57 — makan bareng
Suasana kantin sangat ramai.
Banyak orang yang sedang beristirahat dan makan, atau sekedar mengobrol santai dengan kerja.
Namun tidak dengan Metawin dan Bright. Dua pemuda ini sejak awal kedatangannya hanya saling diam bahkan memulai topik pembicaraan saja tidak. Benar-benar suasana yang awkward dan canggung, hanya bagi Win sebenarnya, karena Bright sibuk dengan ponselnya.
Win melirik makanan yang tadi ia pesan namun belum ia sentuh juga. Kedua tangannya yang memegang sendok pun mengambil beberapa sayuran yang tersembunyi dari balik mie, lalu menyisihkannya di pinggir.
Win sangat membenci sayuran, maka dari itu sejak tadi ia tak selera makan pas tau mi goreng yang ia pesan ada sayurannya.
Saat asik menyisihkan sayuran di pinggir piring, Bright melirik Win sekilas. Pria itu lalu mengambil sumpit yang tak terpakai, lalu menjepitnya diantara kedua jari. Tangannya lalu bergerak, terulur ke arah piring Metawin, dan meletakkan kembali sayuran yang telah di sisihkan oleh anak itu.
Kedua mata Win pun melebar. Ia menatap Bright yang dengan santainya meletakkan kembali beberapa sayuran yang telah ia sisihkan. Bibirnya pun terlipat ke bawah, lalu setelahnya ia berdecak.
“Ish, apasih om, sayurannya sengaja di pisahin, tau??” ucapnya dengan nada kesal.
Namun Bright tak langsung menjawab. Ia bahkan meletakkan sayur tersebut menggunakan sumpit ke atas sendok Metawin yang telah terisi mi goreng yang sudah di potong-potong.
Win mendelik, memukul punggung tangan Bright dengan refleks. “Om apaansih, gue gak suka sayur.”
Sadar punggung tangannya di pukul oleh Metawin, Bright mengangkat pandangannya. Tatapannya sangat datar menusuk ke dalam mata Metawin. Anak itu mendumal, dan mengalihkan pandangannya tak ingin menatap Bright.
“Dimakan,” ucapnya dengan santai, namun terkesan datar. “makananmu udah nggak sehat, harus ada sayur.”
“Gue nggak suka sayur masalahnya,” jawab Win memutar kedua matanya malas.
Bright tak langsung menjawab. Ia mengambil beberapa mi menggunakan sumpitnya dan menggulungnya hingga menjadi satu suapan sedikit besar. Tak lupa dengan sayuran yang di gulung di dalam sana, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Win.
“Buka mulutnya.”
Win mengerutkan kening. “Ngapain nih?”
“Nurut.”
Seakan di hipnotis, Win pun membuka bibirnya lalu Bright menyuapinya dengan perlahan. Setelah memastikan seluruh mi yang ia suapkan tadi masuk sepenuhnya ke dalam mulut Metawin, ia lalu meletakkan sumpitnya di atas piring. Menegakkan dagu, dan menatap Win menggunakan mata elangnya.
“Di telan.”
Win menurut. Ia mengunyah mi tersebut tanpa sadar ada sayur yang ikut ia kunyah di dalamnya. Setelahnya, Win menelan mi yang sudah hancur dengan susah payah karena porsi yang di sendokkan Bright untuknya benar-benar banyak. Hingga pipinya menggembung, kesusahan mengunyah.
“Itu tadi ada sayurnya.” ucap Bright sambil melipat kedua tangan didepan dada. Menyandarkan punggung pada kursi, dan menatap Win dengan santai. “Lain kali jangan di sisihin sayurnya.”
“HAH?”
Pria yang lebih tua pun mengangkat sebelah alisnya. “Saya ngasih kamu sayur, bukan sianida.”
“TAPI GUE GAK SUKA SAYUR.”
Bright menghela nafas. “Saya bilangin papa kamu, ya?”
Win mendengus kesal. Ia merampas botol air mineral lalu menandaskan isinya banyak-banyak sampai habis tak tersisa. Ia menatap Bright penuh amarah, dengan lidah yang berdecak dan bergumam tanpa suara.
“Bilangin aja, papa juga tau gue nggak suka sayur.”
Nyebelin banget!! nyesal gue bilang dia ganteng idihhhh.
Bright mengangkat lalu menurunkan kedua pundaknya. Ia lalu menyerahkan ponsel pada Metawin dengan menunjukkan isi room chat Bright dengan Papa nya.
“Auah, sebel banget gue.”
Bright menurunkan ponselnya, lalu menyimpannya kembali di dalam saku. “Habiskan makanannya, saya sibuk.”
“Yaudah nggak usah om tungguin, susah amat.”
Bright memutar matanya, malas. “Yasudah, saya duluan.”
DIH BENERAN DI TINGGALIN.
qrt & likes will be appreciated me♡