217. Sleep.

Dua jam hampir tiga jam Laksmana menghabiskan waktunya di basement rumah Ali, tanpa mengganti baju putih abu-abunya, lelaki itu kembali menandaskan susu kotaknya yang tersedia di sisi kanan. Ini adalah susu kotak yang ke-tiga selama hampir tiga jam berada di sini. Ali sudah selesai menjadi tutornya kali ini. Lelaki itu kembali merebahkan tubuhnya pada lantai pualam yang dingin, sambil menekan-nekan tombol remote AC. Tidak ada percakapan berarti di antara mereka berdua. Bunyi mendesing robot milik Ali yang sedang di charge di sudut ruangan pun memecah keheningan antara Ali dengan Laksmana. Laksmana memainkan ponselnya, memasang headset untuk mendengarkan satu lagu sambil berselancar di sosial media, sementara Ali sibuk dengan pikirannya sendiri.

Jam sudah menunjukan pukul empat sore. Jam bergerak sepanjang waktu. Lima menit mereka saling diam, akhirnya Ali menghela napas. Dirinya nggak suka kalau harus saling diam tanpa ada topik yang menyanggah keheningan, ia bukan Ayahnya yang betah dalam situasi canggung, ia juga bukan Papanya yang betah dengan kecanggungan yang Ayahnya buat. Ali lantas bangun dari posisi tidurnya, lelaki itu kini bergegas berjalan menuju tas sekolahnya yang berantakan di bawah meja. Laksmana mengikuti ke mana Ali bergerak. Masih dalam diam, ia mengangguk-anggukan kepalanya mengikuti alunan melodi yang ramai di dalam kepala.

Tangan Ali lantas terulur, mengambil buku Saturday Rain berwarna hijau matcha tersebut lalu digenggamnya kuat-kuat. Lelaki itu lantas berjalan dengan langkah gontai ke arah Laksmana sambil mengacak rambutnya yang memang—sudah berantakan dan sudah kusut. Alih-alih ingin memberikan buku tersebut, Ali justru sedikit melemparnya dan buku itu mendarat tepat di atas paha si empu. Kening Laksmana menyerngit, terkejut lalu melepaskan headset dari telinganya begitu saja. Kedua matanya melotot, hendak menghardik Ali. Namun Ali justru tertawa, melambaikan tangan.

“Sorry sorry.”

“Kaget tauuuuu.”

“Hahahahah, maaf maaf. Nggak sengaja.” Ali menggeser pantatnya ke arah kotak pensil yang tergeletak dekat kaki meja, ia mengambil pulpen glitter berwarna ungu lalu melemparnya juga ke arah Laksmana. Pemuda itu mendengus, menyambar pulpen pemberian Ali, lalu membuka tutupnya.

Seakan paham maksud Ali sekarang ia harus apa, Laksmana membuka lembaran pertama buku Saturday Rain menggunakan jemari lentiknya. Wangi buku menyeruak, memasuki indra penciuman. Laksmana terdiam beberapa detik hanya untuk memandang 'karya' nya dalam sampul cetakan lama. “Mau aku tanda tangani?” Ujarnya berkata pada Ali yang langsung disahuti oleh anggukan antusias.

“MAU LAAAH. Masa nggak. Tujuan gue nyuruh lo ke sini kan buat minta tanda tangan.”

“Oh jadi kalau aku udah tanda tangan, aku nggak boleh ke sini lagi?”

Dengan cepat, kepala Ali menggeleng. “Nggaak. Bukan gitu maksud gue. Boleeeh kok. Boleh lo ke sini lagi.”

Tawa Laksmana yang renyah kini terdengar. Pemuda itu mengangguk kalem lalu kembali fokus melihat lembaran pertama buku miliknya. Jemarinya pun meraba halus kertas tersebut yang belum menguning, persis seperti buku baru. Wanginya pun masih ada.

Pulpen glitter ungu itu lantas terangkat, lalu mendarat pada kertas. Lima detik berlalu, Laksmana menggerakkan tangannya untuk membentuk suatu goresan tanda tangan, tepat di bawah tulisan pengarang novel: BY NAA.

“Udah.” Laksmana menutup buku bersampul hijau matcha tersebut, tersenyum kepada Ali. “Apalagi yang harus aku tanda tangani?”

“Tangan.”

“Kaki nggak sekalian?”

“Muka juga.”

Keduanya tertawa lepas. Laksmana meletakkan kembali pulpen glitter tersebut, membiarkannya menggelinding tepat di bawah kaki Ali. Jemarinya masih lihai membuka halaman demi halaman bukunya. Buku berjumlah hampir 300 halaman itu ia lihat-lihat kata demi kata menggunakan kedua matanya yang bergerak cepat seperti mesin scan. Laksmana melirik ke arah Ali yang sudah merebahkan kembali tubuhnya, melipat kedua tangan di atas dada, lalu memejamkan mata. Laksmana tahu, Ali masih terjaga dan belum tidur total. Karena Ali belum tidur, Laksmana kembali membuka topik.

“Ali, boleh nggak aku baca bukunya?”

“Yaaaa.” Ali mengangguk, laki-laki itu tampak nggak masalah dengan apa yang mau Laksmana lakukan. “Sana.”

Senyum simpul kembali terbit. Laksmana beralih ke halaman pertama, chapter pertama. Ia membacanya menggunakan suara pelan, agar Ali tidak terganggu. Jemarinya yang lembut sesekali mengelus permukaan kertas yang halus. Napasnya menerpa kertas hingga bergerak-gerak sedikit. Hingga tiba di halaman pertengahan, setelah satu jam Laksmana membacanya dengan suara pelan, kedua netranya melirik ke arah Ali.

“Then, Malik looked around. He squeezed his own fingers with ragged breaths. His feet that were resting on gravity were shaking violently. His voice was already hoarse, as if drowning in the ocean. His eyes continued to search for the person who had accompanied him until now. Malik held his breath.”

“Where are you going, Selena?”

Laksmana memberhentikan acara membacanya. Dirinya termangu melihat Ali yang tertidur pulas dengan helaan nafas yang teratur.

Diam-diam, ia menutup bukunya agar tidak menimbulkan suara yang nyaring. Kedua mata Ali tertutup dengan rapat, wajahnya damai, napasnya sungguh teratur. Ali tertidur dengan lelap, diiringi oleh suara lembut Laksmana membaca buku.