ShakaMeta ending final

https://open.spotify.com/track/6lanRgr6wXibZr8KgzXxBl?si=a451d86a79a14514

Gereja Katedral Jakarta

Ini saatnya. Penantian setelah beberapa tahun lamanya, penantian selama 7 tahun terpisah oleh jarak dan waktu yang berbeda, terpisah karena pilihan masing-masing tadinya, kini, mereka berdua dipertemukan lagi dengan cara semesta yang tak pernah mereka duga-duga.

Tatapan penuh haru, yang mereka berdua dapatkan sekarang, hampir saja membuat Metawin ingin menangis lagi dengan deras. Kedua matanya terpejam untuk beberapa saat, menahan tangisan emosionalnya karena berbahagia, tak menyangka hubungan mereka berdua melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Metawin meremat jas yang dikenakan ayahnya. Tangannya keringat dingin, ia tak bisa untuk berhenti gugup sedari tadi malam. Membayangkan untuk menikah dengan Bright saja mungkin rasanya masih seperti mimpi.

Namun, inilah kenyataannya.

Dihadapan sana, Bright mengenakan tuxedo berwarna hitam, berdiri dengan pendeta yang ada di sisinya. Ia tersenyum, pria itu tersenyum pada Metawin yang tengah menatapnya dengan ragu-ragu. Gesture tubuh pemuda itu mengisyaratkan pada Metawin kalau dirinya tidak usah ragu dan gugup. Ada dirinya, ada Bright yang menunggunya di sini.

Setelah menatap dan melihat ke arah sorot mata Bright dalam-dalam, dengan penuh keyakinan, Metawin menarik nafasnya dalam untuk rileks agar tidak terlalu gerah. Walaupun, jantungnya terus berdegup bukan main karena hari ini adalah proses penyatuan antara dirinya dengan Bright dihadapan Tuhan, dihadapan banyak orang. Pernikahan mereka, bukan hanya proses penyatuan dua anak manusia, melainkan proses penyatuan dua keluarga yang isi kepalanya jelas berbeda.

Darah Metawin pun berdesir, kala Ayahnya mengkode dirinya untuk melangkahkan kedua tungkai ke depan. Metawin meremat lengan Ayahnya dengan kuat-kuat, kakinya melemas. Bright pun tersenyum simpul, menyemangati dirinya lewat tatapan tulus yang ia punya. Walaupun, dirinya sama gugupnya dengan Metawin. Jantungnya juga hampir saja ingin jatuh ke perut karena melihat paras elok Metawin yang sangat indah dan di atas batas kecantikan manusia. Metawin bagaikan pangeran, indah, cantik, serta tampan dan rupawan. Sangat pas dengan tuxedo berwarna putih yang ia kenakan. Kedua netranya merah, mungkin karena menahan tangisan bahagia terus sejak tadi.

Saat sang Ayah dan Metawin tepat berada dihadapannya, mereka berdua sempat bertatapan untuk berapa detik dan salin melempar senyum. Senyuman Metawin seindah mentari yang menerpa wajahnya secara malu-malu. Menampilkan dengan jelas seluruh paras Metawin dengan kedua manik mata hazelnya. Bibirnya yang memerah, dan juga hidung bangir serta bulu matanya yang lentik.

Bright hampir tak bisa berkata-kata untuk itu. Metawin terlalu indah. Metawin terlalu cantik hingga tak ada kata apa-apa lagi untuk memuji keindahan parasnya yang manis.

Saat Bright diam serta terkagum-kagum karena menatap Metawin tanpa henti. Ayahnya, Ayahnya Metawin, calon Ayah mertua Bright, memajukan kakinya untuk berjalan mendekat ke arahnya. Pria paruh baya dengan kerutan yang tampak jelas di wajahnya, tersenyum dengan teduh serta menghadiahi Bright tatapan malaikatnya. Bright terdiam, menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Tangan pria itu pun terulur, lalu mengambil tangan Bright dan ia genggam. Mereka berjabat tangan, lalu menarik Bright ke dalam pelukannya yang hangat. Menepuk-nepuk punggung pemuda itu dengan halus. Seolah tau, laki-laki yang ingin menikahi anaknya ini sedang gugup dan tak bisa berujar apa-apa.

“Bright Shaka,” panggilnya dengan lembut. Bright menelan salivanya takut-takut, namun kemudian menganggukkan kepalanya ringan lalu menyahut.

“Iya, Ayah..”

Sang Ayah pun terdiam untuk beberapa saat. Bulir kristal bening dari mata teduhnya pun jatuh, turun dengan sembarang. “Nak, ini Ayahnya Metawin. Ayahnya Meta. Ayah titip Meta sama kamu, ya?”

“Meta anak Ayah satu-satunya, anak yang paling Ayah banggakan. Anak yang paling Ayah sayang. Anak yang membuat Ayah senang sejak dirinya menangis kala keluar dari rahim Bundanya. Di hari istimewa ini bagi kalian berdua, Ayah selalu bersyukur karena Meta akhirnya menikah dengan laki-laki pilihannya. Ayah juga bersyukur, kalau kalian sangat saling mencintai satu sama lain. Ayah senang, Ayah bahagia, Metawin menemukan kebahagiaan seumur hidupnya.”

Bright terdiam kaku, lututnya melemas serta merinding atas ucapan Ayahnya Metawin. Laki-laki itu menangis, ikut merasakan tangisan bahagia penuh haru Sang Ayah yang melepaskan anaknya untuk menikah. Melepaskan anaknya untuk tinggal bersama pasangan pilihan. Melepaskan anaknya setelah bertahun-tahun dijaga dan disayang penuh dengan kasih sayang.

“Tolong jangan sakiti dia ya, Nak? Metawin anak yang baik yang Ayah dan Bundanya besarkan dengan seluruh hati. Metawin anak yang penurut, yang selalu berkata 'iya' dengan lembut sama Ayah. Ayah, membesarkan Metawin dengan darah, keringat, dan air mata. Menafkahinya dengan kepala di bawah kaki di atas, hanya untuk membahagiakannya. Ayah dan Bunda, sangat sayang Metawin. Dia, tetap bayi kecil kita meskipun sudah besar. Metawin, tetap menjadi putra kecilnya ayah yang sangat ayah sayang.”

“Tolong bahagiakan Metawin ya, Nak? Sebagaimana Ayah membahagiakan anak Ayah. Tolong jangan membuatnya sedih karena Ayah sama sekali tak pernah membiarkan setetes air matanya jatuh selama ia hidup. Tolong jangan dimarahi, tolong jangan keraskan dia. Bimbing Metawin ke arah yang lebih baik, tolong bawa Metawin ke jalan yang lurus ya, Nak? Karena, sebaik-baiknya pasangan, akan menuntun ke arah yang lebih baik. Tolong jangan lukai dia.”

“Metawin sekarang sudah tanggung jawab kamu. Ayah menyerahkan Metawin sama kamu ya sekarang, Nak? Tolong juga, jika kamu sudah tidak mau dengannya, tidak mau menerimanya lagi, tolong kembalikan lagi ke Ayah. Tolong pulangkan Metawin ke Ayah dan Bunda dengan baik-baik, karena Ayah akan menerimanya dengan tangan terbuka. Karena, Metawin punya dua rumah untuk berpulang, hati kamu, sama hati kedua orangtuanya.”

Bright mengangguk dalam-dalam. Ia tak dapat membendung tangisannya lagi karena kata-kata Ayah barusan sangat menyentuhnya. Ia hanya bisa menggigit bibirnya sendiri dengan dalam-dalam.

Ayah lalu melepaskan pelukan mereka berdua. Menatap Bright lagi dengan senyumannya. “Selamat memulai bahtera rumah tangga yang abadi, Nak. Doa Ayah serta doa Bunda selalu mengiringi rumah tangga kalian berdua. Ayah titip Metawin.”

Bright tak tahu harus berkata seperti apa lagi. Ia kehilangan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab ucapan panjang dari Ayahnya. Jadi, kepalanya hanya bisa ia anggukan. “Makasih, Ayah.”

Dan akhirnya, sang Ayah pun menganguk lantas berjalan mundur dengan perlahan. Sambil menoleh ke arah Metawin lalu tersenyum simpul. Menepuk pundak Metawin dengan lembut, lalu mengelap air matanya yang turun.

Metawin menguatkan dirinya sendiri sambil menatap ke arah Bright yang sedang berlinang air mata sepertinya. Isak tangis pun pecah akhirnya secara diam-diam sebelum dirinya memulai proses pemberkatan. Ia melangkah maju, mensejajarkan dirinya disebelah Bright. Keduanya pun saling melempar pandangan satu sama lain. Sama-sama menatap dengan penuh haru lalu saling melemparkan senyum. Kemudian, Bright mengambil tangan milik Win. Menggenggamnya, dan mengisi sela-sela jari Metawin yang kosong dengan jari-jarinya. Menyalurkan kehangatan serta ketenangan bagi sang empunya.

Metawin berkali-kali bahkan harus menarik nafasnya agar proses pemberkatan berlangsung dengan ancar dan juga sakral. Dan saat keduanya diberikan perintah untuk saling berhadap-hadapan, Bright serta Metawin saling bertatapan lurus-lurus. Hampir keduanya menatap pada kedua mata masing-masing tanpa kedip. Bright akhirnya mengelus punggung tangan Metawin menggunakan ibu jarinya. Menyalurkan ketenangan agar si manis semakin tenang sebelum mereka berdua mengucapkan sumpah pernikahan.

Acara pun dimulai. Mereka berdua pun dengan khidmat mendengarkan sang pendeta mulai bersuara mengucapkan pemberitaan firman Tuhan. Dan setelahnya, disambung dengan upacara peneguhan pernikahan.

Saat sang pendeta menjeda kalimatnya, lalu menatap mereka berdua secara bergantian, Bright menatap Metawin dengan lurus-lurus. Begitu juga dengan Metawin yang menggenggam tangan Bright erat-erat. Netra elang milik Bright pun mengunci pergerakan mata Metawin agar tidak kemana-mana. Keringatnya pun mengucur deras di pelipis. Detak jantungnya semakin tidak normal, hingga terdengar di telinganya sendiri.

“I, Bright Shaka Chivaaree, take you Metawin Kieran Zalana, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health. To love and to cherish. Till death do us part. I promise will take care of you lovingly as obligatory done by a husband who believes in Jesus Christ.”

Metawin tak percaya mendengar apa yang Bright sumpahkan dengan satu tarikan napas sambil menggenggam tangannya erat-erat dengan air mata yang mengalir deras. Ia menggigit pipi dalamnya, menatap Bright dengan netranya yang panas serta berair. Bright membalas tatapan Metawin dengan kepalanya yang mengangguk, meyakinkan Metawin untuk sekali lagi.

“I, Metawin Kieran Zalana, choose you Bright Shaka Chivaaree, to be my wedded husband. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health. To love and to cherish. Till death do us part. I promise will take care of you lovingly as obligatory done by a husband who believes in Jesus Christ.”

Metawin tersenyum dengan penuh haru. Ia berhasil mengatakan sumpah pernikahan dengan hanya satu tarikan napas. Laki-laki itu menggenggam dengan sangat erat pada genggaman tangan Bright. Memberi tahu jika dirinya berhasil mengucapkannya tanpa gugup. Tatapan mereka penuh haru, tak kuasa untuk menahan lagi untuk memeluk satu sama lain.

“Cincin perkawinan ini adalah lambang perkawinan dari dua segi: kemurnian emas melambangkan kemurnian cinta saudara satu sama lain, dan lingkaran yang tak berujung melambangkan janji yang telah saudara ucapkan yang tidak pernah berakhir yang tidak dapat diputuskan secara apapun dihadapan Allah kecuali karena kematian.”

Sang pendeta pun memberikan sekotak cincin pada Bright. Sang empunya pun menerimanya dengan senang hati. Melepaskan genggaman tangan mereka berdua, lalu membuka kotak cincin berwarna navy tersebut. Meminta izin pada Metawin untuk menyematkan cincin di jari manis mereka masing-masing. Suasana haru pun menyelimuti gereja saat ini. Teman-teman serta keluarga yang hadir menatap keduanya penuh haru serta berlinang dengan air mata.

Lalu, sang pendeta pun meletakkan tangannya di atas jabat mempelai, kedua mata Bright serta Metawin pun tertutup, “Saudara Bright Shaka Chivaaree dan Metawin Kieran Zalana, berdasarkan kasih setia Tuhan Yesus yang menyebut diri-nya mempelai jamaat-nya, kami meneguhkan nikahmu dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena itulah kamu telah dipanggil menjadi satu, untuk melakukan tujuan hidup penuhi bumi dengan kemuliaan Allah.”

“Amin.”

Bulir air mata Metawin serta Bright pun mengalir dengan deras. Suasana haru memenuhi isi gereja serta teman-teman dan kerabat mereka menyaksikan bagaimana prosesi penyatuan dua manusia dihadapan Tuhan hari ini. Tangisan haru pun memecah, banyak beberapa orang yang menyaksikan tak sanggup melihat bagaimana Bright dan Metawin bersumpah untuk bahtera rumah tangga satu kali dalam seumur hidupnya.

“Ta.”

Metawin menoleh ke arah sumber suara. “Iya?”

Bright tersenyum. Berjalan dengan pelan untuk mendekat satu langkah ke arah Metawin. Ia tersenyum bahagia, tatapannya tidak berbohong. “i love you, Ta. Aku selalu sayang kamu, Metawin.”

Yang diajak bicara pun tersenyum. Seakan mempersilahkan Bright yang igin izin menciumnya dengan lembut. Pelan dan pasti, kedua wajah mereka pun saling berdekatan. Sampai akhirnya, Bright mendaratkan bibirnya di atas bibir Metawin. Air mata mereka berdua kini kembali mengalir lagi. Tak ada ciuman nafsu, yang ada hanyalah ciuman penuh haru dengan kasih sayang yang tanpa batas.

No matter how far the distance, he will always be your home. How does the universe work properly, and how destiny works according to the line stated by God.

AksataEND