76 — gudang
Aroma mint bercampur dengan vanilla pun menyeruak mengisi seisi ruangan. Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, Bright berjalan santai dengan handuk yang terlilit di pinggangnya sampai se lutut. Dan menatap Metawin yang masih memakan cemilan di meja makan.
Karena Metawin sedang sibuk mencicipi makanan, Bright berjalan dengan santai melewatinya. Rambutnya yang masih sedikit basah pun, tertetes sedikit-sedikit ke lantai. Juga dengan bunyi sandal rumahan dengan suara pelan, namun sukses mengalihkan atensi Win.
“ANJRIT!” Win memaki panik. Kedua matanya pun langsung terpejam kala melihat pemandangan yang tak senonoh di hadapannya. Mulutnya pun tak henti berkomat-kamit merapalkan kata-kata kotor. Karena saking terkejutnya. “Kayak hantu lo, om. Sana ah lewat.”
Bright mendelik menatap Metawin lalu menggeleng. “Apasih, kayak lihat hantu aja kagetnya.”
“Ye emang, main nyelonong aja, permisi dulu kek!”
Metawin masih setia menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sementara Bright mengambil handuk yang bertengger di kepala, lalu melemparnya pelan ke arah Metawin.
“Loh ya rumah saya ngapain harus permisi?”
Win berdecak. Kedua matanya otomatis terbuka saat handuk kecil yang sedikit basah itu menempel pada wajahnya. Ia mencebikkan bibir, lalu menatap Bright tajam.
“Jorok.”
“Itu handuk bersih.”
Win melempar handuk tersebut dan mengenai wajah Bright. “Sana ah, om pake baju. Nanti masuk angin aje.”
Bright merotasikkan kedua matanya malas. Baru beberapa jam Metawin menginjakkan kaki di appartementnya, ia sudah jengkel dengan ulah Metawin. Bagaimana jika mereka berdua tinggal satu atap dalam waktu yang lama? Bisa-bisa Bright darah tinggi.
Bright mengalungkan handuk di lehernya, lalu berdeham, “kamu ke kamar kamu dulu, beresin duluan. Saya mau pake baju.”
“Oooghey,”
“Yang bersih ya.”
“Et dah, emang tampang gue tampang-tampang suka tidur di kandang sapi apa,” Win lalu berdiri, mengambil satu cemilan yang tersisa di dalam bungkus chiki, dan memasukkannya ke dalam mulut. “Ngomong-ngomong, kamar nye kaga terlalu kotor kan?”
Bright menggendikan bahunya, “Gak tau, itu gudang soalnya.”
“ANJRIT, TEGA BENER GUE TIDUR DI GUDANG.”
Bright menutup telinganya karena suara Metawin yang memekik nyaring. Ia lalu berdecak malas, tangannya lalu terangkat, dan menyentil kening Metawin pelan. “Ya makanya saya suruh kamu beresin, bocah.”
qrt & likes will be appreciated♡