95. Study
Setelah mengganti baju, dengan wajah setengah mendumal setengah mengulum senyum, Ali lantas melangkahkan kakinya menuju ruang kelas. Lorong-lorong terlihat lenggang, hanya menyisakan beberapa murid yang keluar hanya untuk izin ke toilet. Ali melangkahkan kedua kakinya nggak peduli, sambil mengenakan jersey basket biru kuning putih miliknya, ia terlihat memasang wajah santai seolah-olah jersey tersebut adalah seragam yang seharusnya.
Tiba di depan pintu kelas, terlihat Pak Wisnu sedang mengajar mata pelajaran Fisika tentang tata surya. Pria tambun itu menjelaskan bagaimana proses terbentuknya alam semesta melalui teori-teori dari ilmuwan yang ada di buku-buku. Sesaat, Ali berdeham, menyapa Pak Wisnu sambil tersenyum tipis. Mood nya membaik lantaran habis bertukar cerita dengan Naa, author yang akan menjadi author favorite nya mulai sekarang sampai nggak tahu kapan.
“Ali, kamu tahu kan sekarang bukan pelajaran olahraga?”
Ali mengangguk. Setengah malas, setengah lagi menguap. “Tau.”
“Nah, kenapa kamu mengenakan jersey basketmu itu?”
“Seragam saya kebakar.”
“Kenapa bisa?”
“Ya nggak tau kebakar aja.”
Tingkah Ali memang bikin siapapun geleng-geleng kepala. Sejak anak itu masuk ke sekolah ini, terlalu banyak hal yang nggak masuk akal yang dikerjakan oleh anak itu. Mulai dari tidak sengaja mematahkan kerangka tulang di lab biologi, tidak sengaja menyentuh robot yang belum jadi di lab fisika hingga menyebabkan robot tersebut rusak—tangannya perusak sekali. Tapi untung saja, anak itu bisa memperbaikinya. Ali cerdas namun seimbang dengan sikapnya yang awut-awutan. Tidak layak dicontoh. Tengil.
Pak Wisnu menghela napasnya. “Oke. Kamu silahkan duduk.”
Ali menyengir. Ia mengangguk lalu berjalan lantas duduk di bangkunya sendiri. Di sebelahnya sudah ada Noel, yang menyeringai, “Dih anak mana lu nyasar.” Katanya sambil terkekeh lalu mengunyah permen karet di mulut. Ali pun nggak menjawab, ia memutar bola matanya malas lalu langsung mengeluarkan novel Saturday Rain dari dalam tas dan meletakkannya ke kolong meja. Noel mendelik, perempuan itu menepuk-nepuk lutut Ali dengan semangat.
“Mana siniin novel gueeeeee.”
Ali menepis tangan Noel sambil berdecak sebal. “Nanti ah. Gue dulu yang baca.”
Pelajaran pun dimulai. Pak Wisnu mulai melanjutkan mengajar dengan tenang. Tangannya terangkat untuk menggeser layar proyektor yang ada di dinding. Sesekali ia menatap ke seluruh murid satu persatu lalu menunjuknya untuk menjawab pertanyaan. Ali selalu lolos dari omelan Pak Wisnu. Sebab, ia selalu bisa menjawab pertanyaan sesulit apapun. Otaknya yang jenius nggak bisa diragukan lagi. Nggak heran ia dikirim ke Jerman untuk mewakilkan proyek studi ilmiah.
Contohnya, saat ia ditanya apakah di Jupiter bisa menyalakan korek api atau tidak. Karena Jupiter sama-sama planet dalam sistem tata surya. Dan dengan santainya, Ali menjawab sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah. Gerah.
“Jupiter terdiri dari 90% hidrogen, 10% nya didominasi helium. Korek api terdiri dari karbon bereaksi dengan panas lalu bergabung dengan oksigen untuk membuat CO2. Dengan tidak adanya oksigen, karbon tidak akan terbakar. Sama halnya dengan hidrogen yang memerlukan oksigen untuk membuat H2O. Nggak ada oksigen juga di Jupiter, jadi nggak akan bisa nyalain korek api di sana.”
“Terus, kalau ada astronot ke Jupiter untuk melakukan penelitian, kan pakai roket yang berarti ada percikan api di sana? Di ekor roketnya?” Tanya salah satu murid sambil mengangkat tangan. Ali mengulum bibirnya, lantas langsung menjawab.
“Pergi ke Jupiter dari Bumi itu butuh waktu 6 tahun. Buat mendarat, roket butuh daratan yang keras, kan?” Ali kini mulai membuka sepatunya dan meletakan dengan sembarang. Kebiasaan. “Masalah pertama, Jupiter nggak punya lapisan keras itu buat diinjak sama manusia apalagi buat roket.”
“Masalah kedua, Jupiter terdiri dari banyak gas. Gas helium dan hidrogen yang membentuk awan tebal. Jadi, mendaratkan roket ke Jupiter itu sama aja kan mendarat di awan? Yang ada malah jatuh juga.”
“Masalah ketiga, Jupiter mempunyai suhu permukaan 145° Celcius dan bakal lebih panas kalau lo lo pada ini nyelam lebih dalam lagi. Dan temperatur Jupiter lebih panas dari matahari sekitar 24.000° Celcius. Jadi logikanya, emang ada astronot yang mau mendarat di Jupiter? Itu sama aja bunuh diri.”
Sekitar kelas menjadi lenggang, habis itu manggut-manggut sendiri mendengar penjelasan panjang dari mulut Ali. Pak Wisnu pun sama, mengangguk pelan sementara Ali mengusap rambutnya ke belakang. Itu bukan pertanyaan susah, melainkan pertanyaan sederhana. Ia sudah bisa menghafalnya sejak kelas 2 sekolah dasar.
“Baik, Ali. Bapak lihat kamu memang cukup jenius di bab ini. Nah sekarang, tugasmu adalah, tolong bantu Laksmana anak baru yang duduk di sana,” katanya sambil menunjuk Laksmana yang terduduk dengan kedua mata membesar. Sedikit terkejut dengan serangan tiba-tiba dari pak Wisnu barusan. “Dia tadi terlambat, sama seperti kamu. Dan juga dia anak baru, tolong bantu Laksmana ya, Ali. Karena sedikit lagi ulangan semester.”
Raut wajah Ali serta Laksmana kurang lebih sama; sama-sama bingungnya. Ali melipat kening, disusul Laksmana yang membuka mulutnya.
“Pak Wisnu, saya masih bisa mengejar ketertinggalan kok sampai ulangan semester.” Laksmana menyela Pak Wisnu lebih sopan, dibanding Ali yang seperti ini;
“NGGAK BISA GITU, PAK.”
Terlihat jelas, kan, perbedaan mereka yang sangat kontras?
Pak Wisnu menggeleng tegas. Ini sudah keputusannya. Beliau nggak mau Laksmana tertinggal pelajaran fisika. Nilai A sangat diharuskan di kelasnya sampai nanti ulangan semester. Ali merengut, lalu lanjut ditertawai oleh Noel. Digoda menjadi guru les dadakan. Sementara Laksmana melirik ke arah Ali takut-takut. Anak itu galak, tengil, judes pula. Bagaimana bisa Ali menjadi tutor fisikanya sampai ulangan semester?
Laksmana meremat jari, sambil memperhatikan Ali yang menghela napas panjang.