ketemu — 45


Bright turun dari mobilnya sambil menenteng tas laptop di genggaman tangan kanan. Kacamata warna hitam yang bertengger di hidungnya pun membuat penampilannya terlihat semakin keren dan tampan membuat seluruh orang-orang yang berada di depan kantor pun melihatnya bersamaan.

Tangan kiri Bright pun menggenggam ponsel. Mengangkat telfon dari Ayahnya yang bawel, yang sejak tadi menanyakan keberadaan dirinya dimana. Padahal, Ayahnya tahu sendiri lalu lintas kota Jakarta seperti apa.

“Lama.” ucap sang Ayah di awal panggilan sambil mendengus. Bright pun mendengus pelan, membalas sapaan sang Ayah yang tak ada manis-manisnya.

“Ayah kebanyakan ke luar negri, lupa kalau kota sendiri macet.” ucapnya setengah menyindir. Memang Ayahnya itu sungguh cerewet, apalagi jika bertemu teman-temannya. Dua kali lipat lebih menyebalkan.

“Ya sudah, cepat kesini,”

“Yaaaaa.”

pip

Lalu sambungan ponsel pun terputus. Bright menyimpan ponselnya ke dalam saku celana dan membetulkan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan. Tangan kanannya pun terangkat, kedua matanya melirik kearah arloji yang melingkar.

Sudah pukul 10 pagi. Padahal ia berangkat jam setengah 9, memang Jakarta kalau hari senin macetnya nggak pakai ampun.

“Pagi, Pak Bright.” sapa salah satu karyawan wanita saat Bright mulai melangkah memasuki gedung.

Karena disapa, Bright menganggukkan kepala, tersenyum ramah. “Pagi.” jawabnya singkat. Padahal ia sangat tidak mood untuk menanggapi siapapun. Pertama karena macet, kedua karena Ayahnya yang bawel.

“Pak Bright, ada Pak Chris menunggu diruangan.”

Bright berhenti sejenak. “Chris yang mana?”

“Ayahnya bapak.”

“Oh..” Bright mengangguk. “Di ruangan Pak Evans ya?”

Wanita berpakaian formal dengan rok pendek serta tangannya yang kerepotan memegangi beberapa dokumen itu mengangguk. “Iya, Pak. Mereka mencari bapak sejak tadi.”

hadeh...

“Yasudah, kalau begitu. Makasih ya.”

“Sama-sama, Pak.”

Bright pun terus melangkahkan kakinya ke arah lift. Matanya pun mengedar, menatap suasana kantor yang cenderung lebih ramai. Ia lalu membuka grup whatsapp dengan notifikasi yang membeludak. Keningnya yang tadinya terlipat pun kini berubah seperti biasa.

“Oh, ada anak magang,” gumamnya lagi sambil menutup ponselnya. “Pantes aja ramai.”

Tangan Bright lalu terulur untuk menekan tombol lift. Namun, belum sempat tombol lift itu ia tekan, ada tangan lain yang menyentuh tangannya.

Bright menoleh dengan terkejut. Di sampingnya, ada pemuda dengan nafas terengah-engah sambil menundukkan tubuh karena kelelahan—mungkin karena terlalu lama berlari.

Bright menautkan kedua alisnya. Seperti melihat anak ini namun dimana.

“Kamu anak magang?” tanya Bright sambil menundukkan badan. “Anak magang langsung ke lantai 3 aja, temui Pak Thanat—”

huh... huh... bukan, om.”

Bright semakin bingung.

Saat pemuda itu masih sibuk mengatur nafas, Bright memperhatikkan gerak-geriknya dengan cermat. Sampai, anak itu menegakkan tubuhnya. Mengelap keringatnya yang mengucur di wajah serta menyampirkan poni yang hampir menutupi kedua matanya.

Kedua mata Bright pun membesar. “Metawin, ya?”

Serasa dipanggil, Win mematung. Menatap laki-laki yang berada dihadapannya dengan raut wajah terkejut. Bibirnya pun terbuka membentuk huruf o, namun dengan sesegera mungkin, ia menetralkan raut wajahnya. Merubahnya menjadi kalem.

“Eh.. Eh.. bukan—”

“Bener, kok Metawin. Saya lihat profile pict kamu di kontak.”

Win menggigit bibir bawahnya. brengsek, apa-apaan???? kok ini om om ada disini dah??

Namun, secepat mungkin ia tertawa canggung. Mengusap tengkuknya yang tak gatal, lalu mengangguk. “Hehehehe, iya, om.”

Bright menggelengkan kepalanya. Tangannya pun terulur lagi, menekan tombol lift agar pintu lift terbuka lagi karena tadi ia tak sempat masuk ke dalam hanya untuk memperhatikan Metawin yang sedang terengah-engah.

“Ngapain kamu disini?” tanyanya dengan sedikit curiga. Karena tiba-tiba saja Ayahnya menyuruh dirinya untuk ke ruangan Pak Evans yang mana Metawin ini anak dari atasannya.

“Mau ke ruangan Papa,” jawab Metawin enteng. “Ruangan Papa dimana, ya, Om? Tau, nggak?”

“Papa kamu siapa?” tanyanya memastikan sambil memincingkan mata. Menatap Metawin dengan tatapan penuh selidik.

“Chris Evans,” jawab Metawin dengan santai. “tau kan, om?”

Tak salah lagi. Bright pun memijit pangkal hidungnya karena tiba-tiba saja kepalanya mendadak pening. Sambil menghela nafas, ia mengangguk pelan. “Tau. Bareng aja, saya juga mau kesana.”

Win mengerjapkan matanya. Ia lalu mengangguk cepat lalu masuk kedalam lift mengekori Bright yang masih diam sambil menatap ke arah depan.

Ia jadi teringat chat pertama yang ia kirimkan untuk Bright. Seketika dirinya pun merasa malu. Ia merutuki kebodohan dirinya dalam hati.

eh tapi, kalau dari dekat gini ganteng banget anjrit

kira-kira parfumnya apa ya? wangi...

mana gue belum mandi lagi hadeeeh, malu

qrt & likes will be appreciated. thankyou♡