571 epilog
kinda 🔞
Ia tak mengerti. Mengapa semesta selalu mempermainkan nya seperti ini. Terlebih, perihal cinta yang tak ada habisnya. Perihal cinta yang tak kunjung kelar. Perihal cinta yang mengajarkan bahwa: jika kamu adalah rumahnya, maka akan kembali lagi.
Metawin sadar, dirinya dengan Bright sudah ditakdirkan oleh yang Kuasa untuk tetap bersama. Sejauh apapun mereka terpisah, sekeras apapun tekad mereka untuk saling melepaskan, namun takdir pun berkata lain.
Seolah mengejeknya sambil berkata; Nih, makan tuh gengsi. Gue jodohin lo berdua.
Dalam satu hari, hidup Metawin seakan diacak-acak habis oleh sang pemegang takdir. Dalam satu hari, ia merasa sedih yang sangat dalam hingga merasakan putus asa. Dalam satu hari juga, ia merasa seakan sedang terbang di atas awan. Diangkat tinggi-tinggi. Takdir memang sebercanda itu, apalagi takdir kehidupan yang nggak pernah ada ujungnya.
Sekarang, posisinya ia sedang habis dari kamar mandi. Mengabaikan chat terakhir dari Bright. Dirinya baru saja beres-beres untuk packing pakaian karena sebentar lagi, dirinya akan berangkat ke Kanada. Iya, se tiba-tiba itu dirinya memutuskan. Metawin memutuskan untuk ikut dengan Bright ke Kanada secara tiba-tiba. Sebenarnya, sih, ia tak akan menduga jika Bright akan menerimanya juga. Tapi ternyata, pemuda itu masih menyambut dirinya dengan sebuah pelukan hangat.
Metawin pun tertawa kecil. Dirinya baru saja melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi dengan tetesan air yang ada di helaian rambutnya. Dengan jubah mandi yang menjuntai sampai atas lutut, dan dirinya sambil memegangi hair dryer di tangan.
Senyumnya terus saja mengembang. Walaupun ada sedikit kesedihan di dalam hatinya karena harus terlihat jahat di mata Abel. Namun, jika dipikir-pikir lagi; nggak apa-apa jahatnya sekarang, daripada nanti-nanti. Karena, dirinya tak tahu jika harus terlanjur menikah dengan Abel namun hatinya masih utuh terbawa oleh Bright.
Ia pun terlonjak kegirangan, sambil menyeret koper ke ruang tamu dan juga beberapa barang yang ia bawa, pipinya memerah. Bagaimana ia membayangkan indahnya Kanada dengan Bright yang ada sisinya.
“Astaga, gue hampir lupa kalo Bright Shaka itu orang yang sama…”
Lalu, ia menutup wajahnya dengan malu.
“AAAAAAAA.”
Ding dong!
Metawin melirik ke arah pintu. Masih dengan memakai jubah handuknya, dan juga handuk yang ada di atas kepala, Metawin berdecak sambil melangkahkan kedua kakinya ke arah pintu. Tangannya pun terangkat, terulur untuk memegang knop pintu lalu memutarnya. Menarik pintu kayu bercat putih itu dengan perlahan, lalu melebarkan kedua bola matanya.
“Eh???”
Pemuda itu hampir saja langsung menutup pintu dengan keras. Saat tiba-tiba melihat Bright ada di ambang pintu dengan raut wajah tak terbaca. Dirinya terkejut bukan main, dan ia hampir melupakan bahwa dirinya masih mengenakan jubah handuk dengan tak memakai apa-apa di dalamnya.
“EEEH—sebentarrrr.”
Namun, pintu tersebut ditahan oleh Bright. Pemuda yang hampir genap tiga puluh tahun itu menatap Metawin dengan tatapannya yang menyelidik. Ditatapnya Metawin dari atas sampai bawah seakan di dalam matanya itu terdapat sebuah mesin scan.
“Sengaja ya?”
“Hah?”
“Sengaja make ini aja?”
Metawin menelan ludah. Mampus. Ia lupa kalau Shaka yang ada di hadapannya ini bukanlah sosok manusia cuek berhati beku lagi. Melainkan pemuda dewasa dengan pola pikir yang dapat ia artikan.
“EH—NGGAK. Gue baru mau ganti baju.”
“Sebentar.”
Bright menahannya, menggenggam pergelangan tangan Metawin dengan lembut. Si empunya malah menelan ludah dengan gugup. Melihat Bright yang sepertinya nafasnya sudah mulai memberat.
“Coba panggil.”
“Panggil… apa deh?”
“Yang tadi. Yang di chat.”
“Oh… mas?”
“Lagi.”
“Mas Shaka?”
Bright sudah tak tahan lagi. Raut wajah Metawin yang sangat gemas, dan juga jubah handuk yang Metawin kenakan dengan tidak benar, menampilkan sedikit dadanya yang putih. Tulang selangka milik Metawin pun dengan nakalnya seperti menggoda Bright dengan mengintip dari dalam.
Tanpa berbicara lagi, Bright lalu menutup pintu rumah Metawin. Kedua tungkainya melangkah untuk mendekat. Ditariknya pemuda manis yang ada di hadapannya kini hanya dengan sekali hentak. Tangan kanannya pun meremat pinggul Metawin perlahan.
“Sebentar.”
Wajah Bright lalu mendekat. Semakin dekat dengan wajah Metawin hingga Metawin terkejut sendiri. Jantungnya berdebar keras, darahnya berdesir, lututnya lemas sampai-sampai dirinya harus berpegangan pada lengan kokoh milik Bright.
“Izin ya, Ta.”
Akhirnya, kedua belah bibir mereka pun bertemu. Bright membawa panggutan mereka dengan lembut dan juga tidak penuh nafsu. Hanya untuk menyalurkan rasa rindunya pada Metawin yang sudah tidak lama bertemu. Menyalurkan rasa rindunya pada Metawin karena semesta menyiksa mereka sejauh ini. Rasanya, Bright ingin menangis dan semakin memperdalam ciuman mereka dengan menekan tengkuk Metawin dengan lembut.
Metawin melenguh. Bibirnya lalu terbuka, memberikan akses masuk untuk lidah Bright agar semakin dalam mengakses rongga mulutnya. Lidah mereka pun saling bertemu. Menyapa satu sama lain, hingga berakhir dengan saling lilit dan bertukar saliva hingga terdengar suara kecipak basah.
Tangan Metawin lantas naik. Ke arah surai hitam kecoklatan milik Bright lalu merematnya. Menyalurkan rasa enak yang ia terima dari permainan lidah mereka. Bright menyesap mulut Metawin dengan gerakan hati-hati, sekali-kali, ia gigit dengan lembut lalu dihisap dengan pelan.
Metawin menyukainya.
“Mmmh—”
“You're taking me so well, Ta.”
Metawin menatap Bright dengan bola mata sayunya. Pipinya memerah sangat cantik. Hingga Bright harus menahan nafas sendiri. Kala jejak bekas ciuman mereka berantakan di kedua sudut bibir Metawin hingga sampai ke pipi.
“Bright—”
“I can't help you if you don't use your words.”
Metawin seakan mengerti. Sambil menelan saliva, ia membuka bibir. “Mas Shaka—”
“Damn you, pretty.”