87. First Meeting

Dari 7 diantara keajaiban dunia, Laksmana yang bangun telat serta berangkat sekolah kesiangan termasuk ke dalam urutan ke 8 keajaiban dunia. Dia mendumal kesal, sambil mengemasi barang-barangnya dengan tergesa. Memasukkan buku-buku ke dalam tas serta menyambar jaket yang digantung dari balik pintu. Tak ada sapaan hangat dipagi hari, Mama sudah berangkat ke kantor pagi-pagi buta, sedangkan kak Evie sudah pergi satu jam yang lalu. Sempat berpamitan, namun Laksmana masih saja tertidur pulas bergelung di dalam selimut tebal. Sial.

Umpatnya dalam hati sambil menyambar sepotong roti berselai coklat yang sudah tersedia di atas meja. Juga menyambar satu kotak susu berukuran 250ml. Evie memang sengaja menyiapkannya karena tau kalau Laksmana nggak terbiasa untuk sarapan nasi atau makanan berat lainnya di pagi hari. Anak itu lebih memilih sarapan roti atau bubur ayam.

Anak itu tergesa, berlarian sambil mengambil kartu bus dari saku celananya. Dengan keringat yang bercucuran, tangannya terangkat untuk memberhentikan bus yang melintas. Tidak peduli kalau bus tersebut tidak berhenti persis di depan halte. Untungnya, supir bus sudah kenal akrab dengannya. Sambil menyapa dan menempelkan kartu pada mesin scan lalu mendesing ting! Kecil, Laksmana tersenyum mengucapkan terimakasih karena sudah membiarkannya masuk.

Di tahun sekarang, orang-orang di kotanya sudah sangat jarang menggunakan transportasi mobil pribadi. Pemerintah mulai mengeluarkan peraturan untuk menaiki kendaraan umum kalau berpergian ke sekolah, ke kantor, atau ke tempat-tempat yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau ke bandara atau perjalanan lintas pulau, baru diperbolehkan menggunakan kendaraan pribadi. Bagi yang melanggar, akan dikenakan denda sesuai dengan harga kendaraan pribadi. Kalau harga mobilnya lima ratus juta, denda yang dikeluarkan akan segitu jumlahnya.

Kembali lagi dengan Laksmana, ia terengah-engah lalu terduduk di bangku belakang. Kedua netranya pun melirik ke arah pergelangan tangan. Mengetuk arloji dua kali lalu terlihat jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Laksmana terduduk lemas, menghembuskan napasnya dengan sebal seraya meniup anakan rambutnya yang menutupi dahi.

Jantungnya berdegup kencang. Kakinya terus gemetar karena ia takut akan telatnya hari pertama di sekolah. Sebelumnya, terakhir ia telat saat masih berada di New York. Itupun telat tiga menit dan langsung disuruh angkat kaki—maksudnya pulang dari situ. Dengan tentunya absen dianggap alfa serta mendapatkan poin sanksi.

Tapi, semua ketakutan itu buyar sesaat ia melirik laki-laki—yang sepertinya seumuran dengannya—duduk tegak dengan headset yang bertengger pada telinga. Pemuda itu terlihat tidak peduli dengan kehadirannya, pun tidak memecah konsentrasinya yang sedang terfokus pada layar ponsel. Laksmana juga nggak ambil pusing, ia menggeser tubuhnya hingga menjauh tiga senti dari si pemuda yang masih terduduk di sebelahnya. Pemuda itu menggunakan celana jeans, sepatu converse hitam, serta jaket hitam yang tidak dikancingi dengan dalaman kaos putih polos biasa. Wajah anak itu tampak sekali sangat nggak minat untuk bercakap-cakap pagi ini. Pun rambutnya menunjukkan demikian, berantakan seperti tidak disisir.

Laksmana mengedikkan bahu, lalu mulai membuka ponselnya yang sedari tadi tidak dia buka. Keningnya mengkerut, saat melihat sejumlah notifikasi beruntun dari Ila, reader AUnya sekaligus songwriter terkenal. Senyumnya yang tadinya datar, sedikit demi sedikit terangkat. Tapi, dia nggak secepat itu dalam membalas chat singkat dari seseorang. Laksmana lebih memilih memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, menikmati perjalanan, sambil melihat-lihat pemandangan sekitar kota.

“Permisi.” Laksmana berucap dengan suara pelan, takut-takut juga untuk sekedar menyapa pemuda awut-awutan yang masih terduduk diam tidak bergeser semili pun. Laksmana menggigit bibir bawahnya ragu-ragu, tapi kemudian ia menepuk lutut yang dilapisi fabrik kain itu dengan sungguhan pelan. “Aku boleh duduk di dekat jendela, nggak? Kosong kan ya di samping kamu itu?”

Sedikit informasi, pemuda kusut itu terduduk dibangku kedua setelah jendela, ia seperti menyisakan bangku yang lainnya di sana. Sementara, Laksmana duduk di sebelahnya dengan tatapan penuh harap. Ia ingin duduk dekat jendela untuk menikmati udara pagi. “Atau itu punya teman kamu?” Yang ditanya malah nggak menjawab, tapi setidaknya, ia langsung berdiri dan berjalan melewati Laksmana lantas menggenggam pegangan tangan yang ada di atas kepala, lalu mulai sibuk lagi sambil memainkan ponsel. Laksmana mengerjap, mengangguk kikuk lalu mulai berpindah ke kursi dekat jendela. “Makasih, ya.”

Laksmana mengabaikan pemuda itu dengan membuka jendela bus, membuat semilir angin menerpa wajahnya, meniup rambutnya yang bergerak-gerak. Laksmana tersenyum cerah, menutup matanya sambil terus melongokan kepala. Melupakan sejenak kalau dirinya sedang terlambat.

Selang dari lima menit, bus kini berhenti. Tepat di depan halte sekolahnya. Para murid-murid terlihat sudah memasuki runag kelas masing-masing. Lapangan sekitar lenggang, hanya ada satu dua satpam yang berjaga atau petugas kebersihan mengitari lingkungan sekolah.

“Heh.” Ali merapikan rambutnya yang berantakan, menatap Laksmana yang masih belum bergerak dari bangkunya. Helaan napas pun terdengar. Ia memanggil lagi, “Heh lo yang lagi duduk dekat jendela.”

“Eh.. kamu manggil aku?”

“Emangnya yang duduk dekat jendela siapa lagi?”

Laksmana mendumal pelan, mengenakan tasnya kembali di pundak, lalu menyengir canggung. “Kenapa?”

“Turun. Udah sampe.”

“Eh udah?”

“Ah eh ah eh mulu.” Ali memutar kedua matanya kesal, lalu langsung berbalik dan berjalan keluar bus, meninggalkan Laksmana yang langsung berlarian kecil keluar, tak lupa scan kartu untuk membayar sejumlah kredit pada busnya. Laksmana meniup rambutnya sendiri, jantungnya kembali berdebar dan siap melangkah maju setelah menatap sekolahnya yang megah beberapa detik.

“Ini serius sekolahnya? Besar banget, deh?” Ia bergumam, sambil terus berjalan mengekori anak tadi yang dengan santainya berjalan dengan tidak mengenakan seragam.

“DEMI TUHAN!! KARUNASANKARA ALI, KAMU SEDANG APA MEMAKAI BAJU SANTAI SEPERTI INI? DIPIKIR KAMU MAU KE MALL?” Salah satu guru kesiswaan mengomel, sambil membenarkan kacamata kotaknya serta berkacak pinggang.

Sementara anak yang dipanggil Ali hanya mengusap surainya sendiri, lalu terkekeh pelan. “Ya.. ke sekolah, Bu?”

“ALI!”

“EH IYA?”

“GANTI BAJUMU SEKARANG JUGA, SEKARANG!”

Laksmana yang ada di belakangnya menahan tawa. Ali berdecak kesal, ia lantas berbalik badan, berjalan melewati Laksmana yang masih menahan tawanya.

“Gak usah ketawa.” Katanya berkata dengan ketus lalu kemudian melangkah menjauh seperti sedang menelfon seseorang.

Dan Laksmana mendadak menutup mulutnya. Tidak berani menatap Ali.