Januari, 2019

Abel's pov

Gue menatap tiket bioskop digital pada layar ponsel yang menunjukkan jam tayang pukul 3 sore. Senyuman gue lantas mengembang, gue lagi senang-senangnya hari ini karena gue berhasil nggak jajan selama 3 hari buat beli 2 tiket bioskop buat gue dan buat Metawin juga.

Gue lalu menyimpan ponsel gue ke dalam saku celana. Kedua kaki gue pun melangkah ke depan, tumben-tumbenan banget nih gue nggak membeli dua batang rokok di kantin karena menurut gue, ini adalah hari yang sangat gue tunggu-tunggu. Selain karena gue nggak ingin merusak bau mulut gue dengan bau rokok karena nanti sore gue mau mengajak Metawin jalan ke bioskop untuk yang pertama kalinya—sebenarnya, pede aja dulu. Kalau nggak diterima, tinggal gue paksa. Bercanda deh. Sebelum-sebelumnya, dari jauh-jauh hari, gue sudah bilang pada Metawin menggunakan nada bercanda kalau gue mau mengajak dia buat nonton bioskop. Dan kabar baiknya, dia mau. Gue langsung terlonjak dengan senang hati saat itu.

“Berarti kalau kapan-kapan gue ngajak lo, lo mau ikut?”

“Iye ajak aja. Asal dibayarin.” Ujarnya dan gue masih ingat jelas nada dia berbicara saat itu gimana.

“Lo mau kemana, Bel?”

Gue menoleh. “Lapangan basket.” Jawab gue singkat. Iya, karena saat gue senang, sedih, pasti gue larinya ke lapangan basket. Dengan senang hati, gue berjalan dengan langkah cepat. Melewati lorong-lorong kelas yang dipenuhi oleh siswa karena sekarang adalah jam istirahat. Senyum gue pun mengembang dengan jelas. Mungkin, teman-teman gue pada keheranan karena mood gue lagi bagus-bagusnya. Gue terus-terusan tersenyum sampai-sampai, June menatap gue dengan tatapan menyelidik. Namun, gue abaikan saja.

Wangi lapangan indoor basket milik sekolah adalah wangi yang paling gue suka selain wangi buku di gramedia. Kaki gue pun melangkah, mulai mengambil bola basket dari keranjang. Menekan-nekannya apakah memang sudah terisi angin atau tidak. Lalu, gue mengambil bola basket kedua. Memegangnya, lalu memantul-mantulkannya pada lantai.

“Gue suka sama lo.”

Gue berhenti. Berhenti menantulkan bola basket gue lalu menoleh ke sumber suara. Mata gue pun menyipit, melihat ke arah dua pemuda yang gue ketahui adalah... Kak Bright anak kelas 12 dan juga...

..... Metawin.

Pergerakan gue berhenti secara tiba-tiba. Bola basket yang gue pantulkan tadi, langsung gue pegang. Agar tidak menimbulkan suara.

“Ayo pacaran.”

Mendengarnya, hati gue terasa sakit. Entah mengapa. Gue tertawa kecil, lebih tepatnya tertawa miris akan apa yang gue dengar. Harusnya gue nggak usah kesini..

Sebelum gue mendengar Metawin menjawab, gue lalu membalikkan badan gue. Meletakkan bola basket itu kembali ke dalam keranjang, lalu berjalan dengan cepat tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Ogah mengganggu aktivitas kakak kelas yang lagi menembak adik kelasnya.

Emang harusnya gue pure temenan aja sama Metawin. Bukan malah naro rasa suka yang nggak semestinya.

Sekali lagi, gue tertawa. Mentertawakan diri gue sendiri begitu mirisnya.

Bego lo, Bel.