49 — yaudah
Setelah pintu tak terkunci lagi, Bright memutar knop pintu lalu mendorong pintu tersebut dengan pelan sambil berjalan memasuki ruangan. Diikuti oleh Metawin yang berjalan di belakangnya sambil melihat kesana-kemari.
“Akhirnya datang juga,” satu sapaan menyapa indra pendengaran mereka berdua. Bright dan Win pun menoleh berbarengan ke arah Ayah dan Papa yang tengah bermain playstation dengan banyaknya makanan diatas meja. Bright hanya menggeleng kepalanya pelan, sambil memijit pangkal hidungnya, pening.
“Ayah kenapa disini?” Tegur Bright pada sang Ayah yang tengah asyik memakan snack. Layaknya anak muda, Ayah Bright justru mengangkat telapak tangannya ke arah Bright memberikan gesture untuk tos, namun kedua matanya masih berfokus menatap layar televisi yang menampilkan game dari playstation yang ia mainkan.
Sedangkan Win, berjalan menjauhi Bright lalu menghampiri Papanya.
“Haduhhh, kenapa harus barengan, sih, Pa??” ucap Win sambil mendengus. Diletakannya flashdisk hitam sang Papa di atas meja, lalu mencomot satu chiki dengan tak berdosa yang belum terbuka. “Sengaja ya??”
Papa pun mendelik. Memasang wajah pura-pura tak tahu. “Loh apa? Siapa yang sengaja?”
Win mendecak malas. Merotasikan kedua matanya jengah. “Terserahlah,” ucapnya dengan nada malas. “Btw, orangnya jutek.”
Papa tertawa puas namun pelan. Ia lantas menatap anaknya, “Lama-lama nggak jutek nanti.”
“Apasih.”
Sementara, saat Ayah Bright telah menyelesaikan games nya, pria itu menatap Win lalu tersenyum sumringah. Mengangkat tangannya, lalu melambai. Menyapa Metawin dengan sok akrab. “Eh kamu, Metawin. Udah gede aja, padahal baru kemarin Ayah gendong, ingat gak?”
Metawin mengusap lehernya canggung. Mana ia ingat saat dirinya di gendong oleh Ayahnya Bright, masih kecil kali, pikirnya dalam hati.
“Hehehe, nggak ingat, om.”
“Lho kok om panggilnya? Panggil Ayah aja, dong.”
Haduhhhh ini ajang perjodohan apa gimane Win tersungut-sungut dalam hati. Namun ia masih bisa memasang senyum terpaksa.
“Hah?”
“Iya kan kali aja i will soon to be your father-in-law,” Ayah Bright tertawa jenaka, disusul tawa nyaring dari Papa Win hingga Bright dan Win saling bertatapan dengan canggung.
Bright mengusap pipinya pelan, lalu menghela nafas, “Ayah ngapain manggil Bright kesini?”
“Pengen aja.”
“Apaansih ah,” Bright mengangkat sebelah alisnya bingung. “kalau gak ada yang mau diomongin, Bright mau lanjut kerja.”
“Buru-buru banget, Bright? Saya aja sebagai atasan kamu nggak nyuruh kamu kerja, tuh.” Papa Win membuka suara. Pria yang duduk disebelah Win pun memakan cheetos yang masih banyak isinya. Tangannya pun lalu menyodorkan cheetos yang sedang ia genggam ke arah Bright. “Makan dulu, kamu mau, nggak?”
Bright semakin bingung. Ia menatap Metawin meminta penjelasan namun anak itu sama bingungnya dengan Bright.
“Nggak, Pak Evans, makasih sebelumnya.” Bright menolaknya dengan halus. Bukannya ia tak mau menerima, hanya saja di situasi seperti ini, ia sangat canggung. Ia sudah menebak yang akan dilakukan Ayah random nya ini padanya. Apalagi, kehadiran Metawin disini bukanlah serta merta kebetulan.
“Pa, adek mau pergi dulu, ya? Kasihan Khao nunggu di depan.”
Papa pun menggeleng, “nanti dulu, dek. Khao suruh pulang aja, nanti kamu pulangnya bareng Papa.”
“Yah, Pa, lama dong? Papa kan pulang malem...”
“Yasudah kalau begitu diantar Bright aja, ya, berarti?”
Win menatap Ayah Bright dengan pupil melebar. Wajahnya terlihat bingung dan juga bibirnya sedikit terbuka, kaget karna takut-takut ia salah dengar.
“Bright lembur,” balas Bright dengan nada datar. Win meliriknya dan memperhatikan gerak gerik pria yang lebih tua darinya itu dengan cermat. Namun, buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke arah lain karna Bright memergoki dirinya hingga kedua mata mereka bertatapan. “jadi nggak bisa nganter.”
“Halah kamu nih, di depan kamu sekarang ada atasan kamu, bisa minta nggak lembur dulu, kok.”
“Nggak enak, Yah.. Lagian mau ngapain, sih disini? Bright mau meeting sama ngeliat anak magang buat bantu ngarahin.”
Win menggigit bibirnya. Suasana menjadi canggung, jadi sebaiknya ia izin untuk meninggalkan ruangan ini. Karena wajah Bright sudah tak enak dan terus menatapnya dari tadi.
“Um, Om, Papa, aku ke depan dulu, ya? Sebentar, mau nyari makan hehehe.”
Ayah Bright pun menoleh, “Oh yasudah, bareng Bright aja, pasti kamu nggak tau letak kantin di kantor ini.”
aduhhhhh anjrittt!
Bright menoleh ke arahnya. “Yaudah.”
qrt & likes will be apreciated. thank you♡