112 — tragedi di dapur


Win mengabaikan chat dari kakaknya lalu mengambil sosis dari dalam kulkas. Di bukanya plastik yang melapisi sosis tersebut lalu memotong sosisnya menjadi bagian terkecil.

Tak lupa Win menyalakan kompor dan menuangkan minyak ke dalam penggorengan. Mengatur api agar tak kebesaran, lalu mulai fokus kembali mengiris sosis untuk menu sarapannya hari ini.

Baru 5 menit Win fokus dengan menu sarapannya, terdengar suara derit pintu yang terbuka. Mata pemuda itu langsung bergulir ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.

Dan ternyata itu Bright. Langsung saja wajahnya berubah menjadi sedatar-datarnya. Mulutnya pun berdecak malas, lalu memilih untuk mengabaikan Bright yang mulai berjalan ke arahnya.

“Masak apa emang?” tanya Bright saat dirinya sudah berada tepat di depan Metawin.

“Nggak liat?”

“Liat. Nanya aja. Kan basa-basi.”

Win mendumal. Memang keberadaan Bright disini tak membantu. Jadi, dia hanya kembali memotong sosis beserta nugget yang baru saja ia ambil dari freezer.

Bright terlihat menggulung lengan baju kaosnya. Ia mendekat ke arah Metawin dan mengambil pisau yang menganggur di tempat sendok. Bright pun berdiri di sebelah Metawin dan mulai memotong-motong nugget yang masih setengah beku.

“Daripada ngerecokin, mending diem aja dah,” ucap Metawin tak terima jika Bright ada di sampingnya. Menurutnya, keberadaan Bright bisa-bisa membuat dirinya hanya marah-marah disini.

Bright menautkan kedua alisnya. Bingung. “Apasih? Saya mau bantu, kok.”

“Oh.”

Tangan Bright pun terulur ke arah kening milik yang lebih muda lalu menyentilnya pelan. “Suudzon.”

“Emang.”

“Yaudah.”

Mereka berdua pun berfokus dengan memotong-motong bahan makanan lalu menuangkannya pada penggorengan yang berisi minyak panas. Tak ada percakapan diantara mereka berdua karena sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Win.”

“Hah.” Yang merasa terpanggil pun menyahut. Win menyandarkan tubuhnya pada pintu kulkas sambil bersedekap.

“Kamu keterima di UI Ilmu Hukum, ya?”

Win mengangguk.

“Saya sebenarnya nggak mau bilang ini, tapi—” Bright menjeda ucapannya. “semangat ya.”

Win mengerjapkan kedua matanya tanpa sadar. Hampir mengira kalau telinganya mendadak berfungsi normal—tapi tidak. Tumben sekali pria dihadapannya ini mengucapkan dua kata yang memotivasi, walaupun hanga kalimat sederhana, tapi mampu membuatnya terheran-heran.

“Mabok ye lo, om?”

Mendengar itu, Bright jadi menatap Metawin datar, lalu berdecak saat melihat anak itu menatapnya seperti mengejek. “Diberi pesan positif, malah ngejek.”

“Pfftt—” Win menahan tawanya, sambil menutup mulut. “habis tumben aja nggak negatif.”

“Saya banyak positifnya, kamunya aja baru kenal saya dua hari.”

Saat ingin menjawab perkataan Bright barusan, mata Metawin tertuju pada penggorengan yang mengeluarkan asap. Secepat mungkin ia berlari ke arah Bright lalu mematikan kompor dengan cekatan. Api sedikit naik ke puncak penggorengan membuat Win panik dan segera mengambil air dari westafel menggunakan wadah besar.

Namun, Bright menahannya. Mengambil wadah berisi air itu dari genggaman tangan Win. “Bahaya, kamu bisa kena nantinya.” ucapnya membuat Win terdiam, namun api semakin naik. Hingga Bright mengambil lap bersih di samping lemari piring, membasahkannya, lalu ia letakan di atas api yang mulai meninggi. Tak butuh waktu lama, api tersebut padam dan yang tersisa hanya kepulan asap dan bau gosong disekitar dapur.

Bright mengambil lap bersih tersebut lalu meletakkannya di atas meja. Melirik ke arah nugget dan sosis yang telah berubah warna menjadi hitam. Gosong.

Pundak Win menurun pias. Ia menghela nafasnya pelan, “Yah... gosong.”

“Yaudah makan.”

“Tapi gosong, Om.”

Bright tak menghiraukan perkataan Win. Ia mengambil dua piring dan meletakkan nasi putih di atasnya. Meniriskan nugget dan sosis yang gosong itu dan menaruhnya di atas kedua piring yang sudah ada nasi di dalamnya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Bright mengambil sendok lalu duduk di atas kursi. Menyuapkan satu sendok nasi dengan potongan nugget itu ke dalam mulutnya, lalu melirik Metawin yang masih memperhatikkan dirinya.

“Om, gosong tau. Ngapain lu makan??”

“Gosong doang nggak bakal bikin kamu mati. Makan.” Ucapnya mendorong piring tersebut pelan ke arah Metawin.

“Gosong, gue bikin baru aja deh.”

“Buang-buang makanan, Metawin. Makan aja.”

Lalu Win menurut. Duduk di hadapan Bright namun memperhatikan Bright yang sedang makan dengan saksama. Lalu, satu pertanyaan terlintas di dalam otaknya.

“Om sering makan makanan gosong, ya?”

Bright tersedak. Menatap Metawin horror dan menelan makanannya dengan benar.

“Makan aja, bocah.”

“Iyasih, galak amat.”

qrt & likes will be appreciated♡