hellow, welcome to ombrightmetawin universe lagii!
jika ada yang lebih menyebalkan daripada boss kantornya yang seenak jidat memberikan dirinya lembur saat weekend win akan meninju orang itu sekarang juga. dan sialnya, orang menyebalkan itu adalah suaminya sendiri, bright.
metawin mengetatkan rahangnya. tangannya mengepal saat dirinya tahu bahwa suami super sibuknya itu tak menjemput faye dan kana di sekolah, hingga membuat kedua anak kecil itu duduk menunggu bersama wali kelasnya.
tak tanggung-tanggung, bright malah tak membaca chat nya namun bisa memasang snapgram sedang asik party dengan beberapa temannya, membuat win semakin naik darah.
“sa, titip faye kana.” ucap win saat arsa baru saja menginjakkan kaki nya didalam rumah. anak laki-laki itu baru saja pulang dari aktivitas kampusnya.
“buset, belum aja gue ketok pintu.” ujar arsa sambil menggeleng melihat metawin yang sedang bersiap untuk pergi ke kantor bright. keningnya pun terlipat, melihat wajah metawin tak seperti biasanya. “kenapa deh? mau kemana?”
“ngehajar bapak lo.” balas win mengambil kunci mobil lalu meninggalkan arsa dengan langkah kaki yang lebar-lebar.
“oke, hati-hati.” bukannya terkejut, justru arsa malah melambaikan tangannya pada metawin yang terus berjalan menjauhi dirinya. hingga punggung metawin tak terlihat lagi karena telah memasuki mobil.
brakk
metawin membanting pintu mobil kencang. emosi menguasai dirinya hingga rasanya kepalanya pening dan ingin meledak. ia lalu terdiam sebentar, memijit pangkal hidungnya perlahan sambil mengatur nafas.
bagaimana pun juga, ia tak bisa menyetir dalam keadaan dikuasai oleh emosi. ia harus tetap tenang, emosi boleh belakangan.
“oke, win, tenang. lo gak boleh mati konyol cuma karna emosi lagi nyetir mobil,” ucapnya berusaha menguasai dirinya sendiri. “tapi—anjing. gila kali ya, sinting tuh bapak-bapak. emang gak bisa apa ninggalin kerjaannya sebentarrr aja?”
“kasih gue longgar kek, gue baru balik kantor... loh?” sambungnya lagi lalu menatap kearah depan.
kedua tangannya pun dengan lihai mencari kunci mobil yang ia letakan di dashboard. dan setelah dirinya merasa tenang, ia menghidupkan mesin mobil lalu menancapkan gasnya. membelah kota Jakarta di tengah malam.
sekarang, sudah pukul sebelas malam. itu artinya sudah hampir tengah malam, dan ia memberanikan dirinya untuk menyusul bright ke kantor. rasa-rasanya, ia ingin memberikan bogem mentah pada suami nya itu.
“anjing.”
“fuck.”
“anjinggggg.”
begitu saja. sepanjang perjalanan, win terus mengumpat tanpa henti sambil menyetir menggunakan satu tangannya. tangan yang satunya ia gunakan untuk mengacak surai rambutnya dengan keras.
“awas aja tuh orang kalau nggak ada di kantor, gue geprek.” ucapnya lagi.
tak butuh waktu lama, selang setengah jam, win sampai didepan kantor bright yang bertuliskan Chivaaree Industries di lantai paling atas gedung bertingkat tersebut.
dalam hati, sebenarnya ia memuji kantor suaminya ini sangat megah. bahkan, bisa dikatakan setara dengan hotel berbintang. namun sepertinya, ia urungkan terlebih dahulu pujiannya itu. karena dirinya sedang marah sekarang.
“halo pak win, ada yang bisa saya—”
“mana pak bright?” tanya win menodong karyawan wanita yang menyambutnya saat dirinya memasuki kantor. dengan tatapan tajam dan tak seperti biasanya, wanita itupun menelan ludahnya susah payah.
“anu, pak bright—”
win menatap wanita itu dengan pandangan mengintimidasi. dengan tangan yang terlipat didepan dada, ia memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah.
dari gelagatnya, wanita itu seperti sedang menyembunyikan sesuatu tentang boss besarnya. lalu, win bertanya lagi karena ia rasa ada yang janggal.
“kenapa wajahmu seperti itu?” tanya win sembari mengangkat sebelah alisnya. ia mendecakkan lidah. “dimana pak bright? saya mau bertemu.”
“di ruangannya.” balas wanita itu takut-takut.
dan benar saja, belum sampai wanita itu menutup mulutnya, win langsung bergegas cepat kearah ruangan bright dengan langkah yang terburu-buru. orang-orang di seluruh kantor pun melihat metawin dari atas sampai bawah namun setelah itu, menundukkan kepalanya.
karena demi apapun, metawin tampak sangat menyeramkan jika marah. dan benar apa kata pepatah, jangan pernah melihat orang yang humoris marah.
tok tok
win mengetok pintu ruangan bright dengan pelan. ia melipat tangannya didepan dada, dan memperhatikan pintu berwarna cokelat itu tak kunjung terbuka.
“ini orang kemana sih, anjing.” ucapnya menghela nafas kasar. ia lantas melirik kearah fingerprint yang berada disamping pintu. karena tak ingin membuang waktu lama, ia menempelkan jempolnya pada fingerprint tersebut.
maaf fingerprint tak dapat terdeteksi
“anjing???”
win melebarkan pupil matanya. saat ia membaca peringatan dari alat sensor tersebut yang tak bisa mendeteksi sidik jarinya. karena masih tak percaya, ia meletakkan kembali ibu jarinya diatas alat sensor tersebut. namun nihil, hasilnya selalu gagal.
“ini kenapa anjing? dia ngapus sidik jari gue???”
kemarahan win semakin menjadi-jadi. ia lalu mengetuk pintu ruangan bright berkali-kali hingga terdengar bunyi bedebum dari dalam.
“woy buka!” teriaknya lagi. hingga beberapa orang yang berada disana pun menatap win aneh.
“apa lo liat-liat??!”
lalu ia mendengus sebal.
kriett
knop pintu tersebut memutar lalu pintu terbuka perlahan, menampilkan bright dengan dandanan nya yang semrawut. rambut yang berantakan, serta kancing teratas kemejanya yang terbuka.
melihat keadaan bright yang tampak seperti orang mabuk, win lalu mendorong bright untuk masuk kedalam ruangan. agar keributan mereka tak terdengar dari luar.
plakk
win menampar pipi bright kencang hingga memerah. tatapannya pada bright mengebu-ngebu karena emosi. rahangnya mengetat karena bright tak membalas ataupun berbicara.
“sinting, anak lo kebingungan nyariin bapaknya, lo malah asik-asikan party ????!” ucapnya berteriak dengan dada yang naik turun. menahan gemuruh yang ada di dadanya karena ia ingin menangis saat ini. namun, ia pun menahannya.
“pikir dong, mas. aku capek, habis lembur, pulang baru sore tadi. terus dikabarin sama wali kelas faye kana kalau mereka belum di jemput,” cerocosnya tanpa henti. sorot matanya menatap bright dengan pandangan kecewa. “terus, coba lihat apa yang gue dapet???”
win menangkup kedua pipi merah bright menggunakan satu tangannya. kedua pipi suaminya itu memerah karena mabuk. dilihatnya berbotol-botol minuman alkohol diatas meja kerjanya. dan itu, membuat dada win sesak.
“sinting. nggak tanggung jawab sama anak-anak lo sendiri.”
bukannya menjawab, bright malah tertawa. tawanya menggelegar mengisi seluruh ruangan. terdengar menyakitkan seperti sayatan yang ditabur garam diatasnya. memilukan, sekaligus menyeramkan at the same time.
“kamu tau gak, win? aku capek. capek banget, ngurus ini itu keteter, kerja kerja kerja, urusan ku kerja, win. buat siapa? buat kamu sama anak-anak,” balas bright menunjuk dada metawin menggunakan jari telunjuknya hingga win terkejut. “terus, aku mau party aja sama temanku, nggak boleh?”
“brengsek,” umpat win saat mendengar perkataan bright lagi. air matanya pun luruh. membasahi kedua pipinya. bibirnya bergetar karena ia tak percaya apa yang didengar suaminya. “aku cuma minta tolong jagain faye kana loh, mas? jagain doang??? itu anak kita, bukan anak aku doang. apa salahnya sih minta jagain aja?”
“tapi tugas ku kerja, win. bukan jaga anak, hargain dong.”
plakk
win menampar pipi bright lagi. ia pun mengepalkan tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih. “gue ngelahirin, gue nahan sakit, gue di operasi buat ngeluarin anak kita, mas. gue nahan sakit sampe sekarang karena jahitan gue perih. gue cuma minta jagain faye kana doang lo gak mau? really?”
“gue juga kerja, nggak ongkang-ongkang kaki doang nerima duit lo. gue ngerawat rumah, bersih-bersih, gue nggak pernah ngeluh tuh.” sambung win lagi dengan intonasi nya yang meninggi. “terserah lo deh mas mau gimana. gue capek.”
“happy birthday!!“
“apa?” win melongo saat khao, mix, harit, ketiga temannya lalu addara dan arsa yang keluar dari tempat persembunyiannya. tak lupa dengan faye dan kana yang mengintil dari belakang arsa yang sedang membawa kue ulang tahun.
“hah?” win melongo sekali lagi. ia lantas melirik kearah bright yang sedang tertawa geli. mencubit pipi gembil win dengan gemas, lalu mengusap surai rambutnya perlahan.
“kenapa? kaget ya?”
“ouuuu metawin marah marah, serem guyss.” goda khao lalu semuanya pun tertawa. menatap win yang masih sama, terdiam, mematung, dan memasang wajah terkejutnya.
“ini ada apaan anjir??”
“papiii, happy birthday yaaa!” seru arsa yang memegang kue ulang tahun. anak itu lalu maju selangkah dihadapan win sambil tertawa. “sorry hehehe, ini ide nya daddy, mau bikin papi marah-marah.”
“buset, bonyok beneran anjrit.” harit menunjuk wajah bright yang memerah karena blush on dan karena tamparan keras dari metawin barusan. “gile, lo john cenna apa gimana, win?”
“anjingggg.” win terkejut. ia baru menyadari bahwa sekarang adalah hari ulang tahunnya. tepatnya pada tanggal 21 februari, hari ini, jam setengah 12 malam.
mata win pun melirik kearah bright yang sedang tersenyum kearahnya. dipeluknya tubuh suaminya itu dengan erat, lalu dirinya menangis.
“mas, serius maaf, maaf aduh gue mukul beneran huhu masss maaaafff.”
bright terkikik pelan. ia mengusap rambut metawin dengan lembut. belum ada lima menit yang lalu, win menamparnya dengan berapi-api, dan sekarang win memeluknya, merengek, meminta maaf seperti anak bayi.
“mas maaaf aaaa, sakit ya??”
“kalau dibilang sakit ya sakit,” ucap bright mengecup leher belakang win. “tapi gapapa, sayang. kesal ya tadi?”
“banget astagaaa.”
“woi, cepetan. asik banget nih gua liat liat habis marah-marah malah mesra-mesraan,” ucap addara sambil menggeleng. “tiup lilinnya dong.”
win lalu melepaskan pelukannya. mengusap air matanya lalu menatap kearah kue ulangtahun yang bertuliskan happy birthday papi dengan lilin berangka 27 disana. yang berarti, umurnya akan menginjak kepala 3 3 tahun yang akan datang.
“eh bentar-bentar, jangan gua yang megang, daddy aja.” arsa lalu menyerahkan kue ulang tahun tersebut pada bright, dan dengan senang hati bright menerimanya.
“mas.” panggil win lalu bright mengangkat kepalanya, menatap win dengan sorot mata teduh. “tadi, pas kita berantem.. faye.. kana..”
“tenang, tadi faye kana diajak jalan-jalan dulu sama arsa, kok. jadi nggak dengar kita berantemnya.”
“o-oh...”
“buyuan tiup yiyin na, papiii.” faye berucap sambil menarik-narik celana yang dikenakan oleh win.
“kana juga mawu liyattt!!!” anak laki-laki yang berwajah sama dengan faye pun berjalan mendekat kearah win. menarik-narik celana win hingga sedikit turun. karena gemas, win lantas mengangkat kedua anaknya.
“faye kana mau tiup lilin yah?”
kedua anak berumur lima tahun itu pun mengangguk. win terkikik gemas, lalu mencium kedua pipi mereka berdua.
“yaudah, ayo tiup lilin sama papi yaa.”
sebelum itu, win lalu menutup kedua matanya. mengucapkan wish nya didalam hati dengan tenang.
“pretty,” bright memanggil win sesudah win menyelesaikan doa nya. win berdeham, lalu mengangkat pandangannya menatap bright.
“happy birthday ya.”
win tersenyum tipis. ia lalu mulai meniup lilinnya, bersamaan dengan faye dan kana. atsmosfer haru pun menyelimuti seisi ruangan. saat api diatas lilin itu padam, bersamaan dengan itu, faye dan kana mengecup pipi kanan dan kiri milik win. faye yang disebelah kiri, dan kana yang disebelah kanan.
“papi, selamat ulang tahun.”
“papiii i love you!”
manisnya....
“i love you so much babyyy!” balas win lalu mengecup satu-satu anak nya itu. lalu setelahnya, ia menurunkan faye dan kana karena tangannya seperti mati rasa menggendong dua anak umur lima tahun secara bersamaan.
“sayang,”
“iya?”
bright pun berjalan mendekat kearah win. mendekatkan bibirnya tepat dihadapan telinga win.
“happy birthday, to the love of my life, you deserve all the best that life could bring. i wish you happiness success and good health.“
lalu diakhiri kecupan ringan di bibir metawin oleh bright.
“happy birthday win metawin.”
—the end