METANOIA
the journey of changing one's mind. heart. self. or way of life : spiritual conversation hurt heavy angst slow-burn hooman!bright ghost!metawin
summary
“bright, kalau misal aku mati gimana?”
“lo udah mati.” balas bright sambil mendecakkan lidahnya dan lanjut mengetikkan naskah novel miliknya yang sempat tertunda.
“bukan itu!” win membalas ucapan bright dan memasang wajahnya yang murung. wujudnya yang tembus pandang serta melayang-layang pada langit-langit kamar bright kesana kemari membuat bright kehilangan konsentrasinya hingga beberapa kali. “kalau misal... aku nggak ketemu lagi sama kamu, gimana?”
“apasih? jangan ngada-ngada deh lo. lo aja nggak bisa balik kan sekarang?”
bright, aku tau kamu khawatir aku pergi kan?
DAY-1
—bright's pov
sebenarnya kegiatan gue di hari minggu itu sederhana. melepas penat gue dari hari senin hingga sabtu karena tidak berhenti libur. maka dari itu, di hari minggu ini gue benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin yang nggak bisa gue kerjakan di hari biasanya.
seperti sekarang, gue duduk merebahkan tubuh gue diatas ranjang besar ber-sprei motif hitam kotak-kotak putih. mata gue masih memandang layar ponsel yang bertuliskan to do list gue yang gue bikin tadi malam.
ya iya, gue memang butuh to do list seperti ini. tujuannya agar gue nggak keteteran mengerjakan sesuatu. biar hidup gue terjadwal lah intinya.
gue melirik laptop gue yang terbuka. tampilan microsoft office dengan ketikan beberapa paragraf ber-font Times New Romans pun memenuhi layar. di sudut laptop, terdapat tulisan 20.000 words atau dengan kata lain, gue baru mengerjakan separuh dari 50.000 fonts.
gue menghela nafas pendek. deadline novel gue harus dikumpulkan dalam kurun waktu satu bulan atau lebih tepatnya yah, 30 hari. masih tersisa 30 ribu words lagi agar semua page gue rampung seutuhnya. bisa saja, sih, gue mengerjakan satu hari satu word, tapi itu tidak mungkin karena keseharian gue yang padat melebihi ibu kota Jakarta di hari senin.
sebagai seorang penulis, pasti gue merasakan yang namanya writer's block atau nggak ada keinginan buat menulis. ide gue stuck di satu tempat. yah, sebenarnya alurnya, sih, udah ada. tinggal bagaimana gue eksekusi nya aja bagaimana.
masalahnya, GUE SEDANG NGGAK ADA IDE. seriously! ini susah parah.
belum lagi novel gue itu dikategorikan best seller. setiap gue mengeluarkan novel, pasti novel gue itu menjadi booming dan trending topic 7 hari 7 malam.
gue nggak maksud sombong ya, tapi lo bisa cek novel terbitan gue. lo bisa search di gramedia terdekat dan pandangan pertama yang lo lihat adalah novel karya Bright Chivaaree paling atas mengalahi novel karya tereliye.
udah deh, stop sombong-sombong. karena memang nggak ada habisnya.
ting!
ponsel gue lalu berdenting. lantas gue mengambil ponsel gue yang sengaja gue letakan diatas nakas. dengan cekatan, kedua netra gue membaca notifikasi chat dari mike, teman seperbangsatan gue yang paling bangsat diantara yang lain.
mike : bro lo lagi free kan?
gue mengerutkan kening. kenape nih tiba-tiba nanyain gue free atau kagak? pasti yang aneh-aneh.
bright : kalau lo ngajak gue ke club atau ons di pagi buta, gue tolak.
lalu setelahnya gue tekan tanda sent lalu chat pun terkirim.
baru saja gue mau meletakkan lagi ponsel gue, mike telfon gue secara tiba-tiba. ya gue angkat dan menyahut dengan nada malas gue biasanya.
“hoi bright, gue tebak lo lagi gabut, kan?” tanya nya dengan pertanyaan tak membantu.
gue mendumal pelan sambil mengusap wajah gue kasar. “segabut-gabutnya gue, gue nggak segabut lo, mike.”
lalu terdengar gelak tawa dari sebrang. cukup lama gue mendengar tawanya yang menggelegar. entah karena betulan lucu atau karena sahutan nada gue yang terdengar malas dan bosan.
“main lah.” ucapnya lagi.
“ke?”
“kemana gitu? lo nggak mau refreshing? gue tebak,” mike pun menjeda pertanyaannya sebentar, lalu ia lanjutkan lagi. “lo pasti lagi stuck nulis kan?”
sialan, dia bisa nebak juga make otak kecilnya ternyata.
“hmmm.” balas gue ogah-ogahan. “kemana dulu? kalau lo ngajak ke—”
“nggak elah. kali ini kita ke rumah gunsmile.”
gue pun mengangguk setuju. kerumah teman gue yang bernama gunsmile itu tak terlalu buruk. ada benarnya juga kata mike barusan, kalau gue butuh refreshing sejenak dari tugas antah berantah gue. dan harus mencari ide baru.
“deal, gue kesana 30 menit lagi.”
“15 menit.”
“30 menit anjing, atau gue nggak ikut.”
“iye dah nyet.”