Gramedia, Ansel, serta Leo yang selalu mengintil
Bright as Leo. Metawin as Ansel
Ansel sekarang sedang berada di salah satu gramedia yang dekat dengan kampusnya. Sepulangnya tadi dari kelas yang selesai jam tiga sore, dengan segera ia menaiki mobilnya dan melesatkannya ke gramedia. Katanya, ia sedang tidak ada mood karena dosennya sangat bawel tadi serta marah-marah tanpa sebab. Jadi, untuk meredam amarahnya, daripada berkegiatan tidak jelas, langsung saja tancap gas ke gramedia.
Ia tak ada niat untuk membeli buku. Namun aroma buku-buku yang bertumpuk rapi di rak-rak sesuai kategori, membuat kedua matanya melotot lebar-lebar. Hingga tanpa sadar, di tangannya sudah menggenggam 5 buku padahal baru saja empat puluh lima menit dia berdiam di sini.
Bibir bawahnya pun ia gigit, ia berdeham serta bersenandung sesuai irama musik yang disetelkan di sini. Tangannya terulur, jari-jarinya meraba buku fiksi dengan beberapa macam genre. Matanya berpendar, mencari-cari buku yang menurutnya menarik hanya dengan membaca summary. Atau, ia membaca isinya sekilas dari buku yang sudah dirobek.
Bukan dia lho ya yang merobek. Namun kadang, ada tangan-tangan jahil yang merobek serta meletakkannya dengan asal. Atau juga, penjaga di sana ada yang sengaja membuka plastik segel untuk dijadikan tester.
Bibirnya pun bergerak. Ia bergumam. Membaca rentetan kalimat yang membentuk sebuah paragraf. Matanya bergulir, dari atas ke bawah lalu kiri ke kanan. Dia sedang membaca, lalu kemudian tak lama membalik halaman pertama. Kedua alisnya menukik, tandanya ia tertarik.
“Eh ini bacaan gue banget deh.”
Tiba-tiba saja, entah suara yang asal muasalnya dari mana, Metawin tersentak kecil hingga bergeser ke arah kanan. Kepalanya terangkat, menoleh ke sumber suara. Ia terkejut.
“Lah kenapa geser?” Yang ditanya malah terdiam penuh dengan tanda tanya. Sedangkan yang melemparkan pertanyaan, hanya mengkerutkan keningnya bingung. Melihat perubahan raut wajah Ansel dan menatapnya penuh dengan selidik. “Ngapa lu?”
“Ngapain lo kesini?”
“Gabut aja.” Jawabnya cuek sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal. Sebenarnya, ia sedang berbohong. Modelan seperti Leo ini mana mau pergi ke Gramedia yang pusatnya buku bertumpuk. Tapi, karena ada Ansel di sana, biar nggak terlalu ketauan, ia berbohong. Gengsi katanya.
Ia lalu menoleh ke sembarang arah. Tak ingin berkontak mata langsung dengan Ansel.
“Mau beli buku?”
“Kagak. Gua mau masang behel.”
Ansel tertawa. Terkikik geli mendengarnya. Leo memang nggak pernah serius. Coba ingat-ingat saja kapan pemuda itu serius selain mengerjakan deadline mepet? Itupun mengerjakannya sambil marah-marah. “Nyari buku apaan?”
“Buku agama.”
“Ohh, di rak sebelah situ, Le.” Ansel mengangguk seakan paham. Menunjuk ke arah depan tepat pada rak buku bertuliskan 'Agama Islam' dan 'Agama Kristen' di sana. “Tunbenan. Sering baca buku keagamaan?”
“Nenek gua yang baca.” Leo berucap asal. Kali ini, Ansel tertawa sedikit lebih keras. Meninju lengannya lalu menggelengkan kepala ringan. Sedangkan, Leo hanya diam. Memperhatikan Ansel yang masih meredakan tawanya. Pukulan Ansel tadi, masih membekas lalu menghangat. Leo tersenyum tipis. Menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mendesah kecil. “Sini, Sel. Gua bawain.”
Leo mengambil tumpukan lima buku yang sedang Ansel pegang. Dengan cepat lalu kemudian menyingkir dari sana. Ansel diam tidak berkutik, namun membiarkan pemuda itu berlaku seenaknya. Kedua tungkainya pun melangkah, mengekori Leo yang kini berjalan ke arah kasir.
“Udah segini doang?”
“Masih banyak sih, Le. Emang kenapa?”
“Yah..” Bahu Leo seketika menurun. Pias. Nada bicaranya terdengar kecewa. Ansel merengut.
“Kenapa deh?”
“Mau ngajak lu makan.”
“Ajak aja kali.”
“Tapi kan lo masih mau beli buku di sini.”
“Hahaha, yaudah ayo makan deh.”
Leo mengerjap. Tak percaya apa yang baru saja ia dengar. “Serius?” Dan Ansel hanya mengangguk. Mulai mengeluarkan dompetnya untuk membayar buku-buku yang sudah di scan di kasir.
“Eh, Sel. Nggak usah.”
“Nggak usah apanya?”
Dengan segera, Leo menyerahkan kartu debitnya pada perempuan yang sedang membungkus buku-buku milik Ansel ke dalam totebag. “Gue aja yang bayar.”
“Lah?? Itu barang gue, Le.”
“Udah lu diem aja dah.”
“Dih ngatur.” Gelak tawa Ansel kembali terdengar. Suaranya sangat menyenangkan, menyapa gendang telinga milik Leo. Leo merona, ia salah tingkah sendiri melihat wajah Ansel yang tertawa menggemaskan seperti ini. “Yaudah, nanti gue yang bayarin makan.”
“Gausah. Kalo lu bayarin makan, gue obrak-abrik restorannya.”
“Nggak bisa gitu lah.”
“Bisa lah.”
Ansel menendang kecil sepatu yang Leo kenakan. “Bisaan aja.”