265. Yes?

Pintu terbuka setelah Laksmana menekan deretan angka membentuk password agar pintu segera memberikan akses masuk. Nafasnya pun lantas berhembus lega lalu mulai melangkahkan kakinya ke dalam. Kedua bola matanya bergerak-gerak, mencari objek yang akan ia temui. Sambil menenteng buku paket fisika beserta ipad di tangannya, Laksmana menghembuskan nafasnya yang kesekian kalinya saat melihat Ali sedang memainkan bola basket dengan asal. Memasukkannya ke dalam ring, lalu ia ulangi lagi sampai yang kelima kali.

“Ali.” Laksmana akhirnya membuka mulut. Ia berjalan mendekat lalu duduk berjarak lima meter dari Ali berdiri. Kakinya pun ia luruskan dengan kepala yang diangkat untuk menatap pemuda tinggi menjulang.

Yang dipanggil lantas menoleh, tersenyum kecil lalu membiarkan bola basketnya menggelinding begitu saja ke sembarang arah. Tungkainya melangkah, sedikit berlarian kecil untuk menghampiri Laksmana yang sedang mengemil coklat di tangan.

“Kamu nggak bosen apa di sini terus?” Itu adalah pertanyaan pertama yang Laksmana ajukan sekaligus membuka topik obrolan. Ali mengangguk, sambil nyengir. Tangan kirinya mengambil botol yang ada di sebelah, membuka tutup, lantas ia tandaskan keseluruhan air di dalamnya dalam sekali tegak. Kemudian lanjut menyisir rambutnya yang kusut berantakan.

“Nggak.” Jawabnya dengan bahu yang ia naik turunkan acuh. Tubuhnya sedikit ia condongkan menghadap Laksmana, mengintip bagaimana anak itu dengan lihainya mulai membuka buku paket. Menggeser lembar demi lembar menggunakan jari-jarinya yang bersih. Kepalanya ia tundukan, dengan bibir yang terus bergumam mencari lipetan halaman sebagai tanda terakhir mereka belajar empat hari yang lalu.

“Kita kemarin belajar sampe mana ya, Li?”

Ali tertegun. Nggak terlalu menghiraukan Laksmana yang masih fokus membuka lembaran buku. Melihat-lihat beberapa angka rumus yang ada di dalam buku. Ali malah menatap Laksmana tanpa berkedip. Bibirnya pun sedikit terbuka karena… errr.. apa ya.. pemuda yang duduk santai di hadapannya ini betulan indah walaupun hanya ditatap dengan mata telanjang. Bulu matanya yang panjang jatuh ke bawah, hidungnya bangir, pipinya gembul, dan dengan kulit wajah yang sehat. Nggak lupa bibirnya yang semerah apel ranum. Siapa juga yang mengalihkan pandangannya dari Laksmana? Kalau orangnya seindah ini?

“Ali.”

“Eh iya. Apaa..?”

“Kamu bengong.”

“Hahaha nggak. Gue ngeliatin lo aja, sih.”

Laksmana memutar kedua bola matanya malas. Nggak menanggapi lagi jawaban dari Ali barusan. Ia memilih untuk terus mengotak-atik buku, membuka ipad miliknya untuk mencari catatan dari guru. Ia semalam juga mengerjakan 20 soal fisika sendirian. Sadar kalau 4 hari terakhir nggak belajar bersama Ali. Jadinya ia belajar sendiri.

“Eh Na.”

“Ya?” Ia mengangkat kepalanya. Netra mereka berdua pun bertabrakan. Ali jadi gugup sendiri.

“Nggak usah belajar deh.”

Pergerakan tangan Laksmana berhenti begitu saja. Wajahnya berubah menjadi bingung. Ia menatap Ali. “Kenapa?”

“Main basket aja. Yuk?”

Entah apa yang dipikirkan oleh pemuda ini, bahkan, sebelum Laksmana sempat menjawab dan hendak protes oleh keputusan tiba-tiba darinya, pemuda itu lanjut berdiri meneruskan acara bermain basketnya saat itu juga. Kaki panjangnya berlarian mengejar bola yang menggelinding. Memasukkan bola yang berantakan ke dalam keranjang. Tangannya terangkat—dengan bola basket yang ia pegang—dengan asal Ali memasukkan bola basket tersebut ke dalam ring. Yang anehnya, tetap masuk walaupun asal.

“Kenapa jadi main basket???” Laksmana protes nggak terima. Raut wajahnya berubah menjadi kesal. Ipad miliknya ia letakan di atas hoodie hitam milik Ali yang terlipat rapi di bawah. Sedikit ia geser karena takut terinjak. “Kan kata kamu ke sini mau belajar?”

“Belajar mulu.” Jawabnya agak slengean. Ali terkekeh kecil, ia melempar bola basket ke arah Laksmana pelan. Pemuda itu segera menangkapnya, walau agak kesusahan dan pastinya mengomel protes kepada Ali. “Main basket ayo.”

“Gak mauuuu.”

“Ih lo mah nggak mau nggak mau mulu.” Ali berdecak sebal dengan tangannya yang lihai memantul-mantulkan bola basket dengan santai. “Ayo sesekali. Otak lo nggak ngebul apa.”

“Sedikit.”

“Apaan itu ada asepnya.”

“Nggak bisa aku main baskettt. Bisanya ngegambar.”

“Lah gue malah gak bisa ngegambar.”

“Ah tau ah.”

Ali tertawa. Pemuda itu kembali memasukkan bola tersebut ke dalam ring. “Ayoooo. Kalo lo bisa masukin tuh bola ke ring, gue traktir.” Katanya berusaha membujuk. Setengah berharap agar Laksmana mau. Melihat dari raut wajah anak itu yang kesal padanya. Terus terusan melemparkan tatapan sinis serta tajam. Sesekali mendesis, lalu meninju bola basketnya asal. “Jangan ditinju mulu tuh bola. Bisa kempes.”

“Berisik.”

“Hahahaha, yaudah Naa ayo. Gue ajarin serius dah.”

“Nggak bisa.”

“Harus bisa gimana sih. Asal aja ngelemparnya tuh,” Ali menunjuk ring basket yang tingginya sekitar 3,5 meter. “Mumpung jamkos. Gue temenin di sini sampe pulang.”

Yang diajak bicara tampak menimbang-nimbang sebenarnya dengan ajakan yang Ali bilang tadi. Tampak 3 menit mereka berdua tahan dengan keheningan, dan Ali yang sibuk sendiri dengan bola basket, akhirnya Laksmana mengangguk pasrah. Ia juga nggak bisa menolak. Lagian, apa salahnya mencoba?

Ali tersenyum puas. Tangannya ia kepalkan lantas meninju ke udara. “Yes!”

“Eh tapi tadi katanya kan kalo aku bisa masukin bolanya ke ring aku bisa—”

“Iya iya ntar gue traktir apa yang lo mau.”

“Beneran nggak nih?”

“Beneran anjirrrrrrr. Lo meragukan gue kah.”

Laksmana tertawa. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah Ali lalu berdiri dan berhenti tepat di sebelahnya. Hanya beda beberapa senti, dan tentunya pundak.mereka saling bersentuhan. Kedua mata Laksmana tampak ada binarnya, seakan sedang antusias menatap ring basket yang tinggi menjulang di hadapan.

Sangat berbeda dengan Ali, pemuda itu malah salah tingkah sendiri. Telinganya memerah begitu saat pundak mereka nggak sengaja saling bersentuhan satu sama lain. Wangi parfum Laksmana mengobrak-abrik indra penciumannya. Jantungnya berdegup nggak karuan. Ali benar-benar salah tingkah nggak seperti biasanya.

“Ini dilempar begitu aja?”

Ali mengangguk. “Kayak gini, Naaa.” Ia kemudian mencontohkan gerakan tangan yang seharusnya untuk melempar bola basket ke dalam ring. Laksmana memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Bagaimana jari-jari milik Ali menyapu bola basket dengan lihainya, memegangnya hingga nggak sengaja terlihat urat tangan yang samar-samar muncul di antara pergelangam tangan. “Posisi lo kayak gini, nanti terus lo tinggal lempar.”

Setelah Ali berkata demikian, bola tersebut lantas melayang ke udara sesuai dengan persetujuan milik Ali. Beberapa detik berlalu, bola tersebut dengan mudahnya masuk ke dalam ring basket. Laksmana terpukau nggak berkedip, sementara Ali terkekeh sambil merenggangkan otot-ototnya. Memasang wajah 'sombong.'

“Coba lo.”

Ia mengangguk. Sehabis Ali mencontohkan gerakan basket barusan, Laksmana mencatat baik-baik di dalam kepalanya. Tubuhnya memperagakan apa yang ia lihat, meniru Ali. Tangannya pun juga memegang bola basket seperti Ali tadi. “Eh gini kan ya megangnya?”

Ali menoleh, ia berjalan mendekat. Merevisi jari-jari tangan Laksmana yang sekiranya salah. Menyentuh jarinya sedikit.

Anjing, gue deg deg an kayak orang gila, Ali merutuk dirinya dalam hati, lalu menghela nafasnya gusar. Berusaha menetralkan degup jantungnya yang berpacu cepat. “Dah gitu. Lempar sana.”

Laksmana tertawa. Kemudian mengangguk, menurut. Kepalanya pun menoleh ke arah ring basket. Pandangannya fokus ke depan, seperti sedang membidik. Tangannya perlahan lahan terangkat, nggak lupa meniru gaya Ali tadi sebelum menjebloskan bola tersebut ke dalam ring. Enam detik berlalu, bola tersebut sudah melayang bebas di udara. Laksmana menatapnya penuh harap, namun pengharapan itu terjun bebas bersamaan dengan bola basket yang memantul nggak mengenai ring.

“Tuh kaaaan. Udah aku bilang nggak bisa.”

“Coba terus sampe bisa lah. Jangan nyerahhhh.”

“Hahhhh… malesssss…”

Ali tertawa. Kembali melemparkan bola basket tersebut dan langsung disambut oleh Laksmana.

Dan begitu terus. Setengah jam berlalu, ini sudah percobaan ke tujuh kali Laksmana yang berusaha memasukkan bola basket ke dalam ring. Sementara Ali yang nggak pernah miss sekalipun. Bola tersebut seakan sudah nurut padanya. Ali seperti 'tuannya' bola basket.

“Coba lagi.”

“Nggak mau ah nggak masuk-masuk.” Laksmana meniup rambutnya yang berantakan. Keringat sudah menetes di dahi serta dekat telinganya. Rambutnya menjadi lepek. “Kamu aja yang main aku mau baca ebook.”

Ali terkekeh kecil melihat Laksmana yang mulai berputus asa. “Sekali lagi. Kalo nggak masuk juga, gue tetep traktir kok.”

Ucapan Ali terdengar menggiurkan. Terus membujuknya namun Laksmana tetap menurut. Bukan karena tawaran Ali yang tampak menyenangkan, tapi karena memang kesal kenapa bola sialan ini sama sekali nggak mau nurut dengannya. Padahal, hanya memasukkannya saja ke dalam ring. Melihat Ali yang mudah saja melakukannya dalam beberapa kali percobaan, membuat Laksmana jengah.

“Sekali lagi abis itu gue traktir.”

Helaan nafas kembali terdengar. Ali menyemangati dengan bawelnya. Berisik memenuhi keheningan lapangan yang hanya diisi oleh dua orang siswa. Laksmana mengambil bola yang mendarat di bawah kaki. Kali ini, ia seperti tampak serius dari sebelumnya. Ali berjalan menjauh, berhenti tepat di sebelah hoodie miliknya yang terlipat rapi di bawah bersamaan dengan buku serta ipad milik Laksmana. Pandangannya menatap Laksmana nggak bergeser sedikit pun. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Seperti pelatih yang memantau anak didiknya.

Pemuda yang berdiri di hadapan ring kini mulai melemparkan lemparan terakhir bola basket ke udara setelah terdiam cukup lama entah sedang merapalkan mantra atau sedang memaki maki bola karena kesal tidak mau menurut. Ali menatap bola yang melayang bebas di udara. Detik-detik menegangkan saat bola tersebut mulai mendekat ke arah ring yang kosong. Laksmana menggigit jarinya sendiri. Hingga tiba ke detik ke lima, bola tersebut akhirnya masuk dengan mudahnya. Mendarat ke tanah, serta memantul-mantul ke sana ke mari.

Ali tersenyum lebar, Laksmana tertawa setelah ia berteriak kesenangan.

“Dah kan? Bisa kan? Mana yang katanya nggak bisa.”

Laksmana tertawa. “Ya kan itu harus berapa kali percobaan dulu baru masukk.”

Lawan bicaranya mengangguk-angguk. “Ya sekarang mau apa? Lo istirahat gih sana. Kasihan basah kuyup gitu.”

“Mau chatime?”

“Boleh daaah. Gue gofood dulu kalo gitu.”

Laksmana mengangguk, kemudian tertawa dan memilih untuk duduk di dekat buku paketnya yang tergeletak. Pemuda itu mengambil ponselnya, membuka media sosial serta membalas chat yang belum dijawab. Sementara Ali menekan aplikasi gojek untuk membelikan minuman yang Laksmana mau. Tak lupa menanyakan variant yang apa.

Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Laksmana memilih untuk merebahkan dirinya dengan asal pada lapangan yang sudah bersih habis ia sapu barusan. Dengan hoodie milik Ali yang ia jadikan bantalan. Nggak terlalu mempedulikan Ali yang daritadi keluar dari sini. Entah ke mana. Sepertinya sedang membeli beberapa cemilan untuk di makan.

Lima belas menit berlalu. Pintu terbuka dengan Ali yang muncul membawa beberapa tentengan kantung plastik di tangan. Chatime pesanan Laksmana, dan juga beberapa makanan ringan seperti chiki dan juga biskuit yang ia beli dari kantin.

“Heh banyak banget, Ali…” katanya setelah menegapkan tubuhnya melihat tentengan yang Ali bawa. Ali terkekeh, ikut duduk menjeplak di sebelahnya. “Kamu darimana aja deh lama banget.”

“Tadi abis dari toko buku.”

“Ngapain?”

Ali mengacungkan sticky notes beserta pulpen ke udara. Menunjukan barang yang baru saja ia beli dari toko buku. Laskmana mengangguk-angguk paham, mengambil satu bungkus chiki yang belum dibuka dari dalam kantung plastik.

“Kamu biasa ke sini ya emang?”

“Iyaa sering. Kalau nggak ke sini ya ke UKS numpang tidur, pura-pura sakit. Tapi kayaknya Kakak yang jaga UKS udah hapal kebiasaan gue pura-pura sakit jadi dibiarin aja.” Katanya sambil menggindikan bahunya acuh. Tangannya bergerak-gerak, menulis sesuatu di sticky notes berwarna menggunakan pulpen. Setelahnya, ia tempelkan pada minuman chatime milik Laksmana.

Tanpa sepengetahuan orangnya juga tentunya.

“Ali.”

“Yaaaa.”

“Tolong ambilin chatime nya donggg aku nggak nyampe. Males gerak juga.”

Diam-diam, Ali tertawa dalam hati sambil menyerahkan chatime dingin ukuran besar pada Laksmana. Pemuda itu tersenyum, bilang terimakasih pada Ali sambil menerima minumannya. Mengambil sedotan dari dalam plastik, lalu nggak lupa mengeluarkan minumannya juga.

Laksmana terdiam, ia tertegun. Menatap gelas chatime ukuran besar yang masih penuh, bergantian lalu menatap Ali.

“Kenapa?” Ia menegur. Laksmana masih diam. Bergeming di tempatnya.

“Kamu ngajakin?”

“Apa?” Ali tertawa, mengulum senyumnya sendiri. “Coba baca ulang.”

“Ya iya… kamu ngajakin?”

“Iya. Terus lo mau apa nggak?”

“Mmmm…. Yes?????”