151 — cie


Win keluar dari kamarnya. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya lalu menarik otot-ototnya untuk direnggangkan. Ia menguap sebentar lalu berbalik ke arah kanan tanpa melihat-lihat. Hingga kepalanya tak sengaja terbentur oleh dada Bright yang sedang berdiri juga disana sedari tadi. Memperhatikan Win.

Metawin meringis. Ia lalu mengangkat kepalanya, melihat ke arah Bright lalu berdecak pelan. “Buset main nongol aje lu kayak hantu.”

“Loh kamu gak pake mata.”

“Ya om ngapain disitu??? Udah tau gue mau lewat.”

Bright mengangkat sebelah alisnya. “Apasih? Saya disini dari tadi. Makanya jalan pake mata jangan pake mata kaki.” Ucapnya menunjuk kening Metawin menggunakan telunjuk.

Win meringis. Ia berdecak karena Bright sangat menyebalkan. Ia lalu membalikkan badannya memutar menjauhi Bright. Kakinya melangkah ke arah dapur lalu menuangkan air ke dalam gelas yang baru saja ia ambil. Dan menandaskannya hingga habis.

Win melirik ke arah Bright. Pria itu dengan pakaian formalnya. Kemeja putih kantoran, dasi berwarna biru yang bertengger di leher. Serta jas dengan warna navy yang ia sampirkan di tangan. Laki-laki itu sedang menghabiskan segelas kopi yang asapnya masih mengepul.

“Mau kemana om?” Tanya Win basa-basi. Padahal, ia sudah tahu Bright ingin pergi ke kantor. Tapi ia basa-basi saja supaya tidak terlalu canggung dan awkward.

“Nguli.” Jawab Bright ketus. Memangnya anak itu tak melihat setelan dirinya yang sangat formal dan rapi??? Menyebalkan.

Win mendelik. Ia meletakkan gelas kosong di atas meja dan menatap Bright sambil mendumal. “Yaelah, kan gue nanya doang buset. Ketus amat.”

“Ya kamu udah tau saya pakaiannya formal begini, kamu kira saya mau kemana? Jadi badut mekdi?”

Win menahan tawanya. Sembari menutup bibirnya menggunakan tangan. “Pffft— kan gue basa-basi doang elah, Om. Sensian amat lu ah.”

“Basa-basi kamu gak jelas,” ucap Bright menatap Win tajam. Pria itu lalu bangkit dari duduknya, dan mengambil tas berwarna hitam yang berisikan laptop dan juga ipad di dalam sana. Bright berkaca sebentar untuk membenarkan penampilannya. Setelah semuanya ia rasa cukup oke, Bright mengambil sepatu yang tertata rapi di belakang pintu, lalu memasangkannya pada kakinya.

Beberapa menit berlalu, Bright sudah selesai memasang sepatunya Ia lalu berdiri, tangannya sudah memegang gagang pintu, namun tubuhnya berbalik. Kedua matanya beredar mencari-cari Metawin.

“Kamu seharian ini di appart aja, kan?”

Win mengangguk.

“Awas jangan kemana-mana.”

Pemuda itu mengangguk lagi. Dan Bright berdecak karena Win hanya membalasnya dengan anggukan.

“Jangan ngangguk doang, Metawin.”

“Iyeee elah buset dah. Kaga bakal kemana-mana gue juga,” yang lebih muda pun merotasikan kedua matanya jengah. Ia menatap Bright yang masih setia berdiri menghadapnya sambil memegang knop pintu. Namun, kedua matanya merasakan ada hal yang janggal. “eh—wait. Bentar, Om. Tunggu disitu.”

Bright menautkan kedua alisnya. “Apasih?”

Win tak mengindahkan ucapan Bright. Ia malah melangkahkan kakinya dan berjalan ke arah yang lebih tua. Bright diam di tempat dan anehnya ia menurut dan membiarkan anak itu mendekat. Sampai, Win sudah berada tepat di hadapan Bright. Dan tangannya terulur, ke arah dasi Bright yang sedikit berantakan. Dan tidak simetris.

“Bentar, dasi lu miring nih.”

“Apa?” Bright menunduk. Memegang dasinya sendiri, lalu di tepis oleh Metawin.

“Ish bentar. Gue benerin. Udah lo diem aja.”

Bright menghela nafas. “Yaudah. Benerin.”

Win membetulkan dasi Bright dan merapikannya dengan teliti. Sementara itu, Bright melirik ke arah wajah Metawin yang sedang menunduk. Puncak kepalanya menghadap wajah Bright hingga tercium wangi shampoo buah cherry dari rambut-rambut halus Metawin. Bright terperangah sebentar untuk memperhatikan lekukan wajah anak itu saat menunduk. Bulu mata lentik Metawin seakan jatuh karena anak itu menunduk untuk membetulkan dasinya. Pipi sedikit gembil Metawin yang samar-samar berwarna pink. Dan juga—bibir plump merah muda Metawin yang membuatnya gagal fokus.

“Dah.” Ucap Metawin sambil tersenyum puas. Ia mengangkat pandangannya, dan sorot matanya jatuh ke dalam sorot mata Bright yang tengah menatapnya juga. Pandangan Metawin seolah terkunci oleh manik mata elang Bright. Mereka berdua bertatapan lebih dari 20 detik hingga Bright memutus kontak mereka berdua. Pria itu berdehem canggung dan menatap ke arah lain.

“Makasih,” Ucap Bright sambil membuka pintu utama. Tubuhnya sudah berada di luar sementara kepalanya masih menyembul dari balik pintu. Ia menatap Metawin sebentar yang masih setia menunggunya. “kamu jangan kemana-mana nanti.”

“Iyeeee.”

“Awas.”

Setelah mengucapkan kalimat barusan, Bright menutup pintu dan meninggalkan Metawin di dalam.

Sambil berjalan ke arah lift. Wajah Metawin masih terngiang-ngiang di otak Bright hingga pria itu gagal fokus. Bright menggelengkan kepalanya sambil memijit pangkal hidungnya. Bibirnya mengumpati nama Metawin. Lalu, mengambil nafas panjang, sebelum akhirnya menekan tombol lift yang mengarah pada basement.

Cieee, beneran salting ya, Om?

Kok sampe gagal fokus begitu?

qrt & likes will be appreciated♡