INEFABLE CHAPTER 2

putra mahkota

“hari ini adalah perang, kemungkinan akan banyak pertempuran darah disini,” bright meletakkan kedua tangannya dibelakang punggung. seperti biasa, ia mengitari para tentara yang sudah disiapkan untuk perang di dekat pantai Vescount, laut utara.

“saya mengitung pasukan dari tuan winston, perdana menteri laut utara, sekitar 100 ribu orang yang akan melawan kita.” sambungnya lagi membuat para bala tentara yang berada disitu menelan ludahnya takut-takut. kekuatan dari pasukan tuan winston adalah dua atau tiga kali lipat daripada pasukan mereka. mustahil, jika mereka akan menang. “apa ada disini yang memutuskan untuk mundur?”

hening. tak ada jawaban atas pertanyaan bright barusan. bright memincingkan matanya, raut wajahnya pun sangat tak dapat di prediksi. mungkin jika harus disamakan dengan papan, wajahnya jauh lebih parah datarnya. “tidak ada yang keberatan, ya?”

baru saja bright menuntaskan ucapannya, ada salah satu lelaki berumur 19 tahun mengangkat tangan dengan takut-takut hingga seluruh pasukan pun menatap nya dengan heran.

bright mengangkat wajahnya, sedikit berjinjit untuk mengetahui siapa orang yang mengangkat tangannya karena keberatan dengan perang hari ini. “kamu keberatan?” tanya bright dengan suara yang menggema. membuat seisi ruangan merinding hingga gemetar saking takutnya.

anak laki-laki itupun mengangguk dengan susah payah. “i-iya, pangeran. sumpah mati saya sangat takut dengan jumlah pasukan musuh yang sangat banyak itu.”

bright menghembuskan nafasnya. ia lalu melangkah mendekat kearah anak itu dengan langkah yang lebar-lebar, hingga pemuda itupun gemetar karena takut jika sewaktu-waktu prince bright memenggal kepalanya detik ini juga.

padahal, sekejam-kejamnya bright, ia tak sampai hati memenggal kepala para pasukan. kecuali, dengan orang-orang yang berkhianat padanya.

“nama.” bright berucap dengan intonasi tegas dan suaranya mampu terdengar diseisi ruangan. bahu anak itupun bergetar hebat, dalam hati ia terus memaki mengapa ia mengangkat tangan.

“p-park j-jihoon.” jawab anak itu dengan gugup sambil meremat ujung jarinya kencang.

“umur?”

“19 tahun.”

bright merendahkan tubuhnya untuk mengangkat wajah anak itu yang masih tertunduk. kedua alisnya pun bertaut bingung. “kamu omega, bukan? umurmu dibawah 21 tahun, mengapa ikut perang?”

jika kalian bertanya mengapa bright mengetahui jihoon omega atau tidak, jawabannya adalah daya endus bright sangat kuat. ia bahkan bisa mencium bau dari radius beberapa kilometer. selain dianugrahi indra penciuman yang tajam, kedua mata bright pun seperti mata pisau maupun elang. jadi, jangan heran.

“a-anu.”

“lepas atribut kamu, kembali ke camp.”

“b-baik.” anak itu melepas seluruh atribut termasuk baju besi yang ia kenakan, juga dengan tombak besi yang ia letakan dengan hati-hati diatas tanah. dengan gemetar, ia sambil mengucap syukur kalau kalau prince bright tak jadi membunuhnya.

“siapa yang memberi kamu pekerjaan ini?” tanya bright lagi. jihoon pun menggigit bibirnya keras-keras.

“pak off...”

bright memijit pangkal hidungnya karena pening. “bisa-bisanya off menyuruh kamu,” ucapnya lalu menghela nafas jengkel. “habis ini, suruh off menghadap saya.”

“b-baik, p-prince.”

lalu, jihoon berlari, meninggalkan ruangan sekaligus bright yang masih menatap punggungnya yang semakin menjauh.

“ada lagi yang seperti jihoon? jangan coba berbohong, karena saya tahu isi pikiran kalian semua.”

dan yah, sesuai tebakan, tak ada yang berani berbohong pada prince bright chivaaree, bisa-bisa kau akan diletakan dipenjara bawah tanah dengan mahkluk mengerikan didalam sana.

to be continue