Desember 2018

Meta's pov

Mendekati liburan natal serta tahun baru, beberapa siswa ada yang malas untuk masuk sekolah. Ada yang izin sakit, padahal sedang bermain game di rumah. Ada yang izin pergi, tapi molor di kamar sampai sore, bahkan ada yang izin salah satu kerabatnya meninggal padahal kerabatnya itu sudah meninggal dari lama.

Seperti sekarang. Kelas 11 IPA 3 yang bernotabene kelas favorite satu sekolah, kini muridnya sudah sisa setengah. Yang tadinya ada 36 siswa satu kelas, kini hanya ada 18 orang di dalam kelas. Kegiatan yang mereka lakukan bermacam-macam karena sedang jamkos alias jam kosong karena para guru sibuk rapat untuk penutupan semester. Ada yang tidur, bermain monopoli di belakang, ada yang habis dari kantin lalu makan seperti piknik di taman, ada yang sedang bermain mobile legends, dan ada yang belajar ntah untuk apa padahal kita baru saja selesai ujian semester.

Gue menghembuskan nafas. Harit, teman gue satu-satunya yang paling akrab, hari ini nggak masuk sekolah dengan alasan malas. Alasan paling nggak logis yang pernah gue dengar seumur-umur gue sekolah. Mana Harit satu-satunya teman yang paling akrab sama gue, jadinya gue nggak bisa leluasa buat ngobrol kesana kemari selain sama Harit.

Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Namun, para guru masih belum menunjukkan tanda-tanda memulangkan para murid. Gue berdecak sebal. Tau gini gue juga nggak usah masuk sekolah karena guru nggak masuk kelas dari pagi.

Lantas, gue mengeluarkan ponsel. Berselancar di internet sambil memangku dagu gue dengan memasang wajah bete. Sumpah, ini adalah hari yang paling menjengkelkan seumur-umur gue hidup. Rasanya, kalau teman kalian nggak masuk sekolah barang sehariii saja, pasti rasanya berat. Jam berputar lebih lama dari biasanya. Dan membuat gue menahan kesal hingga pulang nanti.

“Cieee, sendiri aja.”

Suara jahil familiar yang sangat gue kenal diiringi oleh suara bersiul memecah keheningan gue. Kepala gue lalu terangkat, menatap laki-laki dengan tampang yang membuat gue mau muntah. Atasan kemeja putih sekolah terbuka dengan bebas, menampakkan kaos dalaman berwarna biru navy dengan wajahnya yang memasang tampang senga seperti biasa. Anak ini, Abel, nggak pernah absen sehari aja buat ngejahilin gue. Atau menegur gue lalu berbuat konyol hingga gue mau marah.

Sebelum menjawab, gue menatapnya dengan sinis. Sambil merotasikan kedua mata. “Ngapain lo disini??”

Yang ditanya hanya tertawa kecil. Menepuk-nepuk puncak kepala gue pelan hingga gue menepisnya dengan kasar. Tak minat buat menanggapi cowok tengil setengah aneh yang terkenal hingga satu sekolah. Emang, siapa, sih, yang nggak kenal Abel? Seluruh guru serta kelas 10 sampai kelas 12 IPA maupun IPS juga kenal siapa Abel ini.

“Mau jenguk calon pacar dong. HAHAHA.” Balasnya sambil tertawa. Gue langsung memasang raut wajah ingin muntah.

“Ngehalu aja lo sana, jing.” Balas gue dengan bahasa kasar tanpa ampun. Abel tertawa, lalu tanpa izin duduk di bangku kosong sebelah gue. Gue lantas mendelik, tidak terima kalau bangku Harit diduduki oleh begundal kecil kayak dia.

“Eeeeeh sana jing, bangku temen gue nggak boleh didudukin sama buntelan dosa kayak lo.”

Bukannya menyingkir, Abel malah menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Setengah tertawa lalu menutup kedua matanya. Menghembuskan nafas. “Hadeeh, kan orangnya nggak ada.”

“Tetep aja nggak boleh lo duduk dekat-dekat gue.” Gue menjawab ketus. Menyeret bangku gue agar mepet ke dinding, menjauhi Abel. Namun, anak itu malah dengan usilnya menyeret bangkunya lagi agar kembali mepet mendekat dengan bangku milik gue.

Gue lantas melotot. Hendak menendang Abel. “MONYETTTT, GUE TUNTUT LO YA ATAS KASUS TIDAK MENYENANGKAN????”

“Apasih, lebay amat.”

“Nyingkir loo cuih cuih gue harus cuci bangku Harit make tanah 7 kali.”

Abel menatap gue tak terima. “Dikira gue babi???”

“Emang. Bahkan, kalau disuruh lomba mirip-miripan babi sama lo, yang ada babinya kalah.”

Lelaki yang berada disamping gue ini tertawa lepas. Menunjuk pipi gue menggunakan telunjuknya. Secepat mungkin, gue menjauhkan telunjuknya dari wajah gue.

“Ewwwwwwh jangan megang-megang!!!!”

“Apasih sayang.”

“HUEK JIJIK BANGET, MONYETTT.”

Gue dan Abel saling ribut. Namun teman-teman kelas gue hanya mendiamkan karena itu sudah menjadi kegiatan sehari-hari kita berdua. Gue terus rusuh, lalu menundukkan tubuh gue lalu merangkak keluar lewat kolong meja agar tidak didekati oleh Abel lagi.

Namun, yang namanya Abel memang tidak ada hentinya buat menjahili gue. Abel langsung bangkit dari duduknya. “Lo ngeliat gue kayak habis dikejar setan dah.”

“Emang lo kayak setan, jingg. Sana nggak??? Gue tuntut lo atas perbuatan tidak menyenangkan.”

Saat gue mendorong Abel, gue terkejut saat punggung Abel menabrak dada seseorang. Seseorang yang mengenakan bet kelas 12 IPA. Yang tingginya nggak jauh-jauh dari Abel. Gue mematung di tempat, Abel pun sama langsung menoleh ke arah belakang. Lalu mundur beberapa langkah seketika saat ia yakini, lelaki itu adalah,

Bright Shaka.

Gue diam. Tidak berkutik. Seluruh kelas juga sama diamnya. Melihat anak kelas 12 yang main-main ke dalam kelas kami sungguh hal yang langka. Karena memang tidak pernah ada anak kelas 12 yang mampu menginjakkan kaki ke dalam kelas ajaib ini.

“Lo mau ikut gue nggak?”

Gue memasang wajah kurang lebih seperti ini, hah?

“Hah?”

Yang jadi lawan bicara gue menghembuskan nafas kasar. Mengacak rambutnya lalu mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap gue.

“Kemana?” Tanya gue lagi. Lalu, Kak Bright langsung menatap gue lurus-lurus. Gue menelan saliva gue pelan-pelan.

Anjir ni orang serem banget.

“Kantin.”

“Hah? Mau ngapain ke kantin?”

“Nguli.” Jawabnya asal. Lalu langsung membalikkan badannya. Berjalan perlahan keluar kelas meninggalkan gue yang masih mematung. Mencerna kata-kata yang dia ucapkan barusan.

“Nguli apaan, sih, anjir????”

Kak Bright lalu berhenti. Tepat di depan pintu, lalu menoleh ke arah belakang.

“Mau ikut atau mau gue gendong?”

“EH IYA IKUT.”