69—semobil
Win mengangkat kepalanya setelah mendorong pintu mini market menggunakan kedua tangannya yang penuh dengan tentengan dua kresek besar. Pandangannya pun mengedar ke sekeliling, mencari-cari mobil yang terparkir.
Dan saat kedua matanya jatuh ke arah mobil Audi Q7 berwarna hitam yang terparkir di sebrang mini market. Ia lalu tersenyum lebar.
Kakinya lalu melangkah kecil. Melihat ke arah kiri dan kanan terlebih dahulu sebelum menyebrang dan dengan hati-hati, ia berlari kecil menghampiri mobil mewah yang terparkir disana.
tok! tok! tok!
Ia lalu mengetuk kaca mobil di dekat Bright duduk di kemudi. Ia melambaikan tangannya ke arah Bright dan memasang senyum lebar.
“Halo om, ehehehe.” Sapa nya di awal. Bright hanya mengangguk, tak membuka suara ataupun tak membalas sapaan Win. Ia hanya berdeham. Tangan Bright lalu terulur, agak memiringkan tubuhnya untuk membukakan pintu mobil yang berada disebelahnya.
“Masuk.” Ucapnya membuat Win sedikit kesal. Setidaknya, jawab sapaan ia tadi. Bukannya malah berdeham lalu menyuruhnya masuk begitu saja.
tau gitu gak usah gue sapa! ucapnya dalam hati sambil menghentakkan kaki ke tanah.
Kakinya lalu melangkah, berjalan ke arah pintu mobil yang terbuka. Lalu ia masuk ke dalam. Wangi parfum milik Bright memaksa masuk ke dalam indra penciuman Metawin. Kedua matanya pun melirik ke arah Bright yang sedang menatap lurus ke arah depan.
Ia tertegun beberapa saat. Saat tangan kiri Bright dengan lincahnya menarik persneling ke arah belakang. Dengan lengan kemeja yang tergulung sampai siku, Bright memutar stir mobil menggunakan satu tangan.
“Kamu emang masuk kampusnya kapan?” Tanya Bright sambil mengendurkan dasinya menggunakan tangan kiri. Dan dengan kurang ajarnya, terlihat tampan hanya dengan sekali lihat.
“Agustus, sih, Om. Hehehe.” Jawab Win canggung.
Bright mengangguk pelan. Lalu tak berbicara lagi. Matanya fokus ke depan memperhatikan jalanan yang basah karena hujan yang baru saja turun. Sementara Metawin sibuk memakan sesuatu yang baru saja ia beli dari mini market.
Tangan Win merogoh ke dalam kresek putih lalu mengambil minuman kaleng isotonik disana. Kedua matanya melirik ke arah Bright yang sama sekali tak menoleh ke arahnya.
buset ni orang anggep gue hantu kali, ya? pikirnya dalam hati sambil menghembuskan nafasnya malas.
Karena tak ingin membuat atsmosfer didalam mobil menjadi canggung, Win pun menempelkan minuman dingin tersebut pada pipi Bright. Dan sukses membuat sang empu terkejut kecil, dan menoleh ke arahnya dengan cepat.
“Nih om hehehe minum. Fokus amat kayaknya,”
Bright mengambil minuman isotonik tersebut yang menempel pada pipinya. Kedua matanya bahkan berfokus lagi pada jalanan usai melirik ke arah Metawin karena terkejut. Menggunakan tangan kiri, Bright membuka kaleng tersebut dengan gampangnya menggunakan jari. Hingga Win melotot. Karena dirinya saja membuka tutup kaleng tersebut menggunakan dua tangan. Bisa-bisanya Bright hanya dengan satu tangan.
Bright meneguk minuman tersebut hingga 3 kali tegukan. Mengelap sisa-sisa minuman tersebut yang tertinggal di sudut bibirnya menggunakan lengan. Ia lalu menarik nafasnya, meletakan minuman tersebut di dekat persneling.
“Makasih, ya.” Katanya sambil menatap Metawin sebentar, lalu beralih ke arah jalanan lagi.
Win mengangguk. “Yoi, sama-sama, om.”
Mendengar kata 'om' di telinganya beberapa kali, Bright jadi mengangkat sebelah alisnya, menatap Metawin dengan pandangan sanksi, tidak terima.
“Kamu kenapa manggil saya 'om' terus?” Ucapnya dengan nada sedikit kesal. Namun Metawin hanya menggendikkan bahu.
“Nggak tau, enak aja manggilnya.”
“Tapi saya baru 25, dan kamu mungkin baru 19 tahun, hanya beda 6 tahun sebenarnya.”
“Ya, gapapa. Kan om lebih tua dari ku, ya kan?”
Bright menghela nafasnya. Merotasikan matanya dan mengabaikan perkataan terakhir dari Win barusan. Ia lalu membelokkan stir mobil ke arah kanan setelah pertigaan, lalu melirik Metawin menggunakan ekor matanya.
“Terserah kamu lah, asal jangan manggil kakek aja.”
“PFFFT—” Win menutup mulutnya menahan tawa. “Oke, Kek.”
Bright cepat-cepat menoleh. “Dibilang jangan manggil kakek.”
“Iya, Kek.”
“Kalau saya Kakek, Papa kamu apa dong?”
Win tertawa. “Atasan om, kan?”
Bright tak bisa membalas ucapan Win barusan. ya ada benarnya juga, sih. “Saya nggak setua itu, panggil aja nama juga boleh sebenarnya.”
“Nggak ah, om aja. Biar keliatan akrab.”
Bright mendengus geli. “Tapi kamu bukan keponakan saya.”
“Yeee, dikira manggil om itu cuma buat keponakan doang kali.”
Bright menahan tawanya. Ia mengabaikan kata-kata Win barusan karena dirinya sudah sampai tepat di appartement nya. Ia menatap ke arah Metawin sebentar, lalu berucap. “Sudah sampai, nanti istirahat aja dulu baru beres-beres.”
Sang empu mengangguk patuh dengan pipi yang menggembung karena sedang makan. “Iy-yyaw owm.”
“Habisin dulu makanannya.”
Win menelan semua makanan didalam mulut dengan bantuan minuman yang mendorong makanannya untuk masuk ke tenggorokan. Bibirnya pun mengulas sebuah senyuman dan hanya terkikik pelan.
“Om nanti ada kamarnya, kan? Aku tidur dimana?”
“Di dapur.”
“ANJRIT!”
qrt & likes will be appreciated me♡