119 — salting
Bright memberhentikan mobilnya saat sudah sampai di basement. Mencari tempat yang sedikit lega agar mobilnya bisa masuk disana. Setelah mobilnya sudah terparkir dengan sempurna, ia lalu mematikan mesin mobil, dan melirik ke arah Metawin yang masih terlelap di pundaknya.
Pria itu menghela nafasnya, lalu mengusap wajahnya kasar. Ia tak tega membangunkan orang tertidur ngomong-ngomong. Jadi, ia kembali menyalakan mesin mobilnya, dan mengatur AC agar tak terlalu dingin. Serta menghidupkan lampu karena basement parkiran sungguhan gelap.
Bright memainkan ponselnya. Mengecek grup pekerjaannya siapa tahu ada yang harus ia kerjakan. Dan ternyata tidak. Boss nya itu betulan memberikannya cuti agar bisa membantu Metawin pindahan.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Ia membetulkan posisi duduknya karena pegal. Serta, menggeser kepala Metawin yang hampir terjatuh dari pundaknya. Anak itu masih saja tertidur tanpa terusik sama sekali. Dan mereka sudah berada didalam mobil 15 menit. Tak mungkin Bright menunggu Metawin hingga terbangun dari tidurnya.
Akhirnya, ia memutuskan untuk meletakkan Win kembali dan menyandarkan tubuh bongsor Win pada punggung kursi. Anak itu mengecap, dan menghela nafas panjang lalu kembali tertidur. Bright hanya menggeleng melihat Metawin yang tidur terlalu dalam.
Lalu, ia mematikkan mesin mobil. Membuka pintu, dan keluar dari mobilnya. Kakinya melangkah ke arah pintu sebelahnya, tempat dimana Metawin tertidur.
“Dasar ngerepotin,” Ucapnya lalu mendengus. Namun ia tetap membuka pintu, dan menatap Metawin sejenak. Anak itu tampak pulas dan tidak terganggu sama sekali. “kamu tidur atau apasih?” Tanyanya pada Metawin dengan wajah terheran-heran.
Tak perlu menunggu lama, Ia mengambil tubuh Metawin dengan perlahan. Satu tangannya ia letakan pada punggung, satunya lagi ia letakan di kaki Metawin. Bright mengambil nafas terlebih dahulu sebelum benar-benar mengangkat tubuh Win perlahan lalu mengeluarkannya dari mobil. Dipikir-pikir, seumur hidupnya ia tak pernah direpotkan oleh siapapun. Namun kenapa sekarang ia mau direpotkan oleh bocah yang baru saja lulus SMA ini?
Persetan, ini semua karena Ayahnya berteman dengan Papa Metawin, yang berstatus boss nya di kantor.
Bright mengangkat tubuh Win dan membetulkan gendongannya. Menutup pintu menggunakan kaki dan tak lupa mengeluh seperti ini, “Astaga berat, makan apa, sih, nih bocah?” Katanya dengan wajah masam. Tapi ia tetap membawa Metawin hingga dirinya sampai di depan lift.
Beruntunglah posisi lift saat itu sedang sepi dan tak banyak orang yang berlalu lalang. Bright menyandarkan punggungnya pada dinding lift, dan kepalanya menunduk, menatap wajah teduh Metawin yang sedang tertidur pulas.
Dalam hati ia memuji, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Cie... salting ya, om?
qrt & likes will be appreciated♡