Senin, september 2018

Shaka's pov
Ada beberapa orang yang bilang, kalau gue itu orang yang benar-benar apatis, tidak peduli pada sekitar, cueknya kebangetan, sampai-sampai beberapa teman gue bilang, “Shak, kata gue lo nggak bakal bisa dapat pacar.
Mendengarnya, gue cuma mendengus sebal. Beberapa kali gue bilang, gue orangnya emang cuek. Dari dulu. Tapi bukan berarti gue nggak bisa merasakan suka sama orang. Bukan berarti gue nggak bisa jatuh cinta sama orang.
Karena gue nggak mau ribut-ribut dan melancarkan aksi perdebatan dengan Mike, Guns, serta Earth, gue hanya bisa diam sambil membuang bungkus roti pada tempat sampah besar di dekat kelas 11 IPA 3. Gue melirik ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan gue. Pukul 7 tepat, dan sebentar lagi, upacara yang diselenggarakan setiap hari senin akan mulai.
Sebenarnya, gue malas. Gue lebih memilih untuk tidur di kelas. Daripada harus mengikuti upacara yang lamanya bisa memakan waktu hingga 1 jam lebih. Namun, karena gue anaknya malas untuk berdebat alot dengan beberapa osis yang kerjaannya menggebrak-gebrak kelas setiap senin pagi untuk keluar, jadinya gue lebih memilih untuk menurut saja.
Earth, Mix, serta Guns, teman-teman aneh gue pergi meninggalkan gue terlebih dahulu yang sedang mengikat tali sepatu yang tiba-tiba lepas. Gue berdecak malas, lalu menunduk. Membuat simpul lalu mengikatkannya dengan cepat. Beberapa siswa sudah mulai berbaris, mengikuti intruksi dari kepala sekolah. Katanya, sih, akan ada acara doa bersama karena akan memberlangsungkan kegiatan PTS atau penilaian tengah semester ganjil. Ya, sekolah gue bisa dibilang keagamaannya sangat erat. Jadi, nggak terlalu heran.
“BEL, JANGAN NGAMBIL TOPI GUE, BISA NGGAK???”
“WLE, NGGAK MAU. AMBIL LAH. MAMPUS LO NGGAK NYAMPE. HAHAHAHA.”
Telinga gue pun menangkap suara memekakkan hingga akhirnya gue menoleh, ke arah kanan. Tepat ke arah sumber suara.
Ada dua anak laki-laki yang bertengkar. Mengenakan bet kelas XI IPA, lengkap dengan atribut hari senin yang mereka kenakan; dasi sepatu hitam kaus kaki putih, dan gesper yang melekat di pinggang. Kedua pemuda itu saling berebut topi. Satu pemuda yang lebih tinggi dengan tampangnya yang sedikit urakan, mengenakan hoodie berwarna hitam, tampangnya yang tengil, sedang meletakan topi di atas blower AC yang tinggi. Pemuda itu tertawa terbahak, membiarkan pemuda yang satunya berteriak, memukul-mukul lengannya, lalu mendengus kesal.
“BEL, BALIKIN ANJRIT???”
“NGGAK MAU. SIAPA SURUH NGADU KALO GUE NGGAK PIKET?”
“LAH ITU MAH EMANG SALAH ELO, BABIII.”
Anak laki-laki yang diketahui namanya Abel, hanya terkikik geli. Mengusap surai hitam legam pemuda yang satunya. Dan tak lupa sambil tertawa usil. “Mohon ke gue dulu dong, El.”
“Eh babi, nama gue Metawin ya. Me-Ta. BUKAN EL EL. EL GAZALI KATA LO KALI.”
Gue tertawa kecil. Kemudian, berdiri lalu menegapkan tubuh gue. Memperhatikan dua pemuda yang masih bertengkar itu tanpa memperdulikan suara guru-guru yang sudah riuh karena menyuruh anak muridnya untuk segera berbaris.
“Kier Metawin nama lo ah. Tapi panggil aja, Iel atau El. Anggap aja nama kesayangan. Pet Names.”
Metawin, hanya bisa menatap ke arah Abel lalu merotasikan kedua matanya malas. “OGAH. Ambilin nggak anjing topi gue??? Bisa dihukum gue, anjing.”
“Nggak.”
“ABEEEEEEL.”
“IYAAA SAYANGG.”
“HUEEEEK BANGSAT. GELI.”
Karena gue sangat membenci keributan, dan sedari tadi gue hanya menatap keduanya sambil bersedekap dan bersandar pada tiang dinding persis di depan kelas 11 IPA 3 yang pintunya terbuka lebar, gue lalu mengacak rambut terlebih dahulu, lalu berjalan melangkah. Mendekat ke arah mereka berdua yang masih bertengkar tanpa ada ujungnya.
Abel, serta Metawin menatap gue dengan pandangan bingung. Gue pun sama bingungnya, karena mereka berdua tiba-tiba memberhentikan perdebatan alot mereka saat gue datang. Mungkin karena melihat bet seragam gue yang tertera kelas XII IPA.
Gue berhenti tepat dihadapan mereka berdua. Sedikit berjinjit dan satu tangan gue terulur untuk mengambil topi abu-abu milik Metawin yang sengaja disangkutkan oleh Abel disana. Tanpa bersuara pun, gue mengambilnya. Wajah gue juga sama—datar. Karena gue nggak tahu harus berekspresi seperti apa.
Setelah mengambilnya, gue langsung menepuk-nepuk topi tersebut. Guna menyingkirkan debu yang sedikit hinggap disana. Setelahnya, topi tersebut langsung gue pasangkan asal, meletakkannya di atas puncak kepala milik Metawin hingga sang empunya terdiam. Abel pun sama, memperhatikan gue dengan diam. Mungkin, berbicara juga sungkan karena gue anak kelas 12.
“Makasih, Kak....” Ucapan Metawin pun menggantung. Kedua matanya bergerak, melirik ke arah name tag gue yang terpasang di dada kanan. “Kak Shaka...?”
Gue mengangguk pelan. “Iya.”
Dan setelahnya, gue berbalik. Berjalan dengan santai menuju lapangan dengan kedua tangan yang diletakkan di dalam saku celana abu-abu yang gue kenakan.
Ngomong-ngomong, Metawin lucu juga anaknya.