356. Study (date) with Lily

Saat Ali melangkah masuk ke dalam cafe dengan Lily yang tengah ia gendong, Laksmana langsung memberhentikan aktivitas mengerjakan soalnya dan langsung beralih menatap mereka berdua. Suara berisik Lily yang memukul-mukul Ali nggak terima, bersahut-sahut dengan suara Ali yang menggeram sebal namun tetap memasang wajah nggak terlalu bete karena takut Lily melihatnya sedang marah. Ali merengut, lalu langsung menurunkan Lily dari gendongannya.

“Kamu lama banget jalannya.”

“Kakak Ali punya kaki kepanjangan!” Kata Lily sambil merapikan anakan rambutnya. Bibir merahnya terlipat ke bawah, masih melayangkan tatapan nggak terima pada Ali. “Nanti aku aduin ke ayah kamu loh.”

“Aduin aja.” Sahut Ali menggendikan bahunya lalu berjalan meninggalkan Lily yang masih mendumal, berjalan mengekorinya. Senyuman Ali langsung terbit begitu melihat Laksmana yang tengah menatap ke arahnya juga, dengan tangan yang melambai mengisyaratkan 'sini!'

“Lama nggak?” Ali bertanya begitu saja. Tangannya terulur untuk menarik kedua kursi hingga terdengar suara berderit. Menyuruh Lily untuk duduk di sebelahnya. Laksmana hanya bisa menggeleng sebagai jawaban, membereskan buku-buku serta ipad miliknya yang berantakan.

“Nggak. Aku juga baru sampe lima belas menit yang lalu.”

Ali mengangguk-angguk. Kedua matanya melirik ke arah Lily yang masih menatap Laksmana tanpa kedip. Tatapannya nggak lepas satu senti pun dari Laksmana. Tatapan kagum lalu menepuk-nepuk punggung tangan Ali.

“Kakak, ini kakak Laksmana ya? Aku inget kok soalnya foto profilnya mirip.” Suara Lily yang menyicit setengah berbisik pada Ali. Laksmana yang mendengar suaranya samar-samar tertawa sambil mengangguk ringan.

“Iyaaaa. Kamu lebih cantik dari yang di foto ya, Lily.”

Lily menyengir. Menampilkan deretan giginya yang masih kecil-kecil. Anak itu merapikan rambut panjangnya, sambil membenarkan duduk. Kembali menatap Laksmana dengan kedua mata cokelatnya. “Kakak Laksmana juga lebih keren dari yang di foto wowwww. Kamu keren bangetttt.” Jawabnya tertawa, sambil mengacungkan kedua jari jempolnya ke arah Laksmana.

“Hahahaha thank you, princess Lily.” Laksmana pun berdiri hingga kursinya tergeser dengan sendirinya hingga terdengar suara deritan. Ali yang sejak tadi diam kini mengadah, menatapnya dengan bingung.

“Mau ke manaa?”

Laksmana melirik sekilas. “Aku mau pesen makanan sama minuman buat kalian. Lily mau apa?”

Cheese sausage sama Croissant boleh?” Katanya tanpa harus melihat ke arah buku menu. Lily terlihat sudah hapal dengan segala menu yang ada di cafe ini. Sebab, cafe ini punya Metawin yang artinya ia sangat sering ke sini bersama Ali ataupun bersama bundanya. “Sama minumnya aku mau vanilla smoothie.”

Laksmana mengangguk sambil tersenyum tipis. Memberikan kedua jempolnya pada Lily. “Tunggu yaaa,” lalu setelahnya ia menepuk pundak Ali. “Kamu mau apa?”

“Apa ajaa dah ngikut Lily aja.”

Laki-laki itu mengangguk mengerti. Setelahnya ia pamit dan melangkahkan kedua tungkainya ke arah kasir untuk memesan sejumlah makanan serta minuman. Ali serta Lily menatap punggung Laksmana yang berdiri beberapa meter dari sana.

He's so cool, Kakak Ali.” Lily bergumam, menepuk-nepuk pundak Ali menggunakan tangan kecilnya.

I know. My boyfriend is sooo pretty cool.”

Lily tertawa. “You like him so much, Kakak Ali.”

“Hahahaa.” Ali mengacak-ngacak rambut Lily sambil mengangguk. Menyetujui ucapan Lily. “Do you like him too?

“IYAA!!!”

“Yah, saingan dong kita sekarang?”

Lily tertawa. Mengangguk semangat sebagai jawaban dari pertanyaan Ali.