538 epilog
—Meta's pov
Semesta memang kadang sebercanda itu. Yang nggak pernah lo duga-duga, ternyata datang dengan sendirinya seolah udah ada di dalam skenario hidup lo. Seolah, udah diatur sama yang kuasa. Seolah, hidup lo udah digoreskan sama tinta takdir yang nggak akan pernah bisa lo ganggu lagi.
Kayak sekarang, gue niat untuk ke makam Ara hari ini, karena udah lama gue nggak kesana, malah mendapati Shaka yang lagi duduk dihadapan pusara sambil menangis. Kalau kalian bertanya, kok bisa gue ke makam Ara dengan mudahnya? Iya, namanya juga Tuhan, maha membolak-balikkan hati manusia yang tadinya gue gedek banget sama Ara semasa hidup, kini merasa kasihan karena anaknya udah nggak ada. Ara meninggal, 7 tahun yang lalu karena bunuh diri. Padahal, terakhir ketemu dia juga tiga bulan yang lalu dan dia sempat minta maaf sama gue.
Tadinya.. gue nggak mau maafin dia. Dengan semua yang udah dia lakuin sama gue. Tapi, pas dengar kabar seperti ini, hati nurani gue jadi terpanggil. Yang tadinya gue udah nggak mau ada urusan lagi sama ini anak, gue malah merasa kasihan sekaligus… sedih?
Iya sedih, karena anak ini mengakhiri hidupnya begitu aja. Gue nggak tau apa yang dia alami selama ini, tapi gue dengar-dengar, selama tinggal sama Mama tirinya, Mama asuhnya, Ara terlalu banyak mendapatkan kekerasan di rumahnya. Gue yang mendengarnya kala itu, hanya bisa meringis. Terlebih, saat tahu kalau dirinya diusir dari rumah. Ya makin sedih lah gue..
Gue bukan malaikat yang punya hati bisa memaafkan dengan mudah. Tapi gue juga bukan setan yang terus-terusan dendam. Jadinya, gue juga ikut-ikutan nangis saat Ara dimakamkan. Gue juga memastikan, kalau anak ini dimakamkan dengan layak saat ditemukan sama warga sekitar dirinya udah tenggelam di sungai dalam dan baru diangkat jenazahnya setelah 7 hari dari dia menenggelamkan diri.
Dan sekarang.. ada satu fakta mengejutkan. Dan gue hanya bisa tertawa atas ini. Semesta emang suka bikin suatu yang nggak pernah bisa gue tebak-tebak, ya?”
“Long time no see, Ta.” katanya dengan senyuman yang terulas di bibir. Kedua matanya merah membengkak, wajahnya nggak ada yang berubah. Masih sama. Lekuk wajah, postur tubuh, rahang, hidung.. semuanya sama. Dari senyuman juga masih sama. Nggak banyak yang berubah.
Gue terdiam. Menatapnya beberapa menit lalu menghembuskan nafas serta mengalihkan wajah. Gue.. nggak bisa lihat wajahnya lama-lama. Hati gue makin sakit lihatnya..
“Kesini juga, Ta?” katanya dengan nada ramah. Kedua tangan gue pun mengepal hingga buku-buku jari gue memutih. Emosi gue kini naik lagi, dada gue sesak bukan main.
Lo… bayangin rasanya. 7 tahun nggak ketemu, 7 tahun saling nggak ngasih kabar, tau-tau ketemu saat lo sedang ziarah ke makam cewek yang tadinya adalah penganggu hubungan gue dengan dia. Tau-tau ketemu padahal gue nggak pernah ngerencanain sesuatu.
“Iya.” Jawab gue sekenanya. Gue lantas menegapkan badan, lalu berbalik dan meninggalkannya dengan langkah cepat. Gue merutuk dalam hati. Ngapain gue kesini hari ini?? Kenapa dia harus disini? Kenapa dia harus ada di depan gue lagi?
Setelah 7 tahun dia ngilang, setelah 7 tahun dia nggak ngasih kabar, setelah 7 tahun dia mutusin gue, dia datang gini aja???
Nggak adil buat gue…
“Ta, sebentar. Tungguin.”
Gue mendengar derap langkah di belakang yang mengejar gue. Gue mengelap air mata yang turun dengan terburu, serta melangkahkan kedua kaki gue dengan cepat. Buru-buru meninggalkan pemakaman beserta Bright yang ada di belakang gue.
Sebenarnya, gue bingung sama diri gue sendiri. Urusan gue dengan Bright memang sudah selesai. Tapi kenapa gue ketemu dia aja rasanya cemen banget??? Rasanya gue nggak mau lihat dia lama-lama. Apa emang gue udah beneran move on atau emang masih punya rasa?
“Ta, sebentar..”
Gue langsung membalikkan badan. Menatapnya dengan gemetar, namun nggak berani menatap kedua netranya. Nggak berani menatap iris matanya yang kelam.
“Jangan, deket-deket gue.”
“Gue mau pulang.” Sambung gue lagi dengan nafas yang terengah-engah. Seketika, Bright langsung berjalan mundur, mengangkat kedua tangannya tanda ia nggak akan mendekat ke arah gue lagi.
“Oke, nggak. Aku nggak dekat-dekat kamu.”
“Oke. Bagus.” Kata gue lalu langsung masuk ke dalam mobil. Menyalakan mobil dengan buru-buru, lalu langsung menancapkan gas meninggalkan Bright yang sedang menatap gue dengan sorot mata kecewa. Seperti sedang mengharapkan sesuatu.
Dan sekarang, gue serius bingung sama perasaan gue sendiri.