit pangkal hidungnya, pening.

“Ayah kenapa disini?” Tegur Bright pada sang Ayah yang tengah asyik memakan snack. Layaknya anak muda, Ayah Bright justru mengangkat telapak tangannya ke arah Bright memberikan gesture untuk tos, namun kedua matanya masih berfokus menatap layar televisi yang menampilkan game dari playstation yang ia mainkan.

Sedangkan Win, berjalan menjauhi Bright lalu menghampiri Papanya.

“Haduhhh, kenapa harus barengan, sih, Pa??” ucap Win sambil mendengus. Diletakannya flashdisk hitam sang Papa di atas meja, lalu mencomot satu chiki dengan tak berdosa yang belum terbuka. “Sengaja ya??”

Papa pun mendelik. Memasang wajah pura-pura tak tahu. “Loh apa? Siapa yang sengaja?”

Win mendecak malas. Merotasikan kedua matanya jengah. “Terserahlah,” ucapnya dengan nada malas. “Btw, orangnya jutek.”

Papa tertawa puas namun pelan. Ia lantas menatap anaknya, “Lama-lama nggak jutek nanti.”

“Apasih.”

Sementara, saat Ayah Bright telah menyelesaikan games nya, pria itu menatap Win lalu tersenyum sumringah. Mengangkat tangannya, lalu melambai. Menyapa Metawin dengan sok akrab. “Eh kamu, Metawin. Udah gede aja, padahal baru kemarin Ayah gendong, ingat gak?”

Metawin mengusap lehernya canggung. Mana ia ingat saat dirinya di gendong oleh Ayahnya Bright, masih kecil kali, pikirnya dalam hati.

“Hehehe, nggak ingat, om.”

“Lho kok om panggilnya? Panggil Ayah aja, dong.”

Haduhhhh ini ajang perjodohan apa gimane Win tersungut-sungut dalam hati. Namun ia masih bisa memasang senyum terpaksa.

“Hah?”

“Iya kan kali aja i will soon to be your father-in-law,” Ayah Bright tertawa jenaka, disusul tawa nyaring dari Papa Win hingga Bright dan Win saling bertatapan dengan canggung.

Bright mengusap pipinya pelan, lalu menghela nafas, “Ayah ngapain manggil Bright kesini?”

“Pengen aja.”

“Apaansih ah,” Bright mengangkat sebelah alisnya bingung. “kalau gak ada yang mau diomongin, Bright mau lanjut kerja.”

“Buru-buru banget, Bright? Saya aja sebagai atasan kamu nggak nyuruh kamu kerja, tuh.” Papa Win membuka suara. Pria yang duduk disebelah Win pun memakan cheetos yang masih banyak isinya. Tangannya pun lalu menyodorkan cheetos yang sedang ia genggam ke arah Bright. “Makan dulu, kamu mau, nggak?”

Bright semakin bingung. Ia menatap Metawin meminta penjelasan namun anak itu sama bingungnya dengan Bright.

“Nggak, Pak Evans, makasih sebelumnya.” Bright menolaknya dengan halus. Bukannya ia tak mau menerima, hanya saja di situasi seperti ini, ia sangat canggung. Ia sudah menebak yang akan dilakukan Ayah random nya ini padanya. Apalagi, kehadiran Metawin disini bukanlah serta merta kebetulan.

“Pa, adek mau pergi dulu, ya? Kasihan Khao nunggu di depan.”

Papa pun menggeleng, “nanti dulu, dek. Khao suruh pulang aja, nanti kamu pulangnya bareng Papa.”

“Yah, Pa, lama dong? Papa kan pulang malem...”

“Yasudah kalau begitu diantar Bright aja, ya, berarti?”

Win menatap Ayah Bright dengan pupil melebar. Wajahnya terlihat bingung dan juga bibirnya sedikit terbuka, kaget karna takut-takut ia salah dengar.

“Bright lembur,” balas Bright dengan nada datar. Win meliriknya dan memperhatikan gerak gerik pria yang lebih tua darinya itu dengan cermat. Namun, buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke arah lain karna Bright memergoki dirinya hingga kedua mata mereka bertatapan. “jadi nggak bisa nganter.”

“Halah kamu nih, di depan kamu sekarang ada atasan kamu, bisa minta nggak lembur dulu, kok.”

“Nggak enak, Yah.. Lagian mau ngapain, sih disini? Bright mau meeting sama ngeliat anak magang buat bantu ngarahin.”

Win menggigit bibirnya. Suasana menjadi canggung, jadi sebaiknya ia izin untuk meninggalkan ruangan ini. Karena wajah Bright sudah tak enak dan terus menatapnya dari tadi.

“Um, Om, Papa, aku ke depan dulu, ya? Sebentar, mau nyari makan hehehe.”

Ayah Bright pun menoleh, “Oh yasudah, bareng Bright aja, pasti kamu nggak tau letak kantin di kantor ini.”

aduhhhhh anjrittt!

Bright menoleh ke arahnya. “Yaudah.”

qrt & likes will be apreciated. thank you♡


Bright turun dari mobilnya sambil menenteng tas laptop di genggaman tangan kanan. Kacamata warna hitam yang bertengger di hidungnya pun membuat penampilannya terlihat semakin keren dan tampan membuat seluruh orang-orang yang berada di depan kantor pun melihatnya bersamaan.

Tangan kiri Bright pun menggenggam ponsel. Mengangkat telfon dari Ayahnya yang bawel, yang sejak tadi menanyakan keberadaan dirinya dimana. Padahal, Ayahnya tahu sendiri lalu lintas kota Jakarta seperti apa.

“Lama.” ucap sang Ayah di awal panggilan sambil mendengus. Bright pun mendengus pelan, membalas sapaan sang Ayah yang tak ada manis-manisnya.

“Ayah kebanyakan ke luar negri, lupa kalau kota sendiri macet.” ucapnya setengah menyindir. Memang Ayahnya itu sungguh cerewet, apalagi jika bertemu teman-temannya. Dua kali lipat lebih menyebalkan.

“Ya sudah, cepat kesini,”

“Yaaaaa.”

pip

Lalu sambungan ponsel pun terputus. Bright menyimpan ponselnya ke dalam saku celana dan membetulkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Tangan kanannya pun terangkat, kedua matanya melirik kearah arloji yang melingkar.

Sudah pukul 10 pagi. Padahal ia berangkat jam setengah 9, memang Jakarta kalau hari senin macetnya nggak pakai ampun.

“Pagi, Pak Bright.” sapa salah satu karyawan wanita saat Bright mulai melangkah memasuki gedung.

Karena disapa, Bright menganggukkan kepala, tersenyum ramah. “Pagi.” jawabnya singkat. Padahal ia sangat tidak mood untuk menanggapi siapapun. Pertama karena macet, kedua karena Ayahnya yang bawel.

“Pak Bright, ada Pak Chris menunggu diruangan.”

Bright berhenti sejenak. “Chris yang mana?”

“Ayahnya bapak.”

“Oh..” Bright mengangguk. “Di ruangan Pak Evans ya?”

Wanita berpakaian formal dengan rok pendek serta tangannya yang kerepotan memegangi beberapa dokumen itu mengangguk. “Iya, Pak. Mereka mencari bapak sejak tadi.”

hadeh...

“Yasudah, kalau begitu. Makasih ya.”

“Sama-sama, Pak.”

Bright pun terus melangkahkan kakinya ke arah lift. Matanya pun mengedar, menatap suasana kantor yang cenderung lebih ramai. Ia lalu membuka grup whatsapp dengan notifikasi yang membeludak. Keningnya yang tadinya terlipat pun kini berubah seperti biasa.

“Oh, ada anak magang,” gumamnya lagi sambil menutup ponselnya. “Pantes aja ramai.”

Tangan Bright lalu terulur untuk menekan tombol lift. Namun, belum sempat tombol lift itu ia tekan, ada tangan lain yang menyentuh tangannya.

Bright menoleh dengan terkejut. Di sampingnya, ada pemuda dengan nafas terengah-engah sambil menundukkan tubuh karena kelelahan—mungkin karena terlalu lama berlari.

Bright menautkan kedua alisnya. Seperti melihat anak ini namun dimana.

“Kamu anak magang?” tanya Bright sambil menundukkan badan. “Anak magang langsung ke lantai 3 aja, temui Pak Thanat—”

huh... huh... bukan, om.”

Bright semakin bingung.

Saat pemuda itu masih sibuk mengatur nafas, Bright memperhatikkan gerak-geriknya dengan cermat. Sampai, anak itu menegakkan tubuhnya. Mengelap keringatnya yang mengucur di wajah serta menyampirkan poni yang hampir menutupi kedua matanya.

Kedua mata Bright pun membesar. “Metawin, ya?”

Serasa dipanggil, Win mematung. Menatap laki-laki yang berada dihadapannya dengan raut wajah terkejut. Bibirnya pun terbuka membentuk huruf o, namun dengan sesegera mungkin, ia menetralkan raut wajahnya. Merubahnya menjadi kalem.

“Eh.. Eh.. bukan—”

“Bener, kok Metawin. Saya lihat profile pict kamu di kontak.”

Win menggigit bibir bawahnya. brengsek, apa-apaan???? kok ini om om ada disini dah??

Namun, secepat mungkin ia tertawa canggung. Mengusap tengkuknya yang tak gatal, lalu mengangguk. “Hehehehe, iya, om.”

Bright menggelengkan kepalanya. Tangannya pun terulur lagi, menekan tombol lift agar pintu lift terbuka lagi karena tadi ia tak sempat masuk ke dalam hanya untuk memperhatikan Metawin yang sedang terengah-engah.

“Ngapain kamu disini?” tanyanya dengan sedikit curiga. Karena tiba-tiba saja Ayahnya menyuruh dirinya untuk ke ruangan Pak Evans yang mana Metawin ini anak dari atasannya.

“Mau ke ruangan Papa,” jawab Metawin enteng. “Ruangan Papa dimana, ya, Om? Tau, nggak?”

“Papa kamu siapa?” tanyanya memastikan sambil memincingkan mata. Menatap Metawin dengan tatapan penuh selidik.

“Chris Evans,” jawab Metawin dengan santai. “tau kan, om?”

Tak salah lagi. Bright pun memijit pangkal hidungnya karena tiba-tiba saja kepalanya mendadak pening. Sambil menghela nafas, ia mengangguk pelan. “Tau. Bareng aja, saya juga mau kesana.”

Win mengerjapkan matanya. Ia lalu mengangguk cepat lalu masuk kedalam lift mengekori Bright yang masih diam sambil menatap ke arah depan.

Ia jadi teringat chat pertama yang ia kirimkan untuk Bright. Seketika dirinya pun merasa malu. Ia merutuki kebodohan dirinya dalam hati.

eh tapi, kalau dari dekat gini ganteng banget anjrit

kira-kira parfumnya apa ya? wangi...

mana gue belum mandi lagi hadeeeh, malu

qrt & likes will be appreciated. thankyou♡

the journey of changing one's mind. heart. self. or way of life : spiritual conversation hurt heavy angst slow-burn hooman!bright ghost!metawin


summary

“bright, kalau misal aku mati gimana?”

“lo udah mati.” balas bright sambil mendecakkan lidahnya dan lanjut mengetikkan naskah novel miliknya yang sempat tertunda.

“bukan itu!” win membalas ucapan bright dan memasang wajahnya yang murung. wujudnya yang tembus pandang serta melayang-layang pada langit-langit kamar bright kesana kemari membuat bright kehilangan konsentrasinya hingga beberapa kali. “kalau misal... aku nggak ketemu lagi sama kamu, gimana?”

“apasih? jangan ngada-ngada deh lo. lo aja nggak bisa balik kan sekarang?”

bright, aku tau kamu khawatir aku pergi kan?


DAY-1

—bright's pov

sebenarnya kegiatan gue di hari minggu itu sederhana. melepas penat gue dari hari senin hingga sabtu karena tidak berhenti libur. maka dari itu, di hari minggu ini gue benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin yang nggak bisa gue kerjakan di hari biasanya.

seperti sekarang, gue duduk merebahkan tubuh gue diatas ranjang besar ber-sprei motif hitam kotak-kotak putih. mata gue masih memandang layar ponsel yang bertuliskan to do list gue yang gue bikin tadi malam.

ya iya, gue memang butuh to do list seperti ini. tujuannya agar gue nggak keteteran mengerjakan sesuatu. biar hidup gue terjadwal lah intinya.

gue melirik laptop gue yang terbuka. tampilan microsoft office dengan ketikan beberapa paragraf ber-font Times New Romans pun memenuhi layar. di sudut laptop, terdapat tulisan 20.000 words atau dengan kata lain, gue baru mengerjakan separuh dari 50.000 fonts.

gue menghela nafas pendek. deadline novel gue harus dikumpulkan dalam kurun waktu satu bulan atau lebih tepatnya yah, 30 hari. masih tersisa 30 ribu words lagi agar semua page gue rampung seutuhnya. bisa saja, sih, gue mengerjakan satu hari satu word, tapi itu tidak mungkin karena keseharian gue yang padat melebihi ibu kota Jakarta di hari senin.

sebagai seorang penulis, pasti gue merasakan yang namanya writer's block atau nggak ada keinginan buat menulis. ide gue stuck di satu tempat. yah, sebenarnya alurnya, sih, udah ada. tinggal bagaimana gue eksekusi nya aja bagaimana.

masalahnya, GUE SEDANG NGGAK ADA IDE. seriously! ini susah parah.

belum lagi novel gue itu dikategorikan best seller. setiap gue mengeluarkan novel, pasti novel gue itu menjadi booming dan trending topic 7 hari 7 malam.

gue nggak maksud sombong ya, tapi lo bisa cek novel terbitan gue. lo bisa search di gramedia terdekat dan pandangan pertama yang lo lihat adalah novel karya Bright Chivaaree paling atas mengalahi novel karya tereliye.

udah deh, stop sombong-sombong. karena memang nggak ada habisnya.

ting!

ponsel gue lalu berdenting. lantas gue mengambil ponsel gue yang sengaja gue letakan diatas nakas. dengan cekatan, kedua netra gue membaca notifikasi chat dari mike, teman seperbangsatan gue yang paling bangsat diantara yang lain.

mike : bro lo lagi free kan?

gue mengerutkan kening. kenape nih tiba-tiba nanyain gue free atau kagak? pasti yang aneh-aneh.

bright : kalau lo ngajak gue ke club atau ons di pagi buta, gue tolak.

lalu setelahnya gue tekan tanda sent lalu chat pun terkirim.

baru saja gue mau meletakkan lagi ponsel gue, mike telfon gue secara tiba-tiba. ya gue angkat dan menyahut dengan nada malas gue biasanya.

“hoi bright, gue tebak lo lagi gabut, kan?” tanya nya dengan pertanyaan tak membantu.

gue mendumal pelan sambil mengusap wajah gue kasar. “segabut-gabutnya gue, gue nggak segabut lo, mike.”

lalu terdengar gelak tawa dari sebrang. cukup lama gue mendengar tawanya yang menggelegar. entah karena betulan lucu atau karena sahutan nada gue yang terdengar malas dan bosan.

“main lah.” ucapnya lagi.

“ke?”

“kemana gitu? lo nggak mau refreshing? gue tebak,” mike pun menjeda pertanyaannya sebentar, lalu ia lanjutkan lagi. “lo pasti lagi stuck nulis kan?”

sialan, dia bisa nebak juga make otak kecilnya ternyata.

“hmmm.” balas gue ogah-ogahan. “kemana dulu? kalau lo ngajak ke—”

“nggak elah. kali ini kita ke rumah gunsmile.”

gue pun mengangguk setuju. kerumah teman gue yang bernama gunsmile itu tak terlalu buruk. ada benarnya juga kata mike barusan, kalau gue butuh refreshing sejenak dari tugas antah berantah gue. dan harus mencari ide baru.

deal, gue kesana 30 menit lagi.”

“15 menit.”

“30 menit anjing, atau gue nggak ikut.”

“iye dah nyet.”


“hari ini adalah perang, kemungkinan akan banyak pertempuran darah disini,” bright meletakkan kedua tangannya dibelakang punggung. seperti biasa, ia mengitari para tentara yang sudah disiapkan untuk perang di dekat pantai Vescount, laut utara.

“saya mengitung pasukan dari tuan winston, perdana menteri laut utara, sekitar 100 ribu orang yang akan melawan kita.” sambungnya lagi membuat para bala tentara yang berada disitu menelan ludahnya takut-takut. kekuatan dari pasukan tuan winston adalah dua atau tiga kali lipat daripada pasukan mereka. mustahil, jika mereka akan menang. “apa ada disini yang memutuskan untuk mundur?”

hening. tak ada jawaban atas pertanyaan bright barusan. bright memincingkan matanya, raut wajahnya pun sangat tak dapat di prediksi. mungkin jika harus disamakan dengan papan, wajahnya jauh lebih parah datarnya. “tidak ada yang keberatan, ya?”

baru saja bright menuntaskan ucapannya, ada salah satu lelaki berumur 19 tahun mengangkat tangan dengan takut-takut hingga seluruh pasukan pun menatap nya dengan heran.

bright mengangkat wajahnya, sedikit berjinjit untuk mengetahui siapa orang yang mengangkat tangannya karena keberatan dengan perang hari ini. “kamu keberatan?” tanya bright dengan suara yang menggema. membuat seisi ruangan merinding hingga gemetar saking takutnya.

anak laki-laki itupun mengangguk dengan susah payah. “i-iya, pangeran. sumpah mati saya sangat takut dengan jumlah pasukan musuh yang sangat banyak itu.”

bright menghembuskan nafasnya. ia lalu melangkah mendekat kearah anak itu dengan langkah yang lebar-lebar, hingga pemuda itupun gemetar karena takut jika sewaktu-waktu prince bright memenggal kepalanya detik ini juga.

padahal, sekejam-kejamnya bright, ia tak sampai hati memenggal kepala para pasukan. kecuali, dengan orang-orang yang berkhianat padanya.

“nama.” bright berucap dengan intonasi tegas dan suaranya mampu terdengar diseisi ruangan. bahu anak itupun bergetar hebat, dalam hati ia terus memaki mengapa ia mengangkat tangan.

“p-park j-jihoon.” jawab anak itu dengan gugup sambil meremat ujung jarinya kencang.

“umur?”

“19 tahun.”

bright merendahkan tubuhnya untuk mengangkat wajah anak itu yang masih tertunduk. kedua alisnya pun bertaut bingung. “kamu omega, bukan? umurmu dibawah 21 tahun, mengapa ikut perang?”

jika kalian bertanya mengapa bright mengetahui jihoon omega atau tidak, jawabannya adalah daya endus bright sangat kuat. ia bahkan bisa mencium bau dari radius beberapa kilometer. selain dianugrahi indra penciuman yang tajam, kedua mata bright pun seperti mata pisau maupun elang. jadi, jangan heran.

“a-anu.”

“lepas atribut kamu, kembali ke camp.”

“b-baik.” anak itu melepas seluruh atribut termasuk baju besi yang ia kenakan, juga dengan tombak besi yang ia letakan dengan hati-hati diatas tanah. dengan gemetar, ia sambil mengucap syukur kalau kalau prince bright tak jadi membunuhnya.

“siapa yang memberi kamu pekerjaan ini?” tanya bright lagi. jihoon pun menggigit bibirnya keras-keras.

“pak off...”

bright memijit pangkal hidungnya karena pening. “bisa-bisanya off menyuruh kamu,” ucapnya lalu menghela nafas jengkel. “habis ini, suruh off menghadap saya.”

“b-baik, p-prince.”

lalu, jihoon berlari, meninggalkan ruangan sekaligus bright yang masih menatap punggungnya yang semakin menjauh.

“ada lagi yang seperti jihoon? jangan coba berbohong, karena saya tahu isi pikiran kalian semua.”

dan yah, sesuai tebakan, tak ada yang berani berbohong pada prince bright chivaaree, bisa-bisa kau akan diletakan dipenjara bawah tanah dengan mahkluk mengerikan didalam sana.

dan seluruh prajurit militer yang ada disana pun terdiam hingga seluruh ruangan berubah menjadi hening. tak ada dari mereka satupun yang dapat menjawab pertanyaan bright. walaupun, pertanyaan bright itu hanyalah pertanyaan biasa, namun sebetulnya itu mampu membuat bulu kuduk merinding.

“tak ada?” bright bertanya lagi. seperti mengulang pertanyaan sebelumnya tak ada yang menjawab. “kalau begitu, lanjutkan latihannya.”

“siap, prince!” seru para prajurit disana dan membungkukkan badannya, memberikan hormat pada putra mahkota yang berlalu meninggalkan ruangan dengan langkah kaki yang besar-besar.

badannya tegap. ia menggulung baju kerajaannya hingga siku, dengan kedua tangan yang berada dibelakang punggung, dan dagu yang terangkat memberikan kesan angkuh dan arogan.

namun sebetulnya, pangeran kita satu ini hanya mempunyai hati yang dingin, kepribadian yang sulit di tebak, cerdas, ahli perang disegala medan. bukanlah seorang yang sombong dan terkesan sadis seperti psikopat. bukan.

“ma, ngapain?”

“mama bikinin susu buat kamu, bright. sini diminum dulu.”

—dan juga hati yang lembut jika berhadapan dengan ratu lili.

to be continue

“jangan di dalam ruangan deh, gerah.”

off menyetujui ajakan atasannya itu untuk berbicara di luar. selain ada ratu lili yang sedang membersihkan kamar pangeran, yah jangan ditanya, prince bright ini hanya ingin dibereskan kamarnya oleh sang ibu. walaupun bright memang tak meminta, namun ratu lili selalu bersikeras untuk merapihkan kamar anaknya itu.

“gimana? tay, joss, yang lain sudah berangkat berburu?” tanya bright lagi pada off. yang ditanya pun mengangguk cepat.

“sudah, bright. baru tadi mereka jalan sama yang lain,” balas off melihat atasannya itu dengan segan.

too much information, tay, joss dan tentunya off ini adalah teman kecilnya bright dulu. mereka berempat anak keturunan bangsawan, hidup berdampingan dibawah bimbingan para petinggi-petinggi istana. dan yah, jangan heran jika tay, joss dan off senang melakukan pekerjaan dibawah pimpinan bright.

“ohh oke.” balas bright mengangguk. mereka berdua lalu berhenti dibawah pohon apel. bright, duduk dibawah sana diikuti oleh off yang duduk dihadapannya. “soal jihoon tadi. kenapa lo taro dia di bagian tentara perang? umurnya underage dan lagi, dia omega?”

off mematung mendengarnya. dengan berat hati, ia pun menundukkan kepalanya. “maaf, bright. tapi kita kekurangan pasukan untuk perang besok..”

sang pangeran pun menghela nafasnya pelan. satu tangannya pun terangkat, menenggelamkan wajahnya disana. “ya tapi, kan jangan omega juga gitu? kalian ini benar-benar nggak percaya diri ya?”

“bukan gitu,” off menyahut dengan cepat. “jumlah pasukan lawan yang beratus ribu itu, sangat kalah telak dengan jumlah pasukan kita, bright.”

“percaya sama gue, off. ada gue, gue yang mimpin di medan perang,” ucap bright menepuk pundak off pelan. matanya pun melirik kearah belakang off, memincing untuk menelisik yang berada dibelakang pohon yang berjarak beberapa meter dari mereka berdua. “tenang aja.”

off hanya menghela nafasnya. memang, selama bright yang memimpin peperangan, tak ada satupun para prajurit yang gugur. pasukan lawan di babat habis oleh bright dalam wujud serigalanya itu. membabi buta tanpa ampun, dan berakhir dengan kemenangan.

“oke, bright.”

“btw, lo nunduk.” suruh bright pada off. sementara, off menatap bright dengan bingung dan alis yang bertaut.

“buat?”

“nunduk gue bilang.”

buru-buru off pun menundukkan kepalanya. sementara, bright dengan cekatan mengeluarkan pistol dari balik baju yang ia kenakan. membidik kearah pohon tersebut lalu tak lama melepaskan peluru hingga terdengar bunyi dor

off terkejut sedikit dengan apa yang bright lakukan. bright memang seperti itu, terkadang membuat sesuatu yang membuat dirinya atau yang lain terkejut juga terheran.

“ada apa, bright?”

“ada penyusup dibalik pohon,” balas bright dan kembali meletakkan pistol miliknya dibalik pakaian yang ia kenakan. “hampir aja kepala lo atau kepala gue bolong karena peluru.”

“hah? iya?”

off pun dengan cepat memutar kepalanya, menoleh kearah belakang sambil memincinkan kedua mata. disana, tampak orang berpakaian serba hitam yang terbujur kaku disebelah pohon. kepalanya berlumuran darah karena bright menembaknya dengan tepat sasaran.

“urus tuh, gue mau ngehadap raja.” kata bright lagi sambil menggendikkan dagunya, menunjuk.

to be continue

“jangan di dalam ruangan deh, gerah.”

off menyetujui ajakan atasannya itu untuk berbicara di luar. selain ada ratu lili yang sedang membersihkan kamar pangeran, yah jangan ditanya, prince bright ini hanya ingin dibereskan kamarnya oleh sang ibu. walaupun bright memang tak meminta, namun ratu lili selalu bersikeras untuk merapihkan kamar anaknya itu.

“gimana? tay, joss, yang lain sudah berangkat berburu?” tanya bright lagi pada off. yang ditanya pun mengangguk cepat.

“sudah, bright. baru tadi mereka jalan sama yang lain,” balas off melihat atasannya itu dengan segan.

too much information, tay, joss dan tentunya off ini adalah teman kecilnya bright dulu. mereka berempat anak keturunan bangsawan, hidup berdampingan dibawah bimbingan para petinggi-petinggi istana. dan yah, jangan heran jika tay, joss dan off senang melakukan pekerjaan dibawah pimpinan bright.

“ohh oke.” balas bright mengangguk. mereka berdua lalu berhenti dibawah pohon apel. bright, duduk dibawah sana diikuti oleh off yang duduk dihadapannya. “soal jihoon tadi. kenapa lo taro dia di bagian tentara perang? umurnya underage dan lagi, dia omega?”

off mematung mendengarnya. dengan berat hati, ia pun menundukkan kepalanya. “maaf, bright. tapi kita kekurangan pasukan untuk perang besok..”

sang pangeran pun menghela nafasnya pelan. satu tangannya pun terangkat, menenggelamkan wajahnya disana. “ya tapi, kan jangan omega juga gitu? kalian ini benar-benar nggak percaya diri ya?”

“bukan gitu,” off menyahut dengan cepat. “jumlah pasukan lawan yang beratus ribu itu, sangat kalah telak dengan jumlah pasukan kita, bright.”

“percaya sama gue, off. ada gue, gue yang mimpin di medan perang,” ucap bright menepuk pundak off pelan. matanya pun melirik kearah belakang off, memincing untuk menelisik yang berada dibelakang pohon yang berjarak beberapa meter dari mereka berdua. “tenang aja.”

off hanya menghela nafasnya. memang, selama bright yang memimpin peperangan, tak ada satupun para prajurit yang gugur. pasukan lawan di babat habis oleh bright dalam wujud serigalanya itu. membabi buta tanpa ampun, dan berakhir dengan kemenangan.

“oke, bright.”

“btw, lo nunduk.” suruh bright pada off. sementara, off menatap bright dengan bingung dan alis yang bertaut.

“buat?”

“nunduk gue bilang.”

buru-buru off pun menundukkan kepalanya. sementara, bright dengan cekatan mengeluarkan pistol dari balik baju yang ia kenakan. membidik kearah pohon tersebut lalu tak lama melepaskan peluru hingga terdengar bunyi dor

off terkejut sedikit dengan apa yang bright lakukan. bright memang seperti itu, terkadang membuat sesuatu yang membuat dirinya atau yang lain terkejut juga terheran.

“ada apa, bright?”

“ada penyusup dibalik pohon,” balas bright dan kembali meletakkan pistol miliknya dibalik pakaian yang ia kenakan. “hampir aja kepala lo atau kepala gue bolong karena peluru.”

“hah? iya?”

off pun dengan cepat memutar kepalanya, menoleh kearah belakang sambil memincinkan kedua mata. disana, tampak orang berpakaian serba hitam yang terbujur kaku disebelah pohon. kepalanya berlumuran darah karena bright menembaknya dengan tepat sasaran.

“urus tuh, gue mau ngehadap raja.” kata bright lagi sambil menggendikkan dagunya, menunjuk.

to be continue

putra mahkota

“hari ini adalah perang, kemungkinan akan banyak pertempuran darah disini,” bright meletakkan kedua tangannya dibelakang punggung. seperti biasa, ia mengitari para tentara yang sudah disiapkan untuk perang di dekat pantai Vescount, laut utara.

“saya mengitung pasukan dari tuan winston, perdana menteri laut utara, sekitar 100 ribu orang yang akan melawan kita.” sambungnya lagi membuat para bala tentara yang berada disitu menelan ludahnya takut-takut. kekuatan dari pasukan tuan winston adalah dua atau tiga kali lipat daripada pasukan mereka. mustahil, jika mereka akan menang. “apa ada disini yang memutuskan untuk mundur?”

hening. tak ada jawaban atas pertanyaan bright barusan. bright memincingkan matanya, raut wajahnya pun sangat tak dapat di prediksi. mungkin jika harus disamakan dengan papan, wajahnya jauh lebih parah datarnya. “tidak ada yang keberatan, ya?”

baru saja bright menuntaskan ucapannya, ada salah satu lelaki berumur 19 tahun mengangkat tangan dengan takut-takut hingga seluruh pasukan pun menatap nya dengan heran.

bright mengangkat wajahnya, sedikit berjinjit untuk mengetahui siapa orang yang mengangkat tangannya karena keberatan dengan perang hari ini. “kamu keberatan?” tanya bright dengan suara yang menggema. membuat seisi ruangan merinding hingga gemetar saking takutnya.

anak laki-laki itupun mengangguk dengan susah payah. “i-iya, pangeran. sumpah mati saya sangat takut dengan jumlah pasukan musuh yang sangat banyak itu.”

bright menghembuskan nafasnya. ia lalu melangkah mendekat kearah anak itu dengan langkah yang lebar-lebar, hingga pemuda itupun gemetar karena takut jika sewaktu-waktu prince bright memenggal kepalanya detik ini juga.

padahal, sekejam-kejamnya bright, ia tak sampai hati memenggal kepala para pasukan. kecuali, dengan orang-orang yang berkhianat padanya.

“nama.” bright berucap dengan intonasi tegas dan suaranya mampu terdengar diseisi ruangan. bahu anak itupun bergetar hebat, dalam hati ia terus memaki mengapa ia mengangkat tangan.

“p-park j-jihoon.” jawab anak itu dengan gugup sambil meremat ujung jarinya kencang.

“umur?”

“19 tahun.”

bright merendahkan tubuhnya untuk mengangkat wajah anak itu yang masih tertunduk. kedua alisnya pun bertaut bingung. “kamu omega, bukan? umurmu dibawah 21 tahun, mengapa ikut perang?”

jika kalian bertanya mengapa bright mengetahui jihoon omega atau tidak, jawabannya adalah daya endus bright sangat kuat. ia bahkan bisa mencium bau dari radius beberapa kilometer. selain dianugrahi indra penciuman yang tajam, kedua mata bright pun seperti mata pisau maupun elang. jadi, jangan heran.

“a-anu.”

“lepas atribut kamu, kembali ke camp.”

“b-baik.” anak itu melepas seluruh atribut termasuk baju besi yang ia kenakan, juga dengan tombak besi yang ia letakan dengan hati-hati diatas tanah. dengan gemetar, ia sambil mengucap syukur kalau kalau prince bright tak jadi membunuhnya.

“siapa yang memberi kamu pekerjaan ini?” tanya bright lagi. jihoon pun menggigit bibirnya keras-keras.

“pak off...”

bright memijit pangkal hidungnya karena pening. “bisa-bisanya off menyuruh kamu,” ucapnya lalu menghela nafas jengkel. “habis ini, suruh off menghadap saya.”

“b-baik, p-prince.”

lalu, jihoon berlari, meninggalkan ruangan sekaligus bright yang masih menatap punggungnya yang semakin menjauh.

“ada lagi yang seperti jihoon? jangan coba berbohong, karena saya tahu isi pikiran kalian semua.”

dan yah, sesuai tebakan, tak ada yang berani berbohong pada prince bright chivaaree, bisa-bisa kau akan diletakan dipenjara bawah tanah dengan mahkluk mengerikan didalam sana.

to be continue