CANADA
Bright menatap layar laptop lalu terdiam untuk beberapa saat. Kerjaannya yang tadi ia kerjakan, kini terbengkalai tak tersentuh sama sekali. Ponselnya pun menyala, terpampang dengan jelas foto undangan pernikahan Abel dengan Metawin yang dikirimkan oleh Guns tadi malam.
Pemuda itu tampak jelas habis menangis. Entah ia menangisi apa, atau karena Metawin yang ingin menikah dengan Abel, atau karena ia menyesal karena meninggalkan Metawin ke Kanada selama bertahun-tahun. Bright menyalahkan dirinya sendiri atas itu. Hatinya berdenyut, rasa sakit itu kini menjalar lagi. Tak sanggup lagi untuk menahan.
Ia tertawa kecil. Lalu menutup laptopnya dengan sembarang dan meletakannya lagi di sisi kanan dengan asal. Kedua tungkainya pun turun dari kasur dan memijak lantai marmer dingin apartement miliknya. Sudah 7 tahun ia berada di Kanada, sudah 7 tahun pula ia meninggalkan Metawin dengan keadaan yang cukup menyesakkan, dan sudah 7 tahun juga ia masih terikat dengan keadaan yang sama.
Kepalanya pun menunduk. Jemarinya meremas sprei hingga terasa kusut dan berantakan. Air matanya kini menetes lagi. Bibirnya pun ia gigit, menahan rasa sakit yang entah kenapa ia harus merasakan ini lagi.
Ini salahnya, benar-benar salahnya. Murni kesalahan Bright yang meninggalkan Metawin secara tiba-tiba. Tanpa ada kata pamitan terlebih dahulu, tanpa ada pelukan yang lebih lama. Semuanya, terjadi begitu cepat. Hingga dirinya mendaratkan kaki untuk pertama kali di negeri orang.
Detik menjadi menit, menit menjadi jam, dan jam menjadi hari. Hari menjadi bulan, bulan menjadi tahun. Hingga terasa begitu sangat cepat, 7 tahun ia lewati sendirian. Seorang diri, hingga rasanya ingin menyerah dan nyaris mati hanya karena percintaannya yang begitu rumit dan menyesakkan.
Pemuda itu lalu berdiri, melangkahkan kedua tungkainya dan berjalan ke sudut ruangan. Menarik koper, dan melemparnya dengan sembarang ke atas kasur. Membukanya dengan wajah datar seperti biasa, lalu terdiam. Mematung. Saat melihat foto dirinya dengan Metawin yang masih tersimpan di dalam koper. Tertinggal, dan lupa ia keluarkan.
Bright mendesah pelan. Menghembuskan nafasnya lalu menunduk dan menumpukan tubuhnya menggunakan kedua tangan. Sepertinya, ia akan menyerah sekali lagi. Orang yang bersamanya dulu, orang yang bersamanya selama satu tahun, kini sudah berpindah hati dan menjadi milik orang lain. Egois namanya jika Bright datang begitu saja dihadapan wajah Metawin lalu meminta anak itu agar menjadi miliknya lagi.
Ironis. Bright mengusap wajahnya kasar, lalu mengalihkan pandangan dari foto tersebut. Ia tertawa hambar.
“Ta, misal kamu belum punya Abel, masih pantes nggak kira-kira aku balik lagi di depan kamu?”
Bright tertawa lagi. Tawanya terdengar sangat miris bagi siapapun yang mendengarnya. Membuat hati siapapun sakit saat mendengarnya. Karena, tawa Bright benar-benar bukanlah tawa yang sebenarnya. Melainkan tawa yang terselip rasa kecewa dan marah disana namun tak bisa untuk apa-apa lagi.
Bright mengacak surai rambutnya kasar lalu kemudian membuka lemari besarnya. Menatap baju-baju yang tersusun rapi dari atas sampai bawah lalu termenung lagi.
Kalau dirinya kembali ke Jakarta, apa emang akan merubah keadaan lagi?
Lagi pula, dirinya akan terdengar egois di telinga orang-orang. Dia yang meninggalkan, dia juga yang merasa bersalah. Dia juga yang ingin Metawin untuk kembali lagi. Namun sekarang.. sepertinya tidak bisa.
Saat dirinya menatap baju-baju yang tersusun rapi dengan pandangannya yang kosong, ia ingat akan chat dari adiknya untuk menyuruh Bright pulang. Mama katanya sudah kangen dengannya, begitu juga dengan Papa karena terakhir mereka ketemu juga lima bulan yang lalu. Itupun, sekeluarga menyusul ke Kanada. Bukan Bright yang ke Jakarta.
“Oke..” Ia mengangguk pelan, lalu mengeluarkan beberapa bajunya lalu memasukkannya ke dalam koper. Menumpuknya, hingga foto dirinya dengan Metawin tidak terlihat karena berada di bawah tumpukan baju. Pemuda itu tengah berkemas, bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta selama satu minggu. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk Metawin juga ia kembali. Toh, dirinya dengan Metawin benar-benar sudah selesai. Tak ada yang harus diurus lagi. Tak ada yang harus dibicarakan lagi.
Mereka sudah tidak ada. Kata 'Kita' dalam kamusnya sudah hilang. Yang tertinggal hanya 'Aku' dan 'Kamu' serta jalan masing-masing yang mereka ambil.
Bright menghela nafasnya kasar kala mulai menutup koper dan meletakkannya di atas lantai.
“Tapi aku mau liat muka kamu sebelum kamu sepenuhnya jadi milik orang lain, Ta…” katanya lalu terduduk sambil menjenggut rambutnya sendiri dengan kasar.
Kenapa aku masih sayang sama kamu, Ta?
kenapa kamu bisa lupain aku sementara aku nggak bisa?